Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 85 : Cinta Pertama


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi seputar kehidupan Cherry dari Paul, Isabella mencerna semua itu untuk dimasukkan ke dalam otaknya dan kembali bersikap seperti biasa. Permainan tebak-tebakan pun kembali di mulai, Isabella menyuguhkan beberapa pertanyaan menjebak pada Paul, Cherry, dan Naomi, dan berhasil membuat mereka semua kesulitan saat menjawabnya. Hingga pada pertanyaan terakhir pun, tidak ada yang bisa menebaknya dengan benar. Alhasil, Isabella tidak perlu menyiapkan hadiah untuk pemenang, karena di permainan itu, tidak ada satu pun yang memperoleh kemenangan. Malah sebaliknya, Paul, Cherry, dan Naomi, mendapatkan hukuman masing-masing dari Isabella.


Perempuan berambut merah itu tampak tidak sabar ingin menjahili tiga orang itu, untuk melakukan sesuatu yang memalukan di dalam helikopter. Isabella masih memikirkan apa yang akan ia berikan untuk menghukum Paul, Cherry, dan Naomi, karena hukumannya tidak boleh terlalu ringan dan mudah. Harus sulit dan menantang. Dan sedetik kemudian, Isabella mendapatkan ide cemerlang.


"Baiklah, karena kalian bertiga tidak mampu menebak semua pertanyaanku dengan benar, kalian bertiga harus dihukum. Dan hukumannya tiap orang berbeda, pertama akan kukatakan hukuman untuk Paul," Isabella melirik nakal ke mata Paul. Cherry dan Naomi penasaran pada hukuman yang akan menimpa mentor mereka. "Aku ingin kau memperlihatkan juniormu pada kami, bagaimana? Kau berani?"


"J-Juniorku!?" Paham pada maksud Isabella, wajah Paul langsung memerah pekat, dia tidak menyangka hukumannya bakal segila itu. "Jangan bodoh! Aku tidak mau! Aku menolak! Itu sudah keterlaluan! Brengsek!"


"Ah? Kau tidak berani, begitu?"


"BUKAN BEGITU MAKSUDKU!"


"Lalu apa? Kau mau mengelak dengan alasan apa lagi, Paul? Intinya, kau tidak berani, kan?" Isabella terkikik. "Ya ampun, ternyata Mentorku ini pecundang sekali, ya?"


"BAIKLAH!" Paul langsung berdiri dari kursinya, melihat itu, Isabella tertawa, Cherry terheran-heran, dan Naomi menutupi mukanya dengan kerudung hitamnya. "Akan kuperlihatkan juniorku yang gagah perkasa ini pada kalian! Brengsek!" Ketika tangan kanan Paul mulai menyentuh resleting celananya, Naomi langsung berteriak dengan histeris.


"HENTIKAN! SAYA MOHON! HENTIKAN!" Naomi menundukkan kepalanya sambil mengangkat kerudung panjangnya untuk menutupi mukanya. "JANGAN MELAKUKAN HAL BEJAT DI HELIKOPTER INI! SAYA MOHON! ITU AKAN MENGUNDANG MURKA TUHAN! BAGAIMANA JIKA HELIKOPTER INI DIJATUHKAN OLEH TUHAN!? KITA SEMUA BAKAL MENINGGAL DAN MASUK NERAKA! AKU TIDAK MAU!"

__ADS_1


Tangan Paul yang awalnya hendak membuka resleting celananya, mulai mengendur dan kembali bergantung ke posisi semula. Isabella dan Cherry memandang Naomi yang ribut di kursi belakang dengan pandangan heran.


"Baiklah, kita ganti hukumannya," Isabella memijit-mijit pelipisnya dengan terkekeh. "Ya ampun, ada-ada saja, ya," Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya. "Padahal sebentar lagi kita bisa melihat bentuk junior milik Paul, tapi sayangnya ada yang ketakutan. Sebagai gantinya, bagaimana kalau Paul ceritakan saja kisah pertamamu saat melakukan masturbasi pada kami? Kau berani?"


Mendengar itu, Paul kembali duduk di kursinya dan menatap bengis ke muka Isabella. "Aku menolak!" ucap Paul dengan blak-blakan. "Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu!"


"Eh?" Cherry tampak kebingungan. "Masturbasi itu apa?"


Karena Naomi masih ketakutan, dan Paul bukan orang yang tepat, akhirnya Isabella yang menjelaskan tentang masturbasi pada Cherry. "Masturbasi itu seperti ini," Namun, ketimbang menjelaskan dengan kata-kata, Isabella malah menyodorkan ponselnya yang tengah memutar sebuah video seorang lelaki yang sedang bermasturbasi pada Cherry. Saat itulah, Cherry terkejut, terlalu terkejut, dan benar-benar terkejut.


"EEEEEEEEH!?" Cherry langsung mendorong ponsel milik Isabella dari pandangannya sampai benda itu terjatuh dari tangan pemiliknya. "Apa-apaan itu!? Cherry baru tahu ada orang yang bermain-main dengan 'itu'nya sendiri! Itu aneh sekali! Cherry baru tahu!"


"M-Maaf! Cherry tiba-tiba melakukan itu! Rasanya seperti tangan Cherry bergerak sendiri! M-Mungkin karena Cherry tidak tahu harus melakukan apa agar video aneh itu tidak ada di depan Cherry! Maaf! Cherry tidak akan mengulanginya lagi!"


"Tidak masalah, kok. Jadi," Isabella kembali menatap Paul. "Sebagai hukumannya, kau harus menceritakan pengalaman pertamamu melakukan masturbasi. Tenang saja, aku tidak akan merekamnya, jadi kau tidak perlu cemas. Aku hanya ingin mendengarnya saja," Isabella mendekatkan mulutnya ke telinga Paul dan berbisik, "Mendengar kisah juniormu yang digesek-gesek oleh tanganmu sendiri untuk memperoleh kenikmatan. Ayo, ceritakan itu pada kami, Paul."


"BERISIK!" Paul langsung menggeser pantatnya ke pojokkan, untuk menjauh dan menghindar dari sergapan Isabella yang duduk di sampingnya. "Aku sudah bilang! Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu! Jadi jangan memaksaku! Brengsek!"

__ADS_1


"Eh? Aku tidak percaya, loh. Soalnya," Isabella menggigit bibir bawahnya dengan penuh nafsu seraya matanya memandang fokus ke selangkangan Paul. "Juniormu tampak besar sekali, pasti kau sering memainkannya, kan? Ayolah, ceritakan saja pada kami, tidak usah malu-malu, Paul."


"ITU JUGA SAMA SAJA!" Naomi kembali berteriak heboh saat mendengar percakapan itu, membuat Paul, Isabella, dan Cherry kaget dan segera memperhatikannya. "WALAUPUN HANYA SEKEDAR CERITA! TETAP SAJA! SAYA TIDAK MAU MENDENGARNYA! ITU BISA MEMBUAT KITA DIBENCI OLEH TUHAN! JANGAN LAKUKAN ITU DI SINI! SAYA MOHON!"


"Lagi-lagi begitu, hahh," Isabella menghela napasnya, sedikit kesal pada sikap Naomi yang selalu menentang keputusannya dalam menghukum Paul, padahal bakal seru jika itu dapat terjadi. Dan tiba-tiba, Isabella tersenyum, sepertinya dia mendapatkan ide cemerlang lagi. "Karena dari tadi Naomi terus meraung-raung tanpa henti, bagaimana kalau hukumannya kita awali dari Naomi saja? Soalnya dia sangat bersemangat, kalian setuju?"


Paul benar-benar lega saat mendengarnya, itulah sebabnya ia langsung mengangguk cepat. Sementara Cherry hanya terdiam, dia masih terguncang pada video yang dilihatnya tadi. Dan Naomi terbelalak mendengar dirinya mendapatkan giliran pertama dalam sesi hukuman.


"Eh? Kenapa harus saya yang pertama? Bukankah Anda bilang Paul yang pertama!? Ini tidak adil! Harusnya saya giliran terakhir! Saya tidak suka! Ini curang!" Naomi--lagi-lagi--menentang keputusan Isabella dengan muka yang bersungut-sungut. "Anda tidak boleh melakukan kecurangan, Isabella!"


"Sejak kapan aku melakukan kecurangan?" Isabella mengedikkan bahunya. "Tapi ya sudahlah, mau dianggap curang atau pun tidak, itu terserah kalian. Pokoknya, Naomi harus yang pertama, soalnya dari tadi kau selalu mengganggu Paul," ucap Isabella dengan mendecakkan lidahnya. "Kalau begitu, aku ingin Naomi menjawab pertanyaanku," Isabella menyunggingkan senyuman nakalnya pada Naomi. "Katakan padaku, orang macam apa yang menjadi cinta pertamamu?"


Naomi terkejut mendengarnya, tapi ia berusaha bersikap tenang dan mulai menjawab, "Tentu saja dia seorang laki-laki. Wajahnya cukup tampan, badannya sedikit berotot, dan otaknya sangat bodoh."


"Sepertinya dia menarik," Isabella cengengesan mendengar itu, Paul dan Cherry pun jadi penasaran pada orang yang dimaksud Naomi. "Ngomong-ngomong siapa namanya? Ini harus dijawab, ya? Karena ini adalah hukumanmu."


"J-J-Jeddy!" Naomi dengan menundukkan kepala dan menunjukkan kegugupan luar biasa, mencoba menyebut nama laki-laki yang menjadi cinta pertamanya, bahkan badannya sampai gemetaran saat mengatakannya. "N-N-Namanya Jeddy!"

__ADS_1


Isabella ber-oh-ria setelah mendengarnya, karena ia memang tidak kenal siapa laki-laki bernama Jeddy itu, sedangkan Paul dan Cherry, tahu persis siapa orang yang dimaksud oleh Naomi, itulah yang membuat mereka berdua terbelalak saking kagetnya.


__ADS_2