
"Tidak mungkin!" Lizzie tampak tidak percaya pada yang dikatakan Paul, ia sampai berseru di dekat bayi yang sedang terlelap. "Rara tidak mungkin melakukan itu! Pasti kau yang menerobos masuk ke rumahku untuk mencuri benda itu! Dasar ********! Jangan menjual nama Rara seenak jidatmu!"
"Terserah kalau kau tidak mempercayaiku," Paul masih tampak tenang. Berusaha untuk tidak terusik. "Yang penting, aku di sini hanya ingin mengungkapkan itu dan mengawasimu."
"Pokoknya! Kembalikan penawar racunnya! Itu punyaku!" Lizzie menerjang Paul dengan dua tangan yang siap merebut botol kecil yang ada digenggaman lelaki itu.
Paul langsung sigap memasukan botol itu ke dalam kantung celananya dan bergerak mundur untuk menghindari terjangan Lizzie. Lizzie yang kesal karena Paul menghindari dirinya, jadi semakin muak dan jengkel.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi memberikan obat itu padamu! Aku akan merebutnya kembali sekarang juga!"
"Coba saja kalau bisa."
Lizzie menggeram seperti seekor serigala yang sedang mengamuk. "Lagipula, apa-apaan itu!? Kau mau mengawasiku!? Aku tidak butuh pengawasan dari lelaki mesum sepertimu! Kau hanya akan menggangguku di sini! Jadi kembalikanlah benda itu padaku dan enyahlah dari pandanganku! Dasar ********!"
Setelah Lizzie mengatakan semua itu sambil berteriak-teriak pada Paul, membuat bayi yang tertidur di kasurnya, terbangun dan menangis kencang. Suara tangisannya cukup memekakan telinga. Lizzie dan Paul sampai terkejut.
"Di-Dia bangun! Bayi itu bangun!" Lizzie tampak risau, dia tidak bisa melakukan aksi pembantaian jika orang-orang yang ada di rumah ini terbangun oleh suara tangisan bayi. "Ini semua karena ulahmu! Kau harus tanggung jawab! Buat bayi itu diam sekarang juga!"
"Apa? Ulahku? Bukankah kau di sini yang dari tadi teriak-teriak, kan? Jangan bodoh! Jelas-jelas itu karena ulahmu sendiri!"
__ADS_1
"Ulahku? Mana mungkin! Kau mau memfitnah seorang perempuan, begitukah!? Dasar ********! Inilah yang kubenci dari seorang lelaki! Mereka semua tidak ada yang waras! Selalu melemparkan kesalahan pada para perempuan! Menjijikan!"
"Ini tidak ada hubungannya dengan laki-laki dan perempuan!" Paul membalas omongan Lizzie dengan berang, tak suka pada sikap gadis tomboi itu yang selalu menyangkut-pautkan segala hal pada jenis kelamin.
Bayi itu terus merengek-rengek, suaranya sangat nyaring dan pastinya terdengar hingga ke luar ruangan. Lizzie menggeram kesal karena tugasnya harus terhambat oleh masalah seperti ini. Jika lelaki bodoh itu tidak kemari, mungkin Lizzie sudah berhasil melancarkan aksinya dengan baik.
Karena bingung harus melakukan apa, akhirnya Lizzie berinisiatif untuk pergi dari kamar itu, meninggalkan Paul seorang diri di sana. Gadis itu berlari kecil mencari tempat sembunyi sementara sebelum penghuni rumah ini menemukannya.
Sementara Paul mendecak lidah jengkel, tak menyangka gadis tomboi itu lebih memilih melarikan diri ketimbang bertanggung jawab atas tangisan bayi ini. Alhasil, mau tidak mau, Paul harus mengatasi ini sendirian. Ia paham posisinya saat ini sedang sangat gawat, jika penghuni rumah ini mendapatkan Paul sedang berada di sini, dia pasti bakal terkena masalah. Tapi Paul tidak bisa melarikan diri begitu saja seperti Lizzie, hingga membiarkan bayi seorang diri menangis seperti ini.
Paul pun, dengan perlahan-lahan mengangkat tubuh mungi bayi yang tengah menangis itu, ke pelukannya. Ia menggendongnya dengan lembut, sembari menggoyang-goyangkan badan bayi tersebut agar tenang. Sungguh, ini adalah pertama kalinya Paul melakukan ini dalam hidupnya. Dan tampaknya, Paul mampu menenangkan bayi kecil yang sedang menangis dengan caranya sendiri.
"Eh? Tangisannya berhenti?"
Lizzie--yang sedang bersembunyi di bawah loteng--terperanjat saat menyadari kalau suara pekikan bayi itu lenyap dalam seketika, seperti ada seseorang yang telah menenangkannya. Tapi siapa? Apakah penghuni rumah ini bangun dan pergi ke kamar itu untuk menenangkan bayinya? Tapi rasanya Lizzie tidak mendengar suara jejak kaki siapa pun di lorong rumah. Oh! Atau mungkin lelaki bodoh itu telah melakukan sesuatu pada bayi tersebut.
Lizzie curiga lelaki bodoh itu membunuh bayi tanpa basa-basi saking paniknya, atau mungkin dia melakukan hal lebih parah dari itu.
"********! Seharusnya bunuh-membunuh adalah tugasku! Awas saja kalau dia melakukan hal yang seharusnya jadi tugasku! Akan kucincang dia sampai habis!"
__ADS_1
Lizzie, di bawah loteng, terlihat marah saat memikirkan kalau Paul telah membunuh bayi itu. Sebenarnya itu bagus, karena tugasnya di sini bisa lebih ringan. Tapi tetap saja, Lizzie di sini sudah berjanji pada Rara untuk membunuh seluruh keluarganya dengan tangannya sendiri. Dan itu adalah perjanjiannya yang mutlak. Tapi apa-apaan ini!? Mengapa orang asing harus terlibat dengan pekerjaannya!
Dengan napas kembang-kempis, Lizzie langsung keluar dari loteng untuk menegur lelaki bodoh itu agar tidak melakukan hal yang bukan kewajibannya. Namun, baru saja Lizzie keluar, dia malah terpergok oleh seorang wanita dewasa bertubuh ramping, dengan mata lebar dan berambut cokelat mahoni yang kebetulan sedang lewat di lorong. Dan tentunya Lizzie tahu persis siapa wanita dewasa yang ada di depannya ini.
"Eh!?" Wanita itu tersentak ketika melihat Lizzie yang tiba-tiba ada di dalam rumahnya. "Bukankah kau--astaga! Sedang apa kau di dalam rumahku, Lizzie!?"
Sial sekali Lizzie bisa bertemu dengan seorang nyonya di rumah mewah ini, atau dengan kata lain, wanita itu adalah Ibu Kandungnya Rara. Dan tentu saja wanita itu mengenali Lizzie, karena mereka tetanggaan.
Lizzie hanya tersenyum kaku hingga akhirnya berkata "Ah, Selamat Malam," kata Lizzie dengan berusaha untuk bersikap ramah sebisa mungkin, agar dapat menyembunyikan niat busuknya berada di rumah ini. "Maaf jika kedatanganku mengejutkanmu, Nyonya. Aku datang kemari karena ada urusan mendadak yang harus aku lakukan di sini."
"Urusan mendadak?" Suara Wanita itu langsung dinyaringkan dengan mata yang melotot. Seakan-akan dia kesal karena rumah pribadinya bisa dengan mudah dimasuki oleh gadis belia seperti Lizzie. "Kau pikir rumahku ini adalah area untuk orang lain keluar-masuk seenaknya!? Begitu maksudmu!?" Wanita itu tampak murka, wajahnya memerah, dia tidak dapat membendung amarahnya saat rumah mewahnya bisa dimasuki oleh orang lain. "Atau jangan-jangan... Kau mau mencuri sesuatu di sini! Iya, kan!?"
Setelah membaringkan kembali bayi mungil yang sudah terlelap itu ke ranjang kecilnya, Paul sedikit mendengar suara wanita yang sedang marah-marah pada seseorang di luar ruangan, tidak jauh dari kamar ini. Pelan-pelan, Paul mendekati pintu kamar untuk mengintip apa yang terjadi di luar dan betapa kagetnya ia saat menemukan Lizzie sedang dibentak-bentak oleh wanita dewasa--yang sepertinya salah satu tuan rumah di sini.
"Bukankah dia itu pembunuh bayaran? Payah sekali dia, hingga tertangkap basah begitu."
Paul menggeleng-gelengkan kepalanya memandang kejadian itu. Namun, di lain sisi, Lizzie malah sedang menyunggingkan senyuman kecil saat dirinya dimaki-maki oleh Ibunya Rara.
Tampaknya, Lizzie punya rencana licik di balik diamnya dia.
__ADS_1