
"Berapa semua ini?"
Jeddy menyodorkan beberapa pistol unik hasil pilihannya sendiri ke meja kasir, sambil berharap harganya bisa sesuai dengan uang yang ada di dompetnya. Tentu saja dia berharap demikian, karena dia sudah bosan dan jenuh ditipu oleh kertas harga yang tertempel di bawah barang yang akan dibelinya. Terkadang ada saja harga yang tidak sama dengan harga yang tertulis di kertas penunjuk. Saat dia pergi ke kasir dengan senang kegirangan, karena harga dari sebuah pistol keren cukup murah, malah dikejutkan dengan harga asli yang disebutkan oleh sang kasir. Bohong jika Jeddy tidak kesal pada hal itu, tapi itu jadi pelajaran hidupnya agar nantinya kalau ia beli sesuatu, entah pistol, pedang, atau apa pun itu di toko persenjataan, tidak gampang terkecoh dengan harga murah yang terdapat di kertas penunjuk.
Dan ini jadi yang kedua kalinya dia tertipu oleh harga dari kertas penunjuk, Jeddy jadi ingin meremas sesuatu sampai hancur sehancur-hancurnya, setelah mendengar harga asli dari pistol-pistol yang dipilihnya untuk dijadikan koleksi. Si kasir mengatakan kalau semua pistol yang dibawa Jeddy berharga 500.000 lumion satu buahnya. Sedangkan Jeddy mengambil lima pistol, yang jika dikalikan lima, maka hasilnya jadi 2.500.000 lumion--ngomong-ngomong lumion adalah nama mata uang resmi Negara Madelta--dan itu sangat mahal sekali. Jeddy saat ini hanya membawa uang sekitar 700.000 lumion. Oh, sial. Sial sekali.
"Hehehe," Berusaha bersikap setenang mungkin, Jeddy terkekeh-kekeh sejenak. Matanya menatap mata sang penjaga kasir--yang merupakan seorang gadis berambut putih ikal dengan kupluk di atas kepalanya--dengan serius. "Bolehkah harganya dikurangi sedikit?"
"Jangan bercanda," Gadis kasir itu langsung mengucapkan penolakan dengan muka sinis yang luar biasa menyebalkan. "Ini bukan pasar loak yang bisa kau tawar dengan sesuka hati, Tuan. Saya bisa dipecat jika atasan saya mengetahui karyawannya memberikan keringanan untuk menawar harga pada pelanggan. Itu sangat melanggar aturan, Tuan."
"Tapi," Jeddy masih tidak mau menyerah begitu saja, dia sangat ingin pistol-pistol itu jadi miliknya. "Bukankah tawar-menawar adalah negosiasi yang sering terjadi di antara penjual dan pembeli dalam menentukan harga suatu barang, kan? Ayolah!"
"Harganya sudah ditentukan dengan sangat jelas, Tuan." balas gadis kasir itu dengan ketus, tanpa senyum hangat atau keramahtamahan sedikit pun pada Jeddy. "Kami tidak menerima negosiasi semacam itu di sini. Maaf saja. Kalau Anda masih keras kepala, saya akan menyuruh petugas keamanan untuk mengusir Anda dari sini."
Setidaknya, Jeddy bisa keluar dari toko persenjataan itu dengan membawa satu pistol baru, yang harganya menghabiskan sebagian besar persediaan uang simpanannya untuk tiga bulan. Itu cukup menyedihkan. Tapi di sisi lain, itu cukup membahagiakan, lebih tepatnya, Jeddy gembira karena dia telah mendapatkan pistol baru untuk dimasukkan ke dalam koleksinya. Tanpa peduli kalau tindakannya itu sama seperti melakukan bunuh diri. Tentu saja, karena Jeddy--dengan borosnya--membeli sesuatu yang mahal tanpa pikir panjang. Dan itu sangat bodoh. Bagaimana kalau akibatnya, dia tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya hanya dengan mengandalkan sisa uangnya yang berjumlah 200.000 lumion.
Apalagi saat ini, dia hidup di Kota Swart, kota metropolitan yang sangat maju, canggih, dan tentram jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Madelta. Maka di Swart, harga-harga barang pastinya tidak ada yang murah, hampir semuanya mahal-mahal. Wajar saja, rata-rata penduduk di Kota Swart memiliki penghasilan 10 juta lumion tiap bulannya, atau paling tidak, 5 juta lumion.
__ADS_1
Groen--kota yang merupakan tanah kelahiran Jeddy--adalah kota yang berbanding terbalik dengan Swart. Walaupun sering dianggap sebagai kota kembar, tapi sebenarnya Groen tidak sama seperti Swart, terutama pada kemajuannya. Di Groen terlalu banyak anak-anak muda yang menganggur, menyebabkan tumbuhnya populasi preman-preman atau geng-geng nakal dengan sangat pesat. Penghasilan para penduduknya pun bisa terbilang rendah tiap bulannya. Karena kebanyakan, perusahaan-perusahaan yang bermukim di Groen, mempekerjakkan karyawan-karyawannya yang berasal dari kota-kota lain, itulah yang membuat julukan 'pribumi yang terabaikan' terkenal di Madelta, menunjukkan masalah yang sering terjadi di Kota Groen terkait para penduduknya.
"Aku pulang, hehehe!"
Dengan senyuman lebarnya, Jeddy mengucapkan salam saat masuk ke dalam pintu depan rumah Paul. Pistol yang tadi dibelinya, ia masukkan ke dalam plastik putih yang kini sedang digenggamnya.
Tercium aroma aneh.
Jeddy berhenti sejenak, ia mencium sesuatu yang cukup aneh--ah, tidak--sepertinya tidak tepat jika disebut dengan aneh. Mungkin lebih bagus jika disebutnya dengan sesuatu yang asing. Pokoknya begitulah. Dan asalnya dari suatu ruangan di rumah ini. Dengan mengandalkan indera penciumannya, Jeddy berjalan pelan mengikuti arah aroma pekat itu, yang malah membawanya ke depan sebuah pintu kamar, dan itu bukan pintu kamarnya Paul.
Pelan-pelan, Jeddy mendorong pintu kayu itu hingga terbuka dan ternyata benar, aroma asing itu tercium sangat kuat di dalam kamar ini. Pandangan Jeddy masih kabur, belum tahu ada apa dan siapa di dalam kamar tersebut. Karena itulah, dia terus melangkah dan melangkah, dan pada langkah ketujuhnya, Jeddy berhenti.
Terlihatlah Koko sedang duduk di sisi ranjang, menutupi seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang, membuat Jeddy menganggap hanya ada lelaki cantik itu di dalam kamar ini. Koko, menolehkan kepalanya, setelah mendengar suara Jeddy.
"Syukurlah... Jeddy pulang."
Koko tersenyum senang, senang sekali. Dia gembira bisa melihat kedatangan Jeddy, itulah mengapa Koko langsung berdiri dari ranjang dan berjalan mendatangi lelaki maniak pistol tersebut.
__ADS_1
"Eh?" Keterkejutan Jeddy makin bertambah saat melihat ada seorang perempuan terbaring lemah di atas ranjang kamar ini. "Itu Tante Elena, kan? Mengapa dia masih tidur? Bukankah ini sudah masuk ke jam biasa ia memasak? Lalu, aroma apa ini? Rasanya menyesakkan, Bro."
"Ini aroma air dingin... yang dicampur dengan tanaman herbal yang kupetik di pekarangan belakang. Maaf kalau aromanya tidak enak. Soalnya... aku tidak tahu harus memakai cara apa lagi untuk menetralisir suhu tubuh Tante Elena yang sempat naik drastis."
"Jadi, Tante Elena sedang sakit panas, Bro?"
"Sepertinya begitu. Aku juga tidak tahu." kata Koko dengan senyum masam. "Yang kutahu, aku harus menyembuhkan Tante Elena dari sakitnya secepat mungkin, sebelum Paul dan yang lainnya pulang."
"Ah, ya! Tentang Paul!" Jeddy meletakkan plastik yang digenggamnya ke nakas dekat ranjang. "Kapan dia pulang? Kuharap pahlawan yang dibawanya kali ini adalah orang yang menarik. Kalau tidak salah, namanya Isabella, kan? Dari namanya saja, pasti orangnya cantik! Sangat cantik sepertimu! Hehehe!" Mendengar perkataan Jeddy, membuat pipi Koko memerah. "Selain itu, bagaimana kondisi Tante Elena? Apakah dengan kain kompresan yang menempel di keningnya itu membuat tubuhnya bisa membaik?"
"Aku... tidak tahu," ucap Koko dengan menatap wajah Tante Elena yang tengah terlelap di ranjang. "Tapi sepertinya, suhu badannya makin menurun dibandingkan dengan pertama kali aku menemuinya."
"Begitu, ya? Baguslah!" Jeddy tersenyum senang mendengarnya, kemudian, ia merangkul leher Koko. "Ngomong-ngomong, aku lapar, nih, Bro! Ada makanan tidak di dapur? Hehehe!"
Karena lehernya tiba-tiba dirangkul oleh tangan besar Jeddy, membuat Koko sedikit kikuk dan gugup. "M-Mungkin ada," kata Koko dengan muka memerah. "Periksa saja di meja makan."
"Wah! Siap! Bro!" Jeddy melepaskan rangkulan itu dan bergegas pergi ke dapur, meninggalkan Koko yang masih tampak kaku di kamar itu. "Semoga saja makanannya enak-enak, heheheh!"
__ADS_1
Namun, baru saja Jeddy masuk ke dalam ruangan dapur, tawanya langsung lenyap, ia dikagetkan dengan situasi dapur yang antah-berantah seperti telah diguncang oleh gempa bumi berkekuatan dahsyat.
"Apa-apaan ini, Bro!?"