Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 36 : Sosok Manusia


__ADS_3

Menghabiskan waktu sekitar lima jam perjalanan dari Aljelvin ke Swart, sebab jarak antara dua kota itu memang saling berjauhan, jadi rasanya cukup melelahkan, ditambah Paul, dan kawan-kawannya kali ini tidak naik bus, melainkan menunggangi motor besar dari para perempuan tomboi, membuat mereka jadi tidak bisa santai seperti di kursi bus, karena jok motor tidak memiliki landasan untuk punggung. Itulah mengapa dalam lima jam perjalanan, Paul dan kawan-kawannya, hanya bisa duduk tegak di atas jok motor, dan memandangi pemandangan yang tersaji di sekitar mereka, sambil menahan rasa kantuk dan lelah.



Walaupun begitu, Paul dan kawan-kawan sangat bersyukur karena telah diberi tumpangan oleh perempuan-perempuan tomboi itu, berkat mereka, Paul dan kawan-kawan bisa pulang ke Kota Swart tanpa harus mencemaskan penerimaan orang lain terhadap penampilan Koko. Dan dalam perjalanan, sambil mengamati pemandangan kota-kota yang dilewatinya, Paul merenungkan kejadian yang menimpa Koko saat berada di dalam bus, dia mulai berpikir bahwa hampir semua orang di berbagai kota tidak menerima jati diri dari pahlawan barunya itu, itulah mengapa tugasnya sebagai mentor jadi semakin sulit karena ia harus membimbing Koko agar menjadi pribadi yang kuat. Menurut Paul, sikap Koko masih malu-malu, walaupun ia tahu pahlawan barunya itu punya potensi yang cukup bagus dalam menjadi seorang pahlawan sejati, contohnya saja saat Koko memutuskan untuk menusuk bola mata dari pria kekar yang melecehkannya, bukankah itu sebuah pencapaian yang bagus?



Menurut Paul, Koko punya keunikan tersendiri, berbeda dengan Colin, Jeddy, Cherry, maupun Nico. Koko tampak punya mental yang lebih besar dari mereka, hanya saja dia masih terperangkap dalam masa lalunya yang buruk, membuat Koko jadi selalu takut dan gelisah jika bertemu dengan orang asing, tapi 'takut' di sini tidak seperti Colin yang memang takut terhadap berbagai hal, Koko lebih condong ke rasa takut terhadap reaksi orang lain terhadap jati dirinya yang berbeda.



Tidak terasa malam telah tiba, menampilkan kegelapannya yang begitu pekat di langit, membawa ratusan bintang kecil yang berkelap-kelip menghiasi langit malam yang menakutkan, ditemani dengan sinar rembulan, raungan serigala, dan bunyi berisik dari motor besar milik perempuan-perempuan tomboi, membuat suasana malam jadi cukup mengesankan. Mereka sudah melewati jalanan besar dari Kota Groen, dan sudah masuk ke dalam wilayah Kota Swart, yang artinya tinggal beberapa menit lagi hingga mereka sampai di rumah Paul.



"Terima kasih atas tumpangannya!" ucap Paul pada perempuan-perempuan tomboi itu setelah ia bersama teman-temannya turun dari motor di depan gerbang rumahnya. Nico, Cherry, dan Koko pun mengucapkan hal yang sama, berterima kasih pada mereka.



"Kami juga berterima kasih pada kalian!" ucap sang ketua dari para perempuan tomboi itu pada Paul, Cherry, dan Nico, dengan intonasi yang tegas. "Karena telah berteman dengannya!" Perempuan itu menunjuk ke arah Koko. "Kami sebenarnya tidak suka mengantarkan orang yang bukan bagian dari Alexis seperti kalian! Kami hanya ingin menolong Lelaki Alexis ini! Tapi karena kalian adalah temannya, jadi kami tidak keberatan untuk membantu kalian! Jadi aku ingin berpesan pada kalian sebelum kami pergi, tolong jaga Lelaki Alexis ini! Karena Para Alexis rentan sekali terkena gangguan dari orang-orang brengsek! Benar, kan?"



"BENAAAAR!" teriak bawahan-bawahannya saat sang ketua bilang begitu.



"Hihihihi! Kalian jangan cemas! Cherry pasti akan selalu menjaga Koko! Karena Koko telah Cherry anggap sebagai Kakak Cherry sendiri! Jadi kalau ada orang yang mengganggu Koko, maka akan," tiba-tiba kedua mata Cherry jadi melotot dan suaranya menggeram. "... Cherry bunuh!"



"Tidak perlu diperintah pun, aku akan menjaganya, bukankah tugas seorang teman memang demikian?" ucap Nico dengan menaikkan kaca matanya yang melorot, seraya menampilkan wajah sombongnya.



"Kalian dengar, kan?" kata Paul dengan menaikan sebelah alisnya pada para perempuan tomboi yang ada di motornya masing-masing. "Bukankah jawabanku juga sudah jelas?" Paul memandang datar pada wajah perempuan-perempuan tomboi tersebut.



Mengerti pada ucapan Paul, mereka pun menganggukkan kepalanya, dan akhirnya mereka kembali menyalakan motornya dan berpamitan. Paul, Cherry, Nico, dan Koko memandangi kepergian perempuan-perempuan tomboi itu dengan pandangan yang takjub, mereka berempat masih tidak menyangka telah ditolong oleh para perempuan itu setelah terusir dari sebuah bus. Ternyata keajaiban itu memang ada, bahkan datangnya sangat tidak terduga.



"Mau sampai kalian terus-terusan memandangi mereka!? Hah!?" bentak Paul pada Cherry, Nico, dan Koko yang masih berdiri memandangi kepergian perempuan-perempuan tomboi itu. "Cepatlah masuk ke dalam! Brengsek!"



Mendengar itu, Cherry, Nico, dan Koko mengekori Paul dari belakang untuk masuk ke dalam gerbang. Setelah benar-benar masuk ke ruang tamu, Paul dikejutkan dengan seseorang yang sedang terlelap di sofa dengan posisi terlentang, dan ada sebuah koran yang menutupi wajah orang tersebut, yang membuat Paul tidak bisa tahu siapa sosok yang sedang tertidur di sofa rumahnya.



"Itu... siapa?" Koko segera menyembunyikan tubuhnya di belakang Cherry, takut jika sosok yang sedang tertidur di sofa adalah orang jahat. Rambut ungu panjang milik Koko sampai menyentuh lantai.



"Dari perawakannya, sepertinya dia adalah--" perkataan Nico langsung dipotong oleh lengkingan Cherry.



"ITU JEDDY! Ya! Cherry yakin sekali! Itu Jeddy!" Sambil berteriak begitu, Cherry menghampiri sofa dan membuka koran yang menutupi wajah sosok tersebut, dan ternyata tebakannya benar, orang yang sedang terlelap di sofa adalah Jeddy. "Benar, kan? Tebakan Cherry! Hihihihi!"



Koko yang kehilangan tempat persembunyiannya, akhirnya memilih untuk berdiri di belakang Nico, keresahannya semakin bertambah saat menyadari bahwa sosok yang sedang tertidur adalah seorang lelaki berambut hijau dan berwajah seperti preman. Kedua kakinya sampai gemetar, karena Koko yakin kalau lelaki berambut hijau itu pasti punya sikap yang jahat padanya.



Mengetahui bahwa Jeddy lah orang yang tertidur di sofa rumahnya, Paul pun melangkah, mendekati sosok berambut hijau itu dan,



Bug!



Paul langsung memukul perut Jeddy sampai orang itu langsung bangkit dari posisi terlentangnya dan membuka matanya dengan kaget, lalu ia jadi terbatuk-batuk karena terkena pukulan tersebut. Setelah batuknya usai, Jeddy mengerjap-erjapkan matanya untuk melihat siapa orang yang memukul perutnya, dan sedetik kemudian, ia tersenyum lebar.

__ADS_1



"Woah! Paul! Akhirnya kau pulang juga! Bro!" Jeddy langsung mengangkat tubuhnya dari sofa untuk berdiri, lalu ia menepuk-nepuk punggung Paul dengan terbahak-bahak. Kemudian, pandangan Jeddy dialihkan ke orang-orang yang sedang berdiri di dekat pintu, dan matanya langsung membelalak saat menyadari ada sosok asing di belakang Nico, dia sampai tidak peduli pada Cherry yang sedang melompat-lompat di depannya. "Bro! Siapa gadis berambut ungu itu!?" tanya Jeddy pada Paul dengan nada yang berbisik.



Merasa dipandangi oleh lelaki berambut hijau, Koko jadi semakin menenggelamkan tubuhnya di punggung Nico, sampai badannya dibungkukkan agar lelaki asing itu tidak bisa menatapnya. "Kau kenapa?" tanya Nico setelah dia  sadar kalau Koko sedang menyembunyikan diri di belakang tubuhnya. "Kau takut pada sampah hijau itu?" Sayangnya Koko tidak menjawab pertanyaan Nico karena dia sedang tidak ingin menunjukkan suaranya di situasi seperti ini.



"Dia itu pahlawan baru yang kutemukan di Kota Aljelvin!" jawab Paul pada Jeddy dengan suara yang berseru. "Walaupun penampilannya begitu, dia itu seorang lelaki! Namanya Koko!"



Seketika, keterkejutan Jeddy jadi semakin bertambah saat mendengar penjelasan itu, dia langsung menoleh pada muka Paul dan berkata, "Kau serius, Bro!?" Kemudian perhatiannya kembali dialihkan ke Koko yang sedang bersembunyi di punggung Nico. "Ahaha! Aku yakin kau pasti sedang membohongiku, kan? Bro!? Ayolah! Tidak mungkin Gadis secantik itu adalah seorang lelaki? Bro! Hahahaha! Kau ini ada-ada saja! Bro!"



"Aku sedang serius! Brengsek!" Paul mendaratkan jitakannya pada kepala Jeddy karena kesal pada tingkah orang itu. "Kalau kau tidak percaya, tanya saja langsung padanya! Bodoh!"



Pipi Jeddy langsung memerah mendengar Paul bilang begitu, dia jadi salah tingkah. "M-Mustahil! Bro! Hahahaha! Aku ini lemah jika berdekatan dengan gadis cantik, Bro!"



"Hah? Apa maksudmu bilang begitu?" Tiba-tiba Cherry langsung menggeram di depan Jeddy dengan tatapan yang menusuk. "Jadi selama ini Cherry tidak cukup cantik untuk membuatmu merasa lemah, begitu?"



Mendengar itu, Jeddy terkaget, dia langsung memandang Cherry dan berseru, "Tidak! Bukan begitu! Cherry!" Kemudian, Jeddy mencoba mencairkan suasana dengan gelak tawanya. "Baiklah! Bagaimana kalau kalian kuambilkan minuman! Kalian pasti haus, kan!? Hahahah!"



"Tidak perlu," ucap Cherry dengan suara yang masih menggeram. "Aku lebih suka kau di sini, untuk menjelaskan maksud dari perkataanmu yang seakan-akan bilang bahwa wajah Cherry jelek! Buruk rupa! Tidak menarik! Dan menjijikan! Begitu, kan, maksudmu!?"



"DIAM!" Karena muak mendengar pertengkaran itu, Paul langsung berseru dengan kencang, membuat Cherry terdiam, Jeddy terkejut, Nico tersenyum miring, dan Koko menyembulkan kepalanya untuk melihat situasi. "Berhenti sembunyi di belakang Nico! Kemarilah kau! Brengsek!" pekik Paul pada Koko yang masih menyembunyikan badannya.




"Lelaki berwajah bodoh ini adalah Jeddy! Dia akan menjadi seorang pahlawan! Sama sepertimu!" jelas Paul pada Koko dengan suara yang menggelegar. "Aku harap kalian bisa akrab! Karena kalian semua adalah muridku! Aku sebagai mentor! Punya tanggung jawab yang besar untuk membimbing kalian menjadi seorang pahlawan sejati! Kalian paham!? Jawab!"



"Ya! A-Aku paham! Bro!" jawab Jeddy dengan gugup, matanya tidak henti-hentinya melirik ke wajah Koko yang begitu cantik.



"Baik... aku paham, Paul." ucap Koko dengan kembali menundukkan kepalanya, malu karena terus-terusan dilirik oleh Jeddy.



"Bagus!" Paul tampak senang mendengarnya. Kemudian, perhatian Paul dialihkan ke Jeddy. "Ngomong-ngomong bagaimana kondisi keluargamu!? Katanya kau pulang ke Groen untuk menjenguk keluargamu di penjara, kan!? Apa mereka baik-baik saja!?"



Wajah kikuk Jeddy jadi menghilang saat mendengar pertanyaan itu, ia menolehkan pandangannya pada Paul dan menjawab, "Terima kasih sudah menanyakan itu, Bro," Jeddy menyunggingkan senyuman lebarnya. "Keluargaku baik-baik saja di sana, walau ibuku jadi tampak kurus dan ayahku masih tetap berwujud seekor kambing. Hehehehe!" Mendengar ucapan Jeddy, sontak membuat Cherry, Nico, dan Koko tersentak. "Tapi kau tidak perlu khawatir, Bro! Mereka masih bisa tersenyum padaku! Ibuku juga titip salam padamu, Bro! Dia bilang, dia sangat berterima kasih padamu! Karena telah berteman dengan putranya! Yaitu aku! Bro! Hahaha!"



Paul tersenyum tipis mendengarnya. Kemudian, Paul mengalihkan pandangannya ke Cherry, "Bagaimana? Setelah mendengar hal ini, apakah kau masih marah pada Jeddy? Hah!?"



Kini, kemarahan Cherry sudah lenyap, wajahnya menampilkan ekspresi kekagetan. "C-Cherry tidak tahu soal itu, Cherry pikir keluarga Jeddy baik-baik saja!" Dengan mata yang berkaca-kaca, Cherry langsung berlari memeluk kedua kaki Jeddy. "Cherry minta maaf karena tadi memarahimu! Cherry menyesal!"



Jeddy mengusap-usap rambut merah muda Cherry dengan lembut. "Tidak usah dipikirkan. Ini juga salahku, kok! Jadi, kau tidak perlu meminta maaf padaku, Cherry! Hehehe!" Cherry pun melepas pelukannya pada kaki Jeddy dan tersenyum hangat.



"Sekarang Cherry mengerti mengapa Roswel bilang, Jeddy suka menangis di kamar mandi dan dalam tidurnya. Pasti Jeddy merindukan keluarga, kan? Sekarang, Jeddy jangan menangis lagi! Okay! Karena Cherry bersama Paul, Nico, Koko, dan Colin! Akan menjadi keluarga baru Jeddy! Hihihihi!"

__ADS_1



Sontak, mendengar itu, Jeddy terkejut, air matanya hampir menetes sebelum kedua tangannya beringsut dengan cepat, menghapus air matanya. "Ahahaha! Terima kasih banyak! Cherry! Hehehehe!" Jeddy kembali menyunggingkan senyuman lebarnya.



"Mengejutkan sekali," kata Nico dengan nada yang dingin pada Jeddy. "Sebenarnya aku masih punya beberapa pertanyaan lain seputar keluargamu, tapi sepertinya aku terlalu lelah untuk menanyakannya," Pandangan Nico segera dipalingkan pada Paul. "Bawakan kami makanan, kami sangat lapar, bodoh."



Akhirnya Paul memanggil ibunya untuk menyiapkan makanan pada teman-temannya, saat sang ibu datang ke ruang tamu, wanita itu kaget melihat ada gadis baru di rumahnya. Tapi setelah dijelaskan oleh Paul bahwa gadis itu adalah seorang lelaki, sang ibu tersenyum tipis dan mengangguk paham. Wanita itu pun langsung masuk ke dapurnya untuk membuatkan sesuatu. Sambil menunggu, Paul bersama teman-temannya duduk di kursi tamu, mereka membicarakan segala hal dibarengi dengan candaan dan gelak tawa, membuat suasana jadi terasa santai. Mereka tidak hanya membicarakan hal-hal yang sepele, karena di dalamnya, Paul pun menjelaskan pada Koko mengenai apa itu pahlawan, mentor, Roswel, dan siapa itu Colin, ia juga mengungkap masa lalu tiap orang di sana hingga akhirnya Koko mulai memahami semua itu.



Itu juga membuat Nico, Cherry, Jeddy, dan Koko saling membicarakan masa lalunya masing-masing, sedangkan Paul enggan untuk menjelaskan tentang masa lalunya pada mereka, walau Cherry terus memintanya untuk bicara, dia lebih suka menjadi pengamat saat teman-temannya saling membongkar masa lalu, karena dia tidak mau mengingat kembali kenangan-kenangan buruk yang pernah terjadi di hidupnya.



"Makanan sudah siap!"



Ibunya Paul tiba-tiba datang dari dapur dengan membawa nampan berisi semangkuk besar kepiting rebus, sepiring kue salju, sekardus donat rasa strawberry, dan sepiring kue lapis rasa anggur.



"Wow? Kepiting rebus? Itu adalah makanan kesukaanku di Groen!" Jeddy terpukau melihat makanan khas Groen muncul di hadapannya, sudah lama sekali dia tidak memakan kepiting rebus.



"Mengapa ada kue salju di sini?" Nico terbelalak. "Aku jadi teringat Vineas."



"Uwaaah! Donat rasa strawberry adalah makanam favorit orang-orang Poppe! Kami sering menyebutnya sebagai makanan pinky! Hihihi!" Cherry kegirangan saat melihat donat strawberry di nampan yang dibawa Ibunya Paul.



"Kue lapis rasa anggur merupakan makanan yang sering dibuat di tiap hari perayaan besar di Aljelvin," kata Koko dengan tatapan yang sendu dan suara yang begitu halus. "Aku senang bisa melihatnya di sini."



Begitulah reaksi Jeddy, Nico, Cherry, dan Koko saat wanita itu meletakkan makanan-makanan buatannya di meja tamu. "Ada apa? Sepertinya kalian terkejut? Hehehe." ucap wanita itu setelah mendengar reaksi teman-temannya Paul yang terkesan kaget.



"Mengapa Tante bisa tahu makanan khas dari kota kami?" tanya Nico dengan mengernyitkan alisnya, penasaran.



"Tentu saja aku tahu," kata wanita itu dengan terkekeh-kekeh. "Sudah-sudah, lebih baik kalian cepat makan, sebelum makanannya jadi dingin."



"Terima kasih Tante!" kata Jeddy dan Cherry dengan bersamaan, mereka sangat antusias saat mengatakannya. Wanita itu hanya tersenyum ramah.



"Mengapa Ibu tidak membuatkan makanan khas dari Kota Swart!? Harusnya Ibu juga membuatkannya untukku!"



"Ah, Ibu lupa," ucap wanita itu sembari memeletkan lidahnya pada Paul, sepertinya dia sengaja tidak membuatkan makanan khas Kota Swart. "Sudahlah Paul, cepat bergabung dengan teman-temanmu untuk makan, kau juga baru pulang, kan? Kalau kau sudah makan, ajak teman-teman lelakimu untuk masuk ke dalam kamarmu, lalu antarkan Cherry ke rumah Olivia, oke?"



Dengan muka yang masih kesal, Paul menjawab ucapan sang ibu dengan bibir cemberut, "Baik, Bu!"



Akhirnya Paul, Cherry, Nico, Jeddy, dan Koko menyantap makanan yang tersedia di meja tamu, mereka tampak bahagia sekali saat makan, membuat Ibunya Paul senang melihatnya, sampai akhirnya ia kembali ke dapur untuk membereskan sesuatu.



Sementara itu, di keheningan malam, tepatnya di depan gerbang rumah Paul, berdirilah sesosok manusia yang matanya menyorot tajam ke arah pintu depan rumah Paul yang masih terbuka, telinganya mendengar gelak tawa dari beberapa orang yang sedang makan bersama di sana, tampak begitu riuh dan menyenangkan.


__ADS_1


"Jadi begitu, ya," ucapnya dengan suara yang kesal. "Mereka sedang berpesta tanpaku."



__ADS_2