Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 39 : Mereka yang Muncul Kembali


__ADS_3

"Mengapa kau bisa tahu secepat itu, Bro!?"



Kini, Paul bersama Jeddy dan Koko sedang berada di sebuah restoran kumuh di Kota Sablo, mereka sedang duduk di kursi yang mengelilingi satu meja, tampaknya mereka belum memesan apa pun di sana karena mejanya masih kosong. Tapi, baru saja Paul hendak memanggil seorang pramusaji untuk memesan makanan dan minuman, Jeddy tiba-tiba berseru di sampingnya, membuat ia dan Koko memandang ke arah lelaki hijau itu. "Maksudku," kata Jeddy dengan nada yang tergesa-gesa. "Ada banyak sekali gadis berkerudung di kota ini, tapi kau bisa dengan mudahnya menemukan Naomi secepat itu!? Aku benar-benar kagum, Bro! Jadi, bagaimana caranya kau bisa menebak seseorang dengan begitu mudahnya!? Beritahu aku rahasianya, Bro!"



Kedua mata Jeddy tampak terbuka lebar dan berkilat-kilat, menunjukkan rasa penasaran yang begitu besar pada tindakan Paul yang menurutnya sangat luar biasa. Akibat pertanyaan itu, Paul jadi terdiam seketika dan menatap wajah Jeddy dengan serius. "Kau mau tahu mengapa aku bisa menebak seseorang dengan mudah!?" Jeddy menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Itu karena insting!" kata Paul dengan menampilkan ekspresi kebanggaannya. "Aku bisa menemukan orang yang kucari dengan mudah, sebab aku menggunakan insting!"



Tidak paham pada istilah itu, Jeddy pun langsung bertanya pada Paul, "Apa itu instring, Bro!?"



"Insting! Bukan instring! Bodoh!" bentak Paul pada Jeddy dengan mata yang melotot seperti seorang guru memarahi muridnya. "Dengar ini! Insting itu adalah naluri! Atau bisa dikatakan seperti sebuah rangsangan terhadap sesuatu yang membuat kita peka pada beberapa hal yang akan, sedang, dan pasti terjadi di sekitar kita! Begitulah singkatnya!" jelas Paul dengan bersungut-sungut pada Jeddy. "Kau paham tidak!? Brengsek!"



"Woah! Jadi begitu, ya, Bro! Aku baru tahu soal itu!" Jeddy memukul telapak tangannya sendiri, dan wajahnya jadi semakin bergairah setelah mendengar penjelasan dari Paul. "Jadi singkatnya agar aku bisa peka terhadap berbagai hal, maka aku harus mengandalkan insting, ya, Bro!"



Koko pun, yang sedang duduk di hadapan mereka, mencoba untuk ikut bergabung dalam percakapan itu dengan melontarkan sebuah pertanyaan pada Paul, "Tapi aku heran... mengapa kau membawa kami ke restoran ini, Paul? Bukankah... lebih baik kita tetap di sana, menunggu Naomi keluar dari gedung berkubah itu?" Pandangan Paul langsung dialihkan pada Koko dengan cepat, lalu dengan menarik napasnya dalam-dalam, ia pun mulai menjawab pertanyaan tersebut.



"Karena kita tidak pantas berada di sana!" Sontak, jawaban Paul membuat Koko dan Jeddy saling memandang satu sama lain sampai akhirnya mereka menunjukkan ekspresi tidak mengerti secara bersamaan. "Baiklah! Akan kujelaskan!" kata Paul, mengerti pada ketidakpahaman Koko dan Jeddy. "Gedung berkubah itu, menurutku, adalah tempat ibadah khusus umat Blanca! Soalnya, saat aku menghadang Naomi, gadis itu bilang bahwa dia akan masuk ke sana untuk beribadah! Dari situ aku mulai menyimpulkan kalau gedung tersebut adalah tempat suci! Dan asal kalian tahu, aku tidak suka berada di tempat seperti itu!"



Koko dan Jeddy mengenyitkan alisnya, mereka masih bingung terhadap beberapa hal di dalam penjelasan Paul. "Lalu," Koko kembali bersuara dengan nada yang halus. "Jika itu... memang tempat suci, kenapa kau berteriak ingin menikah dengan Naomi di depan gedung tersebut. Jujur, aku dan Jeddy... masih penasaran pada hal itu." Mendadak muka Paul jadi memerah karena malu, dia lupa kalau teriakannya saat itu didengar juga oleh Koko dan Jeddy. Paul jadi gugup, karena ia ragu harus menjelaskannya dari mana.

__ADS_1



"I-Itu bukan apa-apa! Aku hanya berusaha untuk membuat gadis itu menurut padaku!" kata Paul dengan melirik ke arah yang lain, membuang muka dari teman-temannya yang memandanginya. Namun, Paul tiba-tiba menggebrak meja dengan kencang. "Gadis sialan itu! Aku masih mengingat perkataannya! Dia bersikap seolah-olah dia lah yang paling mulia di dunia ini! Aku sangat membenci orang-orang semacam itu!"



"Apa maksudmu, Bro!?" Jeddy menaikan sebelah alisnya, tampak penasaran pada ungkapan yang Paul katakan. "Apakah Naomi mengatakan sesuatu yang buruk padamu, Bro!?"



"Dia bilang padaku, bahwa kita adalah Eris! Yang menurut ajaran agamanya, adalah manusia-manusia sesat yang bakal menjadi bahan bakar api Neraka!" Paul menggertakkan giginya dengan jengkel. "Aku benar-benar kesal saat mendengarnya!"



"Sudah kuduga... akan jadi seperti ini," Paul dan Jeddy menolehkan perhatiannya pada Koko saat lelaki itu berbicara dengan wajah yang sendu. "Sebenarnya... aku tahu persis bagaimana agama Blanca memperlakukan manusia yang bukan bagian dari umatnya. Mereka... selalu menganggap orang-orang seperti kita adalah manusia yang buruk, sesat, tidak bermoral, jahat, dan menjijikan," Bibir Koko bergetar saat mengatakan itu. "Aku juga... tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja, sebab... agama-agama lain pun sama saja, selalu menganggap diri mereka yang paling mulia, dan menganggap manusia yang bukan bagian dari agamanya, adalah makhluk yang tersesat. Aku tahu itu, dan aku gelisah jika memikirkannya."



Jeddy meneguk ludah saat mendengarnya, dia benar-benar baru tahu mengenai konsep agama, karena di Kota Groen, masyarakatnya tidak memiliki pedoman seperti agama untuk menyempurnakan kehidupan, karena di sana lebih mengutamakan berbuat baik antar sesama umat manusia. Jadi, Jeddy merasa kalau sesuatu yang dinamakan agama itu, terdengar rumit dan cukup membingungkan. Lantas, karena kepalanya mulai keruh oleh penjelasan-penjelasan yang memusingkan, Jeddy pun mulai bertanya, "Memangnya, tujuan dibentuknya agama itu untuk apa, Bro!?"




"Wow! Bukankah itu gawat, Bro!?" kata Jeddy dengan mata yang membelalak saking kagetnya.



"Lupakan dulu soal itu!" sergah Paul dengan kasar, membuat Koko dan Jeddy memalingkan muka padanya. "Yang sedang kita bicarakan di sini adalah Naomi! Aku tidak peduli pada agama apa pun itu! Pokoknya tugasku di sini adalah untuk memberitahu Naomi bahwa dia adalah seorang pahlawan! Dan tugas kalian adalah menemaniku dan membantu tugasku!" Kemudian, Paul berdehem. "Tapi sebelum itu, aku lapar. Jadi kita makan dulu di sini untuk sementara."



Akhirnya, Paul pun memanggil pramusaji untuk memesan beberapa makanan dan minuman di mejanya, dan beberapa menit menunggu, pesanannya datang dan sudah tersedia di meja. Paul, Jeddy, dan Koko makan bersama di dalam restoran kumuh itu, mereka tampak lega karena rasa lapar yang membuat perut berbunyi keroncongan telah lenyap oleh makanan dan minuman lezat tersebut.

__ADS_1



"Wihh!" Jeddy menepuk-nepuk perutnya sendiri yang mulai membuncit karena baru diisi, setelah dirinya bersama Paul dan Koko keluar dari restoran tersebut. "Aku tidak menyangka kalau makanan di restoran kumuh bisa seenak itu, Bro! Kukira makanannya akan terasa biasa-biasa saja! Hahahaha!" Jeddy terbahak-bahak setelah mengatakan hal itu.



Mereka bertiga kini sedang berjalan di tepian kota, menginjak tanah yang terselimuti pasir dan menikmati pemandangan kota yang dipenuhi oleh beberapa ekor unta yang ditumpangi oleh pemiliknya, hewan-hewan itu tampak berjalan santai di jalan raya, mematuhi perintah orang yang menumpangi punggungnya, membuat Jeddy terpukau, karena itu memang pertama kalinya dia melihat unta secara langsung di hidupnya. Koko tertawa kecil mengamati tingkah Jeddy yang konyol. Sedangkan Paul hanya menampilkan wajah datar, dia tidak tertarik pada apa pun yang ada di Kota Sablo.



Sampai akhirnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. "Itu Naomi!" Paul menunjuk ke sosok seorang gadis yang sedang membeli buah-buahan di toko lesehan yang ada di pinggir jalan. Naomi dengan kerudung kuningnya yang cerah, terlihat sedang berjongkok di depan seorang paman yang sedang bersila, sambil menjajakan buah-buahan jualannya di atas tikar. "Kita kejar dia!" Melihat Paul berlari, Jeddy dan Koko pun mengikutinya dari belakang. Sadar ada tiga sosok yang mendatanginya, Naomi terkejut dan dia pun segera mengambil tiga melon yang ada di atas tikar lalu dilemparkannya buah-buahan itu ke muka Paul, Jeddy, dan Koko. Setelah melakukan itu, Naomi langsung membayar tiga melon yang ia lempar dengan cuma-cuma pada si paman penjual, hingga akhirnya, ia langsung berlari kencang, meninggalkan Paul, Jeddy, dan Koko yang terjatuh karena terkena timpukan melon.



"Sebenarnya apa yang orang-orang itu inginkan dariku!" kata Naomi dengan napas terengah-engah setelah ia bersembunyi di belakang tong sampah yang ada di dalam sebuah gang sempit. "Dosa apa yang telah kuperbuat hingga bisa dikejar-kejar oleh tiga Eris seperti ini," Naomi terisak-isak, sedih pada nasibnya yang malang. "Ya Tuhan, ampuni aku jika aku punya salah, kumohon, lindungi aku dari godaan setan-setan yang terkutuk, terutama dari kejaran para Eris itu. Aku benar-benar menyesal jika aku memang telah berbuat dosa, entah itu sengaja mau pun tidak disengaja. Kumohon, ampuni aku, Ya Tuhan."



"Pantas saja aku mencium bau busuk dari tadi," Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang cukup menusuk di belakang Naomi. "Jadi itu berasal dari kau, ya?" Saat Naomi menolehkan kepalanya ke belakang, dia terkejut karena saat ini, di hadapannya ada gerombolan orang berjubah putih, dan di barisan paling depan, ada sosok gadis berambut pirang panjang yang sedang menyeringai keji padanya. "Tidak salah lagi, dari aromanya, kau menyimpan roh menjijikan di dalam tubuhmu."



"E-Eh!? S-Siapa kalian!?" Jantung Naomi berdegup dengan kencang, karena orang-orang berjubah putih itu memiliki wajah yang tak berekspresi dan itu menyeramkan, kecuali gadis pirang itu, yang ekspresinya jadi semakin kejam jika dilihat dengan teliti.



"Aku adalah Liona," kata gadis pirang itu dengan mata yang menatap tajam pada Naomi. "Dan aku bersama teman-temanku ini berasal dari kelompok Jubah Putih," Liona menyunggingkan seringaian iblis di wajahnya. "Dan tugas para Jubah Putih adalah melenyapkan roh menjijikan yang ada di dalam tubuhmu itu. Tentu saja, kami melakukan ini atas rahmat Tuhan," Kemudian orang-orang Jubah Putih mengeluarkan cahaya di tangannya. "Tenang saja, setelah kami melenyapkan roh yang ada di dalam tubuhmu, kami juga akan mengusahakan agar kau bisa hidup kekal di Surga."



Melihat ada batu-batu besar yang keluar dan melesat ke arahnya dari tangan orang-orang berjubah putih itu, membuat Naomi ketakutan dan menjerit histeris.


__ADS_1


"TOLOOOOOOONG!!"


__ADS_2