
"Dasar laki-laki ********! Apa mulutmu itu hanya bisa mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali, hah!? Dasar tidak berguna!" Lizzie sampai terengah-engah saat Paul terus mengatakan hal yang sama--meminta penawar racun--hingga dirinya dibuat kesal oleh itu. "Bukankah sudah kubilang, kalau kau seingin itu pada penawar racunku, jilatilah kaki-kakiku! Tapi kau sama sekali tidak mematuhi kemauanku! Jadi jangan salahkan aku kalau aku tidak memberikan penawar racunnya padamu!"
"Ini darurat," Akhirnya Paul mengucapkan kata-kata yang beda dari sebelumnya, membuat Lizzie cukup senang mendengarnya. "Jadi, berikan penawar racunnya padaku."
"Aku menolak!" Lizzie menyunggingkan senyuman tipisnya, tampak ingin bermain-main dengan Paul. Meskipun ini tengah malam, sinar rembulan menerangi wujud mereka. Membuat Lizzie bisa memandang ekspresi yang sedang Paul buat. "Aku sudah bilang, kan? Saat kita berhadapan di siang hari, aku pernah mengatakan bahwa aku tidak akan pernah sudi memberikan penawar racunku padamu. Jadi, sekarang pun sama, sampai kapan pun, aku tidak akan memberikannya." Lizzie langsung berjalan lurus sambil menyenggol pundak kiri Paul dengan sengaja. "Lagipula, aku sedang ada urusan lain. Aku tidak punya waktu untuk berhadapan dengan orang mesum sepertimu, dasar ********."
Lizzie terus melangkahkan kakinya untuk keluar dari pekarangan rumahnya, dia berniat pergi ke rumah Rara untuk melancarkan aksinya. Lizzie sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Paul, mau orang itu ada atau tiada pun, bukan lagi kepentingannya. Prioritas Lizzie saat ini adalah membunuh seluruh anggota keluarga Rara. Dan Lizzie pun tidak sabar ingin segera melakukannya.
"Berhenti di situ, Brengsek!" Paul tiba-tiba berteriak kencang dari tempatnya berdiri, membuat Lizzie menghentikkan langkah kakinya dan menengok ke belakang.
"Ada apa lagi? Mau menghajar wajahku lagi? Atau mungkin mau bertarung denganku? Hah... sebenarnya aku mau-mau saja. Tapi ini bukan waktu yang tepat, aku sedang sibuk dengan urusan lain, jadi...," Lizzie memelototi Paul dengan tajam. "... enyahlah!"
"Sudah kubilang, INI DARURAT!" Paul langsung mendatangi Lizzie dengan langkah yang gagah, tampak bersungut-sungut meminta pengertian dari gadis tomboi berambut oranye itu. "Nyawa temanku akan mati jika kau tidak memberikan penawar racunnya padaku! Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja! Dia sangat berharga! Jadi cepatlah, berikan itu sekarang! Aku juga sama sepertimu! Sedang sibuk mengurusi hal yang penting! Karena itulah! Berikan penawar racunnya, agar kau dan aku bisa fokus pada urusan masing-masing!"
"Memangnya kau siapa, sampai berani mengatur-aturku!? Inilah yang kubenci dari seorang laki-laki, mereka selalu berlagak sok pemimpin dan penguasa! Tingkah mereka, benar-benar menjijikan! Laki-laki seharusnya jadi budak bagi para perempuan! Kalian semua, hanya makhluk hina saja!" Lizzie pun sedikit demi sedikit menampilkan seringaiannya kembali. "Lagipula, apa itu? Kau ingin menyelamatkan temanmu yang sedang sekarat terkena racunku? Hahaha! Aku tidak mengerti harus bilang apa lagi padamu, padahal sudah kubilang beberapa kali, bahwa temanmu itu, sudah tidak tertolong lagi! Mau kuberi milyaran penawar racun pun, hasilnya akan tetap sama! DIA SUDAH MATI!"
__ADS_1
"DIA BELUM MATI! BRENGSEK!"
"Lalu apa buktinya?" Lizzie kembali menormalkan suaranya agar tidak terbawa suasana. "Kau punya buktinya? Hah? Jangan hanya banyak bicara jika kau sendiri pun tidak bisa membuktikannya padaku. Aku yakin, kau ini hanya sekedar manusia bodoh yang berharap temannya masih hidup, padahal nyatanya dia sudah lama tewas! Menjijikkan sekali! Orang-orang semacam dirimu, membuatku mual! Mereka tidak mau menerima kenyataan!"
"LIZZIE!" Tiba-tiba Rara berlari keluar dari dalam rumah, memanggil nama Lizzie dengan sangat kencang hingga membuat Paul dan gadis tomboi itu mengarahkan pandangan ke sosok gadis mungil itu. "CEPATLAH PERGI! ABAIKAN SAJA LELAKI ITU! BIAR AKU YANG MENGURUSNYA!"
Lizzie tersenyum senang mendengar perintah dari Rara. "Tumben kau pintar, Rara." Lizzie pun menganggukkan kepalanya dan langsung melompati pagar rumahnya dan menghilang begitu saja dari hadapan Paul.
Melihat Lizzie pergi, Paul mencoba mengejarnya, tapi baru saja kakinya melangkah, Rara berteriak. "HEY KAU! TUNGGU! JANGAN PERGI DULU!" Mendengar Rara memanggilnya, Paul menoleh sedikit ke arah gadis itu berdiri. Mau apa dia? Paul tidak punya urusan dengan gadis itu. Apakah dia berusaha menghalangi Paul untuk mengejar Lizzie? Kalau memang begitu, Paul tidak boleh terkecoh dengan ini.
Paul terperanjat mendengarnya, apa itu benar-benar hal yang lumrah saat anak sekecil itu memerintahkan sesosok pembunuh bayaran untuk membantai keluarganya sendiri? Apa yang gadis mungil itu pikirkan, hingga punya pemikiran seperti itu? Apakah dia marah karena hal sepele pada keluarganya? Meski itu bukan urusannya, tapi entah kenapa Paul tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Mengapa kau menginginkan keluargamu mati, katakan?"
"Mereka...," Wajah Rara jadi semakin sayu saat Paul bertanya demikian. "... mengusirku. Mereka marah padaku karena selalu bermain dengan Lizzie, mereka berkata bahwa orang seperti Lizzie bukan teman yang baik untukku. Padahal... padahal nyatanya! Lizzie adalah sahabat terbaikku! Lizzie selalu melindungiku! Lizzie selalu membuatku bahagia dan tertawa! Lizzie tidak pernah melukaiku atau pun membuatku sedih! Dia adalah... sahabat terbaikku!"
__ADS_1
Dari perkataan yang Rara ucapkan, akhirnya Paul mendapatkan pemahaman. Jadi begitu, penyebab mengapa gadis mungil itu ingin membantai keluarganya, itu semua karena hubungan pertemanan yang ditentang oleh keluarga. Tapi mengapa solusinya harus dibunuh? Bukankah itu terlalu berlebihan? Paul masih heran dengan itu.
Saat Paul ingin mengemukakan pertanyaan lain, gadis mungil itu sudah hilang dari pandangan. Pergi ke mana dia? Paul menolah-noleh ke segala arah untuk menemukan keberadaan Rara yang mendadak lenyap tanpa bekas. Beberapa menit kemudian, muncullah Rara kembali dari dalam rumah dengan membawa sebuah botol kecil berisi cairan bening yang mengkilap. Paul terpukau melihat itu.
"Ini benda yang kau inginkan, kan? Penawar racun milik Lizzie. Cepat ambilah, sebelum Lizzie kembali kemari." Rara menyodorkan botol itu pada Paul. "Sebenarnya aku juga tidak mau melakukan ini, karena Lizzie bisa sangat marah jika mengetahuinya, tapi urusan keluargaku lebih penting. Karena itulah aku terpaksa melakukan ini. Jadi, kau harus pahami posisimu baik-baik! Kau tidak boleh mengganggu Lizzie lagi, wahai lelaki mesum!"
Paul langsung mengambil botol kecil itu dan memasukkannya ke kantung celana. Kemudian Paul menatap tajam mata Rara dalam waktu yang lama.
"Apa?" Rara terheran saat Paul memandanginya begitu lama. "Kau terpesona dengan wajahku?"
"Terima kasih banyak karena telah memberikan penawar racunnya padaku. Sebelum aku pergi, aku ingin mengetahui namamu."
Rara menghela napas. "Dasar, kukira mau apa, ternyata cuma itu." Rara pun menjawab pertanyaan Paul dengan santai. "Ingat ini baik-baik, namaku adalah Rara. Itu saja."
Paul menganggukkan kepala. "Baiklah, sampai jumpa lagi, Rara."
__ADS_1