
"Walau rumahmu kecil, tapi sangat hangat, ya."
Colin berbicara saat dirinya bersama Paul dan Nico sudah masuk ke dalam gubuk reyot milik Abbas, mereka sedang duduk di kursi kayu keropos, sambil menyesapi segelas jahe yang disiapkan oleh Abbas. Di dalam gubuk itu, hanya ada satu ruangan, yang merupakan penggabungan antara kamar tidur, ruang tamu, dan dapur. Sementara kamar mandi, Abbas tidak punya, dia bilang, jika tubuhnya gerah atau semisal ingin buang air, maka ia akan pergi ke sungai terdekat. Begitulah kondisi tempat tinggal dari pahlawan baru yang tinggal di Kota Cocoa. Awalnya, Paul miris melihat murid barunya tinggal di tempat sempit dan kotor seperti ini, tapi dia menyimpan rasa bangga, karena Abbas telah menjalani kehidupan secara mandiri, tanpa bantuan dari orang lain. Dan Paul yakin, gubuk ini pun yang mendirikannya pasti Abbas seorang, walaupun kelihatan sederhana, tapi gubuk ini sangat kokoh, tidak goyang saat terkena angin, dan atapnya tidak bocor saat terguyur air hujan. Dan atmosfer di dalam gubuk ini pun terasa sangat hangat dan menenangkan, padahal di luar sedang hujan deras.
Abbas menyunggingkan senyuman tipisnya saat mendengar Colin berbicara begitu. Dia senang karena rumahnya telah membuat tiga orang ini nyaman berada di sini, setidaknya walaupun tempatnya sempit dan kotor, kehangatan telah menutupi semua kekurangan itu. Ketika Paul, Colin, dan Nico duduk di kursi reyot, Abbas sendiri sedang sila di lantai beralaskan tanah. Tampaknya ia sebagai tuan rumah gembira menyaksikan rumahnya kedatangan tamu, sudah lama sekali sejak Abbas tinggal di sini, dan ia tidak pernah mendapatkan orang yang mau berkunjung ke rumahnya. Tapi sekarang, harapan kecilnya telah terwujud, karena ada tiga orang yang bersedia untuk masuk ke dalam rumah sederhananya untuk bertamu. Abbas sangat senang.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Nico mengeluarkan suaranya dengan mata yang menatap pada Abbas. Mendengar itu, Abbas segera menoleh pada Nico yang sedang duduk di hadapannya. "Ini mengenai penampilanmu," kata Nico dengan nada yang datar. "Aku heran, mengapa kau membiarkan tubuhmu bertelanjang dada begitu? Apa kau tidak kedinginan? Padahal kau ini tinggal di kota yang selalu turun hujan, tapi mengapa kau tidak memakai baju untuk membuat tubuhmu hangat, Abbas? Jika kau menjawab dengan 'aku sudah biasa dengan cuaca seperti ini, karena aku adalah penduduk asli Kota Cocoa', maka aku akan menentangnya dengan keras. Mengapa? Karena aku juga salah satu penduduk yang tinggal di sebuah kota yang memiliki cuaca dingin, bahkan lebih dingin dari ini. Tapi, walaupun aku adalah penduduk aslinya, aku tetap merasa kedinginan dan selalu mengenakan baju tebal atau setidaknya memakai pakaian berlengan panjang, tapi mengapa kau tidak melakukannya? Apakah itu adalah hobimu?"
Sungguh, Abbas kebingungan mendengar pertanyaan dari Nico yang kedengarannya sangat panjang, ia bingung harus menjawab dari mana. Tapi sebetulnya, Abbas bukan manusia yang seperti itu: yang karena dirinya adalah penduduk asli Kota Cocoa, hingga dia jadi terbiasa dengan cuaca dingin. Tidak, dia tidak begitu. Abbas tetap merasa dingin saat pergi ke luar rumah, apalagi dengan badan yang telanjang dada. Tentu saja dia selalu kedinginan. Tapi, bukan itu alasan mengapa Abbas selalu bertelanjang dada. Apalagi tentang hobi, Abbas sama sekali tidak punya hobi memamerkan badannya pada orang-orang. Karena alasan yang sebenarnya adalah, dia tidak punya uang untuk membeli baju. Ya, itulah masalah yang sebenarnya. Setelah Abbas diusir dari pusat kota, dia kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal, dan yang lebih penting lagi, kehilangan pakaian. Itulah mengapa akhirnya Abbas selalu bertelanjang dada, karena pakaian yang ia punya, hanyalah celana pendek berwarna hitam yang selalu ia pakai tiap hari.
Walaupun celana itu dipakai tiap hari, tapi Abbas selalu mencucinya tiap sore dan menjemurnya tiap malam, hingga akhirnya bisa digunakan lagi esok harinya. Dan oleh sebab itu, tiap malam Abbas tidak memakai sehelai kain sedikit pun, yang artinya, dia selalu telanjang bulat, termasuk ketika sedang tidur. Apa boleh buat, begitulah keadaannya, Abbas hanya bisa pasrah, tapi dia tetap melanjutkan hidupnya bahkan saat orang-orang menjauhinya.
Merespon ucapan Nico, Abbas hanya mengucapkan, "Uang," kata Abbas dengan suara baritonnya yang begitu berat. "Aku tidak punya uang." Mendengar jawaban singkat dari Abbas, membuat Nico, Colin, dan Paul paham dengan kondisinya, mereka mulai mengerti mengapa Abbas selalu bertelanjang dada, itu dikarenakan dia tidak punya uang untuk membeli baju. Mereka bertiga pun merenungkan hal itu dalam sesaat.
"Kau tenang saja!" Setelah merenung, Paul akhirnya mendapatkan sebuah ide, ia langsung bersuara dengan lantang sambil tangannya menunjuk-nunjuk pada Abbas. "Aku akan membelikanmu baju sebanyak mungkin! Jadi, kau tidak perlu bertelanjang dada lagi setiap saat!" ucap Paul dengan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Berterima kasihlah padaku!"
Sontak, Abbas terkaget mendengar omongan Paul, ia tidak percaya ada orang yang bersedia membelikannya pakaian dengan sukarela, itu benar-benar mengejutkan. Karena Abbas tahu bahwa harga pakaian itu sangat mahal, dan ia tidak mampu untuk membelinya. Tapi lihatlah sekarang, lelaki bermuka seram yang merupakan salah satu dari tiga tamunya, hendak membelikannya sebuah baju. Abbas tidak tahu harus bilang apa selain menunjukkan senyuman bahagianya pada Paul.
"Bisakah kita lupakan dulu soal dia telanjang dan tak mampu membeli pakaian?" Colin memberanikan diri untuk bersuara, membuat Paul dan Nico menoleh padanya. Abbas pun mengangkat alisnya, terheran-heran pada kata-kata yang dilontarkan oleh Colin. "Bagaimana kalau sekarang, kita bahas masalah gelangnya?" Kemudian perhatian Colin difokuskan pada wajah Abbas. "Hey Abbas," kata Colin dengan berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat ramah. "Aku tahu kau ini orang pendiam, tapi kumohon, kali ini, kau harus jawab pertanyaanku, karena kami membutuhkan jawabanmu," Colin pun menarik napasnya pelan-pelan. "Ini mengenai gelang yang kau pakai, maksudku, kalau boleh tahu, apakah gelang yang melingkar di tangan kirimu itu bisa kau lepas? Aku pikir, jika gelang itu membuat dirimu diasingkan, mengapa tidak kau buang saja benda itu dari tanganmu? Agar kau bisa hidup normal seperti biasanya, tidak perlu menyusahkan diri di tempat seperti ini." Colin menghembuskan napasnya. "Maaf jika kata-kataku sedikit menyinggungmu."
Abbas menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gelang ini," kata Abbas dengan suaranya yang agak serak. "Tidak bisa dilepas."
"K-KENAPA!?" Colin terkejut mendengarnya, dia benar-benar kaget pada hal itu. "B-Bukankah itu hanyalah gelang biasa!?" Colin langsung meletakkan gelas dari minuman jahe yang tadi ia teguk ke tanah, lalu ia beranjak dari kursinya, mendatangi Abbas yang sedang bersila di permukaan tanah. Colin ikut duduk di samping Abbas sembari menatap gelang merah yang melingkar di tangan lelaki kekar tersebut. "Aku ingin mencoba memeriksanya, boleh?" Abbas menganggukkan kepalanya sambil menyodorkan lengan kirinya yang berotot pada pangkuan Colin. Nico sedikit kesal menyaksikan hal itu, tapi dia berusaha menahan amarahnya sejenak. "Tanganmu kasar dan besar sekali, ya?" Itulah kata-kata yang diucapkan Colin saat dirinya menyentuh lengan kiri Abbas yang ada di pangkuannya.
Kemudian Colin menekan-nekan gelang merah yang melingkar tepat dipergelangan lengan kiri Abbas, saat ia mencoba menariknya, ternyata tidak bisa. Colin tercengang, karena rasanya seperti gelang itu sudah menyatu dengan kulit Abbas. Sama sekali tidak bisa dilepas. "K-Kenapa jadi seperti ini!? Aneh sekali!" Colin terus berusaha melepaskan gelang merah tersebut dari pergelangan tangan Abbas, tapi hasilnya tetap nihil. Tidak ada tanda-tanda gelang itu akan bergerak atau pun terlepas dari sana.
__ADS_1
Tidak mau diam saja, Nico dan Paul pun ikut mendatangi Abbas, setelah mereka meletakkan gelasnya masing-masing ke permukaan tanah. Mereka berdua pun turut membantu Colin untuk melepaskan gelang yang terikat di tangan kiri Abbas, dan sudah beragam cara mereka lakukan, dari menarik, membetot, mencabut, mencengkram, mencubit, mencongkel hingga memukul dengan keras, tapi tetap tidak ada hasil yang baik dari usaha yang mereka lakukan. Gelang merah itu tampaknya telah merekat di kulit Abbas, dan mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melepaskan benda itu. Atau mungkin ada semacam alat khusus yang dapat melepaskan gelang tersebut. Tapi ketika Paul bertanya pada Abbas mengenai hal itu, lelaki kekar itu menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia juga tidak mengerti tentang itu.
Dan akhirnya, mereka bertiga pun menyerah, terlalu sulit, padahal hanya sekedar melepaskan gelang karet biasa, tapi rasanya seperti sedang mencongkel kulit manusia. Benar-benar merepotkan.
"Kalau sudah begini," Colin merengut kecewa. "Kita tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu gelang itu meledak di tangan Abbas," Colin meremas celananya. "Rasanya aku jadi kesal pada diriku sendiri, karena terlalu payah dalam berusaha."
Nico merangkul leher Colin dengan tangan kanannya, sembari bilang, "Jangan murung begitu," ucap Nico dengan suara yang begitu lembut pada Colin. "Bukan hanya kau di sini yang merasa kesal, Colin. Kami juga sama," Nico tersenyum tipis. "Jadi, daripada terus merasa kecewa, kenapa kau tidak buat suasana suram ini jadi ceria, seperti yang biasa kau lakukan?"
"Tidak, aku tidak pernah bisa membuat suasana suram jadi ceria, itu bukan keahlianku," jawab Colin dengan tetap menampilkan bibir cemberutnya. "Itu keahlian Jeddy dan Cherry, yang bisa kulakukan hanyalah menjerit-jerit ketakutan. Itu saja, dan juga," Colin menepis rangkulan tangan Nico yang melingkar di lehernya dengan pelan. "Jangan menyentuhku." Nico terbelalak mendengarnya.
"E-Eh?" Nico kaget setengah mati. "Kenapa?"
Colin menghela napasnya dengan berat. "Aku sedang tidak ingin disentuh oleh siapa pun, maaf." Mendengar itu, giliran Nico yang jadi terlihat murung.
Seketika situasi jadi hening mendadak, Abbas, Colin, dan Nico terkejut mendengar ucapan Paul.
"APA KAU GILA!?" Colin mulai berteriak dengan histeris, seakan-akan dunia baru saja kiamat. "Paul! Apa yang sedang kau pikirkan sampai menemukan solusi sadis seperti itu!" Colin tidak henti-hentinya melontarkan omelan-omelan hebohnya pada Paul. "Itu adalah tangan manusia! Kau tidak bisa memotongnya dengan sebegitu mudahnya! Paul! Kau juga harus memikirkan perasaan Abbas! Dia pasti ketakutan mendengar idemu itu!"
Sebal terus-terusan disemprot oleh Colin, Paul langsung menyemburkan bentakannya dengan keras, "TUTUP MULUTMU! PECUNDANG!" seru Paul dengan muka yang meradang kesal dan rahang yang bergemeletuk. "HANYA ITU SATU-SATUNYA CARA AGAR DIA BISA TERBEBAS DARI LEDAKAN YANG DAPAT MEMBUATNYA MATI! BODOH!"
Mendengar pujaan hatinya--Colin--dibentak-bentak oleh Paul, Nico langsung murka secara mendadak. "Jangan buat dirimu jadi terlihat lebih tolol dari sebelum-sebelumnya, Paul!" ucap Nico dengan pandangan menusuk pada Paul, Colin mendadak membisu saat mendengar suara Nico. "Apa yang dikatakan Colin memang benar, kita tidak bisa memotong tangan orang lain dengan seenak jidatmu! Bodoh!" Nico menekan kaca matanya dengan raut muka yang teramat angkuh. "Tapi aku tidak heran kau bisa memikirkan solusi brutal seperti itu, mengingat berandalan sepertimu memang memiliki sifat barbar yang memuakkan, tapi sungguh," Nico memicingkan matanya pada Paul. "Kali ini otakmu jadi sangat rusak dari biasanya. Aku turut berduka-cita, Paul."
"BERISIK! BAJINGAN!"
__ADS_1
Menyaksikan tiga tamunya ribut di hadapannya, Abbas jadi gelisah, dia bingung harus bagaimana agar tamu-tamunya berhenti bertengkar di depannya. Sampai akhirnya, Abbas mendapatkan ide cemerlang. Ketika Nico dan Paul sedang panas-panasnya saling merendahkan satu sama lain. Mendadak, Abbas mengangkat dua tangannya, kemudian, ia daratkan dua tangannya itu tepat ke kepala Paul dan Nico, dan ia usap rambut mereka dengan lembut sambil menyunggingkan senyuman tipis, seperti sedang mengusap-usap dua ekor kucing yang sedang saling cakar. Nico dan Paul terkaget saat kepala mereka tiba-tiba diusap-usap oleh Abbas. Colin juga terkejut melihat hal tersebut.
Ketika suasana jadi hening kembali, Abbas berkata pada Paul dan Nico dengan suara baritonnya yang halus. "Kalian semua adalah anak baik," kata Abbas dengan senyuman menawannya. "Jadi jangan bertengkar."
"K-KENAPA CUMA AKU SAJA YANG TIDAK DIUSAP!?" Colin protes karena hanya dirinya yang kepalanya tidak diusap-usap oleh Abbas. Mendengar itu, Abbas angkat tangan kanannya yang sebelumnya mengusap rambut Nico untuk didaratkan ke kepala Colin.
"Kau juga anak baik." kata Abbas dengan tersenyum hangat pada Colin. Dengan polosnya, Colin berseri-seri saat rambut birunya diusap-usap lembut oleh Abbas.
Saat Paul akan mencemooh sikap Colin yang menyebalkan, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dengan sangat keras, membuat mereka berempat mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.
"S-Siapa?" Colin kaget mendengar ketukan tersebut.
Abbas langsung bangkit dari posisi silanya, mengakhiri sesi usap-mengusap rambut tamunya, untuk membuka pintu kayunya, menyambut tamu baru yang jarang sekali muncul di rumahnya.
Ketika pintu terbuka, angin kencang menerpa wajah Abbas, suara derasnya air hujan serta suara petir yang berdentum-dentum jadi terdengar lebih jelas. Namun, bukan itu yang membuat mata Abbas terbelalak. Karena sekarang, di hadapannya, berdirilah berpuluh-puluh manusia yang berjejer-jejer di depan rumahnya, mengenakan jubah putih yang tampak basah kuyup terkena rintikan air hujan.
"Dugaanku benar," ucap sosok kakek berjenggot putih yang berdiri di hadapan Abbas, memimpin pasukannya yang berjejer di belakangnya. "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Anak Muda," kata Kakek itu dengan terkekeh-kekeh, seolah mengabaikan bahwa kini pakaiannya sedang terguyur air hujan. "Sekarang, kau akan kami murnikan."
Paul kaget saat mengetahui bahwa orang yang kini berdiri di depan rumah Abbas adalah salah satu pasukan dari kelompok jubah putih. Cepat-cepat Paul mendatangi Abbas, setelah sampai di samping lelaki kekar itu, keterkejutan Paul makin bertambah, karena anggota jubah putih yang hadir di depan rumah Abbas lebih banyak dibanding ketika ia berhadapan dengan mereka di Kota Sablo.
Serius, jumlahnya terlalu banyak.
"Oh?" Kakek itu tampak mengerutkan kening keriputnya saat melihat sosok Paul yang muncul di samping Abbas. "Dari aromamu, aku bisa tahu, bahwa kau, adalah orang yang bertanggung jawab atas wafatnya Cucu Tersayangku, Liona," Tiba-tiba Kakek berjenggot putih itu menampilkan raut muka yang teramat jengkel setengah mati pada Paul. "Kau juga akan kami murnikan, wahai Anak Nakal." ucap Kakek itu dengan nada yang menggeram.
__ADS_1
Abbas tidak mengerti mengapa rumahnya bisa didatangi oleh segerombolan orang berjubah putih, tapi setelah mendengar kata-kata dari kakek tua itu, akhirnya Abbas mengerti. Bahwa mereka, para jubah putih, bukan orang-orang baik.