Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 96 : Hati-Hati


__ADS_3

"Besok!" ucap Paul, mengawali pengumuman yang akan disampaikannya, dengan intonasi yang sangat jelas, agar bisa didengar oleh semua muridnya. "Aku akan pergi ke Kota Barasta! Untuk menemukan pahlawan baru kita! Dan aku sudah memutuskan Abbas dan Isabella yang akan menemaniku berkunjung ke kota itu!" Paul langsung menatap wajah Isabella dan Abbas dengan tajam. "Kalian berdua siap!?"


Isabella tersenyum senang, sambil menjilat remahan keripik kentang yang masih menempel di bibir merahnya. "Ya ampun, merepotkan sekali, ya?" kata Isabella dengan terkikik-kikik. "Yah, mau bagaimana lagi, kan? Aku sudah terpilih dan sepertinya Paul tidak menerima penolakan. Apa boleh buat."


Paul mendecih mendengarnya, kemudian, ia menatap ke muka Abbas. Dan Abbas menganggukkan kepala, yang artinya dia siap dalam tugas menemani mentornya untuk berkunjung ke Kota Barasta.


"Bagus! Aku suka dengan kemantapan hati kalian!" Kemudian, pandangan Paul dialihkan ke wajah murid-muridnya yang lain. "Lalu untuk kalian yang tidak ikut menemaniku pergi! Aku ingin kalian tetap di hotel! Jangan ke mana-mana! Pokoknya kalian tidak boleh keluar dari gedung ini! Lagi pula, semua yang kalian butuhkan pasti ada di sini!" Paul menatap lurus ke arah Jeddy. "Ada ruang penembakan!" Dialihkan pada Cherry, "Ruang taman bermain!" Dipalingkan pada Naomi. "Ruang keagamaan!" Digeser pada Nico. "Ruang perpustakan!" Diputar ke wajah Koko. "Ruang penyiraman tanaman!" Paul berdehem sejenak. "Pokoknya segala kebutuhan dan penyaluran hobi kalian, semuanya ada di sini! Fasilitas di hotel yang kita tempati benar-benar lengkap dan komplit! Jadi, jangan berani-berani keluar dari gedung! Aku akan memenggal kepala kalian jika kalian mau mencoba-coba keluar dari gedung ini!"


"Tunggu sebentar," Nico mengangkat tangannya, membuat seluruh perhatian terfokus padanya. "Bagaimana kalau kami lapar? Kami harus apa?"


"Sebenarnya sudah ada ruang dapur untuk kalian memasak sendiri! Tapi jika kalian malas membuat makanan sendiri, maka telepon saja pihak pelayan hotel! Semua kamar sudah disediakan telepon genggam yang menempel di dinding kamar! Dan nomor teleponnya pun sudah tersedia di sana! Jadi pesan saja makanan sesuka kalian! Semua biayanya sudah ditanggung oleh Isabella!"


Setelah beberapa menit berbicara, pengumuman pun selesai, dan Paul memerintahkan murid-muridnya untuk masuk ke dalam kamarnya masing-masing, karena malam sudah semakin larut. Paul juga sudah sangat mengantuk.

__ADS_1


Sampai di kamarnya, Paul langsung melompat ke ranjang barunya yang sangat lembut dan luas, jangan lupa dengan udara dinginnya yang merupakan berasal dari pendingin ruangan--yang menempel di sudut atas dinding kamar dan berbentuk panjang. Paul terlentang di ranjangnya dengan memandang langit-langit kamar, dia sedikit cemas dengan keadaan ibunya di rumah. Namun saat dirinya bilang bahwa ingin tetap tinggal di rumah untuk menemani sang ibu, wanita itu mengomeli Paul dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan ini sudah biasa terjadi, semacam demamĀ  bulanan. Dan akhirnya, Paul menuruti permintaan ibunya dengan meninggalkan rumah untuk tinggal di hotel bersama murid-muridnya.


Paul menyunggingkan senyuman tipis, dia juga jadi mengingat momen-momen saat pertama kali bertemu dengan Roswel, yang telah melahirkan pertemuan-pertemuan baru dengan para pahlawan. Paul sedikit terkekeh jika mengingatnya, itu benar-benar kejadian yang sangat tidak terduga. Tapi ini lebih baik dari pada dirinya dipaksa oleh Roswel untuk memasuki dunia lain yang memiliki suasana abad pertengahan, seperti karakter-karakter utama yang sering ia lihat di serial televisi.


Jika semisalnya Roswel menyuruhnya untuk memasuki dunia lain, Paul pasti akan menolaknya mentah-mentah, karena dia salah satu makhluk yang sangat candu dengan teknologi modern, seperti ponsel, televisi, dan hal-hal semacamnya. Kalau dia dipaksa untuk meninggalkan dunia modern yang memiliki berjuta-juta teknologi canggih, Paul lebih baik mati dari pada harus masuk ke dunia tanpa modernisasi. Karena bagi Paul, mustahil untuk orang-orang modern seperti dirinya pergi ke suatu tempat tanpa didampingi dengan alat-alat canggih, sebab itu seperti napas untuk orang-orang di era ini. Tanpa itu semua, mereka akan kehabisan napas dan mati.


Selain itu, Paul juga memikirkan tentang lokasi yang akan ia kunjungi besok, yaitu Kota Barasta. Paul sempat mengecek internet untuk mengetahui kondisi kota itu, karena Barasta memang cukup asing di telinganya. Dan setelah berselancar di internet lebih dari lima menit, Paul menemukan artikel singkat yang menjelaskan tentang keadaan Kota Barasta. Ternyata Kota Barasta adalah kota pelabuhan--yang bertempat di tepi laut--yang selalu menjadi lokasi di mana kapal-kapal berlabuh. Dan penduduk-penduduk di sana kebanyakan berprofesi sebagai angkatan laut atau paling tidak, menjadi seorang nelayan.


Di samping itu, pahlawan yang akan ia temukan di Barasta adalah seorang perempuan, dan Roswel bilang, namanya adalah Lizzie, nama yang cukup menarik, bukan? Namun, Roswel tidak mengatakan hal-hal lainnya seputar pahlawan baru itu, selain namanya.


Itu membuat Paul jadi menebak-nebak akan seperti apa kepribadian dari perempuan tersebut. Tapi, kalau menyangkut ciri-cirinya, Roswel mengatakan kalau perempuan itu mempunyai gaya rambut pendek seperti lelaki pada umumnya, berwarna oranye dan selalu mengenakan pakaian olahraga.


"Lizzie, ya?" gumam Paul dengan mata yang sayu. "Aku akan menemuimu dan menarikmu ke Swart, tunggu saja."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, tanpa sadar Paul terlelap di atas ranjangnya, dengan posisi terlentang. Seharian ini dia sudah disibukkan dengan kegiatan yang cukup berat, dan sekarang waktunya istirahat. Agar besoknya, tubuh Paul kembali fit agar sesi berpetualang ke daerah baru bisa dilaksanakan dengan lancar.


Dengkurannya cukup halus, dan senyuman tipisnya terukir, Paul benar-benar terlihat sangat menggemaskan jika sedang tidur.


Keesokan harinya, Paul terbangun pada pukul lima pagi, dia langsung bergegas mandi dan siap-siap untuk pergi. Setelah mengenakan pakaian yang tersedia di kamar hotel--sungguh, baju-bajunya terkesan mewah dan mahal--Paul langsung keluar dari kamar untuk mendatangi kamar Isabella dan Abbas.


Baru saja Paul akan mengetuk pintu kamar Abbas, ia dikagetkan dengan kehadiran Jeddy yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Bro!" panggil Jeddy setelah dirinya menepuk pundak Paul. Jeddy tersenyum lebar saat Paul menolehkan kepalanya. "Abbas tidak ada di kamarnya, dia bersama Isabella sudah ada di aula, menunggu kedatanganmu! Hehehe!"


"Benarkah!?" Paul cukup tersentak mendengar itu, ternyata dia bangun lebih lambat dari Isabella dan Abbas. Sialan. "Baik! Terima kasih! Aku pergi!" Paul langsung melangkah cepat ke aula terbuka yang ada di lantai paling bawah di gedung ini, meninggalkan Jeddy.


"Hati-hati di perjalanannya! Bro!"

__ADS_1


__ADS_2