
“Apa-apaan ini!?” Lizzie teramat kaget ketika lengan kanannya yang patah, tiba-tiba diberi sebatang kayu yang diikat ke tiap sisi tulang yang bengkok oleh Paul. Selesai itu, Paul mengikat kencang kain yang digunakan untuk mengikat kayu tersebut di lengan Lizzie, agar tidak goyang atau jatuh. “Kau ini sedang apa, ********!”
Tentu saja gadis itu tidak diam saat lengannya disentuh-sentuh oleh Paul, dia terus memekik keras dengan wajah yang sangat murka, tapi Lizzie tidak bisa memberontak sama sekali, karena begitu lelaki itu memegang pergelangan tangannya yang bengkok, rasa nyeri mulai timbul kembali. Dan jika Lizzie memaksakan diri untuk menggerakan lengannya yang saat itu sedang dipegang oleh Paul, maka dia akan merasakan kesakitan yang luar biasa.
“Kau ini berisik sekali!” Usai melakukan itu, Paul kembali berdiri dari posisi jongkoknya. “Sekarang lenganmu sudah aman! Kau hanya perlu diam agar tulangmu yang rusak bisa pulih!”
“Memangnya kau pikir ini perbuatan siapa, ********!?” Lizzie menyentak Paul dengan tatapan yang begitu tajam. “Jika kau saat itu tidak menendang pergelangan tanganku, aku tidak akan mengalami hal bodoh seperti ini!”
“Justru aku melakukan ini karena aku bertanggung jawab!” Paul juga tampak jengkel pada Lizzie yang tidak paham pada apa yang ia lakukan. “Kau ini benar-benar mengesalkan! Dari semua pahlawan yang aku temui, hanya kau satu-satunya yang menyebalkan!”
“Pahlawan-Pahlawan-PAHLAWAN!” Lizzie mulai bosan dengan sebutan itu. “Sudah kubilang, ITU MENJIJIKAN!” Gadis itu benar-benar benci dengan hal-hal yang bodoh. “Lagipula, Aku ini pembunuh bayaran! Aku tidak bekerja untuk menyelamatkan manusia! Pekerjaanku adalah membunuh manusia!”
Paul terdiam, sepertinya Lizzie masih belum mengerti pada penjelasan yang dikemukakan olehnya, ia jadi sedikit kesal. "Terserah, aku tidak peduli kau mau suka atau tidak pada sebutan itu! Yang penting, aku sudah menjelaskannya padamu! Dan mengenai pekerjaan busukmu itu, aku juga tidak peduli! Apa pun pekerjaanmu, jika kau sudah terpilih menjadi pahlawan! Kau harus mengubahnya menjadi lebih baik!"
"Lama-lama aku bisa gila jika terus berbicara dengan lelaki bodoh sepertimu! Inilah yang kubenci dari laki-laki, mereka semua sangat bodoh, kekanak-kanakan, mesum, dan egois! Itu menjijikan sekali!" Sembari mengais lengan kanannya yang sudah diikat, Lizzie beranjak dari posisi jongkoknya, lalu tertatih-tatih pergi dari hadapan Paul.
"Kau mau kemana!?" Paul mengernyitkan alis keheranan melihat Lizzie berjalan pelan menuju arah yang tadi. "Kau bisa disergap oleh keluarga itu lagi!"
"BUKAN URUSANMU!" Lizzie langsung berteriak tanpa menolehkan kepalanya ke belakang. "Seharusnya kau juga pergi dari sini! Ingatlah pada temanmu yang tewas itu! Bukankah kau ingin menyelamatkannya!?"
Seketika, Paul teringat kembali pada kondisi Abbas, dan kepanikan datang lagi di kepalanya. Paul hampir lupa pada urusannya yang lebih penting, dia harus bergegas sekarang.
"Kalau begitu, aku pamit dulu!" Paul langsung melangkahkan kakinya cepat, kembali ke rumah sakit untuk menyelamatkan Abbas yang telah divonis meninggal oleh dokter.
__ADS_1
"Astaga! Lizzie! Tanganmu kenapa!?" Rara, gadis mungil berambut cokelat mahoni, yang mengenakan gaun pendek berwarna putih, memekik histeris saat melihat Lizzie kembali dengan kondisi lengan diikat, layaknya seorang prajurit yang baru pulang dari peperangan besar."Apa kau baik-baik saja!?"
Lizzie, yang baru saja masuk ke pintu rumahnya, langsung disambut oleh Rara dengan kepanikan. Gadis kecil itu tampak tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya melihat sahabat tersayangnya terluka, mata Rara jadi berkaca-kaca, hampir mau menangis.
"Aku baik-baik saja, kau tidak peru mencemaskanku, Rara," Lizzie menyunggingkan senyuman tipisnya pada Rara setelah dirinya duduk di sofa empuk yang tersedia di ruang tamunya. Rara ikut duduk di sofa itu. "Tunggu, kenapa kau masih belum tidur juga? Ini sudah mau pagi, Rara."
"Kau bohong!" jawab Rara dengan kesal. "Kau tidak sedang baik-baik saja! Tangan kananmu adalah buktinya! Kau pasti terlibat dalam bahaya, kan!? Iya, kan!?"
"Rara, kau harus istirahat," Lizzie mencoba membujuk Rara untuk tidur agar bocah itu tidak menanyai hal-hal lainnya. "Kemarilah, kau selalu ingin tidur di pangkuanku, kan?"
"Lizzie! Jangan alihkan pembicaraan!" Meskipun usia Rara masih sekitar 10 tahun, tapi dia sangat peka terhadap segala hal. Rara tidak bisa dibohongi, dia bukan anak kecil sembarangan. "Ceritakan padaku, semua yang terjadi saat kau masuk ke dalam rumahku!"
Lizzie membisu seketika, dia bingung harus bilang apa. Lizzie tidak bisa jujur begitu saja pada Rara, karena itu bisa membuat gadis itu kecewa padanya. Tidak mungkin Lizzie bilang kalau dirinya telah gagal melaksanakan tugasnya. Rara pasti kecewa. Sangat kecewa.
"Maafkan aku!" Dengan lengan mungilnya yang melingkar di leher Lizzie, Rara berseru dengan mata yang basah. "Aku telah membuatmu terluka seperti ini! Ini kesalahanku! Jika aku tidak memintamu untuk membantai keluargaku, kau mungkin tidak akan pulang dengan kondisi seperti ini! Aku benar-benar egois!"
"Hey Rara, Jangan bicara begitu," Lizzie cepat-cepat membalas omongan Rara yang mulai menyalahkan dirinya sendiri. "Aku melakukan itu karena aku ingin melakukannya. Aku tidak bisa diam saja saat mendengar sahabatku diusir dari rumahnya. Dan aku terluka bukan karena kesalahanmu, luka adalah hal yang wajar bagi seorang pembunuh bayaran sepertiku. Terkadang, aku sering lengah saat menjalankan tugasku, jadi ini bukan hal yang perlu dicemaskan."
Pelan-pelan, Rara melepas pelukan itu lalu matanya menatap penuh ke wajah Lizzie dengan sangat fokus. "Baiklah, kalau begitu, apakah kau sudah membantai seluruh keluargaku?"
Sekilas Lizzie memalingkan pandangannya ke samping, tampak bingung harus menjawab apa.
Sadar pada hal itu, Rara menyipitkan matanya dengan curiga. "Lizzie! Jawab aku! Apakah kau sudah membunuh mereka semua?"
__ADS_1
Menghembuskan napas perlahan, Lizzie mulai memberanikan diri untuk jujur. "Maaf," kata Lizzie dengan memandangi muka Rara yang begitu mungil. "Aku gagal melakukannya."
Rara tercengang mendengarnya. "Eh?" Bocah itu kaget tak percaya. "Apakah keluargaku terlalu sulit untuk dibunuh?"
"Tidak, mereka sangat lemah," ucap Lizzie dengan muka yang dingin. "Yang membuatku gagal bukan karena mereka yang terlalu sulit."
"Lalu apa?"
"Orang itu!" Kejengkelannya mulai muncul lagi saat Lizzie mengingat wajah Paul yang menyebalkan. "Dia tiba-tiba muncul di dalam rumahmu dan mengganggu pekerjaanku! Aku benar-benar jijik pada tingkahnya yang terus saja menghalangiku!"
Rara mulai menebak-nebaknya, dan hanya satu wajah yang ada di pikirannya. "Apakah lelaki yang pernah berhadapan denganmu itu di sini?"
"Ya! Orang itu yang kumaksud!"
Mendadak, Rara jadi gelisah, dia mulai mengingatnya kembali, saat dirinya memberikan penawar racun milik Lizzie pada Paul secara diam-diam, setelah gadis tomboi itu pergi ke rumah mewahnya.
"Jadi lelaki itu, ya."
"Dan dia juga sempat bilang padaku, bahwa Rara memberikan penawar racunku padanya! Menjijikan sekali! Berani-beraninya dia memfitnah sahabatku! Rara tidak mungkin melakukan itu! Benar, kan, Rara?"
"Maafkan aku, Lizzie," Rara langsung menundukkan kepalanya, membuat Lizzie terheran-heran pada tingkahnya. "Sebenarnya, itu semua benar. Aku memang memberikan penawar racunmu pada lelaki itu, tapi aku melakukannya agar dia bisa pergi menyelamatkan temannya dan tidak mengganggu tugasmu! Tapi aku tidak menyangka kalau dia ternyata mengikutimu!"
Mendengar itu, Lizzie cuma berdehem sambil memandang lekat-lekat muka Rara yang sedang ditundukkan.
__ADS_1