Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 79 : Wanita Brengsek


__ADS_3

"Jadi begitu, ya?" Isabella menahan tawa setelah mendengar penjelasan yang dikemukakan oleh Naomi. "Bukankah itu gawat?"


"Jangan mengejekku!" seru Paul saking jengkelnya melihat wajah Isabella yang tampak ingin tertawa, dan saat Paul mengatakan itu, helikopter yang mereka tumpangi, perlahan-lahan mendaratkan kakinya ke permukaan dari gedung tinggi di Kota Luna. Membuat Paul dan yang lainnya terkejut dan melihat ke jendela tiap sisi, ternyata benar, helikopternya akan mendarat di atas sebuah gedung.


"Sepertinya kita sudah sampai," ucap Isabella dengan menyunggingkan senyuman tipisnya. "Di kediaman Gina Orcadelia." Entah kenapa, saat mendengar nama itu, Paul, Cherry, dan Naomi, jadi sedikit gelisah. Sepertinya mereka bertiga memikirkan tentang 500 juta itu.


Ketika pintu helikopter dibuka oleh sang pilot, Paul, Cherry, dan Naomi, tidak menunjukkan keberanjakkan mereka dari kursi, malah sebaliknya, mereka malah mematung di kursi masing-masing, seolah-olah tidak berminat untuk bertemu dengan Gina Orcadelia. Melihat hal itu, tentu saja membuat Isabella bertanya-tanya.


"Ada apa dengan kalian?" Isabella mencoba memikirkannya. "Ah, jangan-jangan kalian enggan untuk bertemu dengan muncikariku karena takut ditagih uang sebesar 500 juta? Ya ampun, sampai tidak mau beranjak dari kursi? Kalian benar-benar lucu, ya?" Isabella melangkahkan kakinya untuk keluar dari helikopter. "Jangan takut, santai saja. Lagipula, aku tidak akan mau melayani orang yang tidak mampu membayar jasaku. Jadi, santai saja."


Malah sebaliknya, mendengar perkataan Isabella malah membuat mental mereka jadi makin turun. Tapi, karena bosan terus-terusan berada di kabin helikopter, akhirnya mereka bertiga berusaha memberanikan diri untuk keluar dan menghadapi wanita bernama Gina Orcadelia. Keberanian mereka patut diacungi jempol.


"Membawa tiga orang temanmu untuk berkunjung ke rumahku? Isabella, makin hari, kau jadi makin seenaknya. Kau pikir rumahku ini apa? Taman bermainmu?"


Itulah sambutan yang dikatakan seorang wanita berambut cokelat tebal dengan muka yang tampak ketus. Sepertinya wanita itu adalah Gina Orcadelia, dia mengenakan baju wol tebal warna merah dengan celana berbahan sama dan berwarna sama, ia sedang duduk di antara tiga sofa yang saling menghadap, di dalam ruang luas yang diyakini sebagai ruang tamu. Isabella mengajak Paul, Cherry, dan Naomi, masuk dan duduk di sofa-sofa tersebut, untuk melakukan bincang-bincang hangat bersama Gina Orcadelia, sementara pria tambun yang sebelumnya menjadi pilot mereka, pergi entah kemana.

__ADS_1


Setelah masing-masing dari mereka duduk di sofa yang tersedia, Isabella langsung menimpali perkataan yang barusan dilontarkan oleh muncikarinya. "Apa itu candaan model lama? Membosankan sekali dirimu, Gina," kata Isabella tanpa memakai sebutan 'Tante', 'Nyonya', atau 'Ibu', pada wanita berusia tiga puluhan seperti Gina. "Jangan bercanda, aku kemari bukan untuk bermain-main. Aku datang kemari untuk menginformasikan beberapa hal padamu, terkait dengan keberadaan mereka bertiga di sini."


"Hm?" Gina Orcadelia melirik ke muka Paul, Cherry, dan Naomi, yang sedang duduk di sebelah Isabella. "Kebetulan juga, aku ingin memberitahukan sesuatu yang begitu penting juga padamu, Isabella. Ini mengenai pelanggan baru yang berani mengambil harga tinggi padamu. Kau pasti akan kaget saat mendengar nominalnya, Isabella."


Paul, Cherry, dan Naomi, sadar kalau yang Gina Orcadelia bicarakan saat ini pasti tentang itu. Tentang 500 juta. Itulah mengapa muka mereka jadi berkeringat secara bersamaan saat mendengarnya, sementara Isabella hanya tersenyum memandang ekspresi mereka.


"Aku tahu, kok." kata Isabella, membalas ucapan muncikarinya, seraya menampilkan senyuman menggoda. "Aku tahu apa yang kau maksud, Gina."


"Kau mengetahuinya?" Gina Orcadelia tersentak. "Itu mustahil, aku belum memberitahumu tentang itu. Aku berniat mengejutkanmu saat ini, tapi benarkah? Kau mengetahuinya lebih dulu? Sebelum aku memberitahumu? Tunggu, jika kau mengetahuinya, coba katakan berapa nominal yang pelanggan baru itu ambil?"


Gina Orcadelia terkejut, benar-benar terkejut mendengarnya. "Kau tahu itu dari mana!?"


Isabella langsung menunjuk ke arah tiga orang yang sedang duduk di sebelah kanannya, seraya mengatakan, "Aku tahu itu dari mereka. Karena lelaki inilah," Isabella menepuk pundak Paul dengan tersenyum. "Yang berani menyewaku dengan harga 500 juta, Gina."


"Benarkah!?" Gina Orcadelia tidak bisa menutupi keterkejutannya, sungguh, sebuah kebetulan yang tidak terduga. Ini tidak seperti yang dia pikirkan, mengapa seorang pelanggan bisa bertemu dengan pelacurnya tanpa menghubunginya sama sekali? Apakah tugas seorang muncikari tidak dipergunakkan di sini? Sialan. "Jadi maksudnya, lelaki ini adalah Tuan Paul?"

__ADS_1


Paul, perlahan-lahan, menegakkan kepalanya untuk menatap wajah Gina Orcadelia dengan mata yang tajam. "Ya, aku Paul," jawab Paul dengan nada dan wajah yang terkesan datar. "Kau meragukanku?"


"Mana mungkin aku meragukanmu! Hahahaha!" Tiba-tiba Gina Orcadelia beranjak dari kursinya, memasang wajah ramah, dan berjabat tangan dengan Paul. Wanita itu mendadak jadi sangat bersemangat saat tahu kalau lelaki yang ada di hadapannya ini adalah Paul. Isabella hanya terkikik melihat tingkah Gina yang seakan-akan menyambut tamu terhormat. "Oh, Anda ingin kopi? Susu? Jus? Pilihlah sesuka Anda, saya akan menyiapkannya dengan baik. Apa Anda juga lapar? Sebutkan saja nama makanannya, saya akan memerintahkan babu-babu saya menyiapkan makanan yang Anda inginkan. Ayo, katakan saja. Bukan hanya Anda, dua gadis cantik di samping Anda pun boleh memintanya, silakan."


"Ngomong-ngomong," Isabella bersuara dengan menahan tawanya. "Mereka datang kemari bukan untuk membayar 500 juta yang kau sebutkan itu, Gina. Malah sebaliknya," Isabella menyunggingkan senyumannya yang terkesan mengejek. "Mereka sama sekali tidak membawa uangnya, atau bisa dibilang, mereka tidak punya uang sebesar 500 juta. Malang sekali, bukan?"


Sontak, mendengar perkataan Isabella, membuat raut wajah Gina Orcadelia yang sebelumnya dipenuhi dengan keramahtamahan dan kehangatan, berubah jadi ketus dan angkuh. "Begitukah?" jawab Gina Orcadelia dengan memandang lekat-lekat muka Paul, Cherry, dan Naomi. "Mengecewakan sekali, kalau begitu, Anda-Anda sekalian, bisa minum saja air got yang ada di luar, atau makan rumput-rumput liar saja di pekarangan rumahku. Silakan, ambil sesuka kalian." kata Gina dengan kembali duduk di sofanya. "Isabella, mengapa kau membawa orang-orang miskin ini ke rumahku? Kau tahu, kan? Rumahku hanya terbuka untuk orang-orang kaya saja, sementara mereka, malah membuat lantaiku jadi kotor. Ayo, usir mereka dari sini, Isabella. Kau yang membawanya, kan?"


Tiba-tiba, Cherry berdiri dari sofa dan berkata dengan geraman yang menyeramkan, "Bukan hanya menghina Cherry, tapi kau juga merendahkan Paul dan Naomi. Cherry pikir kau tidak akan sejahat ini dalam bersikap, tapi ternyata Cherry salah. Kau benar-benar," Cherry langsung melotot ke arah Gina Orcadelia, membuat wanita itu terkejut. "... keterlaluan!"


Bukan hanya Gina Orcadelia, Isabella pun terkejut dengan tingkah Cherry yang mendadak berubah begitu. Sedangkan Paul dan Naomi malah membiarkan Cherry untuk bertindak sesukanya, karena mereka pun marah dengan perkataan Gina Orcadelia yang dipenuhi dengan nada ejekan, hinaan, dan hujatan.


"Saya juga tidak suka pada sikap Anda, Gina Orcadelia," Naomi ikut berdiri dari sofa dengan memasang wajah super kecewa. "Anda pikir kekayaan akan membuat Anda terlihat mulia, begitu? Anda salah besar! Kekayaan hanya akan membuat Anda buta terhadap kenyataan, contohnya seperti," Naomi tersenyum tipis. "Anda yang buta terhadap kemarahan orang-orang miskin seperti kami. Apakah Anda pikir kami akan diam saja dihina oleh Anda? Sayang sekali, kami tidak selemah itu!"


Paul menggertakkan rahangnya. "Dasar wanita brengsek!"

__ADS_1


__ADS_2