Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 43 : Panggilan Alam


__ADS_3

Setelah puluhan menit menunggu, Koko, Jeddy, dan Naomi akhirnya kembali ke hadapan Paul. Koko tampak membawa sebuah plastik hitam besar yang isinya adalah makanan khas Kota Sablo yang sekarang sedang digenggamnya, Jeddy terlihat terengah-engah tapi wajahnya menandakan kalau halte yang dicari sudah ditemukan, sementara Naomi datang dengan menyeret sebuah koper besar di tangan kanannya, seperti orang yang akan pindah rumah, dia juga mengatakan bahwa seorang perempuan punya banyak kebutuhan untuk dirinya sendiri, jadi membawa koper besar merupakan hal yang wajar. Awalnya Paul kesal pada sikap Naomi, tapi mau bagaimana lagi, gadis itu keras kepala sekali.



Karena tugasnya sudah tuntas di Kota Sablo, Paul pun berjalan meninggalkan restoran kumuh itu untuk pergi ke halte bus yang dibilang Jeddy. Melihat Paul bergegas, mereka bertiga--Koko, Jeddy, dan Naomi--mengekori mentornya dari belakang. Di dalam perjalanan menuju halte, Naomi berulang kali mengatakan bahwa sebenarnya dia berat untuk meninggalkan Sablo, banyak sekali kenangan indah yang ada di kota ini, tapi saat Paul bertanya mengapa tidak tinggal saja di sini, Naomi menggelengkan kepalanya. Naomi pikir, jika dia tetap di sini, keberadaannya bisa menimbulkan kekacauan, mengingat para jubah putih mengincarnya.



Di pikiran Naomi, jika dia tetap tinggal di Sablo, dia takut suatu saat para jubah putih menyakiti keluarganya atau penduduk kota agar membuatnya mau menyerahkan nyawa pada orang-orang itu, dan itu sangat mengerikan. Naomi tidak mau itu sampai terjadi, makanya dia memilih untuk ikut ke Kota Swart, bukan hanya semata-mata ingin bertemu dengan Colin, Nico, atau pun Cherry, dia ingin agar para jubah putih tidak datang lagi ke Kota Sablo.



Itulah yang Naomi pikirkan, tapi sayangnya, ia tidak mengatakan hal itu pada Paul, Koko, dan Jeddy. Lalu, untuk mengubah suasana, Jeddy membuat lelucon konyol dari pengalaman-pengalaman yang ia bagikan, Naomi bersama Koko tertawa lepas mendengar lelucon-lelucon tersebut. Paul hanya menampilkan ekspresi datar, tidak tertarik untuk menunjukkan tawanya.



"Paul, saya penasaran. Apakah seorang pahlawan akan diberikan sebuah kekuatan? Maksud saya, kekuatan seperti empat elemen, atau semacamnya. Apakah begitu?" Naomi terkekeh. "Walau saya tahu itu hal yang tidak masuk akal, tapi setelah melihat kekuatan Para Jubah Putih, saya jadi berpikir mungkin kekuatan sakti sejenis itu bisa dimiliki seorang pahlawan. Karena saya yakin, musuh kita pasti bukan sekedar seorang perampok atau penjahat biasa, kan?"



Sontak, Paul tersentak mendengar pertanyaan Naomi setelah mereka berempat sudah duduk di dalam kabin bus. Sebenarnya Paul juga penasaran mengenai hal itu, apakah para pahlawan akan dikaruniai kekuatan sakti? Tapi sejauh ini, Roswel tidak menjelaskan hal itu, pria pucat itu hanya mengatakan bahwa kesepuluh pahlawan harus ditemukan dan tugas mereka yaitu melindungi umat manusia, sementara tugas Paul sebagai mentor ialah membimbing pahlawan-pahlawan itu agar menjadi sosok pahlawan sejati. Hanya itu yang dibilang Roswel, sisanya hanya penjelasan-penjelasan tidak penting. Alhasil. Paul pun menjawab pertanyaan Naomi dengan menghela napas.



"Aku tidak begitu tahu detailnya, tapi sepertinya itu bukan hal yang mustahil."



Jeddy sumringah mendengarnya, dia mulai berkhayal memiliki kekuatan api, air, angin atau tanah untuk menumpas musuh-musuhnya, disertai dengan gerakan-gerakan memukau, seperti adegan para pahlawan bertarung melawan para penjahat di dalam film yang sering ia tonton di bioskop.



"Woah! Pasti seru sekali jika kita diberikan sebuah kekuatan! Bro!" Jeddy tampak gembira sekali, hingga kakinya dihentak-hentakkan dengan girang. "Aku jadi penasaran, kira-kira akan diberi kekuatan apa, ya? Diriku ini, Bro!? Tapi yang jelas, apa pun kekuatannya, aku akan menguasainya dengan baik! Bro! Hahahah!"



"Tapi," Koko mulai bersuara dengan nada yang begitu halus. "Jika aku diberikan kekuatan seperti itu. Aku... tidak yakin bisa menguasainya," Koko pun mulai menyunggingkan senyuman getirnya pada Paul, Jeddy, dan Naomi. "Karena selama ini... aku tidak pernah berkelahi atau pun bertarung dengan seseorang. Jadi, aku tidak yakin bisa menjadi seorang pahlawan yang kuat. Seperti yang kalian tahu, aku ini sangat lemah dan tidak bertenaga."


__ADS_1


Jeddy langsung menepuk-nepuk pundak Koko dengan gelak tawanya, sambil berkata, "Hahaha! Jangan pesimis begitu! Aku yakin kau juga bisa menguasainya dan mampu untuk menjadi sosok pahlawan hebat! Tapi Jika kau masih tidak yakin," Jeddy pun berbisik pada Koko. "Maka bicarakanlah hal itu dengan mentor kita. Aku yakin dia bisa mengajarimu cara-cara menjadi pahlawan sejati. Bukankah tugas Paul memang seperti itu, benar, kan? Hehehehe."



Walau Jeddy berbisik-bisik pada Koko, tetap saja bisikannya terdengar jelas oleh Paul dan Naomi. Mungkin Jeddy memang sengaja melakukannya, agar Paul menyadari posisinya sebagai mentor saat menghadapi seorang pahlawan yang tidak percaya diri. Paul hanya membuang muka ke jendela, sambil bilang, "Jika kau tidak yakin pada kemampuanmu, aku akan membimbingmu dengan keras agar kau mampu. Itulah solusi yang akan kulakukan sebagai mentormu."



"Simpel sekali! Bro! Hahahahah!" Lagi-lagi Jeddy terbahak-bahak mendengar ucapan Paul, tapi memang begitulah tugas seorang mentor. Walau kedengarannya simpel, tapi sebenarnya tidak sesimpel itu. Jeddy pun menatap muka Koko dengan senyuman lebar. "Jadi kau tidak perlu khawatir tentang itu, B-B-Bro! Karena Paul akan melatihmu dengan keras! B-B-Bro! Heheheh!" Dan Jeddy tampak kaku saat mengatakan kata-kata khasnya pada Koko.



Koko hanya tersenyum sambil bilang terima kasih. Menyaksikan hal itu, akhirnya Naomi bisa menyimpulkan bahwa sifat Koko sangat pesimis, sifat Jeddy terlalu optimis, dan sikap Paul sangat-sangat-sangat otoriter pada murid-muridnya.



"Ngomong-ngomong," kata Paul dengan suara yang rendah. "Apa keluargamu baik-baik saja ditinggalkan olehmu. Asal kau tahu, aku tidak bisa menjanjikkan untuk memulangkanmu kembali ke kota Sablo, karena tugasku sebagai mentor cukup sibuk, besok aku harus kembali bergegas untuk mencari pahlawan berikutnya di kota lain. Tapi, jika kau sebegitu rindunya pada keluarga, aku akan mengizinkanmu untuk pulang kampung, tapi hanya sementara, karena kau harus kembali lagi untuk dibimbing olehku. Jadi, bagaimana?"



Naomi terdiam, dia sedang memikirkan kondisinya sendiri, sampai akhirnya, ia pun menjawab pertanyaan itu dengan santai, "Saya pasti akan langsung meminta izin untuk pulang pada Anda jika kerinduan pada keluarga mulai datang. Jadi Anda tidak perlu khawatir soal itu, Paul."




"Maaf, tapi saya penasaran," Naomi kembali bersuara. "Mengapa Anda secepat itu mencari pahlawan berikutnya? Memangnya jumlah pahlawan yang Anda dapatkan baru berapa, Paul?"



"Jika dihitung dengan dirimu, maka jumlahnya baru enam," jawab Paul dengan menghembuskan napasnya. "Jadi tinggal empat pahlawan lagi yang harus kucari. Tapi brengseknya, setiap pahlawan selalu saja tinggal di kota-kota yang aneh. Mengapa kalian tidak tinggal di kota yang normal-normal saja, sialan!" Naomi, Koko, dan Jeddy hanya tertawa renyah mendengar umpatan Paul.



Sampai akhirnya, bus sampai di Kota Swart, saat kendaraan itu menghentikkan lajunya, mereka berempat pun mulai turun. Naomi terkejut dengan suasana Kota Swart yang begitu bebas dan modern, semua orang di kota ini memakai pakaian yang terbuka dan tampak santai, tidak seperti di Sablo yang harus tertutup dan sopan. Mengingat Paul, Koko, dan Jeddy masih mengenakan gamis, mereka bertiga pun bersama Naomi tidak henti-hentinya dilirik oleh pejalan kaki dengan tatapan aneh. Naomi paham bahwa busana yang sedang mereka kenakan tidak cocok dengan budaya di sini, tapi walau sekarang Paul, Jeddy, dan Koko sedang berganti pakaian di toko baju, Naomi tidak berniat untuk ikut-ikutan mengganti pakaiannya bersama mereka, karena dia ingin budaya Sablo tetap dilestarikan, tidak peduli sedang berada di kota mana dia berdiri. Paul bersama Koko dan Jeddy sudah mengganti pakaian gamis dan serbannya menjadi pakaian santai, Naomi cukup terkesan karena penampilan mereka terlihat menarik.



"Kau yakin tidak ingin ganti pakaian? Kau tidak perlu membuka kerudungmu, kau hanya mengganti pakaianmu saja." Berkali-kali Paul menawakan itu pada Naomi, dan berkali-kali juga Naomi menolak tawaran Paul. Di balik sikap sopannya, gadis itu benar-benar keras kepala. "Terserah kau saja. Tapi aku tidak bertanggung jawab jika kau--"

__ADS_1



"Paul!" Omongan Paul terpotong oleh lengkingan Jeddy. Kini mereka sedang berjalan di trotoar untuk pulang ke kediaman Paul. "Kita harus cepat-cepat ke rumahmu!"



Terheran, Paul pun bertanya, "Memangnya ada apa sampai kita harus cepat-cepat ke rumahku, hah? Santai saja! Lagipula rumahku tidak akan kemana-mana, bodoh!"



"Bukan itu!" Jeddy langsung berseru pada Paul. "Ada sesuatu yang harus kulakukan di rumahmu! Dan itu cukup gawat! Dunia akan kiamat jika kita tidak cepat-cepat ke rumahmu! Bro!"



Paul, Naomi, dan Koko tersentak mendengarnya. "Kau kenapa... Jeddy?" tanya Koko dengan bingung.



"Dunia akan kiamat? Maksud Anda apa?" Naomi tampak tidak senang.



"Sebenarnya kau kenapa! Brengsek! Jelaskan pada kami sekarang!" Karena kesal, Paul membentak Jeddy.



"AKU TIDAK TAHAN LAGI BROOO!" Jeddy langsung lari terbirit-birit, meninggalkan Paul, Koko dan Naomi.


Menyaksikan kepergian Jeddy yang terburu-buru, akhirnya mereka bertiga mulai paham pada sesuatu yang melanda lelaki berambut hijau itu.



"Aku mengerti sekarang," Paul bersuara dengan nada yang pelan, matanya terus memandang punggung Jeddy yang sudah sangat jauh, dan dibalas anggukkan oleh Koko dan Naomi.



"Dia sedang diserang oleh panggilan alam."


__ADS_1



__ADS_2