Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 57 : Suara Apa Itu?


__ADS_3

"Hah," Paul tersentak saat ia membuka kelopak matanya lebar-lebar, pemandangan yang tersaji di depannya adalah bangunan rumahnya sendiri. Padahal sedetik yang lalu, ia masih berada di dalam kastil milik Roswel yang katanya berdiri di atas gumpalan awan, tapi apa pun itu, Paul tidak menyangka kalau kekuatan dari permen agios benar-benar bisa bekerja. Ini sangat mengejutkan, sungguh. Paul sampai menghirup udara sebanyak mungkin, agar keterkejutannya tidak semakin menjadi.


Kini, Paul sedang berdiri di atas rerumputan dari halaman belakang rumahnya yang dipenuhi dengan pepohonan rindang, bunga-bunga melati, dan perkebunan sayur. Ketika Paul mendongakkan kepalanya, matanya langsung menyipit, terkena sinar matahari yang begitu menyilaukan.


"Kalau di sini sudah siang hari, berarti...," Paul memicingkan matanya, merenungkan sesuatu. Hingga beberapa detik kemudian, Paul terbelalak. "... Sialan! Kalau begini, artinya aku sudah melewati satu hari penuh di Kastil Roswel!" seru Paul dengan kejengkelan yang memuncak. "Aku telah membuang-buang waktu! Sial!" Kemudian, Paul teringat akan suatu hal. "Tunggu, mengapa hanya aku yang dikirim kemari? Di mana keberadaan tiga orang brengsek itu!?"


Yang dimaksud Paul adalah keberadaan Nico, Colin, dan Abbas, yang seharusnya dikirim bersamaan dengannya, tapi ternyata tidak demikian. Di tempat Paul berdiri, tidak ada siapa pun selain dirinya di sana, ia jadi heran dan penasaran pada keberadaan teman-temannya.


Walau tidak terlalu suka dengan mereka, Paul mengharapkan keselamatan orang-orang itu. Sebab, jika Nico, Colin, dan Abbas menghilang ke suatu tempat selain rumahnya, itu akan jadi masalah besar, apalagi mereka itu sangat berharga bagi Paul. Kehilangan mereka sama dengan kehilangan harta yang paling berharga, tentu saja, karena mereka adalah calon-calon pahlawan, yang sudah ditemukan oleh Paul dengan perjuangan besar di kota-kota yang berbeda. Jika mereka menghilang begitu saja, itu sama saja usaha Paul selama ini dalam mengunjungi berbagai kota, berakhir sia-sia.


"Bukankah itu... Paul?"


Terdengar suara seseorang yang tidak asing di telinga Paul, saat mata Paul mulai menelisik ke berbagai arah, mencari orang yang barusan bersuara, ia menemukan seorang gadis cantik berambut ungu panjang yang sedang berdiri di ambang pintu belakang, membawa sebuah gembor hijau di tangan kanannya, tampak mau keluar untuk menyiram tanaman. Saat diteliti lebih jelas, akhirnya Paul ingat, bahwa gadis cantik itu bukanlah seorang perempuan, melainkan seorang laki-laki. Sontak, Paul tersenyum tipis melihat Koko yang sedang terkaget memandang kehadirannya di halaman belakang.


"Koko! Kemari!"


Paul langsung memanggil orang itu, hendak menanyakan beberapa hal. Koko, dengan tangan kanan yang masih membawa gembor, berlari kecil mendatangi Paul. Koko mengenakan kaos putih polos berlengan pendek dan rok panjang berwarna merah berbahan sutra. Koko tampak sangat cantik dengan tubuh langsingnya, bahkan jika ia memiliki dua gundukan di dadanya, mungkin orang-orang akan mengira kalau ia adalah seorang gadis sungguhan.


"Paul... mengapa kau datang lewat halaman belakang?"


"Pokoknya aku telah mengalami kejadian yang buruk! Dan aku malas menjelaskannya!" ucap Paul, dengan memasang muka datar, setelah Koko sampai di dekatnya. "Daripada itu, apa kau melihat Colin, Nico, dan Abbas di sekitar sini?"


Perlahan-lahan, Koko memiringkan kepalanya, tampak bingung dengan yang Paul ucapkan. "Aku tidak melihat mereka, tapi Abbas? Memangnya... siapa dia?" Paul langsung menepuk keningnya, merasa kecewa pada jawaban dari Koko. Kalau sudah ada jawaban semacam itu, artinya orang-orang itu belum sampai kemari.


"Sebenarnya di mana mereka!? Bukankah kami menelan permen agiosnya bersama-sama, lalu mengapa!?"


Paul mengomel pada dirinya sendiri, kesal dengan situasi aneh yang memusingkan ini. Menyaksikan tingkah Paul, Koko hanya mengernyitkan alisnya, tidak paham pada kekesalan yang melanda pikiran Paul. Memangnya apa yang membuat Paul sebegitu kesalnya? Apakah ada sesuatu yang menimpa Colin, Nico, dan orang bernama Abbas, hingga kondisi mereka sampai dicemaskan oleh Paul? Koko jadi sedikit penasaran pada hal tersebut.


"Kau mau menyiram tanaman? Hah?"


Tiba-tiba, Paul melontarkan pertanyaan itu padanya, membuat Koko cepat-cepat memulihkan kembali kefokusannya yang sempat kabur.


"Ya, Paul. Aku... hendak menyiram tanaman, karena kupikir... aku tidak punya pekerjaan lain selain menunggu kepulanganmu, dan akan membosankan kalau aku hanya duduk diam saja di rumahmu, jadi aku mengambil gembor dan bersiap-siap untuk menyiram tanaman. Tapi... aku tidak tahu kalau ternyata, kau sudah ada di sini... Paul."


"Lalu, di mana Jeddy dan Naomi?"


"Naomi... sedang membantu Ibumu memasak di dapur," jawab Koko dengan suara yang begitu lemah lembut. "Semalam... mereka juga memasak banyak sekali makanan untuk menyambut kepulanganmu, tapi ternyata... kau tidak pulang, jadi jatah untuk dirimu, Colin, dan Nico, dihabiskan semua oleh kami. Maaf ya... Paul." Koko menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah memakan jatah orang lain tanpa permisi, membuat untaian rambut ungunya berjatuhan.

__ADS_1


"Tidak masalah! Kau tidak perlu minta maaf!" kata Paul dengan tegas. "Dan di mana Jeddy?" Mendengar itu, Koko kembali menegakkan kepalanya.


"Seingatku... tadi pagi Jeddy bilang ingin keluar sebentar, tapi sampai saat ini, dia masih belum pulang."


"Menjengkelkan!" Rahang Paul bergelemetuk saking kesalnya. "Jadi jumlah orang yang menghilang bertambah, ya!? Sial! Padahal kita harus bersiap-siap untuk pergi ke kota selanjutnya! Tapi mereka semua malah seenaknya menghilangkan diri! Dan akhirnya, di sini hanya tersisa kau, Naomi, dan Cherry yang ada di rumah Olivia!"


Koko meletakkan gembor yang dipegangnya ke rerumputan, lalu ia meraih tangan kanan Paul dan berkata, "Aku percaya... mereka pasti akan datang. Jadi... jangan khawatir. Daripada memikirkan itu... lebih baik kau masuk ke rumah, kau pasti lelah setelah berkelana dua hari di sana. Ayo, Paul." Koko pun membalikkan badannya dan berjalan, sambil tangannya menarik tangan kanan Paul, membuat lelaki berandalan itu terbawa oleh tarikannya.


"ANAKKU! PAUL! AKHIRNYA KAU PULANG JUGA, SAYANG!"


Elena, sosok perempuan dewasa berusia tiga puluhan, berambut hitam keriting, yang sedang memasak  di dapur dengan Naomi, terkejut melihat kehadiran Paul yang masuk lewat pintu belakang bersama Koko. Elena benar-benar kaget sekaligus gembira memandang anaknya yang tak pulang selama dua hari, muncul di hadapannya. Sontak, Elena langsung berlari kencang, meninggalkan segala pekerjaannya untuk memeluk tubuh Paul dengan erat, bahkan ia mengecup wajah anaknya di depan Naomi dan Koko, berkali-kali, tanpa memikirkan betapa malunya Paul diperlakukan seperti itu oleh ibunya di depan orang lain. Naomi dan Koko hanya tersenyum senang memandang ibu dan anak sedang berpelukan di depan mereka. Bagi mereka, itu adalah pemandangan yang sangat indah.


Sedangkan Paul saat ini hampir kehabisan napas ketika dirinya dipeluk dan dikecup-kecup oleh ibunya dengan ganas. Sungguh, awalnya Paul merasa malu diperlakukan seperti itu, tapi dia sudah tidak lagi mempedulikan soal itu. Kini, Paul lebih memikirkan soal keselamatannya, sebab pelukan dari ibunya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa, sangat menyesakkan. Dan itu bisa menyebabkan patah tulang, gegar otak, dan segala macam penyakit bahaya lainnya.


"Hentikan, Bu! Aku tidak bisa napas!"


"Seharusnya kau bilang dari tadi, Nak!" Elena segera melepaskan pelukan hangatnya itu dari Paul dan ia pun berkacak pinggang. "Aku senang kau akhirnya pulang, tapi aku penasaran! Dari mana saja kau selama ini? Sampai tidak pulang berhari-hari? Semua orang di rumah ini mencemaskanmu! Terutama aku sebagai Ibu Kandungmu! Paul!" Elena menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bahkan kau juga tidak membaca ratusan pesan dari Ibu di sosial mediamu, ya? Keterlaluan sekali," Elena menghela napasnya, terdiam sejenak sebelum akhirnya meledak, "Asal kau tahu, Paul! Ibu telah memeriksa dan mengirim pesan ke semua akun sosial mediamu! Tapi kau tidak membalas pesan-pesan itu satu pun! Apa selama dua hari itu, kau tidak membuka ponselmu sama sekali? Jawab!"


Menyaksikan Paul dimarahi oleh ibunya, Koko memberanikan diri untuk bersuara dengan lantang, membuat semua perhatian tertuju padanya. "Tante... aku pikir, Paul punya alasan sendiri mengapa selama dua hari itu, ia tidak membuka ponsel. Aku percaya pada Paul. Dia tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh, jadi... tolong maafkan Paul, Tante."


"Ya!" jawab Paul mencoba terlihat bersemangat, walau sebetulnya ia ngeri melihat ancaman dari ibunya yang sangat sadis.


"Kalau begitu, duduklah. Aku sedang membuat makanan kesukaanmu, Paul." Elena kembali fokus ke pekerjaannya setelah menyuruh anaknya untuk duduk di kursi dari meja makan. "Naomi, apa kau sudah mengiris cabainya?"


"Oh, sudah. Ini, Tante," Naomi menyodorkan talenan mungil yang terdapat potongan cabai di atasnya pada Elena. "Lalu untuk bumbunya, saya sudah menumbuknya sampai lembut, Tante. Kapan kita masukan bumbu ini ke wajan?"


"Jangan dulu, aku masih sibuk dengan bagian ini!"


"Oke, Tante."


"Naomi, tolong ambilkan mangkuk!"


"Ini, Tante."


"Naomi, bisakah kau urus bagian ini dulu?"


"Tentu saja, Tante."

__ADS_1


"Jika apinya terlalu besar, kau boleh mengecilkannya."


"Baik, Tante."


Paul yang sedang duduk di kursi makan, hanya melongo memandangi ibunya yang sedang sibuk memasak bersama Naomi. Aroma asin, asam, anyir, pedas, dan manis, tercampur menjadi satu, membuat Paul sedikit terpikat saat menghirupnya. Entah kenapa, perutnya jadi lapar.


"Jadi... apa yang terjadi di Kota Cocoa? Apakah di sana... kau menghadapi sesuatu yang berbahaya, Paul?" tanya Koko yang sedang duduk di kursi, tepatnya duduk di seberang Paul, dengan suara yang begitu halus, mencoba memecahkan keheningan.


"Orang-orang berjubah itu," jawab Paul dengan intonasi yang datar. "Mereka datang lagi."


"Itu mustahil," ucap Koko dengan mata yang membelalak, menutup mulutnya dengan tangan kanannya, terkejut mendengar ungkapan dari Paul. "Bukankah... mereka sudah dilenyapkan olehmu dan Jeddy di Kota Sablo? Mengapa mereka... bisa datang lagi?"


"Saat di Sablo, kami hanya melenyapkan kelompok kecilnya saja, tidak seluruhnya," kata Paul dengan menghembuskan napasnya dengan berat. "Sementara di Cocoa, mereka datang dengan membawa pasukan yang sangat banyak. Dan akhirnya kami dibantai oleh mereka, tanpa ampun, tanpa belas kasihan. Kami seperti empat ekor kucing yang diterkam oleh gerombolan anjing."


"Malang sekali," Tiba-tiba, Naomi ikut melibatkan diri dalam percakapan itu, membuat Paul dan Koko memandang lurus ke punggung gadis berkerudung itu, yang sedang sibuk mengiris sesuatu bersama Elena, Ibunya Paul. "Tapi, jika Anda memang dibantai oleh mereka, lantas, mengapa Anda tampak baik-baik saja? Saya saja butuh beberapa hari untuk sembuh dari luka yang dibuat oleh orang-orang itu, lalu, mengapa Anda seperti orang yang tidak terkena apa-apa? Apakah Anda sedang berbohong, Paul?"


Sang Ibu menahan tawa mendengar Naomi mengolok-olok anaknya, dipikirannya, Paul memang sedang berbohong, lagipula, bocah itu dari kecil memang suka sekali membohongi orang tuanya. Itulah mengapa saat Paul bercerita soal bantai-membantai, Elena tampak tenang-tenang saja, tidak kaget atau pun histeris. Sedangkan Naomi sendiri keheranan, pasalnya, penampilan Paul layaknya orang yang baik-baik saja, ia sama sekali tidak menemukan sedikit pun luka atau goresan di tubuh lelaki itu, padahal kelompok yang dihadapi oleh Paul adalah orang-orang yang bisa mengeluarkan batu-batu besar dari telapak tangannya. Naomi benar-benar heran.


Napas Paul jadi menderu mendengar omongannya tidak dipercaya oleh Naomi, ia langsung berseru, "Ini berkat Roswel! Semua ini berkat pria pucat itu! Dia menyembuhkan kami hingga total! Sebelumnya, kami memang benar-benar dibantai oleh orang-orang berjubah itu! Bahkan aku masih ingat rasa nyerinya! Itu benar-benar menyakitkan!"


"Roswel? Maaf, tapi saya belum pernah bertemu dengan orang itu, jadi saya masih meragukkan keberadaannya." Naomi menolehkan kepalanya pada Paul dan tersenyum.


"Aku juga... belum bertemu dengan Roswel." ucap Koko dengan suara yang pelan.


Paul menggeram mendengar itu, tapi itu memang benar, dari semua pahlawannya, hanya Naomi dan Koko yang belum mendapatkan kesempatan untuk bertatap muka dengan Roswel. Tapi tetap saja, omongan Naomi seakan-akan mengejek Paul dengan mengatakan bahwa semua yang dikatakan lelaki itu hanyalah sebuah kebohongan dan fiksi belaka. Sebetulnya, Elena sendiri pernah bertemu dengan Roswel, saat momen pertama kalinya Paul bertemu dengan pria pucat itu, tapi sayangnya, ingatan wanita itu dihapus oleh Roswel. Dan saat ini, Paul sedang berada di sekitar orang-orang yang belum pernah bertemu dengan Roswel. Kalau saja ada satu orang yang sudah pernah bertemu dengan Roswel, mungkin Paul bakal terbantu.


"TERSERAH KALIAN SAJA!" Paul langsung bangkit dari kursi dan pergi dari meja makan, meninggalkan Naomi, Koko, dan Ibunya di dapur. Paul gondok jika terus-terusan diejek oleh mereka. Apalagi sang ibu juga ikut-ikutan, Paul tahu kalau wanita itu sedang menahan tawanya. Dan itu membuat Paul kesal, sangat-sangat-sangat kesal.


Baru saja Paul masuk ke dalam ruang keluarga yang terhubung dengan ruang tamu, ia terkejut saat melihat ada seorang gadis mungil yang sedang duduk sendirian di kursi tamu sambil menjilat permen lolipop berukuran jumbo. Sadar ada kehadiran orang lain selain dirinya, gadis itu berdiri dari kursi dan melengking sembari telunjuknya ditunjuk-tunjuk ke arah Paul yang sedang berdiri.


"EEEEEEEH!? CHERRY TIDAK SALAH LIHAT, KAN!?" Ternyata itu adalah Cherry, tampaknya gadis itu kaget pada kehadiran Paul. "Cherry pikir! Paul masih belum pulang! Ternyata sudah pulang, ya! Kenapa tidak mengabari pada Cherry, sih! Tahu tidak!? Cherry sudah berulang kali bulak-balik ke rumah Paul, untuk mengecek keberadaanmu! Tapi Tante Elena, Naomi, Koko, dan Jeddy selalu bilang bahwa Paul masih belum pulang! Huh! Cherry sampai lelah menunggunya! Tapi akhirnya! Cherry bisa bertemu lagi dengan Paul! Hihihihi! Senang sekali rasanya! Oh, ngomong-ngomong, Cherry sudah berkenalan dengan Naomi! Ternyata Naomi orangnya lucu sekali, ya! Terus dia kalau bicara selalu memakai kata-kata formal! Hihihihi! Cherry jadi teringat pada Roswel, deh!"


PRANG!


Saat Cherry nyerocos terus-menerus tanpa jeda di hadapan Paul, tiba-tiba saja terdengar suara besi yang seperti dipukulkan oleh suatu benda, membuat bunyinya sampai terdengar sampai kemari. Dan sepertinya, sumber suaranya berasal dari luar, tepatnya di depan rumah Paul.


"Eh?" Cherry terbelalak mendengarnya. "Suara apa itu?"

__ADS_1


__ADS_2