
Colin begitu bersemangat saat mendengar pertanyaan dari Paul mengenai siapa yang mau ikut berkelana mencari pahlawan berikutnya, ia langsung mengacungkan tangannya sambil mengungkapkan bahwa ia ingin ikut. Katanya, kebetulan karena hari ini adalah hari Minggu, jadi Colin mendapatkan hari libur dari atasannya, dan ia ingin mengisi waktu liburnya dengan berpetualang bersama Paul. Mungkin karena selama ini Colin sudah jarang sekali bepergian bersama Paul, terakhir kali ia pergi pada saat mengunjungi Nico di Kota Vineas, setelah itu, ia mulai tidak pergi-pergian lagi sebab bentrok dengan pekerjaannya di kedai.
Paul senang mendengar respon Colin yang menyatakan ikut untuk berpetualang bersamanya, walau sebetulnya Colin tidak begitu berguna jika dibandingkan dengan murid-muridnya yang lain, tapi setidaknya keinginan Colin untuk ikut cukup membuatnya senang.
"Bagus!" ucap Paul dengan menolehkan pandangannya pada Colin. Kemudian perhatian Paul kembali diarahkan ke murid-muridnya yang lain. "Siapa lagi? Cepat acungkan tangan kalian tinggi-tinggi, brengsek!"
Mendadak, Nico mengacungkan tangannya sambil berkata, "Aku tidak bisa membiarkanmu berkelana bersama Colin, karena kau itu orang yang kasar, aku khawatir Colin dibentak-bentak olehmu, jadi, aku akan ikut." Paul sedikit tersinggung mendengar perkataan Nico, tapi ia segera mengabaikannya.
"Oke! Siapa lagi!?" Ruangan jadi hening, tidak ada lagi orang yang mau mengangkat tangannya, membuat Paul jadi agak jengkel melihatnya. "KUBILANG SIAPA LAGI!?"
Koko langsung bersuara dengan suara yang lantang. "Maaf Paul... kali ini aku tidak akan ikut, alasannya karena tubuhku sedang tidak fit, jadi aku ingin istirahat dulu di sini. Tidak apa-apa, kan?"
"Saya juga tidak bisa ikut," Naomi ikut bersuara dengan senyuman sopannya pada Paul. "Karena saya sudah berjanji pada Ibu Anda untuk membantunya memasak, jadi saat Anda pulang kembali, akan ada makanan hasil kolaborasi saya dengan Ibu Anda. Jadi maafkan saya. Tapi walaupun begitu, saya akan berdoa pada Tuhan agar Anda mendapatkan perlindungan dari segala ancaman dan marabahaya, dan bisa kembali ke Kota Swart dengan selamat."
"Maaf, Bro! Aku juga tidak bisa ikut, hehehe!" Jeddy menunjukkan suaranya dengan muka yang riang. "Soalnya belakangan ini aku jadi sering sakit perut, Bro! Makanya aku khawatir kalau sakit perutku ini datang saat kita sedang ada di dalam bus atau sedang bertempur dengan musuh, itu bakal merepotkan, kan, Bro!? Hahaha! Tapi kau jangan khawatir, Bro! Jika kau sedang dalam masalah! Kau bisa menghubungiku! Aku pasti akan melesat ke tempatmu berada! Untuk membantumu! Bro! Hehehe!"
Mendengar alasan yang dikatakan oleh Koko, Naomi, dan Jeddy soal mereka tidak bisa ikut, membuat Paul jadi kesal, tapi dia segera menahan kekesalannya dengan mengatakan, "Terserah apa kata kalian! Aku tidak peduli!" sergah Paul dengan mendecih sebal. "Itu artinya, hari ini yang akan ikut pergi bersamaku adalah Colin dan Nico!" Bola mata Paul langsung digeserkan ke arah Colin dan Nico. "Kalian siap!?"
Nico dan Colin menganggukkan kepalanya dengan bilang 'siap' secara serempak. Paul menyeringai senang melihatnya, "Bagus! Sekarang! Ayo kita berangkat!" Mendengar Paul bilang begitu, membuat Colin langsung bersuara.
"Tunggu, kita akan berangkat ke kota mana, Paul?" Colin penasaran pada lokasi tujuannya, di dalam hatinya, ia berdoa agar kota yang akan dikunjunginya adalah kota yang normal, bukan kota yang aneh-aneh seperti sebelum-sebelumnya. Jujur saja, Colin masih trauma ketika mengingat kunjungannya ke Kota Poppe, dia tidak kuat jika harus berhadapan dengan masalah yang menimbulkan cipratan darah dan tubuh manusia yang terpotong-potong, itu sangat mengerikan dan pasti akan menjadi mimpi buruk berkepanjangan dalam hidupnya. Makanya, Colin sangat bersyukur saat berkunjung ke Kota Vineas, karena walau kota itu bersalju dan beratmosfir dingin, tapi kotanya cukup normal, mungkin kendalanya hanya pada Niconya saja yang terkesan menjengkelkan.
Baru saja Paul menoleh pada Colin dan hendak menjawab pertanyaan itu, ponsel yang tersimpan di saku celananya bergetar-getar, tanda ada seseorang yang menghubunginya. Cepat-cepat Paul merogoh saku celananya dan mengangkat telepon tersebut dengan mendekatkan ponselnya ke kuping. "Halo!? Siapa di sana!? Roswel, bukan!?" ucap Paul sebagai tanda salam pada si penelepon dengan suara yang begitu kasar.
"Aku Olivia, bukan Roswel atau siapa pun itu!" Paul terkejut saat mendengar suara seorang gadis yang sangat dikenalinya di seberang telepon. Sungguh, ia kira yang menelepon adalah Roswel, tapi mengapa jadi gadis sialan ini yang menghubunginya. Memangnya ada apa Olivia tiba-tiba meneleponnya? Lagipula Paul tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan orang lain, mengingat kesibukannya dalam mencari pahlawan.
"Ada perlu apa kau menghubungiku, Olivia? Asal kau tahu! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu! Jadi cepat bilang padaku apa keperluanmu! Karena aku akan bergegas ke kota lain! Jadi cepatlah!"
Di seberang telepon, Olivia merengut kesal, dia tidak percaya Paul akan separah ini dalam merespon teleponnya, padahal dia hanya ingin memberitahukan kabar Cherry yang semakin hari semakin membaik, tapi perasaannya jadi buruk setelah mendengar kekasaran Paul padanya. Saking jengkelnya, Olivia pun menjawab, "Oh, begitu? Ya sudah! Aku akan tutup teleponnya! Maaf telah mengganggu aktivitas pentingmu! Wahai Tuan Paul yang Terhormat!" Setelah mengatakan itu, Olivia langsung menutup teleponnya secara sepihak, membuat Paul kaget.
"Sialan! Kenapa dia jadi marah begitu padaku!? Tapi persetan! Aku tidak peduli!" Paul pun menatap satu persatu wajah murid-muridnya yang sedang memandanginya. "Apa!? Kalian tidak suka dengan sikapku, hah!?"
"Memangnya tadi itu siapa yang meneleponmu, Paul?" tanya Nico dengan menaikan sebelah alisnya. "Tapi sepertinya aku mendengar suara seorang gadis yang tidak asing, siapa dia?"
"Bukankah itu suaranya Olivia, Bro?" Jeddy menimpali omongan Nico dengan cepat, membuat semua mata tertuju padanya. "Aku bisa mendengarnya! Bro! Itu memang suara Olivia, kan? Kira-kira dia bilang apa padamu, Bro!? Tapi kenapa cepat sekali meneleponnya!?" Pandangan Jeddy dialihkan pada Paul, mencoba memastikan apakah tebakannya benar atau tidak, sekaligus bertanya mengapa durasi teleponnya singkat sekali.
__ADS_1
Paul menghembuskan napasnya. "Itu bukan urusan kalian! Lagipula apa pun yang akan Olivia katakan padaku, pasti hanya sesuatu yang tidak penting! Dan aku tidak punya waktu untuk mendengar hal yang tidak penting!" Seperti biasa, Paul merespon pertanyaan murid-muridnya dengan intonasi yang keras dan kasar.
"Bagaimana jika dia akan memberitahu kondisi Cherry padamu? Bukankah itu cukup penting?" Kini, Colin yang bersuara dengan mengangkat bahunya, seolah-olah apa yang ia katakan merupakan sebuah realita. "Ayolah Paul! Ubah sikapmu itu! Aku heran, dari pertama kali kita bertemu sampai kau sudah mendapatkan banyak pahlawan, sikapmu masih begitu-begitu saja, kasar dan brutal. Kukira seiring bertambahnya jumlah pahlawan yang kau dapatkan, maka sikapmu akan menjadi semakin baik, tapi astaga, nyatanya sikapmu malah makin parah?" Colin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Paul, biar kuberitahu, semua pahlawan yang kau bimbing, jumlahnya ada sepuluh, dan kami punya mental yang berbeda-beda, jadi ayolah! Usahakan kau harus bisa mendekati kami dengan pendekatan yang berbeda-beda pula, maksudku, kau sebagai mentor harus bisa fleksibel."
Paul mendecih mendengar celotehan Colin yang terkesan mengguruinya. "Berani juga ya, kau," kata Paul dengan memelototkan matanya pada Colin. "Menceramahiku seakan-akan kau ini manusia yang lebih baik dariku? Kau mau kuhajar, hah!?"
Nico langsung melengking dengan cepat, "Kurasa Colin tidak ada niatan untuk menceramahimu, dia hanya mengingatkanmu untuk bersikap baik pada setiap orang, terutama pada sepuluh murid yang akan kau bimbing, kelak. Jadi, menurutku tidak ada yang salah dari omongan Colin."
Mendengar itu, Paul segera mengalihkan fokusnya pada Nico. "Apa kau juga mau dihajar lagi olehku, hah!?" bentak Paul dengan tatapan mengintimidasi. "Jadi kejadian di Perpustakaan Kota Vineas masih belum cukup untuk membuatmu takut padaku, hah!?"
"Biar kuberitahu," jawab Nico dengan memiringkan mulutnya. "Selama ini, aku tidak pernah menyimpan rasa takut pada sampah sepertimu sedikit pun, ingat itu. Di mataku, kau dan aku, berbeda. Aku manusia dan kau hanyalah sampah. Jadi jangan pernah berpikir aku akan takut padamu hanya karena kau selalu berbicara keras dan kasar. Itu juga berlaku untuk murid-muridmu yang lain."
Tiba-tiba amarah Paul meledak-ledak mendengar omongan Nico, dia langsung berjalan mendatangi lelaki berambut putih itu, yang masih sedang duduk di dekat Colin. Paul benar-benar benci pada orang-orang pembangkang seperti Nico. Namun, saat Paul akan melayangkan pukulannya pada wajah Nico, Jeddy buru-buru beranjak dari kursinya dan menghentikkan tindakan Paul dengan mencengkram lengan kanan mentornya.
"Jangan, Bro," bisik Jeddy pada telinga Paul. "Jika kau melakukan itu, kau bisa memecah-belah kita. Dan aku tidak mau itu terjadi, Bro."
"Lepaskan! Brengsek!" Paul memberontak dari pergelangan tangan Jeddy yang menghimpit badannya. "Aku harus menghajar mulut bajingan ini! Dia sudah berani bersikap kurang ajar padaku!"
"Bersikap kurang ajar?" Nico tersenyum tipis mendengarnya. "Bukankah selama ini kau selalu bersikap kurang ajar pada kami? Kau sering membentak kami, mengabaikan kami, dan menghina kami. Jadi seharusnya kami yang bilang begitu padamu, tapi sampah sepertimu, tidak akan pernah bisa memahami itu. Karena di pikiranmu, kau adalah bos kami, begitu kan?"
"Bukan hanya Koko," Naomi mengangkat suaranya dengan lantang. "Saya juga tidak suka melihat pertengkaran kalian, saya pikir, kalian tidak seharusnya bertengkar begitu hanya karena masalah sepele. Saya rasa, apa yang kalian permasalahkan hanya sesuatu seperti 'sikap kasar Paul yang harus diubah', begitu, kan? Tapi baiklah, biar kusampaikan sekarang. Sebetulnya, kita sebagai murid-murid Paul memang punya hak untuk menuntut keinginan kita pada sang mentor, tapi, keinginan yang bagaimana dulu? Jika keinginannya menyangkut kepribadian seseorang, bukankah itu tidak masuk akal? Maksud saya, Anda-Anda semua tidak bisa memaksa Paul untuk menjadi seperti Koko yang lemah lembut, atau seperti Jeddy yang konyol dan humoris. Kita semua punya kepribadian yang berbeda-beda, dan saya sendiri tidak ada masalah dengan kepribadian Paul yang kasar dan keras. Kita punya keunikan masing-masing, dan kita tidak boleh memaksa seekor singa agar berubah seperti seekor angsa, jujur, itu tidak masuk akal sekali."
Suasana di ruang tamu jadi hening sejenak, semua orang memperhatikan Naomi dengan pandangan yang begitu takjub, mereka semua tidak menyangka kalau gadis berkerudung itu punya kewibawaan yang sangat luar biasa. Naomi bisa memposisikan dirinya sebagai penengah dalam suatu masalah, dan itu membuat Paul dan yang lainnya terkagum-kagum. Apalagi tata bahasa Naomi terkesan sopan dan teratur, dia juga tidak menyudutkan siapa pun. Seolah-olah masalah yang timbul adalah kesalahan semua pihak yang hadir di sini, termasuk juga dirinya sendiri.
Perlahan-lahan amarah Paul mulai menyurut, dia terlihat tenang, membuat Jeddy tidak lagi mendesak tubuhnya. Nico dan Colin pun merasa bersalah dengan ucapannya yang terkesan memaksa seseorang untuk mengubah kepribadiannya, dan itu sangat tidak masuk akal, begitu pula dengan Paul, ia juga merasa bahwa tindakannya sebagai mentor membuat dirinya bersikap semena-mena terhadap murid-muridnya, padahal sosok mentor adalah membimbing para murid, bukan malah mengancam para murid untuk takut dan tunduk padanya. Akhirnya, kedua belah pihak sama-sama menyadari kesalahannya masing-masing.
Saat Colin hendak meminta maaf pada Paul, tiba-tiba terdengar lagi suara getaran ponsel dari celana Paul. "Halo!?" Paul berharap kalau yang meneleponnya kali ini adalah Roswel, karena dia membutuhkan informasi mengenai keberadaan pahlawan berikutnya.
Tapi ternyata, "Pauuuuuuuuul!" Yang meneleponnya bukanlah Roswel, melainkan Cherry, dan tampaknya gadis mungil itu menelepon mentornya dengan menggunakan ponsel milik Olivia. Setelah teleponnya diangkat, Cherry langsung memanggil nama mentornya dengan begitu panjang dan manja, seperti seorang bocah yang merengek-rengsek pada orangtuanya. "Kau harus bertanggung jawab! Paul!" Cherry melengking-lengking di seberang telepon. "Olivia tiba-tiba menangis di pundak Cherry! Dan dia bilang dia dikasari oleh Paul! Apakah benar begitu? Jika memang benar, Cherry bakal sangat marah pada Paul! Tahu tidak? Olivia meneleponmu sebab dia ingin memberitahukan kondisi Cherry yang sudah semakin sehat, loh! Tapi Paul malah langsung membentak-bentak Olivia! Jadi, kan, Olivia tidak sempat mengatakan itu padamu! Intinya Paul jahaaaaat! Titik!"
"Katakan pada Olivia," ucap Paul dengan suara yang rendah. "Aku minta maaf." Mendengar Paul mengucapkan kata maaf, membuat Naomi tersenyum tipis, Jeddy menepuk-nepuk tangannya, Colin terkejut, Nico terpaku, dan Koko jadi tenang.
"EEEEEEEEEH!?" Cherry menjerit histeris di seberang telepon, tampaknya dia tercengang mendengar Paul mengucapkan kata maaf, sungguh, Cherry tidak menyangka akan semudah itu membuat orang seperti Paul meminta maaf pada Olivia. Cherry pikir, Paul akan membela dirinya sendiri agar terkesan bukan dia yang salah. Tapi kenyataannya malah sebaliknya, tanpa basa-basi, Paul berani mengucapkan kata maaf pada Olivia secepat itu. "Uwaaaaah! Apa Cherry tidak salah dengar, ya? Kuping Cherry masih berfungsi, kan? Tapi kok, rasanya ada yang salah, ya? Jangan-jangan tadi hanya halusinasi Cherry saja! Waduh! Maaf, deh! Itu artinya Cherry salah dengar! Jadi, Paul, coba bilang sekali lagi! Soalnya Cherry tadi salah dengar!"
"Katakan pada Olivia, aku minta maaf! Kau ini menyebalkan sekali! Sialan!" ulang Paul dengan menambahkan kata-kata umpatan pada Cherry saking kesalnya. "Sudahlah! Pokoknya aku bersyukur karena kau sudah sehat! Kuharap, kau kembali ke rumahku, karena aku sudah mendapatkan pahlawan berjenis sama sepertimu, yaitu perempuan! Saat kau sedang terkena demam. Dan sekarang, aku akan pergi lagi untuk mencari pahlawan berikutnya! Jika kau penasaran siapa sosok perempuan yang kudapatkan, kau bisa minta pada Olivia untuk mengantarkanmu ke rumahku! Karena perempuan itu kebetulan tidak ikut pergi bersamaku!"
__ADS_1
Muka Cherry jadi makin terbelalak mendengarnya, "UWAAAAA!" Sekali lagi, Cherry melengking. "Seriusan!? Ini bukan bohong, kan? Ada perempuan selain Cherry yang jadi pahlawan!? Uwahhh! Hihihi! Cherry jadi ingin bertemu dengannya! Ngomong-ngomong! Siapa namanya!? Apakah dia cantik!? Berasal dari kota mana dia!? Beritahu Cherry semua tentang perempuan itu, Cherry mohooon!"
"Tidak! Aku sedang sibuk!" Paul pun langsung mematikan teleponnya. Kemudian tatapannya dialihkan ke muka murid-muridnya yang tampak menunjukkan ekspresi terkejut yang berbeda-beda. "Lagi-lagi begini, apa mau kalian! Hah!?"
"Hahahahaha!" Jeddy terbahak-bahak melihat Paul marah-marah. "Kami hanya kaget padamu, Bro! Karena kau ternyata bisa meminta maaf pada orang lain! Hahaha! Itu mengejutkan kami, Bro!" Paul mengernyitkan alis mendengar omongan Jeddy.
"Lupakan soal itu! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!" Kemudian tatapan Paul ditujukkan pada Nico dan Colin. "Bagaimana? Setelah bertengkar denganku, apakah kalian masih mau ikut pergi denganku? Cepat jawab!"
Dengan muka memucat, Colin menjawab, "J-Jangan khawatir, aku masih tetap mau ikut, kok. Asalkan kau tidak memukulku saja. Hehehehe." Bahkan tawa Colin terdengar begitu hambar.
Nico tersenyum miring mendengarnya, "Selama Colin ikut, aku juga akan ikut. Lagipula tugasku bukan hanya menemanimu saja, tapi juga mengawasi pergerakanmu dari Colin. Karena aku bakal sangat marah jika kau membentak atau menyentuh Colin. Itu saja. Sederhana, kan?"
Mendengarnya, Colin menoleh pada Nico, "Hey, Nico," ucap Colin dengan menatap tajam pada wajah Nico yang ada di sampingnya. "Kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri untuk melindungiku. Aku ini lebih tua darimu. Seharusnya aku yang melindungimu. Jadi, kau tidak perlu--"
"Maaf," kata Nico dengan mendelik pada Colin. "Tapi kebijakanku itu mutlak, aku tidak akan menarik kembali ucapanku. Dan aku tidak mempermasalahkan usia atau semacamnya. Bagiku, kau harus kulindungi. Itu saja."
"Kau mengejekku, ya?" timpal Colin dengan memiringkan kepalanya, terheran-heran. "Aku tidak perlu mendapatkan perlindungan apa pun darimu. Kau harus tahu itu."
"Kau perlu, Colin."
"Tidak perlu, Nico."
"BERISIK! BRENGSEK!" Akhirnya pertengkaran kecil antara Nico dan Colin dilerai oleh teriakan Paul yang menggelegar. "Daripada terus-terusan duduk di sini! Lebih baik kalian berdua! Berdiri dari kursi! Karena sekarang! Waktunya kita berangkat ke--" Tiba-tiba ponsel Paul bergetar lagi di tangannya, karena dia tidak sempat memasukkan kembali ponselnya ke kantung celana. Alhasil Paul terpaksa mengangkat telepon itu sambil tidak berharap apa-apa, karena dia yakin kali ini pun sama saja, bukan Roswel yang menghubunginya. "Siapa lagi ini!?" Paul pun mulai mengucapkan salam pertama, "HALO!? SIAPA DI SANA!?"
"Ini saya, Tuan," Ternyata kini yang meneleponnya adalah Roswel. Paul benar-benar bahagia mendengarnya, tapi seperti biasa, dia tidak menunjukkan kegembiraannya.
"KAU LAMA SEKALI! BRENGSEK!" Bentak Paul dengan begitu keras. "Aku dari tadi menunggumu sialan! Ya sudah! Sekarang katakan padaku berada di mana pahlawan berikutnya! Jangan banyak basa-basi!"
"Baik, Tuan," Roswel pun segera menyiapkan informasi yang akan ia sampaikan pada Paul. "Jadi, target yang akan Anda temui berada di bagian selatan Negara Madelta, Tuan. Lebih tepatnya, berada di Kota Cocoa. Dan target Anda adalah seorang lelaki berusia sekitar sembilan belas tahun. Dia berambut abu-abu, bermata gelap, berkulit hitam, berbadan atletis, dan juga selalu telanjang dada. Tampaknya dia jarang memakai baju, Tuan. Dia terlihat hanya mengenakan celana pendek saja. Dan sepertinya, lelaki itu sering dipanggil dengan nama 'Abbas' oleh penduduk di Cocoa. Apa informasinya sudah cukup, Tuan?"
"YA! TERIMA KASIH!
Kemudian, Paul bersama Nico dan Colin mulai bersiap-siap untuk pergi ke Kota Cocoa. Setelah keberadaan tiga lelaki itu sudah hilang dari ruang tamu, Naomi pun bersuara, membuat Jeddy dan Koko menoleh padanya.
"Kuharap, mereka baik-baik saja di Cocoa."
__ADS_1