
Saat Paul membuka kelopak matanya, ia melihat atap besi warna putih yang terpampang jelas memenuhi objek pandangnya, ia mendengar suara bising seperti putaran gasing yang terus menderu-deru dengan kencang, ia merasakan sesuatu yang lembut yang menjadi alas tempat tidurnya, lalu ia juga menghirup aroma harum yang tercium di ruangan ini, seperti wangi parfum khas wanita. Dan setelah mengerjap-erjapkan matanya, Paul mencoba membangunkan tubuhnya untuk terduduk, ia sisir helaian-helaian hitam yang menutupi matanya menggunakan jemarinya untuk melihat suasana ruangan yang ditempatinya. Pada saat itulah, Paul terbelalak.
Tersentak, Paul tidak menyangka kalau pemandangan yang kini ditempatinya adalah beberapa kursi yang diduduki oleh orang-orang dan jendela besar yang menampilkan pemandangan daratan yang begitu kecil dan jauh, disertai awan-awan putih yang melintas-lintas di jendela di tiap sisi ruangan. Yang artinya, Paul saat ini sedang berada di ketinggian beratus-ratus meter dari tanah. Dan ruangan yang Paul tempati bukanlah kamar tidur atau semacamnya, melainkan kabin di dalam sebuah helikopter mewah. Suara bising seperti gasing yang terus berputar-putar pun adalah baling-baling besi yang terdapat di bagian kepala helikopter.
Untuk orang-orang yang sedang duduk di kursi-kursi di depan Paul, adalah perempuan berambut merah, perempuan berkerudung hitam, perempuan mungil berambut merah muda, dan pria tambun yang mengendalikan helikopter ini. Lalu, untuk wangi harum itu, Paul yakin berasal dari aroma salah satu dari tiga perempuan yang sedang duduk memunggunginya. Tampaknya, semua orang yang ada di dalam helikopter ini belum sadar pada Paul yang sudah terbangun dari pingsannya.
Dari penampilannya saja, Paul yakin sekali kalau perempuan-perempuan itu adalah Cherry, Naomi, dan Isabella, sedangkan untuk pria tambun itu, Paul sama sekali tidak mengenalnya, mungkin itu hanya sosok yang tidak begitu penting. Kemudian, Paul mencoba berdehem sambil berkata, "Mengapa aku berada di dalam helikopter?"
Sontak, mendengar suara Paul, tiga perempuan yang sebelumnya sedang termenung dalam diam, menolehkan kepalanya masing-masing ke belakang, untuk melihat orang yang barusan bersuara, bahkan sang pilot pun--si pria tambun--sedikit mengerlingkan bola matanya ke belakang. Dan akhirnya, mereka semua terkejut pada Paul yang telah sadar dan terbangun dari pingsannya.
"Syukurlah!" Naomi tersenyum senang melihat Paul yang sudah bangun. "Saya kira Anda akan bangun beberapa jam lagi, syukurlah!"
"Pauuuuul!" Cherry langsung melompat dari kursinya dan memeluk badan Paul dengan erat. "Cherry kira, Paul mati! Cherry sampai ketakutan dari tadi, tahu! Paul jahat! Gara-gara Paul, Cherry jadi tidak bisa tenang! Tapi," muka Cherry kembali cerah seperti biasanya. "AKHIRNYA! Paul bangun! Cherry bahagia sekali melihat mata Paul kembali terbuka! Cherry rindu sekali pada Paul! Hihihihihi!"
"Jangan memelukku seenaknya, Brengsek!" Paul mendorong tubuh Cherry yang memeluk dirinya dengan kasar, membuat gadis mungil itu terjelimpang dari posisinya. Lalu, pandangan Paul terfokus pada Isabella yang sedang senyam-senyum dari kursinya sambil mata memandangi muka Paul. "Dan kau! Daripada kau cengengesan begitu! Lebih baik kau beritahu aku mengapa kita berada di dalam helikopter! Apa yang terjadi!?"
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Isabella menyibakkan helaian merahnya yang berjatuhan ke leher, dan dengan suara yang mendesah, ia menjawab, "Kau penasaran?" Isabella terkikik sejenak. "Baiklah, aku akan menjawabnya. Ini adalah helikopter pribadiku, yang biasa aku gunakan untuk pergi ke tempat para pelangganku. Lalu, kau bertanya tentang apa yang terjadi? Sejujurnya, penyebab kita semua berada di sini, adalah dirimu. Karena kau pingsan sebegitu mudahnya, hanya karena di'naiki' olehku, membuatku terpaksa memanggil helikopter pribadiku untuk membawamu ke rumah sakit, tapi lihatlah? Kau malah bangun lebih awal dari dugaanku, dan karena itulah, tujuan kita di sini sudah bukan lagi menuju rumah sakit," Isabella sedikit menengok ke sang pilot. "Bawa kami ke tempat 'itu'."
__ADS_1
"Baik!" jawab sang pilot dengan semangat.
Isabella kembali menatap mata Paul lekat-lekat. "Kira-kira, kemana, ya? Tujuan kita sekarang? Apa kau bisa menebaknya?"
Paul mendecih mendengarnya, ia benci sekali dengan permainan tebak-tebakkan, karena ia selalu kalah jika memainkannya. Tapi, kali ini Paul sedikit percaya diri dengan jawabannya, dan saat ia akan membalas tebakan dari Isabella, Cherry langsung memekik duluan, membuat Paul terbungkam dalam seketika.
"Ah! Cherry tahu! Cherry tahu!" kata Cherry sambil melompat-lompat di depan Paul, setelah beranjak bangun dari posisi jatuhnya. "Pasti kita akan pergi ke tempat disko, kan!?"
Isabella menggeleng. "Salah."
"Ke club-club dewasa!?" Cherry kembali menebaknya.
"Atau ke pub-pub malam!?"
Isabella menghela napasnya. "Cherry, sedari tadi jawabanmu sama persis, di mana perbedaannya?"
Cherry langsung cengengesan dengan menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Hihihi! Habisnya pikiran Cherry tidak jauh-jauh dari tempat itu! Soalnya yang Cherry pikirkan saat melihat Isabella hanyalah tempat-tempat seperti itu, sih! Hihihihi!"
__ADS_1
"Yang ini, jawabanmu benar!" kata Isabella dengan menepuk tangannya heboh. "Setiap malam aku memang selalu pergi ke tempat-tempat seperti itu, tapi bukan untuk mencari pelanggan, ya? Tujuanku datang ke sana hanya untuk menghibur diriku sendiri. Aku suka sekali berada di tempat-tempat berisik seperti itu, rasanya sangat menenangkan," Kemudian Isabella mendelik ke arah Paul. "Lalu, bagaimana denganmu? Bisakah kau menebaknya? Kemana tujuan kita selanjutnya? Aku penasaran pada jawabanmu, Paul."
Awalnya Paul hanya terdiam, malas menjawabnya, tapi karena semua perhatian terus-terusan tertuju ke arahnya, akhirnya ia menyerah. "Mudah!" Paul menatap mata Isabella dengan ganas. "Pasti kita akan mendarat ke kediaman Gina Orcadelia, kan!? Aku yakin sekali!"
Isabella tersenyum tipis mendengarnya. "Benar," timpal Isabella dengan menepuk tangannya sejenak. "Kau lumayan juga, Paul."
"Tentu saja! Aku sangat pandai dalam permainan tebak-tebakan! Bagiku, tebak-tebakan adalah hal yang paling mudah di dunia ini!" ungkap Paul dengan dipenuhi kebohongan.
"Benarkah?" Naomi mengernyitkan alisnya, terheran-heran dengan kesombongan Paul yang semakin menjadi-jadi. "Saya tidak yakin dengan perkataan Anda."
"Harus yakin!" Paul melototkan matanya pada Naomi. "Kalau kau tidak yakin pada mentormu sendiri! Lalu kau mau yakin pada siapa!?"
Naomi hanya mengedikkan bahu mendengar pertanyaan aneh itu, baginya itu bukan sesuatu yang perlu dijawab, karena hanya akan memimbulkan pertengkaran yang percuma. Naomi lebih penasaran pada kata-kata Isabella perihal tujuan mereka di dalam helikopter.
"Jadi, kita akan pergi ke kediaman muncikari Anda?" tanya Naomi dengan muka serius pada Isabella. "Memangnya untuk apa kita ke sana?"
Isabella langsung meremas payudara kanan Naomi sembari menggodanya dengan kata-kata, "Untuk apa, ya?" Isabella memeletkan lidahnya. "Kira-kira, untuk apa, ya? Kita ke sana? Apa kau bisa menebaknya, Naomi?"
__ADS_1
Merasa dilecehkan untuk kedua kalinya, Naomi langsung mencengkram pergelangan tangan Isabella yang sedang meremas payudaranya, lalu membantingnya ke punggung kursi, membuat badan Isabella sedikit terhuyung ke kanan karena bantingan tersebut. "Anda pikir saya akan diam saja dilecehkan begitu oleh Anda? Jangan pikir hanya karena kita sama-sama perempuan! Anda bisa seenaknya melakukan hal yang tidak senonoh pada saya! Saya tidak akan membiarkan siapa pun menodai tubuh suci saya! Entah itu laki-laki! Atau pun perempuan!"
"Dilecehkan? Tubuh suci? Laki-laki dan perempuan?" Isabella tertawa terbahak-bahak mendengar itu semua. "Kau ini lucu sekali, ya?"