Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 71 : Ketukan Pintu


__ADS_3

Kini, Paul tidak lagi membawa orang-orang yang menemaninya ke suatu kota dengan naik bus. Paul sekarang lebih memilih pergi ke stasiun untuk naik kereta listrik, tentu saja, Cherry yang sudah berkali-kali bepergian bersama Paul, cukup kaget dengan perubahan itu, ia jadi melengking-lengking pada Paul untuk meminta penjelasan mengenai berubahnya kendaraan yang mereka naiki.


Tapi sayangnya, Paul tidak mengacuhkan Cherry, ia membiarkan gadis itu melengking sepuasnya, bahkan ketika mereka sedang berdiri di atas peron, menunggu datangnya kereta. Sementara Naomi, hanya menganggukkan kepalanya, berusaha memahami hal itu, menurutnya, mau Paul mengubah kendaraan yang dinaikinya menjadi sebuah kereta, pesawat, atau pun kapal besar, itu tidak terlalu mengejutkan, karena Naomi memang belum pernah bepergian bersama Paul ke suatu tempat, dan ini adalah pertama kalinya ia pergi ke suatu kota bersama sang mentor. Itulah mengapa Naomi terlihat tenang-tenang saja pada pilihan Paul, toh, sisi positifnya, kereta listrik lebih cepat daripada bus antar kota. Bukankah itu pilihan yang bagus?


Naomi malah heran pada tingkah Cherry yang terlalu berlebihan menanggapi pilihan Paul, tapi anehnya, saat mereka sudah masuk ke dalam kabin kereta, dan duduk di bangku empuk yang saling berhadap-hadapan di ruangan kecil, Cherry malah terlihat gembira, badannya sampai tidak bisa diam di atas bangku, mengayun-ayunkan kaki, matanya berkilat-kilat saking bahagianya menyaksikan pemandangan yang tersajikan dari jendela, dan sangat bersemangat saat membahas tentang hal-hal yang ia lihat di luar. Menurut Naomi, justru perubahan emosi Cherry lah yang membuatnya keheranan, padahal beberapa menit yang lalu, gadis pendek itu tampak tidak setuju pada kendaraan yang akan mereka naiki, tapi setelah naik ke dalam kendaraan tersebut, gadis pendek itu malah terlihat bahagia. Benar-benar aneh, pikir Naomi dengan mata yang menelisik ke arah Cherry, mengamati tingkah gadis mungil yang sedang duduk di hadapannya.


"Paul," panggil Naomi pada lelaki rambut hitam yang sedang duduk di sampingnya dengan nada yang lembut, ia penasaran pada muka lelaki itu yang tampak serius, seperti sedang merenungkan sesuatu. "Ada apa dengan Anda? Kelihatannya Anda tidak seperti biasanya. Wajah Anda terlihat sangat serius, saya penasaran."


Mendengar pertanyaan itu, Paul mengalihkan pandangannya pada muka Naomi, mereka saling menatap hingga akhirnya, Paul angkat bicara. "Tidak ada," kata Paul membalas pertanyaan Naomi, dengan gestur seperti orang yang sedang kelelahan. "Aku hanya sedang melamun."


"Melamunkan apa?" Naomi kembali bertanya.


"Kubilang tidak ada, ya, tidak ada! Aku tidak sedang melamunkan apa pun, aku hanya melamun dengan pikiran kosong. Kau mengerti!?"

__ADS_1


"Pikiran kosong?" Naomi mengernyitkan alisnya. "Itu mustahil. Anda tadi terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu, tidak, lebih tepatnya, seperti sedang merencanakan sesuatu. Saya yakin itu."


"Merencanakan?" Paul menaikan sebelah alisnya, tampak kaget pada penilaian Naomi terhadap perilakunya. "Kau pikir aku ini Nico? Aku bukan orang yang seperti itu! Aku tidak suka memikirkan atau merencanakan hal-hal yang rumit! Itu bukan gayaku! Gayaku adalah!" Paul memukul dada sebelah kanannya dengan tangan kiri, dengan memasang wajah bangganya. "Bergerak tanpa pikir panjang!"


"Bergerak tanpa pikir panjang?" Naomi tersenyum, dengan menahan tawanya. "Bukankah itu sama saja dengan ceroboh?"


"Ya! Aku ini ceroboh! Kau puas dengan itu, hah!?"


Cherry mengembungkan dua pipinya seperti balon mungil, menandakan kalau saat ini, ia sedang menunjukkan kemarahannya pada Paul dan Naomi yang telah mengganggu keasyikannya dalam memandang hal-hal yang ada di luar jendela kereta. Cherry ingin sekali sapi-sapi yang dilihatnya dari jauh, ia saksikan dari jarak dekat. Tapi karena suara Paul dan Naomi ribut di dekatnya, Cherry jadi tidak bisa tenang menunggu kereta yang ditumpanginya mendekat ke ladang yang ada beberapa ekor sapi. Akibatnya, Cherry tidak mendapatkan waktu dan posisi yang pas untuk melihat sapi-sapi tersebut.


"Persetan dengan sapi-sapi! Kita naik kereta bukan untuk menikmati pemandangan, bodoh! Kita di sini untuk berkunjung ke Kota Luna! Untuk menyeret pahlawan berikutnya yang ada di sana!"


Akhirnya, Paul menyemburkan kata-kata tajamnya yang sangat sadis pada Cherry, membuat gadis mungil itu merasa tertusuk-tusuk. Tidak, bahkan lebih parah dari itu. Omongan Paul yang begitu kasar, membuat Cherry mengembungkan dua pipinya semakin besar, hingga wajahnya jadi memerah pekat.

__ADS_1


"Maafkan saya, Cherry," ucap Naomi, mencoba menenangkan Cherry yang terlihat emosional. "Saya tidak akan memancing Paul lagi untuk berteriak-teriak, tadi saya hanya bertanya pada Paul tentang ekspresinya yang terlihat merenung, tapi seperti yang Anda dengar, Paul menjawabnya dengan kencang, membuat Anda terganggu dengan suara itu. Dengan kata lain, itu adalah salah saya. Jadi, maafkan saya, Cherry."


Perlahan, gelembung yang tercetak di dua pipi Cherry, menyusut dan menyusut, sampai dua pipinya jadi tampak normal seperti biasa. "Baiklah, Cherry akan memaafkan kesalahan kalian! Tapi," Cherry menatap lekat-lekat muka Paul dan Naomi dengan tajam. "Jangan buat suara berisik lagi!"


Naomi menganggukkan kepala, memahami permintaan Cherry, dan ia pun memutuskan untuk tidak memancing Paul bersuara, karena itu bisa menciptakan suasana ribut. Alhasil, Naomi pun melongokkan kepalanya ke jendela dan menyaksikan pegunungan merah muda yang tersajikan jauh di hadapannya. Sepertinya kereta ini sudah memasuki wilayah Kota Poppe, yang merupakan kampung halamannya Cherry.


"WAAAH! ITU GUNUNG ANDROMIZ! GUNUNG YANG DAPAT MENGABULKAN SEGALA PERMINTAAN! WALAU ITU HANYA MITOS, SIH! HIHIHIHI!"


Dan tampaknya, yang paling berisik di gerbong itu, adalah Cherry sendiri. Membuat Paul mau pun Naomi menghela napasnya secara berbarengan. Dasar anak kecil, pikir mereka berdua. Tapi, mereka berdua serempak menatap gunung yang bernama Andromiz itu, yang warnanya merah muda total, disertai dengan cerahnya langit warna biru di atasnya, menambahkan kesan sempurna dari pegunungan tersebut. Yang terpikirkan dari Naomi dan Paul, mungkin hanya kata 'indah', selain itu mungkin 'menakjubkan' 'mendebarkan' atau 'wow!'.


Namun, ketika mereka bertiga sedang mengagumi keindahan pegunungan Andromiz dari bangkunya masing-masing, tiba-tiba saja pintu ruangan yang mereka tempati diketuk-ketuk oleh seseorang. Alhasil, mereka bertiga seperti tersadarkan dari lamunan masing-masing dan menoleh ke arah pintu.


Mengamati Cherry dan Paul yang tampak enggan untuk membuka pintu, akhirnya Naomi lah yang berinisiatif sendiri untuk bangun dari bangkunya dan meraih gagang pintu. Perlahan, pintu ruangan kecil itu terbuka oleh tarikan dari tangan kurus Naomi yang terbaluti gamis warna hitam, dan mereka cukup terkejut saat melihat sosok orang yang datang mengetuk pintu.

__ADS_1


__ADS_2