Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 37 : Sesuatu yang Bergetar


__ADS_3

"Tega sekali kalian!" Tiba-tiba munculah Colin di ambang pintu depan, membuat Paul, Jeddy, Cherry, Nico, dan Koko yang sedang nikmat-nikmatnya menyantap makanan, jadi terhenti seketika dan menoleh ke arah lelaki tersebut. Colin tampak terengah-engah, dia sepertinya habis berlari dari jarak yang begitu jauh, keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuat pakaian kedainya jadi basah kuyup. "Memulai pesta tanpaku! Apakah keberadaanku telah dilupakan di sini!? Jahat sekali!"



Namun, kekesalan Colin langsung sirna sesaat matanya mengarah ke sosok Koko yang sedang duduk bersama teman-temannya di kursi tamu rumah Paul, dia terkejut melihat kehadiran sosok itu, sampai kedua matanya terbuka sangat lebar.



Paul pun segera beranjak dari kursinya dan berjalan mendatangi Colin yang masih berdiri di ambang pintu. Setelah sampai di hadapan Colin, Paul langsung menjitak kepala lelaki itu dengan keras, sambil berseru, "Untuk apa kau datang ke rumahku malam-malam begini! Brengsek!" Colin meringis kesakitan saat kepalanya dijitak oleh Paul. "Bukankah besok kau harus kerja lagi di kedai sialanmu itu!? Ketimbang buang-buang waktu di sini! Sebaiknya kau tidur di rumahmu! Bajingan!"



Menyaksikan Colin dijitak oleh Paul, Nico dengan mendengus langsung mengangkat badannya untuk berdiri dari kursi dan ia pun berjalan cepat menghampiri Paul dan langsung berkata dengan nada yang sangat dingin, "Apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?" Paul menolehkan pandangannya pada Nico. "Daripada kau membentak-bentaknya, lebih baik kau ajak dia masuk ke dalam, untuk duduk bersama kita, setelah itu, kau boleh menanyakan hal apa pun padanya, bukankah itu lebih beretika ketimbang kau memarahinya sambil berdiri di sini?"



Mendengar itu, Paul mendecih sebal, "Kau berani protes padaku, hah!?" sergah Paul dengan mendekatkan wajahnya pada Nico. "Aku tidak peduli pada sopan santun atau pun etika konyolmu itu! Aku di sini hanya ingin membuatnya sadar bahwa datang kemari pada malam hari bisa sangat membahayakan! Bagaimana jika dalam perjalanan kemari, dia dihadang oleh gerombolan preman yang sedang mabuk atau mungkin pembunuh keji! Pikirkan itu dengan otakmu baik-baik! Brengsek!"



Tidak mau kalah, Nico pun mendorong wajahnya lebih dekat ke muka Paul hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Maka dari itu," ucap Nico dengan intonasi yang jadi semakin nyaring. "Kau bisa menanyakannya saat dia sudah duduk di kursi! Lagi pula, kondisinya saat ini sedang baik-baik saja! Dia tidak tampak telah dihadang oleh preman atau pun pembunuh! Bodoh!"



"Emm.. sebenarnya barusan aku dikejar-kejar oleh seekor anjing galak," kata Colin dengan ngos-ngosan, mendengar itu, Paul tersenyum pada Nico, seolah-olah apa yang dicemaskannya terwujud. Tapi, sebelum Paul dan Nico kembali bertengkar lagi, Colin buru-buru menarik punggung mereka agar terpisah. "Hey! Sudahlah! Mengapa kalian jadi bertengkar di depanku!" Colin sampai terheran-heran pada sikap Paul dan Nico yang malah bercekcok di hadapannya, padahal dia sedang jengkel karena merasa dilupakan hingga tidak diundang di pesta yang menyenangkan ini.



"Colin! Ini gara-gara kau! Seharusnya kau--"



"Tidak! Ini bukan gara-gara Colin! Kau saja yang--"



"Apa maksudmu! Hah!? Jadi kau mulai berani--"



"Ya! Aku berani! Kenapa? Kau kaget? Pantas saj--"



"TOLONGLAH DIAM!" Colin langsung berteriak dengan sangat kencang, membuat Paul dan Nico tersentak mendengarnya. Pertengkaran mereka jadi padam seketika oleh teriakan Colin yang membahana. "Aku heran, mengapa kalian jadi heboh sendiri!?"



Jeddy langsung tertawa terbahak-bahak menyaksikan pertengkaran antara Paul, Nico, dan Colin. "Hahahaha! Ekspresi kalian bertiga saat berbicara lucu sekali! Hahah! Aku sampai tidak bisa menahan tawaku lebih lama lagi! Hahahaha! Maaf! Bro! Hahaha!"



Sama seperti Jeddy, Cherry pun terkikik-kikik di kursinya, merasa terhibur saat menonton perdebatan antar tiga lelaki tersebut. "Hihihi! Kalian bertiga idiot sekali! Cherry sampai mulas ingin pipis! Hihihi!"



Sedangkan Koko hanya terpaku melihat pertengkaran itu, dia hanya memandangi tiga lelaki itu tanpa bereaksi apa pun, dia juga mulai paham kalau nama lelaki berambut biru itu, yang baru datang ke rumah Paul, adalah Colin. Jadi begitu, ya, orang ini adalah Colin, ternyata orangnya heboh sekali, pikir Koko sambil mengamati penampilan Colin.



Karena merasa apa yang dikatakan oleh Nico ada benarnya, Paul pun terpaksa menyuruh Colin untuk ikut duduk di kursi tamu, setelah orang itu duduk bersama teman-temannya yang lain, ia pun mulai menanyakan pertanyaan tadi pada Colin dengan serius, dan lelaki itu pun segera menjawabnya.



"Aku datang ke sini karena aku ingin tahu siapa pahlawan baru yang kau bawa pulang hari ini, tapi rasa penasaranku jadi berubah saat mendengar sebuah pesta! Aku jadi kesal karena kalian berpesta tanpaku! Seharusnya kalian mengirim pesan atau semacamnya untuk mengundangku agar keberadaanku tidak dilupakan! Tapi faktanya! Kalian tidak melakukan itu! Kalian malah asyik berpesta ria di sini tanpa sedikit pun mengingatku! Tega sekali kalian!" Setelah mengungkapkan kejengkelannya pada Paul, Nico, Jeddy, dan Cherry, akhirnya Colin mulai menggeserkan pandangannya ke arah Koko, lalu dengan gugup, ia berkata, "Sa-Salam kenal," Dan Koko membalasnya dengan senyuman tipis.



"Hah!?" Paul menggebrak mejanya dengan wajah yang murka, sampai makanan yang ada di permukaan meja, terangkat dalam sedetik. "Memangnya siapa yang sedang berpesta di sini!? Kami tidak sedang berpesta, brengsek! Mengapa kau jadi marah begitu pada kami!"



Cherry ikut menimpali perkataan Paul dengan nada yang riang, "Yang dikatakan Paul benar, kok! Kami hanya sedang makan bersama, soalnya kami baru pulang dari Kota Aljelvin yang sangat jauh! Jadi, kami lapar! Begitulah yang Cherry maksud! Hihihihi!"



"Kota Aljelvin!?" Colin terbelalak mendengarnya. "Maksudnya, kota yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di internet?"


__ADS_1


"Eh? Memangnya kenapa dengan Kota Aljlevin, Bro!?" tanya Jeddy dengan menggaruk-garuk tengkuk lengan kirinya.



"Kau tidak membuka internet, ya!?" pekik Colin pada Jeddy dengan alis yang berkedut-kedut. "Sekarang itu, Kota Aljelvin diberitakan telah mengubah aturan lamanya ke aturan baru! Oleh sebab itu, di sana sedang terjadi kericuhan dari pihak-pihak yang setuju dan tidak setuju pada kondisi berubahnya aturan kota."



"Oh, begitu," Jeddy mengangguk-angguk kepalanya, mulai mengerti, lalu, pandangannya dialihkan ke Paul. "Jadi, bagaimana cara kalian selamat dari kericuhan itu, Bro!?"



"Kericuhan?" Nico bersuara dengan tersenyum miring. "Menurutku sih, tidak ada yang ricuh di kota itu," kata Nico dengan nada yang santai. "Justru kami lah yang menyebabkan kericuhan itu terjadi."



"Apa maksudmu!?" Colin terkejut menengarnya. "Tunggu-tunggu! Jangan bilang kalian--"



"Ya, itu benar," Cherry kembali bersuara dengan menyeringai. "Kami tadi siang mengunjungi Kota Aljelvin untuk menjemput pahlawan baru! Dan kami juga lah yang mengubah aturan lama yang busuk itu ke aturan baru yang adil! Hihihihi! Walau sebagian besar berkat kecerdasan Nico, sih! Hihihi! Cherry dan Paul hanya memberikan dasar-dasarnya saja!"



"Kenapa kalian bisa seberani itu? Maksudku, bukankah wajah kalian sudah dikenal di seluruh kota di negara ini!? Kalian ingat, kan? Saat para wartawan muncul di depan gerbang rumah Paul!? Saat itu kita bergiliran mengatakan berbagai hal di depan alat perekam video! Dan pastinya rekaman itu bakal disiarkan ke televisi! Nah, bukankah muka kalian akan sangat dikenal di sana!?"



"Oh, soal itu, ya?" Nico mulai menjawab dengan mendorong kaca matanya. "Aku tidak bisa memastikan, tapi sejauh ini, tidak ada satu orang pun di Aljelvin yang mengenali mukaku maupun muka Paul dan Cherry. Mungkin dari pada menyiarkannya ke televisi, mereka, para wartawan itu, sudah menghapus rekaman itu? Soalnya kata-kataku saat sesi perekaman cukup menusuk, jika kau mengingatnya."



"Benar juga! Bisa jadi begitu," Colin mengangguk setuju pada pendapat Nico. Aneh juga rasanya muka mereka tidak dikenali oleh orang-orang di kota-kota lain. "Kalau memang rekamannya tidak dipublikasikan, aku senang sekali! Karena dengan itu, kita juga bisa selamat! Soalnya kalian juga mengatakan hal-hal yang aneh saat perekaman! Soal pahlawan, lah! Pemimpin negara, lah! Dan sejenisnya, bukankah itu sangat aneh jika didengar oleh masyarakat!?"



"Hahahahah! Aku setuju, Bro! Orang-orang pasti akan menertawakan kita! Hahahah!" Jeddy terus-terusan terbahak-bahak mendengar ocehan teman-temannya.



"Sudah cukup!" Paul kembali menggebrak mejanya dengan suara yang keras, membuat teman-temannya terdiam dan melirik ke arahnya. "Aku jadi ngantuk mendengar kalian meributkan hal-hal yang sepele!" Perhatian Paul mulai mengarah ke Colin. "Biar kuberitahu, pahlawan baru yang kutemui di Aljelvin bukanlah seorang gadis! Dia adalah lelaki! Namanya Koko! Awas jika kau salah mengira! Akan kuhajar mukamu!"




"Arah pembicaraanmu mulai persis seperti Jeddy! Aku bosan menjelaskannya!" bentak Paul dengan kesal pada Colin, Jeddy hanya tertawa mendengar namanya disebut. Kemudian, perhatian Paul dialihkan ke arah Koko, "Malam ini, kau mau tidur di mana, Koko!? Teman-teman lelakiku akan tidur di kamarku! Sedangkan Cherry akan tidur di rumah Olivia, teman sekolahku! Jika kau tidak suka tidur bersama cecunguk-cecunguk itu! Aku bisa mengantarkanmu ke rumah Olivia bersama Cherry, lagi pula, penampilanmu akan disangka sebagai seorang gadis, jadi kau akan baik-baik saja! Bagaimana!? Kau mau pilih yang mana!?"



Koko yang sedari tadi diam tidak bersuara, sekarang malah ditunjuk oleh Paul untuk berbicara, alhasil semua orang yang ada di sana kini sedang memperhatikannya, menunggu dirinya menjawab, dan Koko pun dengan sedikit malu, mulai mengeluarkan suaranya, "Tidak apa-apa... aku tidur di kamarmu saja, Paul."



Mendengar itu, Jeddy terkejut, Nico tersenyum tipis, Cherry tercengang, Colin mengernyitkan alisnya, dan Paul memasang wajah datar. "Bagus! Sudah diputuskan!" ucap Paul dengan suara yang tegas. "Koko akan tidur bersama kita! Jadi aku sarankan kalian tidur di lantai! Biarkan Koko tidur di kasur! Mengerti!" Teman-teman lelaki Paul menganggukkan kepalanya, paham dengan hal itu.



"Yahhhhh! Cherry pikir Koko akan memilih tidur bersama Cherry!" Cherry tampak mengembungkan pipinya dengan bibir yang cemberut, tapi wajah kecewanya langsung berubah jadi riang sedetik kemudian, "Tapi tidak apa-apa! Cherry pikir Koko mungkin lebih nyaman tidur bersama para lelaki! Hihihi!" Dan tiba-tiba Cherry teringat sesuatu. "Eh!? Cherry lupa! Seharusnya kita membeli pakaian yang layak untuk Koko! Bagaimana, dong!?"



"Tidak mungkin malam-malam begini kita pergi ke toko! Jadi untuk sementara Koko akan memakai pakaianku!" jawab Paul dengan beringas. "Baiklah! Waktunya tidur! Kalian semua! Masuk ke kamarku! Dan Cherry! Aku akan mengantarkanmu ke rumah Olivia! Jadi tunggulah diluar!"



"Baiiiiik!" kata Cherry dengan berseri-seri.



Setelah mengantarkan Cherry ke rumah Olivia beberapa menit yang lalu, Paul pun kembali pulang ke rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya, dan dia kaget, ternyata teman-temannya sudah lebih dulu terlelap di sana, dan tampaknya mereka menuruti perintah Paul. Karena Nico, Jeddy, dan Colin tidur bersama di lantai yang tentunya sudah dialaskan oleh seprai putih, sedangkan Koko sedang terlelap di atas kasurnya.



"Baiklah," kata Paul dengan tersenyum simpul memandangi teman-temannya yang sudah terpejam. "Aku juga harus tidur."



Akhirnya Paul ikut bersama Jeddy, Colin, dan Nico untuk berbaring di lantai, dan sesaat kemudian, rasa kantuk mulai menyelimutinya hingga matanya mulai tertutup dengan rapat. Malam ini situasi kamarnya benar-benar penuh sesak, apalagi mengingat jumlah pahlawan akan terus bertambah di kemudian hari, sepertinya Paul harus menyediakan kamar lain agar pahlawan-pahlawan baru yang belum ditemukan, bisa tidur di rumahnya dengan nyaman.

__ADS_1



Keesokan harinya, Paul terkejut karena saat dia bangun, keberadaan teman-temannya sudah menghilang dari kamarnya, tapi saat telinganya mendengar dengan lebih jeli, gelak tawa Jeddy, pekikan Colin, nada dingin Nico, dan suara lembut Koko terdengar di ruang tamu, yang artinya mereka semua sedang berbincang-bincang di sana. Buru-buru Paul mengambil handuk dan lekas mandi, tapi saat dirinya turun dari tangga, teman-temannya menolehkan pandangan ke arahnya.



"Apa!?" Merasa dipandangi, Paul berucap dengan kesal.



"Lihatlah," Suara menusuk Nico mulai terdengar. "Mentor kita baru bangun dari tidurnya, di saat murid-muridnya sudah tampil sangat rapi. Benar-benar sampah sekali, kan? Mentor kita?"



"Diam saja kau!" Tidak terima, Paul langsung membentak Nico dengan murka. "Sekali lagi kau mengejekku! Kuhajar mukamu!"



"Selamat pagi... Paul." ucap Koko dengan tersenyum hangat pada Paul.



"Cepat mandi sana, Paul. Jangan dengarkan Nico, kau ini mudah sekali dipengaruhi, ya." kata Colin dengan menggeleng-gelengkan mukanya pada Paul.



"Ngomong-ngomong airnya dingin sekali, Bro! Kau harus berhati-hati saat mandi! Hahahaha!" Jeddy malah terbahak-bahak setelah mengucapkan hal tersebut.



Mengabaikan semua perkataan-perkataan itu, Paul langsung segera melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi. Dan Nico, Jeddy, Colin, dan Koko kembali berbincang-bincang di ruang tamu. Hingga beberapa menit kemudian, Colin berkata, "Ah, ini sudah setengah tujuh! Aku harus kembali bekerja! Aku pergi, ya! Bilang pada Paul hari ini aku tidak bisa menemaninya lagi! Dan untuk siapa pun yang akan menemani Paul, aku harap kalian bisa pulang dengan selamat! Sampai jumpa!"



Setelah berpamitan, Colin pun keluar dari rumah Paul dan berlari kencang menuju tempat kerjanya. Tersisa Nico, Jeddy, dan Koko di ruang tamu. "Dia rajin sekali, ya?" kata Nico pada Jeddy dan Koko setelah Colin menghilang dari ruangan itu.



"Benar sekali! Bro! Colin adalah satu-satunya orang yang paling rajin di sini! Dia sangat giat sekali dalam bekerja! Aku bahkan bisa melihat kobaran api semangat di dalam matanya! Hahahahah!" ungkap Jeddy dengan tertawa seperti biasanya. Kemudian, Jeddy melirik ke Koko dengan kaku. "B-Bagaimana menurutmu tentang Colin? B-B-Bro." Bahkan Jeddy tidak enak menggunakan kata 'bro' pada Koko, karena kata-kata itu hanya digunakan untuk sesama lelaki, sedangkan Koko, menurut Jeddy, seperti gadis. Jadi Jeddy suka bingung harus bagaimana berinteraksi dengan Koko.



Mendengar itu, Koko mengangkat kepalanya setelah dari tadi hanya menunduk dan menunduk, cuma menjadi pendengar saja. Dan dengan senyuman tipisnya, Koko menjawab, "Menurutku... Colin itu orang yang sangat hebat. Dia... bisa memposisikan dirinya dengan baik saat berbicara dengan orang lain, dan dia juga... mampu membagi-bagi waktunya dalam bekerja dan bermain bersama teman, itu sangat hebat."



Jeddy dan Nico bergeming mendengar ucapan Koko, sampai akhirnya munculah Paul di antara mereka dengan pakaian yang sudah rapi; mengenakan kaos oblong warna jingga, dan celana olahraga panjang warna putih. "Kukira Si Colin Sialan itu telah mengambil cuti untuk ikut bersamaku! Rupanya tidak seperti yang kupikirkan! Ya sudahlah! Lupakan soal itu!" Paul pun memandang ke arah Jeddy, Nico, dan Koko dengan tajam. "Sekarang, aku tanya pada kalian! Siapa yang akan ikut denganku untuk pergi mencari pahlawan baru!?"



Nico langsung menjawab dengan santai, "Aku terlalu lelah untuk pergi setelah insiden kemarin, jadi aku pikir, aku jaga rumah saja."



"Aku ikut! Bro! Heheheh!" Jeddy mengacungkan tangannya tinggi-tinggi dengan semangat. "Aku rindu sekali keseruan pergi berkelana denganmu! Bro! Hahaha!"



Melihat Jeddy mengacungkan tangannya, Koko pun dengan gemetar ikut mengacungkan tangannya. "Aku juga... ikut."



"Oke!" kata Paul setelah mendengar respon Nico, Jeddy, dan Koko. "Lalu, dimana Cherry!? Apa dia masih belum datang!?"



Mendengar itu, Nico kembali bersuara dengan lantang, "Tadi ada seorang gadis berambut hitam datang kemari dengan mengenakan seragam sekolah, dia bilang, 'tolong sampaikan pada Paul, Cherry terkena demam, jadi dia tidak bisa ikut hari ini', begitulah hingga gadis itu berpamitan pada kami untuk berangkat ke sekolahnya. Seingatku sih, nama gadis itu adalah Olivia."



Paul mulai paham pada situasi yang diucapkan Nico, lalu dia menganggukkan kepalanya. "Itu artinya! Yang akan ikut menemaniku pergi hanya Jeddy dan Koko!" Kemudian, bola mata Paul bergeser pada dua lelaki itu. "Kalian siap!?"



Jeddy dan Koko bilang 'siap' secara bersamaan. Dan sedetik kemudian, ponsel Paul bergetar kencang di kantong celananya.



"Sepertinya Roswel menghubungiku!"

__ADS_1




__ADS_2