
Nico terus melontarkan berbagai pertanyaan pada Roswel mengenai kejanggalan-kejanggalan yang ia lihat dan dengar dari pria berjubah itu. Cherry yang juga ada di sana, terkejut dengan kemunculan Roswel yang terkesan mengagetkan, jantungnya hampir copot karena hal itu. Sementara Roswel yang sedang berdiri di antara Nico dan Cherry hanya tersenyum ramah, tidak peduli pada reaksi dua bocah itu yang terkejut karena kemunculannya. Namun, perhatian Roswel langsung tertuju pada Nico setelah bocah itu menanyakan hal-hal yang selalu ditanyakan pahlawan-pahlawan baru. Alhasil, Roswel hanya mengunggingkan senyuman tipisnya seraya berkata,
"Saya senang Anda menanyakannya, Tuan Nico," Senyuman Roswel semakin mengembang. "Nama saya Roswel. Mengenai apa dan siapa saya, itu tidak terlalu penting, Tuan. Karena saya bukanlah siapa-siapa di sini, saya hanya seorang pelayan rendahan yang ditugaskan untuk mengawasi kalian, para pahlawan. Lalu, mengenai pertanyaan siapa 'Tuan Paul' yang saya maksud, itu hampir membuat saya tertawa, Tuan. Karena Paul adalah nama seorang lelaki yang tadi pagi bertemu dengan Anda di perpustakaan Raksasa Kota Vineas. Pasti Anda masih mengingatnya, bukan, Tuan Nico?"
Bibir Nico langsung mengkerut jengkel, mengingat kejadian tadi pagi, yang telah membuat wajahnya babak belur dan kaca matanya rusak. "Tentu saja aku mengingatnya. Dia adalah manusia paling barbar yang pertama kalinya aku temui. Tapi, mengapa tadi kau bilang 'kami sangat berharga bagi Tuan Paul'? Apa maksudnya itu? Dan juga, untuk apa kau menggunakan kata 'tuan' pada manusia berandalan itu? Kurasa, sampah seperti dia tidak pantas disebut begitu."
Roswel terkekeh sejenak hingga akhirnya menjawab dengan suara yang lembut, "Sebenarnya saya dilarang menjelaskan hal-hal ini soalnya ini bukan kewajiban saya, tapi karena Anda terlihat haus akan segala ketidakwajaran, sepertinya saya terpaksa harus menjelaskannya walau sebetulnya ini adalah tugasnya Tuan Paul," Dan Roswel melanjutkan kata-katanya dengan hangat, "Singkatnya, Anda telah terpilih sebagai salah satu dari sepuluh pahlawan, dan mengapa Anda bisa terpilih? Itu karena roh berbentuk kunang-kunang telah memilih dan masuk ke dalam tubuh Anda, Tuan.
Lalu, mengenai Tuan Paul. Dia adalah seseorang yang terpilih menjadi seorang mentor, tapi tidak seperti para pahlawan, Tuan Paul dipilih bukan karena ada hewan yang masuk ke dalam tubuhnya, melainkan karena kehendak Sang Penguasa. Dan tugas seorang mentor adalah membimbing dan mengarahkan para pahlawan untuk menjadi seorang pahlawan sejati. Begitulah, intinya. Jadi sampai sini, apa Anda sudah paham, Tuan Nico?"
Nico mengerjapkan matanya beberapa detik, dia masih belum tampak mau merespon penjelasan yang dikemukakan Roswel, karena saat ini, kepalanya serasa mau pecah. Seperti yang kita tahu, Nico adalah seorang pecandu buku, dan dia sudah membaca banyak buku dari berbagai genre di perpustakaan raksasa. Tidak sedikit juga Nico menghabiskan waktunya untuk membaca beberapa novel fantasi, dan karena hal itulah, ia merasa apa yang dijelaskan oleh Roswel seperti kisah-kisah yang ada di novel-novel fantasi. Dan tentu saja, Nico merasa itu aneh. Karena kebanyakan, cerita-cerita fantasi selalu di latar belakangi dengan dunia zaman pertengahan atau lebih silam dari itu. Sedangkan Nico hidup di dunia ini pada zaman modern, yang tentunya sudah lebih maju dan canggih dari zaman dulu.
Tapi yang jadi masalahnya, kalau pun apa yang dikatakan Roswel itu benar, tetap terdengar sangat aneh di telinga Nico. Karena fenomena fantasi di dunia modern sangat mustahil dan tidak cocok. Dan juga, apa yang disebut sebagai pahlawan pun berhasil membuat Nico terheran-heran, karena menurut dia, fungsi pahlawan di zaman modern terasa tidak dibutuhkan, karena di zaman ini sudah ada pasukan militer yang bertugas melindungi dunia. Lagi pula, dunia pun sepertinya sedang berada di zona aman dan damai, jarang terdengar adanya bahaya yang membuat umat manusia terancam. Sekalinya ada bahaya pun, paling hanya sebentar dan tidak terlalu memakan banyak korban.
Sampai akhirnya, Nico tergelak, meremehkan perkataan Roswel dengan mata yang sombong. "Terima kasih atas dongengnya, Roswel. Tapi ampuni aku jika aku tidak percaya pada omonganmu. Tidak, maksudku, aku percaya pada omonganmu, namun aku masih meragukannya. Karena kau tahu, apa yang kau jelaskan terasa aneh, bahkan sangat aneh. Aku sampai berpikir, apakah kau ini salah satu pasien rumah sakit jiwa? Karen--"
"TADI KAU BILANG APA!?" Tiba-tiba Cherry berteriak lantang, dia tersinggung dengan perkataan Nico yang menyebut-nyebut 'rumah sakit jiwa'. Mata Cherry sampai melotot seakan-akan bola matanya mau keluar dari tempatnya. Nico mengalihkan pandangannya dari Roswel ke Cherry.
__ADS_1
"Ada apa dengan dirimu? Mendadak teriak begitu, apa kau sudah gila?"
Merasakan ketegangan mulai datang kembali, Roswel cepat-cepat bersuara, agar dua pahlawan itu tidak lagi bertengkar. "Maaf, tapi bolehkah aku berbicara?" Walau bilang begitu, Roswel tidak peduli pada persetujuan mereka, dia langsung melanjutkan ucapannya, membuat Cherry dan Nico memperhatikannya. "Tuan Paul bersama Tuan Jeddy dan Tuan Colin akan datang kemari, saya bisa merasakannya, mereka sudah sangat dekat. Oh, mereka sudah muncul."
Saat Roswel mengatakannya, pandangannya diarahkan ke jalanan dan ternyata memang benar, ada Paul, Jeddy, dan Colin yang sedang berlari kemari. Dan sepertinya, Roswel lah yang mengundang mereka kemari melalui telepati yang biasa ia lakukan pada Paul. Roswel diam-diam melakukannya saat ia sudah berada di sini. Benar-benar makhluk yang cerdik.
Cherry dan Nico mengalihkan perhatiannya pada Paul, Jeddy, dan Colin yang sudah masuk ke dalam pekarangan rumah si lelaki putih. Sementara itu, tetangga-tetangga Nico yang sebelumnya mengintip di jendelanya masing-masing sudah tidak ada, mereka sepertinya sudah tidak tertarik lagi untuk menonton.
Mendengar segala umpatan dan bentakan dari Paul, membuat Roswel terkekeh-kekeh santai. Kemudian, Roswel pun meresponnya dengan ekspresi yang ramah, "Saya senang akhirnya Anda bersama Tuan Jeddy dan Tuan Colin telah tiba di sini," kata Roswel dengan suara yang lembut.
"Woah!" Jeddy terperangah memandang sosok Nico yang sedang berdiri di belakang rumah tanpa pintu, padahal pintunya sudah dihancurkan oleh Cherry. "Kita bertemu lagi denganmu! Dan wow! Apa ini rumahmu!? Tapi kenapa tidak ada pintunya, Bro!?"
"Ternyata ketololanmu lebih parah dibanding teman-temanmu, ya? Bukankah sudah jelas? Pintuku telah diledakkan. Dan menurutmu, siapa yang meledakannya? Heh! Itu karena ulah sampah sok imut itu." sambar Nico dengan tatapan sinis pada Jeddy sembari mengerling ke arah Cherry. "Tapi sungguh, aku tidak habis pikir mengapa kalian, para sampah masyarakat, bisa mengetahui letak rumahku? Oh, Biar kutebak, kalian pasti mengetahuinya dari pria yang menyebut dirinya sendiri sebagai 'Roswel' ini, kan?" Nico mendelik ke sosok Roswel yang ada di hadapannya.
"Hey Paul!" Colin menepuk-nepuk bahu Paul dengan muka yang resah. "Selagi kita bertemu dengan orang sombong ini, mengapa kau tidak langsung saja menjelaskan hal 'itu' pada dia!? Bukankah lebih cepat lebih baik, soalnya aku mulai merasa dia jadi semakin menjengkelkan."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Paul menganggukkan kepalanya, setuju pada saran Colin, kemudian lelaki berambut hitam itu segera melangkahkan kakinya mendatangi Nico dengan muka sangarnya. Walau sebenarnya Nico agak merinding melihat wajah Paul, tapi dia tetap bersikap sombong, mempertahankan harga dirinya yang tinggi.
"Kau mau apa lagi? Apa kau masih belum puas setelah menghajar wajahku di perpustakaan raksasa? Apa kau masih belum puas setelah temanmu yang bernama Cherry itu, merusak rumahku? Dan apakah kau masih puas setelah--"
"Aku hanya ingin memberikanmu ini!" Tiba-tiba Paul mengeluarkan sebuah kotak panjang dari kantong celananya dan menyodorkannya pada Nico. "Aku benci mengatakannya! Tapi aku benar-benar minta maaf telah menghajarmu di perpustakaan dan semua yang telah aku dan teman-temanku lakukan padamu! Jadi, tolong! Terimalah ini sebagai simbol permintaan maaf dariku, Nico!"
Saat Paul mengatakannya, kepalanya dia alihkan ke samping, tidak berani memandang wajah Nico, tapi tangannya tetap menyodorkan benda kotak panjang itu pada si lelaki putih. Pipi Paul pun memerah karena malu, soalnya 'meminta maaf' bukanlah gayanya, tapi dia terpaksa melakukannya untuk menebus segala kesalahannya.
Memandang kotak panjang yang disodorkan Paul padanya, membuat Nico terdiam, hingga akhirnya perhatiannya terangkat ke wajah Paul yang sedang membuang muka ke samping.
"Kau serius?" Nico terkejut, karena dia yakin sekali, isi dari kotak panjang yang disodorkan oleh Paul adalah sebuah kaca mata baru. Dan yang lebih parahnya lagi, Nico terkesima saat sadar bahwa di sisi kotak panjang tersebut ada lambang sebuah merek dari perusahaan kaca mata terkenal yang selalu memproduksi dan memasarkan produk-produknya dengan kualitas yang sangat bagus dan harga yang sangat mahal. Dan lebih gilanya lagi, kaca mata yang dibeli Paul adalah jenis terbaru yang kini sedang trending di internet. Mata Nico berbinar-binar memandangi kotak panjang itu sampai akhirnya dia secara tidak sadar mengambil benda tersebut dari genggaman Paul dan memeluknya erat-erat sambil cengengesan.
Menyaksikan tingkah Nico, membuat Paul mengernyitkan alisnya kaget, Jeddy menahan tawanya, Colin memiringkan kepalanya keheranan, Cherry mendecih kesal dan Roswel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka saat ini sedang melihat sisi Nico yang berbeda dari biasanya.
Sadar telah menunjukkan sisi memalukannya di hadapan orang-orang, buru-buru Nico menghentikkannya, dan kembali bersikap angkuh seperti sebelumnya. Dan dengan suara yang nyaring, Nico berkata, "Heh! Siapa sangka berandalan sepertimu ternyata bisa membeli barang mahal seperti ini, mengejutkan, tapi terima kasih. Aku senang sekali," ucap Nico dengan mendengus. "Satu lagi, mengenai sesuatu yang berkaitan dengan 'pahlawan' dan semacamnya. Aku menolaknya. Aku tidak mau jadi sosok pahlawan, karena itu sangat memalukan. Tapi," Nico berdehem. "Jika kau memaksa, mungkin aku berubah pikiran."
__ADS_1