
Ketika Paul membuka pintu depan dan masuk ke dalam rumah, ia dikejutkan dengan ruangan yang sangat gelap, benar-benar gelap sampai matanya tidak bisa melihat apa pun. Paul tidak percaya ibunya mematikan lampu secepat ini, padahal ini masih pukul enam sore, dan di luar pun, walau langit sudah gelap, tapi matahari belum tenggelam sepenuhnya, dan biasanya ibunya tidak pernah mematikan lampu secepat ini. Biasanya sang ibu mematikan lampu pada waktu tengah malam, dimana semua orang sudah tenggelam ke dalam dunia mimpinya masing-masing. Tapi apa ini? Mengapa sudah segelap ini? Alhasil, karena kesal, Paul hanya bilang, "Aku pulang." Sembari berjalan mendekati sakelar, untuk menghidupkan lampu. Setelah tangan kanannya sudah mencapai sakelar yang menempel di dinding, telunjuknya pun menekan tombol di sakelar itu, dan,
TAR!
Saat lampu sudah menyala terang, terdengarlah letusan balon yang cukup mengagetkan, dibarengi dengan sosok wanita yang sedang berdiri tegak sambil kedua tangannya memegang sebuah kue bulat yang dilapisi adonan cokelat dengan lilin yang menyerupai angka 18, dan di permukaan kuenya terdapat tulisan selamat ulang tahun. Sungguh, Paul benar-benar terkejut melihatnya, karena sosok wanita yang sedang memegang kue itu adalah ibunya sendiri. Bukan hanya itu, ruangan yang seharusnya hanya menjadi tempat penerimaan tamu, didekorasi sedemikian rupa hingga terlihat seperti momen ulang tahun anak kecil berusia lima tahun; di dinding banyak pita dan balon yang bertebaran, di meja tamu banyak topi-topi kerucut warna-warni, dan hal-hal semacamnya. Membuat Paul terbelalak menyaksikan itu semua, dia tidak bisa mempercayai apa yang sedang dilihatnya.
"Apa-apaan ini, Bu?" Akhirnya Paul mengeluarkan suara, dengan intonasi berat yang agak serak. Bola matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang memegang kue tersebut.
Sang ibu tersenyum tipis mendengar suara putranya, lalu, dengan anggun, dia berjalan, mendatangi Paul sambil membawa kue bulat di tangannya. "Paul," ucap sang ibu dengan suara yang sangat lembut. "Selamat ulang tahun. Ini adalah bulan yang sangat indah, karena kau telah menginjak usia delapan belas. Ah, aku tahu, kau pasti kaget karena setiap tahun kau tidak pernah mendapatkan sesuatu semeriah ini, bahkan aku kadang lupa pada tanggal ulang tahunmu. Terakhir kali kita melakukan ini saat umurmu masih tujuh tahun, setelah itu, aku sering lupa untuk merayakannya. Dan sekarang, Paul, aku sebagai Ibumu, ingin memberikan kebahagiaan untukmu. Aku tahu ini sangat sederhana, tapi kuharap, kau senang, Paul."
Detik ini juga, kedua mata Paul membulat sempurna, dia terkejut mendengarnya, matanya pun jadi berkaca-kaca. Semua rasa lelah, letih, dan kesal, sudah hilang sepenuhnya, tergantikan dengan perasaan kaget, bingung, dan bahagia. Bibir Paul sampai bergetar, dia tidak tahu harus bilang apa. Dan dengan cepat, Paul mendatangi ibunya, mengambil kue yang dipegang wanita itu dan menaruhnya di meja, lalu ia langsung memeluk tubuh sang ibu dengan sangat erat.
Colin tersenyum, Jeddy terkekeh, Cherry menganga, dan Nico terpaku. Mereka berempat terdiam menyaksikan hal itu, tidak ada yang berani bersuara di antara mereka karena suasana sedang sangat serius. Dan dalam pelukannya, Paul berkata dengan suara yang rendah, "Ini memang memalukan, tapi aku sangat senang. Terima kasih, Bu. Aku menyayangimu." Sebuah senyuman tercetak di wajah Paul. Saat ini, Paul tampak sangat bahagia.
Sang Ibu mengusap-usap punggung anaknya, dan ia pun menjawab ucapan anaknya dengan suara yang bergetar, "Dasar bodoh," Sang ibu juga ikut tersenyum. "Jangan buat Ibumu ini menangis, Paul." Dan linangan air mata mulai membasahi bahu Paul, yang ditindih oleh kepala ibunya. Secara perlahan, Paul melepaskan pelukannya dan ia menatap lekat-lekat muka Ibunya yang punya mata cokelat cerah, bibir yang tebal, dan memiliki rambut hitam sepinggang. Paul menghapus air mata yang berlinang di kedua pipi ibunya dengan jemarinya.
"HA!" Tiba-tiba, saat Paul akan mengucapkan sesuatu pada ibunya, dia dikejutkan dengan suara seseorang yang baru keluar dari ruang dapur. Ternyata itu adalah Olivia, yang masih mengenakan seragam sekolah; kemeja panjang putih dan rok panjang putih. Tapi wajah Olivia tampak kotor, karena dipenuhi dengan cokelat, selai, dan bumbu-bumbu kue yang menempel di pipi dan keningnya. "Kau pasti kaget, ya? Hahahaha! Oke lupakan! Jadi begini, aku datang kemari untuk membantu Ibumu menyiapkan semua ini, dan bagian mengejutkannya bukan hanya ini, Paul," Olivia menepuk tangannya dua kali, sampai akhirnya keluar lah gerombolan pemuda-pemudi yang juga keluar dari ruang dapur. "Aku tidak sendirian datang ke rumahmu, Paul. Karena saat aku mengatakan hari ini kau ulang tahun, mereka ingin ikut membantu."
Paul terbelalak, karena gerombolan yang kini sedang ada di belakang Olivia adalah seluruh teman-teman sekelasnya, sama seperti gadis itu, mereka juga masih mengenakan seragam sekolah. Dan pakaian mereka kotor, ada yang terkena noda kue, ada yang terkena noda debu, dan semacamnya. Membuat Paul benar-benar kaget, tidak, malah tampak sangat-sangat-sangat kaget.
"Ke-Kenapa mereka juga--" Belum sempat Paul menyelesaikan kata-katanya, anak-anak yang bergerombol di belakang Olivia langsung berlarian, mendatangi Paul, dan dengan serentak, mereka semua memeluk tubuh Paul, tidak peduli, itu lelaki, perempuan, bertubuh tinggi, atau pun pendek, mereka saling berdesakan hanya untuk memeluk orang yang sudah mereka tunggu-tunggu selama ini.
"Aku Ronald! maafkan kesalahanku, Paul!"
"Aku Agnes! Paul! Aku benar-benar benci pada diriku sendiri!"
"Aku Roy! Aku sangat merindukanmu, Paul! Kapan kau kembali ke sekolah?"
"Aku Lia! Aku sudah mencatat semua tugas di sekolah, jika kau mau mencontek, aku akan memberikan semuanya untukmu, Paul!"
"Aku Harry! Paul! Kapan-kapan ayo kita bermain sepak bola dengan timku!"
"Paul! Aku Windy! Aku lah yang mengirim semua bahan untuk membuat kue ulang tahun! Kebetulan keluargaku menjalankan bisnis kue! Jadi, aku datang ke sini untuk membantu!"
"Aku... Uvi! Aku... Emm... Aku ingin berjalan bersamamu, Paul."
"Aku Nick! Kau tahu? Aku lah yang memasang semua dekorasi di ruangan ini! Aku tahu ini masih tampak jelek, tapi aku berjuang saat memasang-masangnya, Paul! Semoga kau senang!"
__ADS_1
"Paul, aku Fia! Semua topi-topi kerucut yang ada di meja, itu buatanku semua, aku membuatnya dengan senang hati! Bahkan aku rela membuat seribu topi untukmu, Paul!"
"Paul! Aku Erick! Aku lah yang telah meletuskan balon tadi! Aku tahu aku tidak terlalu berguna di sini, tapi kuharap dengan letusan itu, kau kaget! Maafkan kesalahanku! Paul!"
"Paul, aku sudah menyewa beberapa tempat wisata, kalau kau mau, ayo kita berlibur bersama! Ngomong-ngomong aku Vino! Jika kau lupa! Hehe!"
"Paul! Aku Herman! Apa kau mengingatku? Aku ini orang yang dulu selalu menertawakanmu! Aku ingin meminta maaf! Atas semua perlakuan burukku padamu!"
"Paul! Aku Zaskia! Aku tahu kau pasti lupa! Aku adalah gadis yang selalu memfitnahmu! Aku selalu membuatmu dihukum oleh guru! Aku juga yang selalu mengadu ke kepala sekolah dengan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai fakta tentang dirimu, maafkan aku! Paul!"
Setelah mendengar semua itu, Paul hanya terdiam, dengan tatapan mata yang kosong. Menyaksikan ekspresi Paul, mereka semua mulai melepas pelukan itu dan menjauhinya, karena ketakutan. Sepertinya Paul tidak akan memaafkan mereka, dilihat dari ekspresinya saja, lelaki itu tampak tidak peduli pada apa yang tadi mereka katakan. Sampai akhirnya, salah satu dari mereka mulai berjalan dengan menundukan kepalanya, hendak keluar dari rumah Paul. Namun, Paul langsung mencengkram bahu anak itu, membuat langkah si anak terhenti, lalu anak itu menoleh padanya.
"Ada apa, Paul? Aku mau--"
"Tetaplah di sini, bodoh!" Omongan si anak langsung terpotong oleh Paul dengan sebuah bentakan. "Jika salah satu dari kalian pulang sebelum pestanya selesai! Aku tidak akan memaafkan kalian! Jadi, tetaplah di sini dan nikmati pestanya!"
Mendengar apa yang dikatakan Paul, membuat ekspresi teman-teman sekelasnya yang sebelumnya murung dan sedih jadi tersenyum lebar, mereka gembira. Setelah itu, sang ibu mengambil kembali kue yang tersimpan di meja, ke genggamannya, kemudian, wanita itu berkata, "Olivia, nyalakan lilinnya." Dengan gesit, Olivia mengambil korek api yang ada di saku bajunya, lalu secara hati-hati, ia nyalakan dua lilin yang menyerupai angka 18 itu. Setelah menyala sempurna, sang ibu menatap Paul. "Paul, ayo, tiup lilinnya." Dan dengan pipi yang memerah malu, Paul menghampiri kue yang sedang dipegang oleh ibunya, lalu ia dekatkan mulutnya ke dua lilin tersebut.
Dua lilin itu ditiup oleh mulut Paul, sehingga api yang berkobar-kobar di atasnya langsung mati. Sontak, gemuruh tepuk tangan mulai menyertai Paul, meramaikan ruangan itu, Colin, Cherry, Jeddy, dan Nico pun ikut bertepuk tangan, mereka sudah masuk ke dalam rumah, dengan menyunggingkan senyumannya masing-masing kepada mentornya yang sedang berulang tahun.
Paul ikut tersenyum, sambil bilang, "Kalian semua, benar-benar bajingan! Hahahaha!" dan untuk pertama kalinya, Paul tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat kencang, melebihi apa yang sering Jeddy lakukan. Dan semua orang yang ada di ruangan pun ikut tertawa.
Pesta benar-benar meriah sekali, Paul bersama Ibunya, serta Olivia, Jeddy, Cherry, Colin, Nico, dan teman-teman sekelasnya, menyemarakkan suasana. Mereka semua mengenakan topi kerucut, termasuk Paul juga. Hingga rumah Paul jadi tampak hidup, apalagi diisi dengan sesi acara yang sederhana dan lucu, seperti; Olivia yang menari konyol bersama gadis-gadis sekelasnya dengan mengenakan rok yang terbuat dari dedaunan, Jeddy yang mendongengkan sebuah kisah kocak, membuat semua orang tertawa terbahak-bahak mendengarnya, Cherry yang terkikik-kikik sembari mengejek para lelaki teman sekelas Paul yang kelihatannya mudah dipengaruhi, Colin yang menjerit-jerit saat menonton film horor, Nico yang berpidato dengan tata bahasa yang sangat menusuk, membuat semua penontonnya tercengang.
Namun, di atas semua itu, Paul benar-benar berbahagia, karena akhirnya, dia bisa merasakan bagaimana serunya merayakan ulang tahun bersama orang-orang yang dia sayangi. Dan tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, yang membuat teman-teman sekelas Paul pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing, termasuk juga Olivia dengan Cherry. Namun, walau acara ulang tahun sudah selesai, bukannya kotor berantakan, ruangan itu malah jadi bersih mengkilap, karena sebelum pulang, teman-teman sekelasnya sepakat untuk gotong royong membereskan ruangan.
"Dadaaaaah! Sampai jumpa besok pagi, yaaa! Pauuul! Jeddyyy! Coliiiiin! Nicoooo! Hihihi!" Cherry melengking-lengking setelah dirinya duduk di sepeda bersama Olivia yang mengemudikannya.
"Terima kasih! Tante!" Olivia juga bersuara dengan menunduk hormat pada wanita yang sedang berdiri di depan gerbang bersama Paul, Jeddy, Colin, dan Nico, mengantar kepulangan mereka.
Setelah punggung Olivia dan Cherry sudah lenyap dari pandangannya, Paul pun cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya kembali, diekori Colin dan Jeddy. Sedangkan Nico, dia tetap berdiri bersama ibunya Paul.
"Apakah kamu juga temannya Paul?" tanya wanita itu pada Nico dengan tersenyum ramah. Mendengar itu, Nico menolehkan perhatiannya pada sosok yang berdiri di sampingnya dan menganggukkan kepalanya. "Dari warna kulitmu, sepertinya kamu berasal dari Vineas, ya?" Wanita itu kembali bersuara.
Nico menjawab, "Iya, Tante. Aku dari Vineas."
__ADS_1
"Ah, senang sekali tebakanku benar, haha." Wanita itu tergelak kecil. Kemudian dia kembali bertanya, "Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu sampai jauh-jauh dari Vineas datang kemari? Ah, aku lupa menanyakan ini, siapa namamu?"
"Aku Nico. Aku datang kemari karena diajak oleh Paul, Tante."
"Diajak?" Wanita itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti pada ucapan Nico. "Diajak bagaimana, maksudnya?"
Merasa dirinya telah membawa percakapan itu ke pembahasan yang cukup rahasia, Nico menekan kaca matanya yang agak turun, lalu menjawab dengan suara yang pelan, "Maaf, Tante. Aku harus ke dalam, Paul menyuruhku."
"Oh, boleh, silakan." ucap wanita itu dengan memasang muka tersentak. Saat Nico sudah pergi dari hadapannya, dia mulai merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Paul bersama teman-temannya. "Tapi sudahlah, aku juga sudah ngantuk." Namun, karena rasa kantuk mencekiknya, wanita itu tidak memusingkan hal itu, ia langsung menutup gerbang rumahnya dan bergegas tidur.
"Apa yang tadi kau bicarakan dengan Ibuku di depan gerbang, hah!? Cepat katakan!"
Baru saja Nico sampai di dalam kamar Paul, dia malah disambut dengan pertanyaan yang tajam, membuatnya menghela napas. "Itu bukan urusanmu."
"Hahaha!" Jeddy menepuk-nepuk punggung Paul. "Sudah-sudah, Bro! Tenangkan pikiranmu, lagi pula ini adalah malam ulang tahunmu! Bro! Hahaha!" Mendengar perkataan Jeddy, sukses membuat Paul terdiam.
Kemudian, dengan kasar, Paul mengambil seprai dari lemarinya, lalu ia lebarkan seprai itu di lantai kamarnya. "Karena kasurku hanya bisa ditempati oleh satu orang, itu artinya tiga orang harus tidur di sini!" Paul menunjuk ke seprai yang baru saja ia letakkan di lantai kamar.
"Sebenarnya aku mau pulang, sih, soalnya rumahku tidak terlalu jauh dari sini," kata Colin dengan mengangkat bahunya. "Tapi sesekali aku ingin menginap." Dan Colin langsung merebahkan tubuhnya di seprai lantai. "Kurasa yang berhak tidur di atas kasur adalah pemilik kamar ini, benar, kan?" tanya Colin pada Jeddy dan Nico.
"Tidak, aku yang akan tidur di sana, kau, tidurlah bersama mereka, Paul." ucap Nico dengan dingin, lalu ia langsung melepas kaca matanya, menyimpan benda itu di nakas, dan segera membaringkan badannya di atas kasur. Membuat Paul jengkel melihatnya.
"Terserah!" kata Paul dengan kasar. "Pokoknya besok kalian harus bangun pagi! Karena kita akan melanjutkan pencarian pahlawan selanjutnya!"
"Maaf, aku tidak ikut, Bro," Tiba-tiba Jeddy menimpali ucapan Paul dengan nada yang rendah. "Besok, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk pulang ke Groen, menengok orang tuaku yang berada di penjara. Jadi, maaf, aku tidak bisa ikut, Bro."
"Aku juga tidak bisa ikut, Paul," Kini Colin yang bersuara. "Aku tadi di kirimi email oleh atasanku, bahwa besok aku diharuskan kerja lagi di kedai."
Mendengarnya, Paul mendecih, lalu ia menoleh ke Nico. "Apa kau juga tidak bisa ikut, hah!?" Dengan muka yang datar, Nico menjawab.
"Apa boleh buat," kata Nico dengan tatapan dingin. "Sepertinya aku bersama Cherry yang akan menemanimu."
Setelah mendengar jawaban Nico, Paul pun langsung berteriak, "Kalau begitu, cepat tutup mata kalian! Jangan sampai kalian telat untuk bangun pagi! Brengsek!"
Dan secara bersamaan, mereka pun terlelap dalam mimpinya masing-masing. Sampai akhirnya, pagi menyingsing dengan begitu cepat.
__ADS_1