Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 70 : Kota Pelacuran


__ADS_3

Keesokan harinya, Colin pamit karena harus berangkat ke tempat kerjanya, yaitu di kedai. Nico pergi ke perpustakaan di alun-alun Kota Swart. Jeddy bergegas ke toko persenjataan yang berada di pusat perbelanjaan Kota Swart. Koko cepat-cepat mengambil gembor dan mulai menyiram tanaman yang ada di sekitar rumah Paul. Abbas minta izin untuk berolahraga pagi di jalanan kota. Sedangkan Cherry dan Naomi, mereka berdua sedang duduk di kursi tamu, menunggu Paul yang sedang mandi, ketika semua murid-muridnya sudah sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Semalam, kenapa Anda tidak tidur di rumah ini, Cherry?" tanya Naomi, mencoba memecahkan keheningan, dengan menolehkan pandangannya pada Cherry yang duduk di sampingnya.


"Eh? Naomi belum tahu, ya?" Cherry terlonjak saat mendengar pertanyaan itu. "Cherry tuh, ya! Selalu tidur di Rumah Olivia! Bahkan! Dari awal Cherry datang ke kota ini! Paul sudah memerintahkan Cherry untuk tidur di rumah Olivia! Dan tahu tidak? Olivia itu orangnya sangat menyenangkan! Dia baik hati! Perhatian! Lucu! Pintar! Rajin! Dan selalu memanjakkan Cherry! Pokoknya Olivia itu sosok kakak yang sempurna untuk Cherry!" Tiba-tiba Cherry berbisik pada Naomi. "Dibandingkan dengan Paul yang menjengkelkan, kasar, berisik, semena-mena, dan tidak berperasaan. Olivia sangat menyenangkan! Itulah mengapa Cherry lebih suka tidur bersama Olivia daripada bersama Paul! Hihihihi!" Cherry menatap mata Naomi. "Apakah selama ini Naomi tidur bersama Paul di kamar itu?"


Mendadak, muka Naomi memucat. "T-Tentu saja tidak!" Naomi memasang senyum masamnya pada Cherry. "Saya tidur di kamar Tante Elena, di sana lebih nyaman dan menenangkan. Lagi pula, tidak mungkin seorang perempuan seperti saya tidur di kamar laki-laki seperti Paul, itu tidak mungkin, Cherry."


"Bisa saja, kan?" kata Cherry dengan polosnya. "Bukankah itu lebih bagus? Hihihihi!"


"Itu sama sekali tidak baik, Cherry," ucap Naomi, tak sangka kalau Cherry punya pemikiran liar semacam itu. "Sudah ah, jangan membahas hal-hal yang begitu. Saya tidak nyaman."


"Kalau begitu, Cherry boleh bertanya tentang sesuatu yang lain, tidak?"


Naomi tersenyum. "Tentu saja, memangnya apa yang mau Cherry tanyakan?"


"Mengapa kau menutupi rambutmu dengan kain, Naomi? Cherry penasaran dari pertama kali melihatnya, tapi selalu tak sempat untuk menanyakannya! Makanya, Cherry senang sekali karena hari ini Cherry bisa menanyakannya langsung pada Naomi! Hihihihi! Jadi kenapa? Apakah ada alasannya?"

__ADS_1


Seketika, Naomi terdiam, dia bingung harus menjelaskannya dari mana, apalagi dia tidak ingin menyinggung lagi soal agamanya. "Eh, ini?" Naomi memegang kerudung yang sedang dipakainya pada Cherry. "Ini hanya aksesoris saja, agar rambut saya tidak berantakan," kata Naomi dengan berbohong. "Soalnya rambut saya itu mudah berantakan kalau dibiarkan bebas, jadi saya tutupi saja dengan kain agar tidak berantakan lagi."


"Oooooh, begitu, ya?" Cherry mengangguk-angguk, mencoba memahami penjelasan itu. "Ternyata alasannya sepele, ya!? Cherry pikir, itu adalah bagian dari ajaran agamamu! Hihihihihi! Tapi tak apa-apa! Cherry memakluminya, kok! Terkadang rambut Cherry pun selalu berantakan! Tapi tidak separah Naomi, sih! Hihihi! Oh, ngomong-ngomong, warna rambut Naomi apa? Cherry penasaran sekali! Hihihi!"


"Warna rambut saya kuning, bukan pirang." jawab Naomi dengan pelan. "Tapi saya ingin sekali punya rambut merah muda seperti Cherry, kelihatannya sangat imut dan menggemaskan. Saya suka."


"Benarkaaaah!?" Cherry cengengesan mendengar kata-kata Naomi. "Naomi ingin punya rambut merah muda seperti Cherry! Itu mudah sekali! Warnai saja rambut Naomi dengan cat rambut! Nanti rambut Naomi bisa jadi seperti Cherry! Hihihihi!"


Naomi menggelengkan kepalanya. "Tapi tidak perlu, saya masih senang dengan warna kuning di rambut saya, itu seperti melambangkan cahaya yang menerangi kegelapan. Saya suka dengan itu."


"Tunggu sebentar," Naomi merasa mengingat sesuatu. "Dari yang pernah saya dengar, bukankah Kota Luna itu adalah pusatnya bisnis prostitusi, ya? Di sana, katanya, banyak sekali tempat-tempat pelacuran, dan merupakan tempat yang sangat berdos--ah tidak, maksud saya, tempat yang sangat tidak baik. Saya harap Isabella bukan termasuk dari perempuan-perempuan pelacur, karena itu sangat--"


"Tapi sayangnya!" Tiba-tiba suara Paul menggelegar, memotong ucapan Naomi yang belum selesai. Lelaki itu telah berdiri di depan mereka dengan balutan jaket biru dengan celana jins merah, matanya memandang Cherry yang sedang mengenakan gaun pendek berwarna hijau dan Naomi yang sedang memakai gamis hitam dengan kerudung hitam. "... Isabella adalah seorang pelacur!"


Naomi dan Cherry terkejut secara serentak saat mendengar itu, mereka tidak menyangka kalau pahlawan berikutnya adalah seorang pelacur. Tapi mengapa? Naomi tidak habis pikir mengapa orang seperti Isabella bisa terpilih menjadi seorang pahlawan? Naomi enggan mengatakannya, tapi bukankah seorang pelacur itu bukan orang yang patut dicontoh dan tentunya manusia yang sangat berdosa? Mengapa bisa terpilih? Naomi keheranan pada hal itu.


Sementara Cherry kaget karena orang yang ia pikir akan menyenangkan seperti Olivia, ternyata merupakan seorang pelacur. Lalu, apa yang harus Cherry harapkan dari seorang pelacur? Apakah seorang pelacur bisa menyenangkan seperti Olivia? Jika memang benar, maka Cherry tidak keberatan. Tapi, bagaimana kalau seorang pelacur ternyata menjengkelkan? Cherry harap tidak begitu, tapi tetap saja, Cherry khawatir.

__ADS_1


"Memangnya," Cherry mengangkat tangannya. "Seorang pelacur itu apa?"


Naomi dan Paul tersentak mendengar pertanyaan itu, mereka kaget kalau ternyata Cherry belum tahu arti dari pelacuran itu sendiri, benar-benar tak terduga. Karena terpaksa, akhirnya Paul menjelaskan intinya pada Cherry, dan gadis itu langsung histeris setelah mendengar penjelasan dari Sang Mentor.


"SERIUUUUS!?" Kedua mata Cherry sampai melotot, tidak menyangka kalau sesuatu yang tidak boleh ia tahu, telah diketahuinya. "P-Pekerja seks!? I-Itu gilaaaaa! Cherry baru tahu ada pekerjaan seperti itu di dunia ini! Tapi mengapa orang-orang seperti itu tidak dihukum!? Bukankah melakukan seks sembarangan itu tidak baik!?"


"Itu bukan urusan kita, lagipula, pelacuran di Kota Luna sudah mendapatkan status legal! Yang artinya, bisnis seperti itu, diizinkan dan diperbolehkan oleh pemerintah kota!" kata Paul dengan bentakan seperti biasa pada Cherry.


"Negara Madelta memang negara yang sangat liberal, itu tidak mengejutkan." ucap Naomi, mencoba menjelaskan sesuatu yang belum dijelaskan oleh Paul pada Cherry.


"Liberal itu apaa!? Cherry tidak mengerti!"


"Liberal itu bebas, yang artinya Negara Madelta membebaskan setiap kotanya, setiap penduduknya, untuk membuat sistem apa pun, atau menjadi seperti apa pun, semaunya. Tapi sisi positif dari itu, kita punya ruang untuk mengekspresikan diri tanpa ada batasan di negara ini. Meskipun begitu, Madelta sedikit tidak ramah pada negara-negara tetangga, tapi tenang saja, Madelta termasuk ke dalam negara paling kuat di dunia, jadi jika ada negara tetangga yang ingin berperang, pasti akan kalah telak. Begitulah yang saya tahu dari guru saya saat saya masih duduk di bangku sekolah."


"Sudah cukup omong kosongnya!" Paul langsung melangkahkan kakinya ke luar rumah. "Mari kita kunjungi Kota Pelacuran itu! LALU KITA SERET SI ISABELLA KEMARI!"


Mendengar itu, Naomi dan Cherry langsung berseru dengan mengangkat kepalan tangannya, "YA! AYO KITA BERANGKAT!"

__ADS_1


__ADS_2