Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 104 : Pembunuh Bayaran


__ADS_3

"Lalu," Paul menghela napas sambil menahan segala amarahnya yang sempat membludak-bludak ingin menghajar wajah gadis tomboi yang berdiri jauh di depannya. Matanya menilik ke sosok Lizzie--perempuan berambut oranye pendek yang mengenakan pakaian olahraga--dengan muka yang dipaksakan setenang mungkin. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Jangan berbicara padaku!" Lizzie tampak tidak suka pada orang asing yang bertanya padanya seolah-olah mereka adalah teman akrab, padahal tiga orang itu tidak lebih dari manusia-manusia mesum yang telah tertangkap basah sedang melakukan hal yang bejat di sini, apalagi kebejatan itu dilakukan oleh dua orang lelaki, sedangkan gadis satunya mengabadikannya dengan jepretan kamera ponsel. Mengingatnya saja, membuat perut Lizzie jadi mual. "Aku tidak mau berbicara dengan orang-orang menjijikan seperti kalian! Dan satu lagi! Meskipun aku tidak bisa melaporkan kalian pada wali kota karena tidak punya bukti, kalian tetap akan terkena hukuman!"


Lizzie merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah gunting kertas yang di tiap giginya, dipenuhi oleh bercak darah kering, entah darah siapa, apakah darah dirinya sendiri, darah hewan buas, ataukah darah orang lain. Tentu saja, Paul, Isabella, dan Abbas tidak bisa santai saja saat melihat seseorang mengeluarkan benda tajam di depan mereka. Walaupun hanya sekedar gunting biasa, itu bisa berubah jika orang yang memegangnya ahli dalam memotong, mengoyak, dan membunuh makhluk hidup. Mereka bertiga jadi terlihat berjaga-jaga; Abbas maju selangkah di depan teman-temannya, berniat melindungi mereka. Isabella memasang kuda-kuda melarikan diri, jika bahaya mulai mendekat. Paul membungkukkan badannya, menopang dua telapak tangannya di paha-paha kerasnya yang menekuk, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan dilakukan oleh perempuan tomboi tersebut.


Lizzie memicingkan matanya saat menyadari ada perbedaan sikap dari tiga orang itu, yang tampak waspada pada pergerakan dirinya. Lalu pandangan Lizzie dialihkan pada gunting yang sedang dipegangnya, ah, pasti mereka berpikiran begitu, pikirannya mulai memahami situasi. Kemudian, Lizzie kembali mencondongkan perhatiannya pada Paul, Isabella, dan Abbas seraya melemparkan gunting itu secara kasar pada permukaan tanah di depan tiga orang bejat itu berdiri.


"Hukuman yang akan kalian terima adalah," Lizzie tersenyum angkuh. "Memangkas rambut panjang dari teman perempuan kalian!" Lizzie menunjuk ke tempat Isabella berdiri. "Kalian berdua! Potong rambut perempuan itu sependek mungkin! Aku tidak suka melihat perempuan berambut panjang! Karena itu simbol dari kelemahan! Jadi cepatlah! Ambil gunting yang kuberikan pada kalian! Dan potong rambutnya!"


Paul, Isabella, dan Abbas terbelalak mendengar hukuman dari Lizzie yang memerintahkan mereka untuk memotong rambut merah Isabella. Isabella sendiri terkejut dengan hal itu, dia tak menyangka hukumannya adalah memotong rambut cantiknya. Paul dan Abbas pun punya rasa keterkejutan masing-masing.

__ADS_1


"Hanya itu!?" Paul mulai menunjukkan emosinya, tampaknya ia sudah menyerah untuk menahannya lebih lama. "Kalau hanya begitu, mengapa kau tidak memotongnya saja sendiri!? Brengsek!"


Lizzie tercengang saat Paul memakinya dengan sebutan 'brengsek', itu benar-benar penghinaan yang luar biasa. Rasa panas langsung berdesir sampai ke puncak kepalanya, Lizzie tampak murka, bisa terlihat jelas dari napasnya yang kembang-kempis, dua tangan terkepal kuat, dan gigi-gigi yang saling bergelemetuk. Perempuan itu tidak terima pada cacian Paul yang menyebutnya sebagai seseorang yang brengsek.


"Tadi kau bilang apa padaku?" Geraman dari Lizzie mulai menggetarkan suasana, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa gentar dan ketakutan.


Paul mengernyitkan alisnya dengan tampang yang keheranan. "Aku hanya menyebutmu dengan sebutan 'brengsek', memangnya kenapa, hah?" Sedikit demi sedikit, Paul mulai mengerti situasinya, dan itulah yang membuat senyuman tipis jadi tercetak di mulutnya. "Apa kau tidak senang dengan itu, hah? Kau ingin menghajarku? Ingin menghancurkan tubuhku? Ingin menghabisiku hingga babak-belur? Begitukah yang kau inginkan, hah?"


Lizzie mulai memungut kembali guntingnya yang masih tergolek di permukaan tanah, lalu memain-mainkannya dengan diputar-putar di kelingking tangan kanannya. "Kalau kalian keberatan untuk memotong rambut perempuan itu, maka kuambil lagi benda ini untuk keperluanku." Alih-alih menyimpannya kembali ke kantung celana, Lizzie malah menggenggam guntingnya erat-erat di tangan kanannya. Dengan mata yang fokus pada Paul, Lizzie berkata, "Sekarang, rasakan baik-baik, rasanya ketika teman-temanmu dibunuh olehku!" Lizzie langsung melesat ke sosok Abbas yang berdiri paling depan di antara Paul dan Isabella. "Aku lupa memberitahukan ini pada kalian, tapi baiklah! Akan kuberitahu!" Lizzie mengatakannya sambil berlari cepat. "Aku ini adalah seorang pembunuh bayaran! Aku sangat mahir dalam hal-hal yang berkaitan dengan merenggut nyawa orang lain! Tenang saja! Untuk kalian, aku akan melakukannya dengan perlahan, agar kalian tidak merasakan rasa sak--"


Bug!

__ADS_1


Saat Lizzie sudah semakin dekat dengan Abbas, ia langsung mengayunkan gunting usangnya tinggi-tinggi untuk menusuk dada lelaki kekar berkulit gelap itu. Namun, baru saja guntingnya menancap di kulit dada lelaki itu, kepala Lizzie langsung dihantam oleh sikut tangan kanan Abbas hingga perempuan oranye itu terpental berguling-guling di tanah. Gunting milik Lizzie tertancap tepat di dada bidang Abbas yang berotot, tapi alih-alih berdarah, atau terluka, kulitnya tampak tidak menimbulkan apa-apa meski ada benda tajam yang menusuknya. Oh, sepertinya Lizzie kurang dalam saat mendorong gigi guntingnya ke dada Abbas, membuat gigi guntingnya cuma menancap biasa di baju, dengan posisi berdiri tegak di sana.


Mungkin karena tubuh Abbas sangat berotot, hingga benda setajam apa pun harus ditekan dua kali jika ingin benar-benar masuk ke dalam tubuhnya, karena kalau dorongannya hanya sekedar menusuk biasa, tidak akan mempan sama sekali. Paling cuma bajunya saja yang sobek, karena Abbas memiliki tubuh yang sangat tangguh, yang tidak mudah dilukai dengan sekali serangan.


"Wow!" Isabella terpukau melihat dada Abbas tidak terluka saat Lizzie menusuknya dengan gunting. "Itu menakjubkan, aku sangat terkesan. Kau memang hebat, Abbas."


Paul tertegun menyaksikan kondisi Abbas yang baik-baik saja, ia tidak menyangka kalau lelaki kekar itu punya tubuh sekuat baja. Itu cukup mengagumkan, Paul sampai berdecak kagum.


"Ini guntingmu," Abbas menarik gunting yang masih menancap di dadanya, sehingga baju bagian depannya jadi bolong oleh tusukan kecil itu. Kemudian, ia berjalan mendekati Lizzie yang terkapar di tanah dan membungkukkan badannya untuk meletakkan gunting itu di dekat pemiliknya. "Aku kembalikan." ucap Abbas dengan intonasi yang sangat halus.


Namun, saat Abbas kembali menegakkan badannya, Lizzie tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sangat kencang, membuat Paul, Isabella, dan Abbas, terkejut mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2