Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 60 : Bencana


__ADS_3

Karena permohonan dari Koko, akhirnya pelan-pelan, Paul, Jeddy, dan Elena melepaskan kunciannya di tubuh Naomi dan membiarkan gadis berkerudung itu bergerak bebas, tapi saat ini tidak ada pisau di tangannya. Saat badannya kembali bebas, Naomi tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Paul, Jeddy, dan Elena.


"Terima kasih," ucap Naomi dengan tatapan kosong. "Mulai sekarang, jangan halangi saya." Naomi langsung kembali berjalan pelan, mendatangi Koko yang berdiri di samping meja makan.


"Cherry," bisik Koko pada Cherry yang ada di sampingnya. "Tolong menjauh... aku akan berhadapan dengan Naomi. Kumohon."


"Baiklah, Cherry mengerti." Cherry pun bergegas ke tempat Paul, Jeddy, dan Elena berdiri, untuk ikut bergabung di sana, menyaksikan Naomi yang akan berhadapan dengan Koko. Entah apa yang bakal terjadi, mereka berharap tidak ada pertumpahan darah di rumah ini.


"Kau yakin membiarkan mereka berhadap-hadapan begitu, Bro?" bisik Jeddy pada Paul, dengan intonasi cemas, dan dapat didengar oleh Cherry dan Elena.


"Kita doakan saja," timpal Elena--Ibunya Paul--merespon pertanyaan Jeddy, dengan nada yang berbisik. "Jika semisalnya Naomi menyerang Koko, kalian berdua sebagai lelaki harus memisahkannya." Paul dan Jeddy mengangguk paham secara bersamaan mendengar omongan Elena.


"Tante, semua ini berawal dari masalah apa? Sampai jadi separah ini? Apakah mereka berbeda pendapat pada suatu hal sehingga menyebabkan pertengkaran? Duh! Kok Cherry jadi makin bingung, ya! Kumohon, Tante Elena, jelaskan dengan singkat pada Cherry!"


Mendengar pertanyaan Cherry, Elena hanya tersenyum kecut. "Lihat saja ke depan, kau akan mengerti seiring berjalannya waktu."


Kini, Naomi dan Koko saling berhadapan satu sama lain, mereka berdua tampak menampilkan raut wajah yang bertolak belakang. Saat Naomi memasang muka yang dipenuhi kebencian, Koko malah memasang muka yang dipenuhi dengan keraguan.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin... menyerangku, Naomi?" tanya Koko dengan bibir yang bergetar, tak bisa menutupi rasa kecewanya. Jelas saja Koko kecewa, sebab Naomi adalah orang yang sangat baik, sopan, dan lemah lembut. Tapi sikapnya langsung berubah saat Koko menceritakan masa lalu kelamnya, bukannya menyemangatinya, gadis itu malah ingin membunuhnya.


"Saya juga tidak tahu," jawab Naomi dengan tatapan yang tajam. "Saya hanya melakukan apa yang ditulis di Kitab Suci. Saya juga sebenarnya tidak mau membunuh Anda, tapi!" Mendadak, amarah Naomi kembali membludak. "Sudah kewajiban saya, sebagai umat Blanca, untuk melenyapkan makhluk terkutuk seperti Anda! Anda hanya akan membuat dunia ini kiamat! Kehadiran Anda di sini! Bakal membawa bencana pada Negara Madelta! Jika Anda tidak ingin dibunuh oleh saya, maka saya sarankan untuk pergi dari sini! Dari Negara Madelta! PERGILAH YANG JAUH DARI NEGARA INI!"

__ADS_1


Paul, Cherry, Jeddy, Elena, dan juga Koko, terbelalak mendengar perkataan Naomi yang sangat kasar. Mereka tidak pernah menyangka gadis lembut seperti Naomi, bisa mengucapkan kata-kata yang begitu sadis pada seseorang, apakah dia melakukannya karena perintah dari kitab suci agamanya? Apa pun itu, bukan sesuatu yang baik mengusir seseorang sampai seperti itu, Cherry sampai tidak tahan ingin menghajar Naomi, tapi dia sadar kalau gadis berkerudung itu merupakan pahlawan pilihan Paul, sama seperti dirinya, dan dalam kondisi normal, Naomi bukan gadis jahat, itulah yang membuat Cherry bisa menahan amarahnya.


Jeddy tidak percaya kalau Naomi punya sisi gelap, sama seperti Cherry. Namun, sisi gelap Naomi lebih terfokus pada kitab suci agamanya, jika ada sesuatu yang tidak selaras dengan ajaran agamanya, maka gadis itu tidak akan segan-segan membunuh orang lain. Itu benar-benar mengerikan. Sisi gelap yang berlandaskan pada kitab suci.


Paul sendiri tidak bisa mengungkapkan apa-apa selain kaget. Sebetulnya, Paul tahu kalau Naomi adalah orang yang sangat fanatik terhadap agama, menurutnya, gadis berkerudung itu pasti rela mengorbankan nyawanya hanya untuk kehormatan agamanya. Tapi sungguh, Paul pikir sejak tinggalnya Naomi di Kota Swart, gadis itu bakal sedikit melupakan kefanatikkannya terhadap agama, sebab kota ini adalah tempat yang cinta pada keberagaman. Namun sayangnya, itu adalah dugaan yang keliru, karena tampaknya, rasa cinta Naomi terhadap agamanya malah semakin kuat sejak tinggalnya dia di Swart, seolah-olah gadis itu tidak terbawa arus dari budaya di kota ini.


"Dan juga," Naomi kembali melanjutkan kata-katanya yang sempat terjeda. "Lepas rok yang Anda pakai itu, seorang laki-laki tidak pantas mengenakan pakaian perempuan, itu adalah perbuatan memalukan."


"B-Baiklah... aku akan melepasnya." Koko menuruti perintah dari Naomi, dia membungkukkan badannya, dua tangannya mulai meraih bagian atas rok, berniat menurunkan rok panjang yang ia pakai di pinggangnya. Namun, saat rok yang dipakai Koko akan diturunkan, mendadak Cherry berteriak dengan sangat kencang.


"CUKUP! SUDAH CUKUP!"


Meskipun begitu, Koko tidak mempedulikannya, ia tetap melanjutkannya, menurunkan rok panjang itu sampai benar-benar lepas dengan sempurna. Akhirnya rok itu telah tergeletak tepat di permukaan lantai, di sekitar pergelangan kaki Koko. Karena hal itu, tubuh bagian bawah Koko yang hanya mengenakan celana dalam warna ungu, terlihat dengan jelas oleh setiap mata memandang.


Saat Naomi akan membalas ucapan Koko, mendadak Cherry mencengkram pundak gadis berkerudung itu dari belakang. Dengan suara menggeram, Cherry berkata, "Kubilang, sudah cukup. Kau pikir kau siapa di sini, memerintahkan orang lain untuk melakukan hal yang tak diinginkannya, kau ini benar-benar menjijikan!"


Naomi langsung menoleh mendengar umpatan-umpatan yang dilontarkan oleh Cherry padanya. "Saya hanya meluruskan sesuatu yang belok. Itu adalah kewajiban saya sebagai bagian dari Umat Blanca untuk memberikan pengarahan pada manusia-manusia tersesat seperti kalian, terutama pada lelaki terkutuk itu." Naomi menunjuk ke arah Koko dengan tatapan sinis.


"Padahal Cherry kira, kau ini akan menjadi sosok teladan di sini! Tapi nyatanya, kau hanyalah sosok busuk yang hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Kitabmu itu! Lagi pula, menurut Cherry, yang terkutuk di sini adalah dirimu! Kau yang malah terlihat lebih buruk dari Koko! Apa kau tidak sadar! Apa yang kau lakukan ini adalah tindakan kriminal! Kau merendahkan derajat orang lain! Kau mengusir orang lain! kau juga melecehkan orang lain! dan kau berencana membunuh orang lain!" Cherry berteriak dengan muka yang bengis. "DAN KAU MENYEBUT DIRIMU SENDIRI SEBAGAI UMAT BERAGAMA!?" Cherry mendecih kesal. "KAU MEMBUAT CHERRY MUAK, TAHU!"


Tiba-tiba Jeddy melesat dan berhenti tepat di tengah ruangan, tepat di antara Naomi, Koko, dan Cherry yang sedang bertengkar hebat. Paul hanya menggelengkan kepala melihat aksi Jeddy, Elena tersentak menyaksikannya.

__ADS_1


"Diam, atau kalian akan kutembak."


Jeddy menodongkan dua pistolnya tepat ke arah kepala Naomi dan Cherry.


"Pakai rokmu lagi, Bro!" suruh Jeddy pada Koko dengan tegas. Awalnya Koko ragu, tapi pelan-pelan ia mengangkat kembali roknya.


"Dan untuk kalian," Jeddy mulai mengalihkan perhatiannya pada Naomi dan Cherry. "Bersiap-siaplah. Besok kalian berdua akan menemani Paul ke Kota Luna untuk mencari pahlawan baru!" kata Jeddy dengan wajah yang tampak dingin, tidak terdengar lagi tawa renyahnya. "Itulah yang dikatakan Paul padaku tadi. Sekarang, aku minta, kalian berdua harus berbaikan. Jika tidak, aku akan menarik pelatuknya, dan kepala kalian akan pecah terkena tembakan."


Paul tersenyum melihat Jeddy berhasil melakukan apa yang tadi ia perintahkan lewat bisikan. Jeddy jadi tampak keren dengan gaya seriusnya.


"Mengapa Cherry harus berkelana dengan orang seperti dia!" Cherry melirik ke arah Naomi dengan sinis.


"Saya juga tidak bersedia jika harus bersama dengan gadis kasar seperti dia!" sindir Naomi dengan mendecakkan lidahnya.


Elena terjatuh dari sikap berdirinya, ia lelah memandang pertengkaran itu, kakinya sampai keram. "Paul, mengapa kau membawa mereka ke rumah ini? Orang-orang itu, mereka berbahaya."


Paul menoleh pada Ibunya yang sedang terduduk di lantai. "Tenang saja, Bu. Masalah seperti ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan masalah-masalah yang dulu. Aku berjanji, akan membuat Naomi sadar pada kesalahannya."


"Oke, tapi, di mana Koko?"


Saat ibunya bilang begitu, dengan santai, Paul jawab, "Tenang saja, Bu. Dia masih ada di-" Saat kepalanya ditolehkan ke tempat Koko yang seharusnya ada di sana, Paul terkejut. "PERGI KE MANA KOKO!?"

__ADS_1


Sontak, mendengar teriakan Paul, membuat ibunya, Jeddy, Cherry, dan Naomi kaget.


__ADS_2