
Setelah puas mendapatkan penjelasan dari Roswel mengenai lenyapnya sistem gelang waktu di Kota Cocoa, kini Paul ingin mendengar kisah dari para mentor era sebelumnya yang sempat terjeda. Roswel menganggukkan kepalanya, bertanda ia mau melanjutkan pembahasan tentang lima mentor tersebut. Dengan bahasa yang sopan dan rapi, Roswel pun berbicara, sembari lengannya menunjuk foto seorang mentor laki-laki, berambut pirang, berkulit putih, dan mengenakan mantel warna putih.
"Sebelum saya lanjut ke mentor berikutnya, adakah sesuatu yang ingin Anda tanyakan pada saya, mengenai Sang Mentor Pertama, Brandon?"
Paul berdiri di samping ranjang, karena Roswel bertanya begitu padanya, ia pun melangkahkan kakinya dengan pelan, berjalan mendatangi Roswel yang sedang menunjuk foto Brandon. Saat sampai di dekat Roswel, Paul pun memicingkan kelopak matanya, memandang lekat-lekat wajah Brandon yang sedang tersenyum lebar di dalam foto. Seperti ada lampu yang menyala, mata Paul langsung terbuka, dalam kepalanya, ia telah menemukan pertanyaan bagus perihal Si Brandon pada Roswel.
"Dia berasal dari kota mana?"
Roswel tersenyum mendengarnya, ia pun segera menjawab pertanyaan Paul dengan suara yang begitu halus. "Seingat saya, Brandon itu berasal dari Kota Joyza, sebuah kota khusus untuk para pecinta kucing, sebab di sana Anda bisa melihat banyak sekali kucing yang tersebar di mana-mana. Tapi, Brandon sendiri, katanya, tidak terlalu suka kucing. Oh, jika Anda tidak tahu, Kota Joyza terletak di sebelah utara dari Negara Madelta, Tuan. Tidak terlalu jauh dari Kota Swart."
"Oke, aku hafal betul kota sialan itu, yang pernah kukunjungi ketika wisata sekolah. Cih! Kucing-kucing di sana benar-benar brengsek, mereka hanya akan bersikap manis pada manusia-manusia lembut, sedangkan pada orang-orang sepertiku, mereka jadi terlihat seperti singa yang kelaparan. Mereka tidak segan-segan mencakar, mengejar, meraung-raung, dan mengencingi rambutku secara berkeroyok. Menjengkelkan sekali!" Paul tampak muak saat mengatakannya. "Aku tidak mau lagi berkunjung ke kota sialan itu!"
Roswel hanya menahan tawa mendengar pengalaman buruk Paul yang pernah berkunjung ke Kota Joyza. Padahal menurut Roswel, Kota Joyza cukup indah, karena tempat-tempat di sana, selalu dihiasi dengan tema khas kucing, tidak peduli apakah itu restoran, sekolah, bahkan kantor kedinasan yang seharusnya terkesan serius, selain itu, orang-orangnya sangat ramah dan murah senyum, kucing-kucingnya pun menggemaskan, dan mereka semua jinak, tidak ada kucing liar atau pun kotor, sebab, Pemerintahan Kota Joyza, sangat memanjakan eksistensi hewan imut tersebut. Dan itu membuat para pecinta kucing dari seluruh dunia, selalu berlomba-lomba untuk mengunjungi Kota Joyza, karena bagi mereka, itu merupakan tempat yang pantas dijuluki sebagai 'Surga'.
"Kalau begitu," telunjuk tangan Roswel mulai beralih ke potret yang kedua. "Kita lanjut ke Mentor berikutnya, Tuan." Foto yang kini ditunjuk oleh Roswel, merupakan gambar seorang gadis langsing berambut biru gelap yang rambutnya digelung. Matanya biru cerah, dan ia memakai lipstik tebal yang juga berwarna biru. Pakaian yang gadis itu kenakan cukup terbuka, ia hanya memakai lingerie; pakaian dalam yang mempunyai desain seksi, mirip seperti bra, namun memiliki terusan ke bawah, jadi terkesan seperti pakaian biasa.
"Siapa namanya?" Paul mulai bertanya, karena tidak sabar ingin mengetahui nama dari sosok berwajah cantik yang terpampang di hadapannya.
"Vailea, Tuan." jawab Roswel dengan tanggap, tak lupa memamerkan senyuman ramahnya pada Paul.
"Vailea? Sepertinya tidak asing."
"Tentu saja, Anda tidak asing mendengar namanya, Tuan. Sebab," Tiba-tiba senyuman Roswel jadi terlihat dingin dari biasanya, suaranya pun jadi lebih serius. "Vailea pernah bertemu dengan Anda secara langsung, saat Anda masih berusia tujuh tahun. Dan Vailea pun sebenarnya adalah sosok yang bertanggung jawab atas meninggalnya Ayah Anda, Tuan."
Kedua mata Paul langsung terbelalak, apa ini? Apakah dia tidak salah dengar? Mengapa Roswel mendadak membahas tentang kematian Ayahnya? Memangnya Roswel tahu siapa Ayahnya? Ini tidak lucu sama sekali. Lagipula, Paul sudah melupakan kesedihan akibat ditinggalkan oleh ayahnya, dan ia juga telah menjalani hidup seperti biasanya. Tapi mengapa Roswel malah mengorek luka yang sudah Paul lupakan itu, yang sudah dikubur bertahun-tahun lamanya? Sungguh, aliran darah Paul jadi memanas, kulitnya pun entah kenapa, mengeluarkan banyak keringat.
Tatapan Paul jadi menajam, seperti preman yang hendak menindas orang lain. Dua tangannya pun dikepal kuat-kuat, hingga kuku-kukunya menembus telapak tangannya, saking kesalnya.
"Jelaskan, sekarang, semuanya, tentang, Si Vailea ini, padaku!" Bahkan, intonasi Paul saat merespon ucapan Roswel, dipenuhi dengan tekanan yang luar biasa, gigi-giginya pun sampai bergelemetuk. Melihat berubahnya ekspresi Paul, Roswel mulai memahami perasaan anak itu. Karena itulah, sebisa mungkin, Roswel harus hati-hati saat menjelaskan sosok Vailea, agar kelak, perkataannya, tidak ada yang menyinggung atau menyakiti hati Paul, sebab, menurut Roswel, pembahasan kali ini, jadi lebih tegang dari biasanya.
__ADS_1
"Baik, Tuan," ucap Roswel dengan senyuman yang kembali hangat seperti sebelumnya. "Vailea adalah seorang gadis sarkastis, yang jika bicara, selalu dipenuhi dengan candaan bernada hina. Tapi, dia bukan orang yang jahat, terbukti, saat dia ditugaskan untuk mencari sepuluh pahlawan, dia dapat menyelesaikannya hanya dalam hitungan hari. Dan pahlawan-pahlawan yang ia pilih pun, tidak sembarangan, mereka semua adalah manusia-manusia luar biasa. Di samping itu, Vailea pun berhasil menjadi sosok Mentor yang telaten. Namun,"
Tiba-tiba, senyuman hangat Roswel lenyap, tergantikan dengan ekspresi super serius.
"Perlahan-lahan, Vailea bosan menjadi seorang mentor, ia sampai berani menghadap Sang Penguasa untuk mengundurkan diri. Saat itu, sepuluh pahlawan bimbingan Vailea, terkejut mendengar keputusannya. Kemudian, dengan berat hati, Sang Penguasa mengabulkan keinginannya, dan Vailea pun resmi bebas dari tekanan menjadi seorang mentor, ia pun kembali menjalani kehidupannya seperti dulu."
"Lalu?" Paul langsung meminta lanjutannya saat melihat Roswel berhenti sejenak.
"Vailea bekerja di dalam sebuah perusahaan besar di Kota Groen, bersama Ayah Anda. Mereka jadi rekan kerja yang sangat dekat, hingga Vailea sadar, di dalam hatinya, timbul perasaan cinta terhadap lelaki yang merupakan Ayah Anda. Saat Vailea mengungkapkan perasaannya, Ayah Anda menolak dengan halus, dengan mengatakan bahwa ia sudah memiliki seorang istri dan anak.
Mendengar itu, Vailea terkejut, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa, hingga akhirnya, kemarahannya pun meledak, dan tanpa kesadaran penuh, ia membanting pot bunga kantor ke kepala Ayah Anda, terus dibanting berulang-ulang kali, sampai seluruh tubuh Ayah Anda hancur. Itulah yang menyebabkan Ayah Anda meninggal, Tuan."
Senyuman Roswel jadi tampak kecut. "Dan Pada saat upacara pemakaman Ayah Anda, Vailea hadir di sana, ia menangis saat melihat jasad lelaki yang dicintainya dimasukkan ke liang lahat. Vailea menyesali perbuatannya. Ia pun memutuskan untuk bertemu dengan Anda setelah upacara pemakaman usai. Saat itu, Anda dipeluk oleh Vailea, dengan sangat erat, Tuan."
"Dan setelah itu? Apa lagi?" Paul kembali meminta lanjutannya, seolah-olah semua itu belum cukup untuk membuatnya puas.
"Maaf, tapi hanya itu yang bisa saya sampaikan, Tuan," ucap Roswel, menjawab permintaan Paul yang terkesan memaksa. "Tapi jika Anda penasaran di mana dia tinggal, Vailea saat ini tinggal di Kota Groen seorang diri, di sebuah apartemen sederhana."
PLAK!
Menampar dua pipinya dengan dua tangannya, kemudian Paul menggeleng-gelengkan kepalanya seperti seekor anjing yang sedang mengibaskan air dari bulu-bulunya. "Maaf! Roswel!" Paul berkata dengan ekspresi semangat. "Tadi aku terlalu emosional dalam menanggapi ucapanmu! Tapi, mari kita lupakan soal itu! Dan lanjut ke Mentor Berikutnya! Cepat! Karena setelah ini! Aku harus bertemu dengan Abbas!"
Roswel lega melihat wajah Paul yang sudah kembali membaik dari sebelumnya. Ia pikir, Paul bakal marah besar dan memukulnya, tapi ternyata kenyataannya tidak seburuk itu. Roswel jadi ingin menarik penilaiannya, yang pernah berpikir bahwa Paul masih belum dewasa, padahal nyatanya, anak itu sudah sangat dewasa.
"Baik, Tuan," Telunjuk Roswel digeserkan ke potret ketiga dari lima foto yang menempel di dinding kamar. "Ini adalah sosok Mentor Ketiga yang pernah saya layani, setelah usainya era Brandon dan era Vailea, Tuan." Paul memandangi sebuah gambar yang menampilkan seorang lelaki tampan berambut merah muda, bermata merah muda, berkulit sangat putih, dan mengenakan kemeja putih dibaluti dengan dasi dan jas merah muda. Lelaki itu tampak rapi dan berkelas, dan juga sangat rupawan. "Namanya adalah Gareth, dia orang yang terlalu serius, kaku, dan cukup sensitif. Tapi dalam mengerjakan sesuatu, Gareth sangat cekatan dan bisa diandalkan.
Terbukti saat ditugaskan mencari sepuluh pahlawan, dia benar-benar pandai dalam memilih-milih orang, membuat pahlawan-pahlawan pilihannya sebagian besar adalah orang-orang yang setidaknya pernah mendapatkan ranking satu pada masa sekolahnya. Namun, karena aturan-aturan yang ia buat saat sesi pembimbingan, terlalu ketat dan mengikat, itu membuat pahlawan-pahlawannya tidak kuat untuk mengimbanginya. Sampai akhirnya, seluruh pahlawan pilihannya, mengundurkan diri secara serentak. Itulah yang membuat Gareth gagal menjadi seorang mentor."
Entah kenapa, setelah mendengar kisah Gareth, Paul mendapatkan pembelajaran untuk dirinya sendiri, agar kelak ia tidak mengulangi kesalahan yang sama, seperti yang pernah Gareth lakukan pada pahlawan-pahlawannya.
__ADS_1
"Oke, berikutnya?" ucap Paul dengan santai.
Roswel menganggukkan kepalanya, sambil mengalihkan telunjuknya dari wajah Gareth ke foto berikutnya.
"Baik, Tuan."
Paul pun memperhatikan potret keempat dari lima potret yang menempel di dinding, yang melukiskan seorang lelaki berkaca mata, berambut oranye keriting, berkulit sangat gelap, lebih gelap dari Abbas, dan mengenakan kaos pendek yang juga berwarna oranye. Sosok itu, memiliki wajah yang tak bergairah, matanya layu, dan bibirnya cemberut, seperti orang yang sedang mengantuk.
Roswel pun angkat suaranya setelah jeda sejenak, "Dia adalah mentor keempat yang dipilih oleh Sang Penguasa, setelah era Brandon, Vailea, dan Gareth, berakhir," Roswel menghela napasnya. "Namanya adalah Yama, dia orang yang sangat pemalas, dan benci dengan sesuatu yang merepotkan. Karena itulah, Yama memilih pahlawan-pahlawannya dengan asal, tanpa peduli kalau itu akan mempengaruhi baik buruknya dia menjadi seorang mentor.
Setelah seluruh pahlawannya ditemukan, Yama memerintahkan mereka untuk menyelesaikan segala misi yang diperintahkan oleh Sang Penguasa, sementara ia, sebagai seorang mentor, malah tidur-tiduran di rumahnya. Tentu saja, Sang Penguasa tidak suka dengan sikap Yama, tapi anehnya, saat beliau hendak memecat mentor pemalas itu, sepuluh pahlawan pilihan Yama, memohon-mohon pada beliau untuk tidak memecat mentor mereka. Awalnya beliau terkejut, tapi, karena permintaan Para Pahlawan tampak serius, beliau pun mengurungkan niatnya, dan tetap menjadikan Yama sebagai seorang Mentor.
Bahkan sampai akhir pun, Yama dipuja-puja oleh Para Pahlawannya, hingga dijuluki sebagai 'Dewa' oleh mereka. Tapi itu tidak mengejutkan, sebab, seluruh hadiah yang Yama dapatkan dari Sang Penguasa, karena telah berhasil menjadi seorang mentor, diberikan pada pahlawan-pahlawannya, tanpa sisa. Itulah yang membuat mereka sangat menyayangi Yama, bahkan mereka tidak segan-segan mengorbankan nyawanya untuk Si Mentor Pemalas itu."
"Itu kisah yang cukup inspiratif, Roswel," Paul menahan tawanya, ia tidak menyangka bahwa ternyata ada orang yang menyebalkan seperti Yama di dunia ini. "Oke, kita lanjut ke orang yang terakhir."
Roswel tersenyum mendengar perkataan Paul, ia senang karena akhirnya anak itu bisa terhibur pada cerita Yama. Padahal sebelumnya, Paul sangat emosional saat mendengar cerita Vailea.
"Baik, Tuan," Roswel mulai menggerakkan telunjuknya ke potret kelima dari lima foto yang menempel di dinding. Di dalam potret itu, terlihatlah seorang gadis berambut putih panjang, berkulit putih, matanya tertutup, dan memakai masker hitam, yang menutupi hidung dan mulutnya. Pakaian yang gadis itu kenakan adalah baju wol tebal berlengan panjang. "Nama gadis ini adalah Eiren, seorang Mentor Kelima setelah berakhirnya era Yama. Eiren adalah orang yang tertutup, tidak banyak bicara, tidak banyak ekspresi, dan tidak banyak aturan. Bahkan saat sepuluh pahlawannya sudah ditemukan, Eiren membuat kebijakan yang hanya berisi, semua akan baik-baik saja asalkan kalian tidak menyentuhku. Benar-benar simpel.
Namun, karena kebijakan yang ia buat, Eiren kerap diganggu oleh pahlawan-pahlawannya sendiri, mereka semua jadi terkesan seperti merisak mentornya sendiri. Mengejek, menggoda, dan menertawakan Eiren, telah menjadi kegiatan rutin ketika rapat pahlawan berlangsung. Eiren sendiri tidak keberatan dengan itu, seperti yang sudah tertulis, semua akan baik-baik saja asalkan mereka tidak menyentuhnya. Namun, pada suatu malam, pahlawan-pahlawannya merencanakan sesuatu yang cukup bejat. Mereka sepakat hendak melecehkan tubuh Eiren."
"Lalu, apa yang terjadi?" Tanpa basa-basi, Paul langsung meminta lanjutan saat Roswel mengambil napas sejenak.
"Salah satu pahlawan lelaki, tanpa pikir panjang, memperkosa tubuh Eiren, saat gadis itu sedang tertidur. Dan kejadian itu disaksikan secara langsung oleh pahlawan-pahlawan lainnya, mereka terkikik-kikik kegirangan melihat Mentornya dirusak oleh teman mereka sendiri. Saat itulah, Eiren mulai terbangun dan tebak apa yang terjadi?" Roswel mengembangkan senyuman tipisnya pada Paul. "Eiren membantai seluruh pahlawannya dengan sangat sadis, brutal, dan mengerikan, Tuan. Seperti kebijakan yang ia tulis, dan jika dibalikan, maka bunyinya akan menjadi; semua tidak akan baik-baik saja jika kalian menyentuhku. Begitulah, Tuan. Hingga akhirnya, Eiren gagal menjadi seorang mentor dan mendapatkan hukuman. Tapi hukumannya ringan, ia hanya diperintahkan untuk tidak bernapas dalam satu menit." Roswel terkekeh sejenak. "Dan Eiren masih hidup hingga saat ini, dia sekarang tinggal serumah bersama Yama di Kota Vineas, atau bisa saya bilang, mereka sudah menjadi pasangan suami istri."
Paul terbelalak mendengarnya, ia tidak menyangka kalau dua orang yang pernah jadi seorang mentor, menjalin hubungan sampai menjadi suami istri. Bahkan, latar belakang mereka berdua pun, menurut Paul, sangat berbeda. Saat Yama menjadi sosok yang dipuja-puja oleh para pahlawannya, sementara Eiren menjadi sosok yang diremehkan oleh para pahlawannya, walau yang meremehkannya, telah dibantai habis olehnya.
"Eiren dan Yama, aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa bertemu, tapi kedengarannya kisah cinta mereka juga menarik untuk diceritakan. Tapi lupakan dulu soal itu!" Paul mulai menatap mata Roswel lekat-lekat. "Sebelumnya, aku berterima kasih padamu! Karena kau telah bersedia menceritakan kisah dari para seniorku! Berkat itu! Aku mendapatkan banyak pelajaran yang berharga!" Kemudian, pandangan Paul semakin tajam. "Kalau begitu, bisakah kau beritahu padaku, di mana kau menyimpan Abbas? Maksudku, Abbas sedang berada di ruangan mana? Antarkan aku ke sana! Aku harus menanyakan perihal siap tidaknya dia menjadi seorang pahlawan!"
__ADS_1
Roswel menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Baik," Roswel tersenyum dengan berjalan pelan ke arah pintu kamar. "Mari, lewat sini, Tuan."