Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 95 : Pengumuman


__ADS_3

Setelah membahas hotel telah usai, mereka semua pun mulai beranjak dari kursi untuk menengok ke kamar sebelah, yang sedang dihuni oleh Tante Elena dan Paul. Mereka bergegas ke ruangan itu disebabkan oleh ajakan Isabella yang penasaran dengan keadaan Paul yang tak kunjung keluar dari sana. Sementara Koko dan Jeddy yang tahu dengan kondisi Tante Elena, tidak sempat menceritakan itu pada teman-temannya. Mereka berdua sepertinya lebih suka teman-temannya mengetahuinya secara langsung. Namun, baru saja mereka semua sampai di depan pintu kamar, Paul ternyata sudah ada di sana, berdiri tegap di depan pintu dengan melipatkan tangannya, jangan lupa mukanya yang sengaja ditampilkan seseram mungkin, membuat semua muridnya enggan untuk mendekati pintu kamar tersebut.


"Mau apa kalian semua kemari?" tanya Paul dengan gaya seperti seekor anjing galak yang menjaga majikannya.


"Oh? Paul ternyata sudah keluar dari ruangan itu, syukurlah," kata Isabella saat matanya melihat penampakan Paul yang tengah berdiri di depan pintu kamar. "Tapi sepertinya ada sesuatu di dalam sana? Bolehkah kami memeriksanya?" tanya Isabella dengan mengedipkan sebelah matanya pada Paul.


"Tidak boleh!" sergah Paul dengan mata yang menindas. "Di dalam ruangan ini! Ada Ibuku yang sedang tidur! Kalau kalian masuk! Ibuku akan terganggu! Apalagi dia juga sedang demam saat ini! Jadi kembalilah ke tempat kalian sebelumnya! Cepat!"


"Tante Elena sedang sakit?" Nico tersentak mendengarnya. "Kalau memang begitu, izinkan aku masuk! Tidak perlu membawa mereka, hanya aku saja, jadi izinkan aku masuk, Paul!"


"Tidak, kau juga kularang masuk!" Paul memelototi Nico dengan sadis. "Siapa pun itu, termasuk kau, tidak boleh masuk ke dalam kamar Ibuku! Karena Ibuku sedang tidur! Dari pada itu! Lebih baik kita bergegas ke pusat kota untuk menyewa hotel! Aku sudah mendapatkan izin dari Ibuku! Jadi kita bisa tinggal di sana bersama-sama!"


"Bagaimana dengan Colin? Kau belum memberitahunya, kan?" tanya Nico dengan tampang yang terlihat resah kalau menyangkut dengan Colin.


"Aku punya nomor teleponnya! Jadi aku akan memberitahukan dia tentang lokasi hotel yang akan kita sewa! Kau tenang saja, Brengsek!"

__ADS_1


Ini sudah memasuki malam hari, tepatnya pukul delapan. Paul dan yang lainnya, sudah sepakat untuk pindah ke hotel bersama-sama. Mereka semua yang tinggal di rumah Paul, saat ini sedang menyiapkan diri untuk pindah, ada yang membereskan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam koper seperti Naomi, ada juga yang malah duduk santai sambil mengobrol seperti Jeddy dan Abbas, dan ada juga yang pergi keluar untuk meminta izin pada Olivia, seperti Cherry. Mereka semua tampak sibuk dengan kesibukannya masing-masing dalam mempersiapkan raga dan kondisi untuk tinggal di sebuah hotel.


Setelah semuanya beres, mereka semua berkumpul di depan rumahnya Paul, untuk mendengarkan beberapa hal yang akan disampaikan oleh sang mentor kepada murid-muridnya.


"Roswel barusan menghubungiku, saat kalian sedang sibuk. Dan dia bilang, pahlawan berikutnya, yang merupakan pahlawan kesembilan, adalah seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang tinggal di Kota Barasta!" kata Paul dengan raut muka yang serius. "Dan sebelum kita benar-benar pindah, aku sebagai perwakilan dari pemilik rumah ini, mengucapkan terima kasih dan maaf sebesar-besarnya! Itu saja! Jangan mengharapkan kata-kata mengharukan dari mulutku! Itu percuma! Kalau begitu! Ayo kita berangkat!"


Dan mereka pun berangkat bersama-sama, dengan menyewa beberapa taksi online yang telah dipesan oleh Paul. Akhirnya, setelah mobil-mobil taksi pesanan Paul telah datang, mereka semua masuk secara berurutan dan duduk di mobil taksi yang berbeda-beda, untuk meluncur ke sebuah hotel yang akan dijadikan tempat tinggal baru mereka. Dan tampaknya Paul hanya memesan dua mobil saja, mobil pertama terisi oleh Cherry, Naomi, Koko, dan Abbas. Sementara mobil kedua terisi oleh Paul, Isabella, Jeddy, dan Nico.


"Ngomong-ngomong, siapa itu Roswel? Sepertinya kau belum menjelaskan tentang orang itu padaku." tanya Isabella--saat mobil yang ditumpanginya bergerak--dengan menyenggol ************ Paul menggunakan paha mulusnya, membuat sang mentor sedikit jengah dengan perlakuan tersebut.


"Hahahahahaha!" Jeddy terbahak-bahak menyaksikan Paul yang dijahili oleh Isabella. "Aku tidak menyangka Isabella seagresif itu pada laki-laki! Itu benar-benar membuat 'anu'ku jadi berdiri! Hahahaha!"


Sontak, mendengar omongan Jeddy membuat Paul menatap horor ke wajah Jeddy. "Jangan katakan hal menjijikan seperti itu di depanku! Brengsek! Aku tidak mau mendengarnya dari orang sepertimu!"


"Tapi itu tidak apa-apa, kan?" Isabella menjilat bibirnya dengan seksi. "Lebih besar ukurannya, itu lebih bagus. Aku suka, kok. Tenang saja, Jeddy." kata Isabella dengan nada yang terkesan menggoda gairah dan hasrat para lelaki, terbukti dengan ************ Jeddy yang semakin menegang saat mendengar suara Isabella yang sengaja didesah-desahkan.

__ADS_1


"Ini gawat, Bro!" Jeddy tampak cemas. "Jika terus-terusan seperti ini, aku bisa mati dengan 'anu'ku yang masih berdiri! Hahahaha!" Dan kecemasan Jeddy langsung sirna dengan suara tawanya yang menggelegar bak halilintar.


Nico, yang duduk di kursi paling belakang sendirian, hanya menatap ke samping jendela, memandang pemandangan Kota Swart pada malam hari, dengan telinga yang memakai earphone--untuk mendengarkan berbagai musik kesukaannya yang diputar melalui ponsel miliknya--agar tidak mendengar percakapan aneh yang sedang dibicarakan oleh Paul, Isabella, dan Jeddy yang duduk di depannya. Entahlah, sepertinya Nico berinisiatif untuk tidak bergabung bersama mereka karena keberadaan makhluk merah itu, yang selalu membahas hal-hal berbau porno, sangat menjijikan.


Hanya memakan waktu dua puluh menit hingga mobil taksi yang mereka tumpangi sampai di depan sebuah hotel yang Isabella katakan pada mereka. Setelah mereka semua turun dari mobil taksi masing-masing, mereka disuguhkan dengan pemandangan gedung berlantai tinggi yang bersinar-sinar, berdiri kokoh di depan mereka, seperti menyambut kedatangan Paul dan murid-muridnya.


"Woaaaaaaah! Besar sekali! Bukan hanya hotel ini! Gedung-gedung di sebelah pun tak kalah besar! Bangunan-bangunan di Kota Swart benar-benar megah sekali, ya! Cherry sampai terkagum-kagum, loh! Hihihihi!"


"Inilah rumah baru kita untuk sementara!" Isabella berseru pada mereka semua, dengan menopang tangan kanannya di pinggul seksinya. "Tenang saja, aku sudah bermusyawarah dengan pihak hotel di media sosial, dan mereka menerima kita dengan senang hati! Itu artinya, aku sudah resmi menyewa hotel ini untuk beberapa bulan ke depan! Kalian semua akan tidur di kamar yang berbeda-beda! Satu orang satu kamar! Kalau begitu, mari ikuti aku." Isabella langsung masuk ke dalam gedung hotel, sembari menuntun teman-temannya.


Setelah mereka naik ke lantai atas melalui lift, mereka pun berjalan di lorong tempat kamar mereka berada. Isabella, perlahan-lahan mengantarkan satu-persatu teman-temannya ke dalam ruang kamar masing-masing. Setelah semuanya mengenal kamarnya masing-masing, mereka kembali dikumpulkan oleh Paul di ruangan besar khusus para penghuni hotel saling bercengkerama, yang dilengkapi dengan berbagai sofa lembut, televisi besar, beraneka makanan dan minuman yang tersedia di tiga lemari es dan alat-alat lainnya yang tak kalah menyenangkan.


Namun, mereka dikumpulkan bukan untuk sekedar bersenang-senang, Paul mengumpulkan mereka ingin mengumumkan sesuatu yang cukup penting. Mereka diperintahkan oleh Paul untuk duduk di sofa, sementara dirinya berdiri tegak menghadap murid-muridnya, layaknya seorang guru yang hendak mengajar.


"Jadi, ada apa, Paul?" tanya Isabella dengan mengunyah keripik kentang dari toples yang tersedia di meja. "Padahal tadi aku sudah telanjang bulat untuk bergegas mandi, tapi kau mengetuk-ngetuk pintu kamarku dengan kencang. Ya ampun, mengagetkan saja, ya?"

__ADS_1


Paul mengabaikan perkataan Isabella dan mulai fokus pada apa yang akan diumumkannya. Pelan-pelan dia menarik napasnya, dan dihembuskan secara perlahan. Akhirnya Paul siap untuk mengumumkan itu pada murid-muridnya.


__ADS_2