Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 110 : Berikan Penawar Racunnya Padaku


__ADS_3

Lizzie menangis dalam diam saat mengintip ayah dan kakak laki-lakinya dari balik pintu, sedang membunuh sang ibu yang tengah terlelap di malam hari.


Mereka membunuhnya dengan sadis, menggunakkan alat-alat perkakas yang seharusnya dipakai untuk memperbaiki perabotan rusak. Mereka memukul kepala sang ibu dengan palu besar, memotong jemarinya dengan gunting tajam, memenggal kepalanya dengan gergaji mesin, hingga menghancurkan seluruh tubuhnya dengan alat-alat tajam lainnya.


Lizzie menyaksikannya dengan sangat jelas, saat percikan darah memuncrat-muncrat di kamar itu, dengan sebegitu gilanya. Ranjang lembut itu, sudah dikotori dengan semburan-semburan darah merah yang menyiprat-nyiprat dari tubuh sang ibu.


Bahkan, sang ayah dan sang kakak terlihat tertawa-tawa saat tangan mereka menyakiti tubuh sang ibu, berkali-kali, berulang-ulang, hingga tak tersisa sedikit pun. Mereka melakukannya tanpa sedikit pun merasa bersalah, suara tawa yang mereka keluarkan, benar-benar menjijikkan.


"Hahahaha!" Tawa sang ayah langsung mengguncangkan jiwa Lizzie. "Beginilah perempuan! Mereka memang menyusahkan! Mereka merepotkan! Perempuan sangat lemah dan bodoh! Itulah mengapa kau harus beryukur, Kozzie! Karena telah lahir menjadi seorang laki-laki!"


"Ya, Ayah!" Kozzie, kakak laki-laki Lizzie, mengangguk gembira mendengar perkataan ayahnya. "Aku bangga karena terlahir menjadi seorang laki-laki!"


"Laki-laki adalah penguasa! Perempuan hanyalah budak **** kita! Seharusnya aku tidak perlu menikahi seorang perempuan! Karena tanpa dinikahi pun, sudah menjadi tugas para perempuan untuk memenuhi hasrat seksual laki-laki! Mereka hidup hanya untuk itu! Menjadi pabrik anak!"


"Ya! Itu benar, Ayah! Aku akan menjadi laki-laki terkuat! Dan akan memiliki ratusan perempuan sebagai budak seksku! Daripada menikahi mereka dan berakhir terlilit hutang seperti yang dialami Ayah! Lebih baik aku menikmati vaginanya tanpa perlu menikahinya! Itu benar, kan? Ayah!? Aku tidak salah, kan!?"


"Ya, Nak! Kau tidak salah sedikit pun! Ambisimu sangat bagus! Hahahaha--Ah!" Saat sang ayah menyadari kehadirannya, dan melirik ke celah-celah pintu, Lizzie langsung melarikan diri dengan tangisan yang masih mengalir deras, membasahi pipinya. Lizzie pergi jauh dari rumah dan bersembunyi di dalam mercusuar dalam waktu yang lama.


"Mereka salah," Dan pada suatu pagi, Lizzie termenung di depan mercusuar, memandangi perairan laut yang membentang luas. "Perempuan tidak lemah. Perempuan tidak bodoh. Perempuan bukan budak ****. Akan aku buktikan pada mereka, bahwa terlahir menjadi seorang perempuan, adalah kebanggaan!"


"Benarkah?" Tiba-tiba terdengar suara ayah dan kakak laki-lakinya yang menggelitiki telinganya dari belakang. Membuat Lizzie terlonjak dan--

__ADS_1


"Hahhh... Hahh... Hahh...," Lizzie terbangun dari tidurnya di tengah malam, dengan keringat yang mengucur deras dan napas yang terengah-engah. "Mimpi buruk lagi? Sial!" Lizzie mencengkram seprai kasurnya dengan kesal. "Tiap malam selalu begini! Padahal aku tidak mau mengingatnya lagi! Karena itu...," Air mata Lizzie tumpah tanpa disadarinya. "... terlalu menyakitkan."


"Kau sudah bangun?" Tiba-tiba Lizzie mendengar suara seorang gadis kecil di dekatnya, karena kamarnya gelap--sebab Lizzie tidak memasang listrik lagi di rumahnya sejak kejadian itu--ia tidak bisa melihat kehadiran sosok yang ada di kamarnya. Tapi dari suaranya, Lizzie bisa tahu kalau itu adalah, "Ini Rara. Maaf karena masuk ke rumahmu tanpa izin, Lizzie."


"Rara!?" Lizzie terkejut dan turun dari ranjang. "Hey!? Di mana kau!? Katakan padaku! Di sini terlalu gelap!"


"Tidak apa-apa. Begini lebih baik," kata Rara dengan menghela napasnya. "Lagi pula, aku juga tidak berani melihat wajahmu lagi, setelah mengatakan hal seperti itu padamu."


Lizzie mengingat ucapan Rara, yang bilang bahwa gadis itu membencinya. "Mengapa kau bisa datang kemari? Bukankah ini sudah malam!? Keluargamu pasti cemas! Mereka pasti bakal mencarimu!"


"Tidak," Suara Rara terdengar memilukan, seperti mau menangis. "Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Aku ingin di sini, bersamamu, Lizzie."


"Rara? Kumohon, jangan lagi!"


"Tapi! Rumahmu, kan, mewah!? Kau seharusnya bersyukur bisa hidup di tempat semewah itu, Rara."


"Itu tidak ada artinya jika aku tidak bahagia tinggal di sana!"


"Jadi, sekarang kau mau apa?"


Rara menarik napasnya dalam-dalam dan dihembuskan perlahan. "Lizzie, kau seorang pembunuh bayaran, kan?" Rara terdiam sejenak. "Malam ini, aku ingin menyewamu untuk menghabisi seluruh keluargaku! Tenang saja, aku sudah membawanya! Dua puluh tas besar yang berisi kepingan emas mahal! Aku akan membayarmu dengan itu! Jadi kumohon," Rara meneguk ludahnya dengan gelisah. "Lakukan perintahku. Berikan mereka hukuman yang setimpal karena telah menganggapmu sebagai manusia rendahan! Bunuh mereka semua, Lizzie. Aku sudah muak dengan mereka!"

__ADS_1


"Aku tidak bisa melakukannya!"


"Apa kau masih bisa mengatakan itu setelah mereka berusaha mengusirku dari rumah!?" Suara tangis Rara mulai pecah. "Tadi malam... hiks! Mereka semua mengusirku! Mereka bilang... hiks! Badanku kotor! Karena telah bermain denganmu! Bahkan Nenek dan Kakek diam saja saat aku diusir oleh Mama dan Papa! Kumohon.. hiks! B-Bunuh! Bunuh mereka semua, Lizzie!"


"Kau diusir!? ********!" Lizzie menggeram lalu ia langsung bergegas untuk bersiap-siap melancarkan aksinya. "Baiklah, Rara. Aku akan membunuh keluargamu," Lizzie menyeringai jahat. "... tanpa sisa."


Namun, baru saja Lizzie membuka pintu depan untuk keluar, ia dikejutkan dengan kehadiran sesosok lelaki yang berdiri tegak di depan rumahnya.


"Lizzie!? Siapa orang itu!?" Cahaya bulan mulai masuk ke dalam ruangan depan dari rumah itu setelah pintunya terbuka, dan Rara bisa melihat wujud Lizzie secara utuh, dan juga, wujud orang asing yang sedang berdiri di luar.


"Berikan penawar racunnya padaku."


"Suara ini... kau yang tadi siang, ya!?" Lizzie mulai sadar saat mendengar suara lelaki itu. Orang ini, adalah salah satu orang mesum yang ia temui saat di pekarangan sepi. "Rara! Masuk ke dalam! Jangan keluar! Jangan khawatir, dia bukan masalah! Orang ini," Lizzie kembali menampilkan seringaiannya. "Bukanlah apa-apa dibandingkan denganku!"


"Berikan penawar racunnya padaku."


"Ah? Kau masih menginginkan itu? Mengkhawatirkan kondisi temanmu yang telah mati itu? Hahahaha! Percuma-percuma! Kau tidak akan mendapatkan apa pun! Dia sudah mati! Aku tidak bohong! Walaupun aku memberikan penawar racunnya padamu, itu sia-sia! Karena saat ini, organ-organ dalam tubuhnya pasti sudah membusuk! Bukan hanya itu, jangka waktu saat dia terkena racun pun terlalu jauh dengan waktu sekarang! Jadi menyerahlah, ********! Hahahahaha!"


"Berikan penawar racunnya padaku."


Mendengar kata-kata yang terus diulang-ulang, membuat Lizzie jadi jengkel. "SETIDAKNYA! JAWABLAH PERKATAANKU! DASAR LELAKI IDIOT!" Lizzie benar-benar kesal merasa diabaikan seperti ini. "Kau terus mengatakan hal yang sama dari tadi, apakah kau sebegitu inginnya pada penawar racun itu, hah?" Lizzie menyeringai. "Tapi maaf saja, itu tidak gratis, jika kau memang menginginkannya. Maka jilatilah kaki-kakiku, mungkin dengan itu, aku bisa mempertimbangkannya. Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Kubilang, berikan penawar racunnya padaku."


Lizzie terbelalak saat Paul lagi-lagi, mengulangi perkataan yang sama. "GRRR! ********!"


__ADS_2