Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 98 : Aku akan Membunuhnya!


__ADS_3

"Tentu saja kami datang ke sini untuk makan dan minum! Bodoh!" Paul langsung menimpali keterkejutan Colin dengan nada yang membentak.


"Bukan itu yang kumaksud!" pekik Colin dengan--lagi-lagi--menggebrak meja. "Aku bertanya, mengapa kalian datang kemari tanpa bilang-bilang dulu padaku!?"


"Untuk apa aku harus bilang dulu padamu!? Itu bukan urusanmu mau kapan pun aku datang kemari!" Dan Paul--lagi-lagi--membentak Colin dengan muka yang beringas. "Sudah cukup basa-basinya, sekarang berikan aku makanan paling enak di kedai ini! Aku malas memilihnya!" Paul pun melirik ke muka Abbas yang berada di sebelahnya dengan menggeser selembar kertas menu itu pada lelaki kekar tersebut. "Kau mau apa? Cepat pilih!"


"Aku ingin yang hangat-hangat saja."


"Nah, cepat tulis pesanan kami di papanmu itu! Bodoh!" suruh Paul pada Colin dengan paksa.


"Tunggu-tunggu!" Colin mengangkat dua tangannya, seperti polisi yang sedang memberhentikan kendaraan roda empat. "Aku tahu ini tidak sopan, tapi," Colin melirik ke arah Isabella yang duduk di seberang Paul dan Abbas. "Siapa perempuan ini? Teman kalian?" Colin memicingkan matanya seraya berkata, "Jangan bilang kalau dia itu--"


"Ya!" Paul menganggukkan kepalanya, seolah-olah tahu apa yang sedang Colin perkirakan. "Dia adalah Isabella Melvana! Pahlawan yang kutemukan di Kota Luna! Mantan *******! Dan sifatnya cukup menjengkelkan!"


Sontak, wajah Colin langsung memucat mendengar itu, seakan-akan yang dikatakan Paul adalah malapetaka yang luar biasa mengerikan. "K-Kau bilang apa tadi?" Bibir Colin gemetaran seperti sedang menggigil kedinginan. "M-Mantan p-p-*******!?" Perlahan-lahan, Colin menggerakkan lehernya ke hadapan Isabella. "A-Apakah itu benar!?" tanya Colin pada Isabella.


Isabella terkikik-kikik melihat Colin terkaget-kaget sampai mukanya pucat pasi. "Ya ampun, kau ini lucu sekali, ya?" Isabella tidak tahan mengamati tingkah Colin yang kikuk dan gemetaran pada dirinya. "Selama delapan belas tahun aku hidup, baru kali ini aku bertemu dengan orang selucu dirimu. Kau benar-benar menarik, Colin."


"Hey! Jawab aku!" Colin sedikit kesal pada respon Isabella yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya. "Jawab pertanyaanku! Apakah itu benar!? Bahwa kau ini dulunya," Colin meneguk ludahnya dengan muka yang ketakutan. "... adalah seorang *******?"


"Memangnya kenapa kalau aku ini seorang *******?" Isabella balik bertanya pada Colin dengan memasang senyuman menyindir. "Apakah itu sesuatu yang mengerikan?"


Colin menggeleng. "Tidak, aku tidak bermaksud begitu," kata Colin dengan menggaruk belakang kepalanya. "Aku hanya kaget saja, karena rekan pahlawan baruku dulunya adalah seorang *******. Itu membuatku terkejut."

__ADS_1


"Hmm? Benarkah hanya itu?" Isabella tampak tidak percaya pada omongan Colin. "Tapi ya sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Ngomong-ngomong, salam kenal, aku Isabella Melvana." Isabella berdiri dari kursinya dan menjulurkan tangan kanannya pada Colin.


Dengan sigap, Colin membalasnya dengan mengucapkan, "A-Aku Hercolin Alezandra! Panggil saja aku Colin! Senang bertemu denganmu, Isabella Melvana!" jawab Colin dengan menjabat tangan kanan Isabella erat-erat--walau lengannya tampak gemetaran. Saat sesi perkenalan dan jabat tangan usai, Colin berseru, "K-Kalau begitu, aku permisi!" Colin pun berjalan cepat menuju ruang dapur untuk mengantarkan memo kecil berisi pesanan teman-temannya pada sang koki.


"Benar, kan!?" Paul memecahkan keheningan pada Isabella dan Abbas saat kehadiran Colin telah tiada. "Dia itu pengecut sekali, kan!?"


"Bagiku, dia sangat lucu," jawab Isabella dengan menyenderkan punggungnya ke punggung kursi dengan santai. "Dia memang terlihat mudah panik, tapi selebihnya, dia terlihat lucu.


"Apanya yang lucu dari lelaki pecundang seperti Colin!? Dia sama sekali tidak lucu!"


"Ya ampun, lagi-lagi kau memaksakan kehendakmu, ya?" Isabella mendecakkan lidahnya pada Paul. "Dari perlakuanmu saja, aku tahu kau ini tipe lelaki yang sangat lembut ketika berada di ranjang."


"Lembut?" Abbas tersentak mendengarnya.


"Benarkah?" Abbas tampak kaget dan Isabella menganggukkan kepalanya, meng'iya'kan pertanyaan itu.


"Aku bisa mendengarnya dengan jelas! Brengsek!" seru Paul, protes pada bisikan Isabella yang mempermalukan seluruh lelaki kasar di dunia ini. "Aku tidak peduli tentang itu! Pokoknya Colin adalah pecundang! Dia tidak bisa diandalkan sama sekali!"


"Kejam sekali, ya? Kau ini, Paul," Isabella memasang muka prihatin pada sang mentor. "Bukankah dia juga pahlawan bimbinganmu? Lalu mengapa kau menjelek-jelekkannya hingga sebegitu kejamnya?"


"Aku tidak menjelek-jelekkannya! Aku hanya mengatakan hal yang sesuai fakta! Tapi, bukan berarti aku diam saja dengan kepengecutan Si Colin! Nanti, saat sepuluh pahlawan telah lengkap! Aku akan mendidiknya agar bisa menjadi pahlawan yang pemberani! Dan aku serius pada hal itu!"


"Itu niat yang bagus," Abbas tersenyum pada Paul. "Aku senang mendengarnya."

__ADS_1


Beberapa menit mereka berbincang, membahas segala hal yang berujung ke sesuatu yang tak jelas. Colin datang kembali ke meja mereka dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang dipesan oleh Paul, Isabella, dan Abbas. "Ini pesanan kalian."


"Terima kasih," jawab Isabella sambil ikut membantu Colin meletak-letakkan piring-piring dan gelas-gelas yang berada di nampan, untuk disimpan di atas meja. "Kelihatannya lezat-lezat sekali, ya?"


"Tentu saja," Colin tersenyum mendengar komentar itu. "Semua makanan dan minuman di kedai ini, lezat-lezat. Kami selalu berusaha untuk terus menciptakan makanan-makanan lezat lagi, karena kami sangat memperhatikan dan mengutamakan kepuasan para pelanggan. Jadi, selamat menikmati." ucap Colin setelah dirinya selesai meletakkan semua makanan dan minuman itu ke meja yang ditempati tiga temannya. Ketika Colin akan kembali ke dapur, untuk bersibuk-sibuk ria lagi, tiba-tiba Paul mencengkram pergelangan tangan kanannya, membuat pergerakannya jadi terhenti. "Eh? Ada apa? Paul?" Colin menoleh dengan kaget.


"Tetap di sini!" ucap Paul dengan tatapan yang menindas. Melihat Paul menghentikkan Colin, membuat Isabella dan Abbas, ikut terkejut. "Kursi di meja ini ada empat, dan aku tidak nyaman jika ada kursi kosong! Jadi, tempatilah kursi itu! Dan sarapanlah dengan kami di sini!"


"T-Tapi! Aku sudah sarapan dan aku harus kembali bek--"


"Tidak! Kau harus tetap di sini!" Paul tidak menerima penolakan dalam berbagai alasan, segala keinginannya harus terpenuhi. "Kau tenang saja! Kalau atasanmu memarahimu! Aku akan menghajarnya! Jadi, cepat duduklah!"


"M-Menghajarnya!?" Tampang Colin langsung memucat dalam seketika, membuat Isabella terkikik-kikik melihatnya. "K-Kalau kau melakukan itu, aku akan kehilangan pekerjaanku!"


"Jika kau tidak mau itu terjadi, maka turutilah kemauanku!"


Dengan ragu-ragu, Colin menjawab, "B-Baiklah, aku akan sarapan bersama kalian, t-tapi," Colin menolah-noleh ke segala arah. "Kalau rekan kerjaku melihat aku sedang makan bersama pelanggan, apa yang harus aku lakukan!?"


"Tenang saja, kau tidak perlu melakukan apa pun, karena," Paul menyeringai. "Aku akan membunuhnya."


Mendengar perkataan Paul, membuat Colin dilanda rasa cemas, resah, dan gelisah. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya, bibirnya pun terlihat gemetar, dan matanya tampak melotot. "I-Itu cuma bercanda, kan?" ucap Colin, mencoba menenangkan kepanikannya.


"Tidak!" jawab Paul dengan serius. "Aku benar-benar akan membunuhnya!"

__ADS_1


__ADS_2