
Kota Barasta adalah sebuah kota yang berada di pinggiran laut, inilah tempat yang kini Paul kunjungi bersama Isabella dan Abbas, mereka datang ke sana bukan tanpa alasan. Paul ingin mencari dan mendapatkan pahlawan berikutnya, yaitu pahlawan kesembilan.
Namun, tidak mudah bagi Paul bisa mendapatkan pahlawan yang ada di Kota Barasta. Mungkin menemukannya cukup mudah, tapi untuk membuat dia mau bergabung bersama Paul, terlalu sulit. Selain kepribadiannya yang beringas dan pemarah, pahlawan Kota Barasta pun punya masalah hidup yang cukup rumit di sana. Membuat Paul makin kesusahan untuk mendapatkannya.
Selama ini, Paul sudah berkunjung ke berbagai kota di Negaranya, Madelta. Semua kota yang Paul kunjungi memiliki situasi yang unik dan beragam.
Groen dengan kerusuhannya, Poppe dengan kegilaannya, Vineas dengan badai saljunya, Aljelvin dengan sistem perbudakannya, Sablo dengan gurun pasirnya, Cocoa dengan gelang waktunya, dan Luna dengan pelacurannya.
Tujuh kota yang Paul datangi, telah mempertemukannya dengan orang-orang yang terpilih menjadi pahlawan, sekaligus telah membuatnya berhadapan dengan banyak konflik yang buruk. Tapi itu tidak sebanding dengan kebahagiaan Paul yang berhasil menaklukan mereka semua untuk menjadi pahlawan bimbingannya.
Jumlah pahlawan yang telah Paul dapatkan baru delapan orang, meliputi Colin Si Pecundang, Jeddy Si Bodoh, Cherry Si Gadis Gila, Nico Si Mulut Pedas, Koko Si Lelaki Cantik, Naomi Si Gadis Berkerudung, Abbas Si Pendiam, dan Isabella Si *******.
Mereka adalah orang-orang yang aneh, menurut Paul. Tidak ada yang normal dari delapan orang tersebut, mereka memiliki keanehannya masing-masing.
Tapi Paul tidak membenci orang-orang itu, malah sebaliknya, ia menganggap mereka sebagai sesuatu yang sangat berharga, layaknya keluarganya sendiri. Oleh karena itu, Paul bakal sangat marah jika salah satu dari mereka ada yang terluka atau menderita, ia bakal berusaha semaksimal mungkin untuk membuat mereka nyaman bersamanya. Sekalipun Paul selalu bersikap kasar pada mereka, tapi sebetulnya ia tidak serius.
Paul sangat menyayangi pahlawan-pahlawannya.
"LIZZIE! BANGUN!" Terdengar suara pekikan gadis kecil yang membuat Lizzie, perlahan-lahan, membuka kelopak matanya. Ia masih mengantuk, masih ingin tidur, tapi kenapa Rara membangunkannya secepat ini.
"Ada apa?" Dengan suara rendahnya, Lizzie mengerjap-erjapkan matanya agar terjaga, ia memandang wajah Rara yang ada di dekat mukanya. Posisi Lizzie kini tengah terbaring di sofa, sedangkan Rara duduk di tepian sofa. "Jam berapa ini memangnya? Aku masih ngantuk."
"Dengar suaranya baik-baik!" Rara tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang menimbulkan tanda tanya di benak Lizzie.
__ADS_1
Gadis tomboi itu mengerutkan dahinya, bertanya-tanya pada maksud perkataan Rara, tapi dia mencoba mematuhinya, mengheningkan diri sejenak, mencari tahu suara apa yang dimaksud oleh sahabat mungilnya. Dan belum beberapa detik, Lizzie langsung menyadarinya.
Ada suara sirine mobil polisi!
Gadis berdada rata itu segera beranjak bangun dari posisi berbaring, ia segera berdiri dan mendekati jendela rumah, memperhatikan situasi di luar.
Matahari sudah muncul, menerangi Kota Barasta dengan embun paginya yang sejuk, tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian Lizzie. Gadis itu, menelisik jauh ke beberapa mobil yang terparkir di depan jalan rumahnya, di sana ada sekitar dua atau tiga mobil polisi. Mobil-mobil itu mengeluarkan bunyi penging dari sirinenya yang terus dinyalakan tanpa henti. Membuat Lizzie mau pun Rara terganggu dengan suara tersebut.
"Rara! Perasaanku jadi tidak enak!" Lizzie mengalihkan perhatiannya pada Rara yang diam di sofa. "Aku merasa mereka akan kemari! Kita harus pergi dari sini!"
"P-Pergi!? T-Tapi kemana!?" Rara kebingungan dengan sikap Lizzie yang mendadak panik begitu. "Tapi bagaimana dengan barang-barangku?" Rara menunjuk ke 20 tas miliknya yang berisi kepingan emas, yang awalnya akan digunakan sebagai upah untuk Lizzie dalam membantai keluarganya.
"Biarkan saja itu di sini!" seru Lizzie, dengan hati yang pahit, karena sebetulnya dia sangat menginginkan harta-harta itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi keadaan memaksanya untuk menyerah. Tidak mungkin mereka berdua membawa 20 tas itu seorang diri. Itu juga bisa memperlambat pergerakan mereka.
Mau tidak mau, Lizzie harus merelakan harta-harta itu demi keselamatan dirinya dan juga sahabatnya.
"Sudahlah! Ayo cepat!" Lizzie segera menyela ucapan Rara, gadis itu langsung menarik sahabat mungilnya untuk pergi dari rumahnya. Terpaksa, Rara meninggalkan tas-tas miliknya yang sangat berharga, tergolek di lantai rumah Lizzie.
Namun, baru saja mereka mencapai halaman belakang, Lizzie dikejutkan dengan kehadiran tiga polisi yang berdiri gagah di sana. Menghalangi jalan Lizzie dan Rara.
Sepertinya para polisi sudah mengepung rumah ini dari segala titik.
"Sial!" Lizzie jengkel mengetahui dirinya lengah. "Sialan!"
__ADS_1
Ketiga polisi itu segera mendatangi Lizzie dan Rara, mereka menyergap dua gadis itu dengan gesit. Sampai akhirnya, tangan Lizzie mau pun Rara diborgol ke belakang.
"Ikuti kami!" kata salah satu polisi dengan tegas pada Lizzie dan Rara, mereka pun pasrah dan mengikuti arahan tersebut.
"Inilah akibatnya jika kau berurusan dengan kami, Lizzie!" Terdengar cukup nyaring, suara Ayah Rara yang menghujat Lizzie dari depan gerbang rumah mewahnya, sedang berdiri bersama anggota keluarganya yang lain.
Mereka semua terlihat senang, bersuka cita atas tertangkapnya Lizzie dan Rara oleh unit kepolisian. Sepertinya keluarga Rara lah yang telah menghubungi polisi untuk menangkap dua gadis itu. Benar-benar keluarga yang mematikan, bahkan pada Rara sekali pun.
"Dan kau, Rara!" Sang Ayah meneriaki putrinya dengan nada yang kasar. "Aku benar-benar kecewa padamu! Kau telah mempermalukanku! Inilah yang akan kau dapatkan jika sering membangkang pada orang tua!" seru Sang Ayah dengan mata yang menindas pada putrinya sendiri. "Membusuklah di penjara, Anak Nakal!"
Langkah Rara jadi gontai setelah mendengar omongan Ayahnya, itu terlalu menyakitkan. Namun, saat air mata Rara mau keluar, Lizzie tiba-tiba meraung sangat kencang, hingga suaranya menggelora ke setiap penjuru.
"BAJINGAAAAAAAAAAAAAN!" Seketika, burung-burung yang hinggap di pepohonan, beterbangan dengan panik, terkejut mendengar jeritan gila tersebut. Orang-orang di pemukiman pun berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing, menyaksikan Lizzie yang tampak mengamuk. "SETELAH URUSANKU DENGAN KEPOLISIAN SELESAI! KALIAN SEMUA AKAN KUBUNUH! AKAN KUBANTAI TANPA SISA! DAN AKAN KUBUAT KALIAN MENDERITA TANPA AMPUN! INGAT ITU BAIK-BAIK! ********!"
Tertawa. Mereka semua menertawakan Lizzie, bukan hanya keluarga Rara, tapi semua orang yang menonton, terbahak-bahak mendengar ancaman yang digelorakan oleh gadis tomboi itu. Bahkan para polisi yang menahan mereka pun, terpingkal-pingkal.
Hanya Rara, yang tidak tertawa. Gadis mungil itu, malah menangis. Menangis haru menyaksikan Lizzie membela dirinya dengan begitu berani. Rara sangat tersentuh.
"Hahahahaha!" Bahkan setelah Lizzie dan Rara sudah duduk dalam mobil, dengan tangan yang masih terborgol, para polisi masih tak bisa berhenti tertawa. "Kau ini konyol sekali." ungkap polisi yang bakal menjadi sopir di mobil ini. "Kau berani sekali di depan para polisi, mengancam akan membunuh keluarga itu. Itu hanya akan membuat dirimu jadi semakin buruk di mata kami, Nak."
Lizzie hanya terdiam, dia tahu itu memang konyol, tapi itu lebih baik daripada diam saja saat sahabatnya dihujani kata-kata kasar oleh keluarganya sendiri. Itu sangat memuakkan. Lizzie benar-benar ingin meremukkan tulang-tulang mereka.
Kemudian, saat mobil polisi itu bergerak, kepala Rara menyentuh kepala Lizzie dengan lembut. Lizzie menoleh ke samping, dan ia terbelalak saat melihat wajah Rara dipenuhi air mata.
__ADS_1
Tapi, gadis mungil itu tampak tersenyum.
"Terima kasih, Lizzie."