Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 18 : Kebingungan


__ADS_3

"Aku minta maaf." Tiba-tiba Colin bersuara, membuat Paul, Jeddy, dan Cherry yang berjalan di sampingnya terkaget mendengar hal itu. Colin menundukkan kepalanya, wajahnya tampak layu, bahkan air matanya hampir menetes.



Paul langsung menimpali ucapan Colin dengan terheran-heran. "Mengapa kau mendadak minta maaf begitu? Memangnya kau mau minta maaf ke siapa, Bodoh!" Jeddy dan Cherry menatap muka Colin, mereka juga penasaran pada maksud ucapan si rambut biru.



Mereka berempat kini sedang berjalan di tepi jalan raya, masih di Kota Poppe. Banyak kendaraan yang melaju di tengah jalan, menimbulkan suara-suara yang berisik dan memekakkan telinga. Pejalan kaki yang berseliweran di sini pun membuat Kota Poppe jadi sangat ramai, tapi walau berdesak-desakkan dengan orang-orang yang berpakaian merah muda di trotoar, Paul, Jeddy, Colin, dan Cherry tetap bisa mengobrol seperti biasa di sana, seolah-olah jalanan itu milik mereka sendiri. Namun, sepertinya obrolan riang mereka dijeda oleh ucapan Colin yang terkesan 'mengagetkan' karena lelaki berambut biru itu tiba-tiba mengucapkan kata maaf, membuat teman-temannya jadi keheranan.



"Aku ingin meminta maaf pada kalian bertiga," jawab Colin dengan nada yang bergetar, membuat Paul tersentak mendengarnya, begitu pula dengan Jeddy dan Cherry. "Aku rasa aku tidak cocok menjadi seorang pahlawan, soalnya, dibanding dengan Jeddy yang punya pengalaman dan keberanian dalam bertarung, dan juga dengan Cherry yang lihai mengelabui dan menjebak musuh, aku tidak ada apa-apanya jika dibanding mereka. Aku sangat pengecut. Aku sangat penakut. Aku sangat lemah. Selama di Fufirm pun, aku terlihat seperti lelaki bodoh yang bisanya hanya berteriak-teriak ketakutan. Aku malu pada diriku sendiri."



Paul terdiam, Cherry melongo, dan Jeddy mengenyitkan alisnya, mereka bertiga tampak kaget melihat air mata Colin menetes-netes ke tanah, sampai membuat pejalan kaki yang berpapasan dengan mereka juga terkejut. Kemudian Paul mendekati Colin dan secara mengejutkan, ia merangkul si rambut biru dengan lengannya.



"Bodoh, jangan menangis. Kau jadi terlihat seperti pengecut sungguhan," ucap Paul dengan nada yang rendah. "Tapi apa yang kau katakan memang benar, kau itu masih sangat lemah. Maka dari itu, aku sebagai mentormu punya tanggung jawab untuk melatihmu menjadi kuat. Kau tidak perlu cemas, setelah aku mengumpulkan sepuluh pahlawan, aku akan melatihmu bersama pahlawan-pahlawan lainnya untuk menjadi pahlawan sejati yang kuat dan pemberani! Jadi berhentilah bilang bahwa kau tidak cocok jadi pahlawan! Itu salah! Kau sangat cocok jadi seorang pahlawan! Dan hapus air matamu itu, kau terlihat jelek sekali, Colin Sialan."



Mendengar hal itu, Colin menatap muka Paul dengan mata yang berkaca-kaca, lalu berkata, "Terima kasih, Paul. Aku tidak menyangka orang sepertimu bisa mengatakan hal selembut itu." Menyaksikan Colin kembali tersenyum, membuat Paul, Jeddy, dan Cherry ikut tersenyum. Kemudian rangkulan itu Paul lepas karena kondisi Colin sudah membaik.



"Hahahaha!" Jeddy langsung memecahkan tawanya setelah melihat senyuman Colin. "Bro, jangan sedih begitu! Aku tahu kok, kau punya keberanian di dalam dirimu! Kau hanya terlalu takut untuk menunjukkannya! Dan juga, apa-apaan itu!? Kau menganggapku seperti orang hebat saja, hahaha!" Jeddy sampai mengacak-acak rambut biru Colin saat mengatakannya. "Sebenarnya aku tidak begitu hebat, Bro! Aku juga punya rasa takut sepertimu! Hanya saja aku menutupinya dengan suara tawaku! Hahahaha!"



"Ya, itu benar," kata Paul dengan mata yang melirik Jeddy. "Bahkan orang seperti Jeddy pun bisa menangis sepertimu, karena aku pernah melihatnya." Paul mengingat kejadian saat di Kota Groen, ketika Jeddy terguncang melihat orangtuanya akan dipenjara, sampai lelaki rambut hijau itu menangis tersedu-sedu.



"Oi-oi-oi-oi! Jangan dibocorkan begitu, aku jadi malu! Bro Hahahaha!" timpal Jeddy dengan tertawa terbahak-bahak.



"Cherry juga sama, kok!" Kini Cherry ikut bersuara, dengan mata yang mendelik pada Colin. "Cherry dulu sering menangis jika orang-orang mengejek dan menertawakan Cherry! Tapi, Cherry sudah jarang menangis lagi, karena jika ada yang mengejek atau menertawakan Cherry! Maka Cherry akan langsung membunuh dan memakannya! Hihihi!"



Bukannya merasa terhibur, omongan Cherry malah membuat Colin jadi ngeri mendengarnya. Tapi, karena Jeddy terus-terusan membuat lelucon agar kengerian dari perkataan Cherry jadi terkesan lucu, akhirnya suasananya jadi cair, membuat Colin dan Paul tertawa saat mendengarnya. Sampai akhirnya, saat mereka sampai di halte bus, tiba-tiba muka Cherry jadi sendu.

__ADS_1



"Cherry sedih," ungkap Cherry dengan polos, dia langsung menjelaskan suasana hatinya pada Paul, Jeddy, dan Colin, membuat tiga lelaki itu menolehkan pandangan padanya. "Cherry sebenarnya tidak mau meninggalkan Kota Poppe, soalnya ini tempat kelahiran Cherry. Cherry ingin tetap di sini. Tapi karena Papa dan Mama Cherry sudah tiada karena telah Cherry makan, jadi Cherry tidak punya siapa-siapa lagi di sini."



"Eh!?" Colin terkejut mendengarnya. "K-Kau memakan orang tuamu sendiri!?"



"Ya, karena mereka selalu bilang pada Cherry bahwa mereka malu punya anak seperti Cherry. Cherry sakit hati saat mendengarnya. Jadi Cherry membunuh dan memakan mereka. Tapi, Cherry menyesal, karena Cherry jadi seperti gadis jahat yang memakan orangtuanya sendiri." jawab Cherry dengan bibir yang cemberut. Kemudian dia menatap Colin. "Tapi serius! Daging mereka rasanya enak sekali! Loh! Hihihihi!"



"EEEEH!?" Colin memucat mendengarnya, kemudian dia jadi teringat sesuatu. "Cherry, aku juga ingin minta maaf padamu, karena pernah bilang padamu bahwa kau adalah gadis idiot di dunia ini. Maaf, aku benar-benar marah saat itu padamu, jadi--"



"Tidak apa-apa, kok!" Cherry langsung tersenyum pada Colin dengan berseri-seri. "Cherry tidak akan memikirkan ejekan dari seorang pecundang sepertimu, hihihihi!" Dengan polosnya, Cherry langsung menghujam hati Colin dengan ucapannya yang blak-blakan, membuat lelaki rambut biru itu langsung terkaget. "Oh iya, ngomong-ngomong, Cherry penasaran, mengapa kalian menyelamatkan Cherry dari Fufirm? Dan juga mengapa kalian dari tadi selalu membahas soal 'pahlawan', 'sepuluh pahlawan', dan 'mentor', maaf, tapi Cherry tidak paham soal itu! OH! SATU LAGI! Cherry masih belum tahu nama-nama kalian! Hihihi!"



Mendengar pertanyaan itu, Paul langsung menjelaskannya pada Cherry dari awal hingga akhir, tentu saja, dengan intonasi yang tinggi, agar gadis itu bisa langsung paham. Jeddy hanya tertawa mendengar penjelasan itu, sedangkan Colin menghembuskan napasnya, tampak lelah. Setelah selesai menjelaskan hal itu, Paul langsung terdiam, menunggu respon dari Cherry.




"Jadi, bagaimana? Apa kau mau ikut dengan kami untuk menjadi seorang pahlawan, Cherry?" tanya Paul dengan nada yang serius, sorot matanya sangat tajam. "Jika kau tidak mau, tidak masalah. Aku bisa datang lagi kemari untuk menjemputmu jika aku sudah mendapatkan sepuluh pahlawan."



"Pauuuuuul! Kau ini bicara apa, sih!?? Cherry pasti ikut, kok! Cherry ingin menjadi seorang pahlawan bersama Jeddy dan Colin! Pasti rasanya akan menyenangkan! Hihihi! Kebetulan juga Cherry tidak punya teman! Jadi Cherry sangat bahagia bisa dapat teman seperti kalian! Hihihi!"



Cherry meloncat-loncat di halte saking gembiranya, tidak peduli pada orang-orang yang melirik sinis padanya.



"Lalu, sekarang kita mau kemana? Apakah kita akan mencari pahlawan selanjutnya?" tanya Cherry setelah mereka berempat sudah duduk di dalam bus. Gadis itu tampak riang sekali sampai suaranya melengking-lengking, membuat penumpang-penumpang lain tergganggu. Karena risih dengan sikap Cherry, Paul langsung membentaknya.



"BERISIK! BRENGSEK!"

__ADS_1



Akhirnya Cherry pun terdiam hingga bus sampai di kota Swart. Setelah itu, untuk pertama kalinya, Cherry menginjakkan kakinya di tanah Swart, dia tampak kegirangan, karena selama ini dia menghabiskan hidupnya hanya di Kota Poppe. Cherry juga terkejut melihat bangunan-bangunan di kota ini berwarna-warni, tidak seperti di Kota Poppe yang hanya berwarna merah muda, matanya sampai bersinar-sinar memandangi hal tersebut.



Bukan hanya itu, Cherry juga baru pertama kalinya melihat pepohonan berdaun hijau yang tumbuh di sekitar rumah-rumah penduduk. Gadis itu terus-terusan menjerit-jerit histeris saat melihat sesuatu yang baru ditemuinya. Membuat Paul menepuk jidatnya karena kesal, sedangkan Jeddy malah tertawa-tawa dengan santai, sementara Colin terlihat tak bersuara sama sekali saat berjalan bersama mereka, sepertinya dia sudah lelah sekali.



Dan ketika sudah sampai di gerbang rumahnya, Paul tiba-tiba terpikirkan sesuatu; jika ibunya melihatnya pulang membawa seorang gadis mungil berambut merah muda, dia pasti akan dimarahi habis-habisan, ini gawat. Akhirnya Paul terpaksa harus mencari cara agar Cherry bisa hidup di Kota Swart tanpa harus tinggal bersamanya. Dan terlintaslah sebuah ide cemerlang di kepala Paul, dia langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menelepon seseorang.



"Paul! Aku datang!"



Baru saja beberapa menit yang lalu ditelepon oleh Paul, orang itu langsung datang ke depan rumahnya dengan mengayuh sepeda.



"Wah! Siapa dia? Bro?" Jeddy mulai menunjukkan senyuman mesumnya saat melihat gadis berambut hitam bergelombang muncul dengan sebuah sepeda di depannya. Jeddy terus-terusan melirik ke payudara dan pantat gadis tersebut dengan senyuman mengerikan.



"Apakah dia salah satu pahlawan juga?" tanya Colin, menatap wajah gadis itu dengan menaikan sebelah alisnya. "Tapi sepertinya bukan."



"Uwaah! Ada gadis lain! Akhirnya Cherry punya teman! Hay! Nama Cherry adalah Cherry! Hihihi!" Cherry tampak senang saat melihat kedatangan seorang gadis asing di hadapannya.



Paul menghela napasnya, ia kesal mendengar reaksi Jeddy, Colin, dan Cherry. Akhirnya, Paul pun berseru, "Dia adalah Olivia! Teman sekelasku! Dia bukan pahlawan! Dia hanya gadis biasa! Paham!?"



Ternyata sosok itu adalah Olivia, membuat Colin, Jeddy, dan Cherry kebingungan karena ini pertama kalinya mereka bertemu dengan gadis tersebut. Begitu pula dengan Olivia, tampaknya dia juga kaget melihat ada tiga orang yang asing di depan gerbang rumah Paul.



"Kau bilang Ibumu batuk berdarah dan kau bingung merawatnya!? Tapi kenapa kau malah bersama tiga orang ini di depan gerbang rumahmu!? Kau membohongiku, ya? Lalu, sebenarnya ada apa ini? Aku bingung, Paul!"


__ADS_1


Olivia tidak mengerti dengan situasi yang membingungkan ini.



__ADS_2