Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 68 : Linangan Air Mata


__ADS_3

"Pertama," Paul mengangkat satu jari telunjuknya di depan semua orang. "Aku ingin mendengar keputusan dari Naomi, apakah dia siap untuk akur kembali dengan Koko, atau tidak?" Paul menatap mata Naomi dengan tajam.


Naomi menarik napasnya pelan-pelan, lalu mulai menjawab, "Saya pribadi sebenarnya tidak keberatan untuk berdamai dengan Koko, tapi saya ingin dia bergaya seperti para lelaki pada umumnya, karena saya tidak suka melihat dia mengenakan pakaian perempuan, atau sesuatu yang seperti itu."


Cherry menggeram setelah mendengar omongan Naomi. "Itu bukan urusanmu! Mau Koko memakai pakaian lelaki, perempuan, atau bahkan telanjang sekali pun! ITU BUKAN URUSANMU!" Pundak Cherry langsung diusap-usap oleh Elena.


"Cherry, tenangkan dirimu. Biarkan Naomi berbicara, lagipula dia diberi kesempatan oleh Paul untuk berbicara, tidak baik kau menyela ucapannya seperti itu. Jangan khawatir, kita semua juga akan diberi kesempatan untuk berbicara. Jadi, bersabarlah." ucap Elena dengan memeluk tubuh Cherry dari belakang, sambil membelai-belai pipi gadis mungil itu agar tenang.


Paul, Naomi, Koko dan semua orang yang ada di ruangan itu, kaget saat Cherry tiba-tiba berseru-seru dengan suara yang sangat kencang. Tapi suasana mulai kembali terkendali saat Elena berhasil menenangkan Cherry. Paul pun mulai fokus ke situasi yang seharusnya.


"Baiklah! Terima kasih atas pendapatmu, Naomi," Kemudian, bola mata Paul bergeser ke arah Koko yang duduk di seberang Naomi. "Lalu, bagaimana denganmu? Katakan pendapatmu, apakah kau siap untuk akur kembali dengan Naomi, atau tidak? Cepat!"


"Aku... akan senang sekali kalau Naomi mau menerimaku lagi, tapi... ada beberapa hal yang tidak bisa kulakukan untuk mewujudkan keinginan Naomi. Contohnya seperti... pakaian. Aku... tidak nyaman memakai pakaian lelaki, dan aku... tidak merasa cocok saat memakainya. Maafkan aku... Naomi. Aku... tidak bisa memenuhi kemauanmu." Koko mengatakannya sambil menundukkan kepalanya, masih tidak berani untuk menatap langsung ke mata Naomi, atau pun ke mata semua orang.

__ADS_1


"Kalau memang seperti itu," Naomi langsung menimpali omongan Koko dengan cepat. "Saya tidak bisa berdamai dengan Anda, saya mohon maaf, Koko. Tapi, izinkan saya untuk membunuh Anda, karena itu adalah kewajiban saya sebagai bagian dari umat Blanca."


"KAU!" Kini, bukan Cherry yang melengking, melainkan Colin. "Hentikan omong kosongmu itu! Naomi!" Colin terlihat jengkel dari biasanya. Mukanya sampai memerah pekat. "Aku tidak habis pikir kau bisa mengatakannya semudah itu pada orang lain! Kau pikir kau akan diperbolehkan begitu saja membunuh seseorang hanya karena itu berasal dari ajaran Agama Blanca!? Itu konyol! Konyol sekali!"


Karena Colin bersuara, Nico jadi ingin ikut-ikutan. "Apa yang dikatakan Colin, seratus persen, benar!" Nico menampilkan wajah angkuhnya ke hadapan muka Naomi. "Aku sangat menentang keputusanmu yang ingin membunuh Koko," kata Nico dengan menekan kaca matanya. "Kau mungkin tidak sadar, tapi sebenarnya, apa yang terjadi pada diri Koko bukanlah kesalahan, atau pun penyakit, atau pun penyimpangan! Itu semua didasari oleh sifat alami manusia, yang memiliki kadarnya masing-masing dalam mengekspresikan kehidupannya. Sebetulnya, saat mendengar bahwa Naomi yang kukenal jadi sadis, kejam, dan tak berperasaan, aku sempat tidak percaya. Karena yang kutahu, kau ini adalah seorang gadis yang lemah lembut dan punya kesopanan yang sangat tinggi, tapi setelah mendengarmu berbicara, aku jadi paham. Kalau apa yang diceritakan seseorang padaku, mengenai sikapmu, sesuai dengan fakta. Aku tak menyangka kalau kau sesampah itu, Naomi."


Naomi menyunggingkan senyuman tipisnya setelah menyimak perkataan Colin dan Nico padanya. Sungguh, orang-orang ini benar-benar manusia yang tersesat. Mereka semua tidak sadar kalau orang yang mereka bela, adalah calon ahli neraka. Koko pasti akan masuk ke dalam neraka, Naomi yakin sekali pada hal itu. Sebab, lelaki-lelaki kemayu seperti Koko, adalah makhluk-makhluk yang tidak mensyukuri pemberian Tuhan. Jika dia terlahir sebagai lelaki, maka seharusnya dia bertingkah layaknya lelaki pada umumnya. Bukan malah ingin berpenampilan seperti perempuan, justru yang konyol dan sampah itu adalah Koko. Naomi jadi sedikit kesal, tapi dia harus menahan amarahnya, untuk saat ini saja.


"Eris?" Abbas penasaran pada arti dari nama asing itu, baru kali ini dia mendengarnya. "Apa itu?"


Naomi senang Abbas menanyakannya. "Baik, biar kuberitahu," Naomi akan menjelaskannya sambil menyindir semua orang yang ada di sini. "Namamu Abbas, kan? Dengar ini, Eris adalah orang-orang yang tidak memeluk agama paling sempurna di dunia, yaitu Blanca. Mereka semua adalah kaum tersesat, yang tidak tahu seberapa besar dosa mereka karena tidak memeluk Agama Blanca. Percayalah, mereka semua akan diceburkan ke lautan api Neraka, dan akan hangus di sana, menjadi serpihan-serpihan abu. Lalu, akan dihidupkan lagi, dan disiksa lagi. Terus seperti itu, selama mereka tidak menyesali perbuatannya saat masih di dunia, dan juga karena kesalahan mereka yang tidak sempat memeluk Agama Blanca," Naomi menatap muka Abbas lekat-lekat. "Maka dari itu, ayo bergabung menjadi bagian dari Para Ahli Surga, Anda tidak akan menyesal seumur hidup kalau bergabung bersama kami. Kelak, Anda akan diberikan kenikmatan dari Surga itu sendiri. Jadi, marilah bergabung bersama kami, Abbas."


Secara refleks, Abbas menggelengkan kepalanya, membuat Naomi tersentak. "Aku tidak mau," kata Abbas dengan memasang muka polos. "Maaf."

__ADS_1


"Anda pasti akan menyesal seumur hidup karena telah memilih itu, Abbas." ucap Naomi dengan menahan kekesalannya pada jawaban Abbas yang menolaknya.


Paul menghela napas setelah pertikaian antara Naomi dengan orang-orang yang ada di sini, mulai terhenti. "Naomi," panggil Paul dengan suara yang begitu rendah. "Biar kuingatkan padamu," Naomi menoleh pada Paul, berusaha mendengar apa yang akan mentornya katakan. "Aku tidak suka kalau kau mengambil situasi ini untuk mempromosikan agamamu! Aku tidak peduli kau berasal dari agama mana! Atau pun kepercayaan apa! Yang kuinginkan, kau harus berdamai dengan Koko! Karena kau adalah salah satu pahlawan yang terpilih! Kau harus akur dengan pahlawan-pahlawan lainnya, Naomi!"


"Itu benar, Naomiku tersayang!" Jeddy mulai memberanikan diri untuk ikut bersuara, setelah kenyang menjadi penonton dari tadi. "Aku tidak suka melihat lelaki menyakiti perempuan, tapi aku juga tidak suka melihat perempuan menyakiti lelaki. Jadi, daripada bermusuh-musuhan, bagaimana kalau berdamai saja? Lebih cepat lebih baik, kan? Heheheheh! Aku yakin, Naomi pun sebenarnya tidak mau bertengkar dengan Koko! Soalnya," Tiba-tiba Jeddy menunjuk ke dua mata Naomi. "Air matamu seperti ingin keluar! Aku bisa melihatnya dengan jelas! Dari tadi, kau menahan tangis, iya, kan? Naomiku tersayang? Hehehehehe!"


Sontak, mendengar apa yang dikatakan Jeddy, membuat semua orang penasaran pada hal itu, akhirnya mereka semua memfokuskan perhatiannya masing-masing ke arah mata Naomi, dan ternyata benar, di tiap sudut mata dari gadis berkerudung kuning itu, terdapat gumpalan air bening yang tampak ingin jatuh ke pipi, tapi seperti ditahan dengan keras oleh Naomi. Benar-benar mengejutkan.


Apakah itu artinya, dari awal munculnya masalah, Naomi tidak setuju pada sikapnya sendiri? Paul dan yang lainnya dibuat kaget dengan kejadian tersebut.


Karena diperhatikan oleh semua orang, akhirnya, Naomi tidak bisa menahannya lebih lama lagi.


Alhasil, air mata yang sedari tadi ditahan-tahan olehnya, terjatuh, mengalir turun, melewati dua pipinya dengan perlahan, lalu menetes-netes ke tikar putih, menciptakan aroma yang tidak mengenakkan di hatinya. Namun, Naomi berusaha sekuat tenaga untuk menghapus semua air matanya yang hendak keluar lagi, tapi tampaknya tidak berhasil. Sebab, air matanya malah semakin deras, membuat wajahnya jadi basah kuyup, karena linangan air matanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2