
Jubah Putih adalah sebuah kelompok ilegal yang bermukim di Kota Sablo, para anggota jubah putih ditugaskan oleh penguasanya untuk membasmi roh-roh yang tidak sesuai dengan ideologi mereka. Walaupun bermukim di Kota Sablo, terkadang para jubah putih diperintahkan oleh sang penguasanya untuk menyebar dan berpencar-pencar ke setiap lokasi di berbagai kota, untuk mencari roh-roh yang mereka anggap menjijikan dan membahayakan. Para jubah putih dikaruniai kekuatan yang dinamakan teleportasi, untuk melemparkan berbagai senjata yang sudah disiapkan di suatu tempat kepada target yang mereka temukan, dan mereka selalu mengaktifkan kekuatan teleportasinya dari tangan, menimbulkan cahaya terang dari telapak tangan dan langsung menembakkan serangannya ke sosok yang diincar.
Selama tiga tahun berdirinya kelompok Jubah Putih, mereka sejauh ini telah membunuh sekitar seribu lima ratus tiga puluh tiga manusia di Negara Madelta, alasan mereka membunuh manusia sebegitu banyaknya karena di dalam tubuh manusia-manusia tersebut, terdapat roh-roh kotor yang dapat membahayakan umat manusia. Bukan hanya itu, sebelum mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan keji, mereka melakukan ritual terlebih dahulu untuk mendapatkan izin dan rahmat dari Tuhan. Setelah melaksanakan ritual, mereka akan menganggap bahwa tindakan-tindakan kejam yang mereka lakukan tidak akan menimbulkan sebuah dosa, malah sebaliknya, mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang sangat mulia dan terpuji.
Seperti yang saat ini sedang terjadi di gang sempit di Kota Sablo, mereka telah melancarkan serangan brutal kepada Naomi yang bersembunyi di belakang tong sampah, dan saat gadis itu berteriak-teriak meminta pertolongan, sampai detik ini, tidak ada satu orang pun yang datang untuk menolongnya, bahkan ketika seluruh tubuhnya terhantam batu-batu besar dari para jubah putih hingga badannya berdarah-darah, tetap tidak tampak adanya bantuan dari orang lain.
"Ugh!" Wajah Naomi babak belur, hidungnya mengucurkan darah, matanya lebam-lebam, bibirnya bengkak, kepalanya terbentur batu menimbulkan luka yang serius, dan perut serta kakinya tertimbun batu-batu besar tersebut. "K-Kumohon.. ugh! A-Ampuni aku!" Naomi terisak-isak di tempatnya, kain kerudungnya sudah sobek dan terlepas dari kepalanya, membuat rambut kuningnya terurai berantakan di permukaan tanah gang yang kotor dan becek. Sayup-sayup, Naomi mendengar gelak tawa dari gerombolan jubah putih yang berdiri di depannya, sampai dia melihat gadis yang bernama Liona menghampirinya lalu menginjak lengan kanannya dengan sepatu yang kotor.
"Aku tidak percaya ada yang masih bertahan hidup setelah tubuhnya terhantam batu-batu surgawi," ucap Liona dengan terkekeh, disusul dengan tawa renyah dari para jubah putih yang lain. "Aku mengagumimu, kau benar-benar hebat," Liona tersenyum dengan santai pada Naomi. "Aku bisa saja mengampunimu, tapi sayang sekali, aku tidak mau melakukannya, karena itu sama saja dengan aku berkhianat pada Tuhan, dan itu adalah tindakan yang sangat berdosa. Jadi, sebelum kami benar-benar membunuhmu, kau boleh mengucapkan kalimat perpisahan pada dunia ini. Silahkan, katakan saja."
Mendengar itu, Naomi mendelikkan matanya ke wajah Liona dan dia mulai berkata dengan bibir yang bergetar, "T-Tuhan?" Naomi terbatuk-batuk, memuntahkan darah segar ke dadanya, karena posisinya saat ini sedang terlentang di atas tanah. "M-Mengapa Anda mengatakan itu seolah-olah apa yang Anda lakukan adalah," Air mata Naomi berlinang. "S-Sebuah perintah dari Tuhan?" Naomi meringis ketika luka di seluruh tubuhnya berdenyut-denyut, tetapi dia tetap melanjutkan perkataannya. "Y-Yang saya tahu, T-Tuhan tidak mungkin memerintahkan hambanya untuk membunuh manusia. K-Karena saya yakin, itu adalah perbuatan jahat dan akan menjadi dosa yang besar."
Liona menahan tawa setelah mendengar ucapan Naomi, dan dia langsung kuatkan injakkan kakinya di lengan gadis berambut kuning itu. "Untuk orang yang sedang sekarat, kau boleh juga, ya," kata Liona dengan menyunggingkan senyuman meremehkan. "Tapi biar kuberitahu, aku dan para anggota Jubah Putih tidak pernah melakukan hal yang jahat pada sesama manusia. Kami membunuh manusia karena mereka menyimpan roh jahat di dalam tubuhnya, sama sepertimu. Jika kami biarkan orang-orang sepertimu hidup, maka dunia ini akan hancur! Binasa! Dan KIAMAT!" Naomi terbelalak mendengarnya. "Jadi, yang kami lakukan adalah tindakan yang mulia, yaitu menyelamatkan umat manusia dari ancaman roh jahat. Bukankah itu terdengar sangat heroik?"
"R-Roh!?" Naomi tampak tidak mengerti pada hal itu. "S-Semua orang punya roh! Dan roh manusia tidak jahat! Mengapa Anda seenaknya menganggap roh saya jahat!? Anda lah yang jahat di sini!"
Kesal mendengar seruan Naomi, Liona langsung mengangkat kaki kirinya dan membenamkan telapak sepatunya yang penuh dengan lumpur ke wajah Naomi, lalu dengan seringaian keji, Liona berkata, "Sepertinya kau masih belum sadar tentang roh jahat yang ada di tubuhmu," Liona melototkan matanya pada muka Naomi yang masih ia injak. "Kau mungkin tidak mengetahuinya, tapi roh jahatnya sedang hidup di dalam tubuhmu, dan suatu saat nanti, dia akan memberikanmu kekuatan iblis dan menjadikanmu sebagai musuh umat manusia. Makanya aku melakukan ini, agar kau tidak menjadi musuh umat manusia, aku yakin, kau juga pasti mengerti, kan?"
"K-Kekuatan Iblis!? Musuh umat manusia!?" Walau kini wajahnya sedang diinjak oleh Liona, tapi Naomi tetap bersikeras ingin merespon perkataan gadis berjubah putih itu. "Apa yang sedang Anda bicarakan!" Kebingungan Naomi jadi semakin memuncak, dia tidak paham pada hal yang dikatakan Liona. "Sejak kapan tubuh saya dijadikan tempat bernaungnya roh iblis!? Dan apa yang membuat gadis biasa seperti saya bakal menjadi musuh umat manusia!? Bukankah Anda terlalu berlebihan!?"
"Aku tanya padamu," kata Liona dengan nada yang lebih dingin dari sebelumnya pada Naomi, wajahnya kini tampak datar. "Apakah orang yang telah melakukan perbuatan dosa akan merasa dirinya berdosa?" Liona menghembuskan napas beratnya. "Tentu saja jawabannya tidak, karena manusia-manusia semacam itu, tidak akan pernah sadar bahwa mereka sudah jadi bidak para iblis," Kemudian, bola mata Liona bergeser ke mata Naomi dengan sangat tajam. "Sama sepertimu. Kau telah melakukan dosa yang sangat besar karena menjadi wadah dari roh iblis. Dan tampaknya, kau tidak menyadari hal itu. Maka dari itu, aku bersama teman-temanku di Jubah Putih, akan membersihkan keberadaan roh itu dengan cara," Liona tersenyum tipis. "Membunuhmu."
Tidak terasa air mata Naomi mulai menetes-netes, membasahi pipinya yang kotor terinjak oleh sepatu milik Liona. "S-Saya tidak mau! Saya tidak mau dibunuh! Saya tidak mau mati! Saya masih ingin hidup! Saya--"
__ADS_1
BUG!
"DIAM!" Liona menghentakkan sepatunya lagi dengan keras ke muka Naomi, sampai hidung gadis berambut kuning itu menyemburkan darah segar. "Aku benci pada gadis berisik!" Sedetik kemudian, Liona terkekeh-kekeh sendiri. "Hehehehe, lagi pula, sekencang apa pun kau berteriak, tidak akan ada yang datang menolongmu," Lalu, perhatian Liona tertuju pada lambang bulat kecil yang tercetak di leher Naomi. "Oh, jadi selama ini aku sedang berbicara dengan salah satu umat Blanca, ya? Mengejutkan sekali."
"Jangan bawa-bawa agama saya!" Naomi berseru-seru dengan muka yang masih terinjak sepatu Liona. "Saya akan sangat marah jika Anda menjelek-jelekkan agama saya!"
"Eh? Memangnya siapa yang akan menjelek-jelekkan agamamu?" Liona menaikan sebelah alisnya, tampak heran pada sikap Naomi. "Tapi dilihat dari reaksimu, sepertinya kau sangat mencintai agamamu, ya?" Liona menemukan ide yang menarik di kepalanya. "Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" Liona terkekeh-kekeh dengan muka yang berseri-seri. "Mengapa agama Blanca yang kau anggap sebagai sesuatu yang luar biasa itu bisa terlahir di dunia?"
"Tentu saja karena itu adalah agama yang paling benar di muka bumi ini!" ucap Naomi dengan lantang, kobaran api tampak bergejolak di matanya. "Sungguh malang bagi orang-orang yang tidak memeluk agama Blanca, mereka adalah kaum yang tersesat. Sama seperti Anda! Anda juga adalah kaum yang terses--"
BUG!
Lagi-lagi Liona menghantamkan sepatunya ke wajah Naomi "Sudah kubilang jangan berisik!" Namun, amarah Liona langsung padam dalam seketika. "Begitu, ya? Kau menganggap orang-orang yang tidak memeluk agamamu adalah kaum yang tersesat?" Liona mendengus, menahan tawanya. "Itu artinya, kau juga adalah kaum yang tersesat. Karena bagiku, manusia-manusia yang menyimpan roh iblis di tubuhnya adalah kaum yang tersesat. Di mata kami, kau merupakan makhluk yang sangat malang." Kemudian, Liona menoleh pada teman-temannya yang sedang berdiri di belakangnya. "Lakukan sekali lagi, mari kita lenyapkan gadis ini." Naomi terbelalak mendengarnya.
BUAG! BRAG! BLEDAG!
Tiba-tiba dia mendengar suara batu yang dipukul-pukul hingga hancur berantakan, karena penasaran, pelan-pelan Naomi buka kelopak matanya dan betapa kagetnya saat ia melihat sesuatu yang mengejutkan terjadi di depannya. Sekarang, di depannya, dia bisa melihat ada dua sosok lelaki yang sedang berdiri gagah dengan menghancurkan batu-batu besar yang beterbangan ke arahnya. Naomi benar-benar terkejut. "B-Bukankah mereka itu--" Ucapan Naomi terpotong saat ada sosok berambut ungu panjang muncul di depannya, sedang mengangkat batu besar yang menindih badan dan kakinya.
"Kita harus... pergi dari sini, Naomi," Bahkan keterkejutan Naomi jadi semakin tinggi saat sosok berambut ungu itu menyebut namanya. Setelah batu-batu yang menindih badan Naomi berhasil disingkirkan, sosok berambut panjang itu menggendongnya. "Biarkan Paul dan Jeddy... yang mengurusi orang-orang itu di sini. Sebaiknya kita mencari tempat yang aman." Sampai akhirnya Naomi dibawa oleh sosok rambut ungu panjang itu keluar dari gang sempit tersebut.
"K-Kau siapa!?" tanya Naomi dengan nada yang bergetar.
"Aku Koko," jawab sosok itu, yang kini sedang menggendong Naomi, dengan senyuman tipis. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Karena aku diperintahkan oleh Paul untuk... membawamu ke tempat yang aman." Naomi mengingatnya sekarang, bahwa sosok yang sedang menggendongnya adalah salah satu dari tiga orang yang mengejarnya saat ia membeli buah-buahan. Dan yang lebih penting lagi, salah satu dari tiga orang itu yang mengejarnya adalah lelaki kasar yang pernah dia temui di depan tempat ibadah tadi pagi.
__ADS_1
Namun Naomi mengernyitkan alisnya saat mendengar nama sosok berambut panjang yang sedang menggendongnya ini. "Mengapa Anda mengetahui nama saya? Dan mengapa nama Anda terkesan seperti laki-laki?"
Koko tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"BRENGSEEEEEK!!!" Paul terus menghajar batu-batu yang beterbangan ke arahnya, begitu juga dengan Jeddy yang ada di sampingnya.
"HAHAHA! INI SERU SEKALI! BRO!" Jeddy pun tampak gembira dengan tangan terus menghantam-hantamkan batu-batu besar yang meluncur ke arahnya. "TAPI AKU PENASARAN! SEBENARNYA SIAPA MEREKA, BRO!?"
Mendengar itu, Paul melirik ke gerombolan orang yang mengenakan jubah putih, yaitu para pelaku dari pelemparan batu-batu besar yang melesat-lesat ke arah mereka. Paul pun menjawab dengan beringas, "AKU TIDAK TAHU SIAPA BAJINGAN-BAJINGAN ITU! TAPI YANG JELAS! KITA HARUS MENGHAJAR WAJAH-WAJAH MEREKA SETELAH KITA SELESAI MENGURUSI BATU-BATU INI!"
Jeddy dan Paul menyeringai jahat sambil terus menghancurkan batu-batu yang para jubah putih itu keluarkan dari cahaya di telapak tangannya masing-masing, bahkan Liona sampai jengkel menyaksikan hal itu, "Sebenarnya, siapa bocah-bocah ini! Mengganggu saja!" Namun hidung Liona mencium aroma roh menjijikan di tubuh salah satu bocah itu, tepatnya di badan lelaki berambut hijau. "Ah, begitu, ya. Yang satu pergi, yang satunya lagi datang. Tidak apa-apa. Aku senang." Kemudian Liona berteriak pada teman-temannya. "FOKUSKAN SERANGAN KITA KE BOCAH RAMBUT HIJAU! KARENA DI DALAM TUBUHNYA ADA ROH MENJIJIKAN!"
Mendengar orang-orang itu hendak mengincar Jeddy, Paul langsung berteriak padanya, "Jeddy! Kau bawa pistol, tidak!?"
Jeddy menoleh pada Paul, "Aku bawa empat! Bro! Memangnya kenapa!? Bro!?" Paul tersenyum miring mendengarnya.
"Bagus!" kata Paul. "Bagi aku dua pistolmu! Dan kau pegang dua pistolmu yang lain! Kita tembaki mereka dengan kombinasi saling memunggung, seperti yang pernah kita lakukan saat melawan keluargamu di Kota Groen, kau ingat!?"
Jeddy menganggukkan kepalanya dengan terbahak-bahak. "HAHAHA! SIAP BRO!" Lalu, Jeddy melemparkan dua pistol miliknya pada Paul, dan dia juga memegang dua pistolnya yang lain. Setelah itu, Jeddy dan Paul saling mendekat dan saling memunggungi satu sama lain sambil melakukan pose siap menembak. "Ayo kita mulai, Bro!"
"YA!" Paul menyeringai ke hadapan gerombolan jubah putih itu dengan mata yang melotot tajam. "KITA TEMBAK BAJINGAN-BAJINGAN ITU!"
__ADS_1