Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 51 : Kalian Kuat Sekali


__ADS_3

"K-Kenapa...," Colin terbelalak, lututnya langsung terjatuh ke tanah setelah menyaksikan pemandangan mengerikan yang ada di sekitarnya. "K-KENAPA JADI SEPERTI INI!?"



Saat ini, semua tempat yang ada di sekeliling Colin, hancur berantakan, gubuk reyot yang sebelumnya merupakan tempat tinggal Abbas, kini telah roboh total, cuma menyisakkan kepingan-kepingan dari bangunan gubuk itu, seperti kayu, papan, pintu, bilik, dan semacamnya, yang berserakkan di permukaan tanah. Benar-benar hancur lebur.



Hujan pun jadi semakin deras, membuat tubuh setiap orang yang ada di sana basah kuyup.



Dan bukan hanya itu saja yang membuat Colin tercengang sampai matanya melotot dan air matanya mengalir, itu disebabkan kondisi Paul, Nico, dan Abbas yang sangat mengenaskan. Ya, mereka bertiga, saat ini, sedang tergeletak lemas di hadapan Colin, tubuh mereka bersimbah darah, dan darah mereka mengalir deras di permukaan tanah, terdorong aliran air hujan, menimbulkan lokasi yang mereka tempati, jadi tampak banjir darah.



Paul, Nico, dan Abbas sedang tak sadarkan diri, mereka diserang oleh Para Jubah Putih secara membabi-buta, dan Colin kaget karena orang-orang berjubah itu menggunakan batu-batu yang keluar dari telapak tangan ketika menyerang teman-temannya dengan brutal. Dan oleh sebab itu, Colin jadi teringat insiden hujan batu yang pernah terjadi di lokasi kedai tempat kerjanya. Dilihat dari batu-batunya, Colin yakin kalau itu adalah batu-batu yang sama seperti yang ia lihat saat kejadian itu berlangsung. Namun, cepat-cepat Colin lupakan soal itu, karena bukan lagi hal yang penting.



Orang-orang itu, termakan amarah karena mendengar ejekan dari Nico yang kata-katanya, merendahkan derajat mereka, hingga akhirnya, mereka semua sepakat untuk menyerang teman-teman Colin dengan cara yang sangat mengerikan. Sampai permukaan tanah di lokasi tempat tinggal Abbas, jadi dipenuhi dengan bebatuan yang berserakan.



Colin terguncang, tenggorakannya sampai sakit karena dari tadi terus-terusan menjerit secara histeris melihat teman-temannya diserang habis-habisan oleh gerombolan orang berjubah putih, hingga kondisi Paul, Nico, dan Abbas tergeletak tak sadarkan diri, dengan darah yang terus mengucur dari luka-luka yang mereka terima di sekujur tubuh. Sungguh, Colin tidak tahu harus berbuat apa, karena dia pun bingung, mengapa hanya dia sendirian yang sama sekali tidak diserang oleh orang-orang berjubah itu, mengapa hanya Paul, Nico, dan Abbas saja yang diserang? Colin tidak paham dengan hal itu.



Tapi, walaupun tubuhnya tidak terluka, jiwa Colin sangat terpukul. Bayangkan saja, kau diharuskan menyaksikan teman-temanmu diserang secara brutal oleh sekelompok pria berjubah, kau juga harus melihat tubuh teman-temanmu terluka, terbanting, terhantam, terpelanting, sampai berdarah-darah. Dan kau pun harus mendengar suara teman-temanmu yang mengerang kesakitan di hadapanmu, tapi kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan untuk menolong teman-temanmu, karena lawanmu punya kekuatan sakti yang dapat mengeluarkan batu-batu besar dari tangannya. Jika kau sedikit saja bergerak, batu-batu itu akan mengenaimu, jujur saja, Colin sangat ketakutan pada saat itu, hingga ia tak sadar kalau perbuatannya telah membiarkan Paul, Nico, dan Abbas menderita di hadapannya.



Itu benar-benar mengesalkan, dan sangat mengerikan.



Seluruh tubuh Colin bergetar, seperti orang yang kelaparan, mukanya memucat, napasnya terengah-engah, dadanya kembang-kempis, jantungnya terpompa lebih cepat dari biasanya, dan darah yang ada di dalam tubuhnya, mendesir-desir tak karuan.



Ketika jiwa Colin terguncang melihat kawan-kawannya terluka di hadapannya, orang-orang berjubah putih sedang berdiri berjejer beberapa langkah lebih jauh dari tempatnya berpijak. Para pria berjubah itu, tampak terkekeh-kekeh melihat Colin tersengguk-sengguk, menangisi Paul, Nico, dan Abbas yang sudah tak sadarkan diri.


__ADS_1


Kakek berjenggot putih itu, yang merupakan pemimpin dari para jubah putih, mengeluarkan suaranya dengan lantang, agar dapat didengar oleh Colin dari suara hujan yang begitu deras.



"Kau pasti penasaran, bukan?" kata si Kakek Berjenggot pada Colin dengan kekehan yang menyebalkan. "Mengapa hanya dirimu yang tidak kami lukai? Mengapa hanya teman-temanmu yang kami lukai? Dan mengapa kami bisa mengeluarkan batu dari telapak tangan, bukan begitu?"



Perlahan-lahan, Colin menatap beberapa kepala yang berjejer jauh di depannya, dan pandangannya mulai difokuskan ke sosok kakek-kakek yang sedang menyeringai jahat padanya. Colin meneguk ludahnya, sembari hidungnya terisak-isak karena sedih melihat teman-temannya tumbang di hadapannya.



"Itu karena kau," kata si Kakek, melanjutkan perkataannya, dengan mata yang memandang rendah pada Colin. "Pantas untuk dijadikan sebagai objek hiburan untuk kami." Si Kakek kembali terkekeh-kekeh dengan raut muka yang menjengkelkan. "Dan batu-batu yang kami keluarkan dari telapak tangan, itu karena berkah rahmat dari Tuhan, hingga kami mendapatkan kekuatan sakti seperti ini. Sebenarnya ini adalah perbuatan yang sangat buruk, bermain-main dengan emosional seseorang, dan aku juga sering memarahi anak-anak, agar tidak melakukan hal tersebut. Tapi terkadang, aku juga melakukannya," Si Kakek menghembuskan napasnya. "Mau bagaimana lagi, menyaksikan seseorang yang menjerit-jerit karena melihat teman-temannya dibantai oleh kami, itu adalah tontonan yang sangat menghibur. Tapi tenang saja, kami belum benar-benar membunuh mereka. Kami masih sedang bermain-main saja, hanya untuk melihat ekspresi malangmu. Tapi sekarang," Si Kakek mulai menyeringai. "Kami akan benar-benar membunuh teman-temanmu."



Mendengar itu, mata Colin langsung terbelalak, dia terkejut. Yang benar saja! Colin kesal, dia tidak percaya kalau yang tadi mereka lakukan pada Paul, Nico, dan Abbas, hanya bermain-main saja!? Padahal jelas-jelas mereka menyerang teman-teman Colin dengan membabi-buta, tanpa ampun, sampai berdarah-darah, dan mereka dengan santainya bilang, bahwa itu hanyalah main-main saja!?



"B-B-BRENGSEK!" Karena luapan emosi membuncah tak terbendung, akhirnya Colin langsung menyemburkan kata-kata kasar pada mereka, seperti yang biasa Paul keluarkan saat sedang marah-marah. Tapi, Colin mengatakannya sambil mata yang basah, mengalirkan air mata yang membasahi pipinya. Bibirnya pun bergetar, hingga kata-katanya jadi terdengar agak gugup. Tapi sungguh, jika mengenai kemarahan, Colin juaranya, karena dia memang sedang sangat marah. Dia sudah tidak bisa lagi terus-terusan diam ketakutan, apalagi saat orang-orang berjubah putih itu akan kembali menyerang teman-temannya .




"Kau yakin dengan itu?" Si Kakek menggangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu, aku hormati keputusanmu," Kemudian, Si Kakek menoleh pada bawahan-bawahannya yang berdiri di belakangnya. "Fokuskan serangan kalian hanya pada bocah cengeng itu, usahakan jangan sampai serangan kalian mengenai bocah-bocah yang tergeletak di tanah. Kalian paham, Anak-Anak?"



"PAHAM!" Para pria berjubah putih menjawab dengan serempak. Lalu, dengan masing-masing tangan terangkat, mereka mulai memfokuskan serangannya pada Colin yang sedang bersimpuh di lokasi yang sudah antah-berantah.



Dan Colin, memberanikan diri berteriak dengan suara yang sangat kencang pada orang-orang berjubah putih itu, hingga urat-urat lehernya menonjol. "SERANG AKU! SEKARANG!"



Ternyata benar, cahaya-cahaya putih mulai berpendar di masing-masing telapak tangan orang-orang berjubah putih, kini, Si Kakek Berjenggot pun ikut mengangkat tangannya. Dan akhirnya, melesatlah, batu-batu besar dari telapak tangan mereka, terbang berurutan menuju tempat Colin terguyur hujan.



"Maaf, teman-teman," Sebelum batu-batu besar itu menerjang ke arahnya, Colin memejamkan matanya rapat-rapat sembari mengatakan sesuatu. "Karena selama ini aku selalu menyusahkan kalian," Keringat Colin mulai bercucuran. "Aku senang bisa bertemu dengan kalian," Air mata Colin jadi menetes-netes, namun ia menyunggingkan senyuman tipis. "Terima kasih dan selamat tinggal."

__ADS_1



BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!



Batu-batu raksasa itu langsung menghantam-hantam seluruh tubuh Colin tanpa ampun, ia sampai terguling-guling menabrak pepohonan, dan batu-batu itu masih terus menghujani badannya dengan brutal.



"Lelaki pecundang sepertiku," Colin berkata di saat tubuhnya terguling-guling di tanah. "Memang layak berakhir mengenaskan seperti ini," Colin menatap permukaan langit mendung dengan muka meringis. "Aku ingin menjadi pahlawan yang gagah berani, tapi sepertinya, mustahil."



Saat keputusasaan mendatanginya, Colin dengan pasrah menerimanya, ia seolah-olah mengangkat tangannya lebar-lebar, membiarkan sang keputusasaan mencabik-cabik tubuhnya. Rasanya memang sakit, tapi entah kenapa, terasa menenangkan. Karena Colin sudah tak punya harapan lagi di dunia ini. Lagipula, mau dia mati atau pun hidup, tidak ada orang yang akan peduli padanya. Semua orang selalu mencampakkannya. Ya, semua orang.



"Ah, sepertinya sudah cukup sampai di sini," Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sangat familiar di telinga Colin, di saat dirinya sudah hampir tak sadarkan diri. "Terima kasih atas perjuangan kalian--Paul, Nico, Abbas, dan Colin--, tapi kalian jangan khawatir, karena saya tidak akan membiarkan kalian mati semudah itu oleh manusia-manusia lemah seperti mereka. Sebab musuh-musuh kalian bukan orang-orang ini, musuh kalian akan lebih mengerikan dari Para Jubah Putih ini."



Setelah mengatakan itu, mendadak terdengar suara sesuatu yang membeku keras, dan hancur berkeping-keping dalam sekejap, seperti bunyi kaca yang terpecah-pecah. Colin tidak bisa bergerak untuk sekedar menoleh pada sumber suara tersebut, karena tubuhnya sedang tertimpa batu-batu besar. Tapi Colin yakin sekali, kalau orang yang tadi berbicara adalah Roswel Si Pria Pucat Misterius, dan bunyi pecahan itu, pasti berasal dari kekuatan sakti orang itu.



Namun, kesadaran Colin mulai meredup seperti cahaya lampu yang akan padam, karena darah terus berceceran di seluruh tubuhnya. Ia jadi sangat lemas dan tak mampu lagi menahan rasa nyeri yang berdenyut-denyut di tiap luka yang terbuka di tubuhnya. Sampai akhirnya, mata Colin perlahan-lahan mulai menutup, dengan sempurna.



Tubuh Paul, Nico, Abbas, dan Colin tergeletak lemah di permukaan tanah dengan kondisi terguyur hujan, setelah membekukan dan memecahkan orang-orang berjubah putih itu, Roswel mulai menolehkan pandangannya ke empat sosok yang terkapar di tanah yang basah.



Roswel tersenyum tipis melihat kondisi mereka.



"Kalian kuat sekali."



Keesokan harinya, tiba-tiba Paul terkejut, karena saat matanya terbuka, ia menemukan dirinya sedang terbaring di sebuah tempat yang sangat asing.

__ADS_1


__ADS_2