
Nico mendongak memandang langit yang biru, padang rumput yang luas, gedung-gedung yang tinggi, dan jalanan yang berisik, dari jendela bus. Nico sadar kalau saat ini, dia sudah tidak lagi berada di wilayah Kota Vineas, karena di tempat ini, tidak ada salju sedikit pun yang turun. Di sini sangat terang dan hangat, tidak seperti di Vineas, yang gelap dan dingin. Udara di sini benar-benar hangat, suara-suara burung yang bersiul-siul di pepohonan pun membuat suasana Kota Swart jadi semakin menenangkan. Tapi, sayangnya, kota ini terlalu banyak penduduk, karena saat Nico turun dari bus, matanya bisa melihat banyak sekali orang yang berdesak-desakkan di trotoar jalan, padahal ini sudah sore.
"Selamat datang di Swart, Bro!" Jeddy merangkul leher Nico dengan akrab, napas lelaki itu menderu di telinganya. "Kau pasti belum tahu namaku, kan? Aku Jeddy! Dan kau Nico! Hehehe! Jangan kaku begitu, aku ini orangnya tidak semenyeramkan Paul! Jadi kau tidak perlu khawatir, Bro!"
"Lepaskan," kata Nico dengan intonasi yang sangat dingin, dan dia menatap muka Jeddy dengan tatapan yang menusuk. "Kubilang lepaskan tangan kotormu dari leherku, berandalan."
Jeddy terkejut, lalu ia buru-buru melepaskan rangkulan lengan kanannya pada leher Nico. "Ternyata kau masih belum menganggapku sebagai kawan, ya, Bro!?" Jeddy merengut kecewa. "Padahal kukira kita akan menjadi duo yang menarik! Hahaha!"
"Berisik! Bodoh!" Paul bersuara sembari melototi Jeddy, dengan nada yang menyeramkan. "Daripada terus-terusan berdiri di sini! Lebih baik angkat kaki sialanmu itu untuk berjalan! Bajingan!"
Mereka pun akhirnya mematuhi perintah Paul, melangkahkan kaki untuk meninggalkan halte tempat pendaratan mereka di Kota Swart, menuju ke kediaman Paul. Di tengah perjalanan, mereka berlima berbincang hangat, membahas segala hal yang sepele, sampai akhirnya, saat mereka sedang tertawa, Nico tiba-tiba bertanya dengan suara yang agak pelan,
"Aku masih penasaran. Sebenarnya pria yang bernama Roswel itu siapa? Dia tinggal di mana? Dan mengapa dia bisa melakukan sesuatu yang melawan hukum alam? Apa kalian tidak pernah memikirkannya? Ataukah kalian sudah mengetahui jawabannya?"
Alhasil, pertanyaan itu membuat Paul, Jeddy, Colin, dan Cherry terdiam, mereka pun mulai merenungkan hal tersebut. Karena selama ini, Paul dan kawan-kawannya tidak pernah mengenali sosok Roswel sepenuhnya, mereka hanya tahu bahwa pria pucat itu adalah orang sakti yang kebetulan selalu membantu mereka ketika situasi sedang genting. Sampai Nico bertanya begitu, mereka akhirnya sama-sama penasaran mengenai siapa sosok Roswel yang sebenarnya.
"Kau benar," timpal Colin dengan tenang. "Tapi, dari pada penasaran tentang siapa dia dan di mana tempat tinggalnya, aku lebih penasaran pada kekuatan saktinya. Tadi saja, dia bisa memunculkan asap hitam yang membuat seluruh tubuhnya jadi menghilang, bukankah itu sangat aneh?"
"Cherry juga penasaran, sih!" Kini Cherry ikut bergabung. "Tapi Cherry tidak terlalu mempedulikannya! Karena Cherry lebih mengagumi penampilan Roswel yang menyerupai boneka daripada penasaran terhadap siapa dirinya! Kalian juga ingat, kan!? Wajahnya Roswel seperti boneka! Dan Cherry ingin sekali punya wajah seperti boneka! Hihihi!"
"Boneka, ya?" Nico terdiam. "Tapi, menurutku, dia tidak seperti boneka, dia lebih menyerupai sosok mayat hidup, karena kulitnya yang pucat membuat tubuhnya jadi seperti mayat, aku benar, kan?"
Mendengar perkataan Nico, membuat Jeddy tertawa mendengarnya. "Hahaha! Kau ini ada-ada saja! Jika Roswel adalah mayat, itu artinya dia sudah mati, kan!? Hahaha! Dan kenyataannya dia masih hidup, Bro!"
"Aku tadi bilang, kan?" Nico mendesis pada Jeddy dengan kesal. "Dia menyerupai sosok mayat hidup. Di sana, kau mendengar kata 'hidup', bukan? Apa telingamu itu tidak berfungsi? Benar-benar sampah."
Jeddy tercengang mendengarnya. "Oh! Benar juga! Kau tadi mengatakannya! Hahaha! Maaf-maaf Bro! Aku tidak menyadarinya!"
Karena jengkel mendengar pahlawan-pahlawan bimbingannya berisik di sampingnya, alhasil, Paul pun bersuara dengan bentakan yang luar biasa. "Kalian! Para Bajingan! Dengar ini!" Mereka langsung memandang muka Paul dengan antusias. "Saat kalian berisik mendiskusikan tentang siapa sosok Roswel! Aku yakin sekali! Orang itu pasti sedang memperhatikan kalian dari tempatnya dengan tertawa, melihat dirinya diperdebatkan oleh kalian! Dan itu membuatku jijik membayangkannya! Jadi, berhentilah membahas hal-hal tentang orang itu! Dia bisa melihat, merasakan, mencium, dan mendengar apa pun yang kalian katakan!"
"Bahkan dia juga mengintipku mandi! Hahaha! Yang Paul katakan memang benar, Bro!" kata Jeddy dengan menyikut lengan Nico. "Berhati-hatilah saat membahas orang itu, dia bisa mengetahui gerak-gerik kita! Hahaha!"
"Baiklah," jawab Nico dengan membetulkan kaca matanya yang mulai turun. "Jika memang begitu, mari kita bahas ke hal yang lain. Contohnya seperti, bagaimana kalau kita bahas mengapa Jeddy, yang kita tahu suka tertawa ini, ternyata sering menangis di kamar mandi dan di dalam tidurnya. Aku penasaran soal itu."
Tiba-tiba, tawa renyah Jeddy jadi terhenti, tergantikan dengan ekspresi gelisah dari lelaki berambut hijau itu, membuat berpasang-pasang mata memandanginya. Paul juga penasaran akan hal itu, karena dia sendiri pun pernah melihat Jeddy meneteskan air mata saat lelaki itu terlelap. Paul ingin tahu apa yang menyebabkan Jeddy jadi seperti itu, padahal orang itu paling hobi tertawa jika dibandingkan dengan yang lainnya.
"Ah! Benar juga! Cherry lebih penasaran pada hal itu!" Cherry pun melompat-lompat dengan mata yang berbinar-binar memandangi Jeddy. "Jeddy, ayo jawab pertanyaan Nico! Aku ingin tahu mengapa orang sepertimu yang senang sekali tertawa, bisa menangis!? Hihihi!"
__ADS_1
Jeddy menundukan kepalanya, membuat helaian hijaunya menggantung-gantung di kepalanya. "Itu bukan sesuatu yang harus kalian tahu, hehe!" kata Jeddy dengan nada yang sangat rendah. "Jadi aku mohon, jangan buat aku jadi terlihat menyedihkan, karena aku benci ketika--HAHAHA! Apa-apaan itu!? Mengapa kalian jadi terlihat serius begitu saat melihatku menundukkan kepala!? Bro!?" Tiba-tiba saja, Jeddy langsung mendongakkan kepala dan berseru-seru, membuat Paul, Colin, Cherry, dan Nico terkaget melihatnya, padahal mereka sedang mengheningkan suasana, untuk mendengar apa yang dikatakan si rambut hijau, tapi sayangnya, lelaki itu tidak serius.
"Brengsek!" Paul langsung menjitak kepala Jeddy. "Kau membuat waktu berhargaku terbuang sia-sia karena mendengar omongan sok sedihmu itu! Kukira kau serius! Bajingan!"
"Hahahah!" Jeddy terbahak-bahak. "Sudah-sudah! Jangan terlalu dipikirkan! Lagi pula, aku tidak semengkhawatirkan itu, Bro! Kalian lihat!? Aku masih bisa tertawa riang seperti biasanya, kan?! Jadi jangan khawatir, oke! Bro!"
Colin mengepalkan tangannya lalu berteriak pada Jeddy, "Kami pasti akan selalu khawatir! Bodoh!" ucap Colin dengan napas terengah-engah. "Ketika mendengar temanmu menangis diam-diam di suatu tempat, siapa pun pasti akan khawatir! Apalagi yang menangis adalah sosok yang selalu tertawa riang sepertimu! Itu jelas-jelas membuat kekhawatiran kami bertambah!"
Jeddy terbelalak mendengarnya. "Oi-Oi-Oi, Bro! Jangan teriak-teriak begitu, orang-orang jadi memandangi kita." Beberapa orang yang berjalan di dekat mereka terkejut saat Colin berteriak-teriak pada Jeddy.
"Masa bodoh dengan orang-orang!" balas Colin dengan penekanan intonasi yang sangat kuat. Kemudian, kedua mata Colin dipicingkan ke arah Jeddy dengan tajam. "Pokoknya, kau harus cerita pada kami!"
"Colin," kata Paul dengan tatapan yang dingin pada Colin. "Jangan paksa Jeddy untuk menceritakan masalahnya, itu hanya akan membuatnya jadi semakin tertekan. Daripada kau melakukan hal itu, lebih baik kau hibur dia agar tidak merasa sedih lagi."
Colin mengangguk patuh mendengarnya, sedangkan Jeddy sumringah. "Woahaha! Terima kasih, Bro!" Jeddy sampai menepuk-nepuk punggung Paul saking senangnya. "Terima kasih atas pengertiannya! Bro!" Pandangan Jeddy beralih ke Colin, Cherry, dan Nico. "Terima kasih juga untuk kalian! Karena telah mengkhawatirkanku! Itu artinya kalian memang peduli padaku! Hehehe!"
Cherry cemberut, Nico mendengus, dan Colin menghembuskan napasnya. Mereka bertiga tampaknya kecewa karena tidak bisa mendengar curhatan Jeddy, membuat lelaki hijau itu malah menertawakan ekspresi mereka.
"Selain itu, aku juga penasaran," lanjut Nico dengan senyuman tipisnya pada Paul. "Mengapa kau mau menjadi seorang mentor? Bukankah itu terdengar sangat merepotkan? Apalagi orang sepertimu biasanya benci pada hal-hal yang menyusahkan, bukan? Jadi, katakan padaku, mengapa kau tertarik untuk menjadi seorang mentor?"
"Tentu saja, terima kasih atas jawabannya!" balas Nico dengan mendecih kesal, karena pertanyaannya malah dijawab dengan jawaban yang sangat singkat dan tidak menyenangkan. Kemudian, bola mata Nico bergeser ke arah Cherry. "Bagaimana denganmu?" kata Nico dengan tersenyum tipis pada Cherry. "Kurasa kau tadi tiba-tiba menangis saat aku menjelaskan kondisi keluargaku, sebenarnya ada apa pada dirimu? Apakah kau punya masa lalu yang sama sepertiku? Maksudku, apa kau juga seorang anak buangan? Jika iya, bisakah kau ceritakan lebih jelas padaku? Mungkin saja aku bisa membantu, karena kita punya masalah yang sama."
"Hihihihi!" Cherry terkikik mendengarnya, kemudian dia menatap muka Nico dengan mata yang melebar. "Daripada menceritakan masa lalu yang buruk, lebih baik kita bahas masa depan yang indah sebagai seorang pahlawan bersama Jeddy dan Colin, dengan bimbingan mentor kita juga, yaitu Paul! Hihihi!"
Lagi-lagi Nico mendecih, dia mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan dari Cherry, padahal dia ingin menelisik lebih dalam tentang masa lalu gadis itu. Tapi apa boleh buat, sepertinya Cherry bukan gadis yang bodoh. Alhasil, Nico terdiam, tidak menanyakan hal apa pun lagi, membuat Colin merasa tidak dihargai.
"Hey! Nico!" kata Colin dengan kesal. "Mengapa hanya aku yang tidak kau tanyakan!? Padahal Roswel, Jeddy, Paul, dan Cherry sudah kau tanyakan! Lalu kenapa hanya aku saja yang tidak!?"
Nico menoleh pada Colin, lalu ia menjawab dengan senyuman ramah. "Itu tidak mungkin," jawab Nico dengan suara yang lembut. "Karena aku bertanya pada orang-orang yang kuanggap sampah, sedangkan kau adalah orang yang kuanggap manusia, jadi aku tidak mungkin menanyaimu. Jika kau ingin tahu, alasan aku bertanya pada mereka, karena aku ingin tahu kehidupan dari sampah-sampah menjijikan seperti mereka. Hehehe!" Bahkan Nico menunjukkan tawanya pada Colin, membuat Paul, Jeddy, dan Cherry merasa diperlakukan tidak adil.
"Be-Begitu, ya?" Colin menganggukkan kepalanya. "Tapi! Meski begitu! Setidaknya kau beri aku satu pertanyaan! Agar aku tidak merasa diabaikan! Ayolah! Kumohon!?"
Nico mulai memikirkan apa yang harus dia tanyakan pada Colin, dan akhirnya dia mendapatkannya. "Bagaimana kalau ini," ucap Nico bersiap-siap memberikan pertanyaan pada Colin. "Kenapa kau sangat keren jika dibandingkan teman-temanmu yang sampah itu? Namamu, Colin, kan? Jadi jawablah, Hehe! Tapi tenang saja, kau tidak perlu terburu-buru saat menjawabnya, karena untuk seseorang yang hebat sepertimu, aku rela menunggu berjam-jam! Hehe!"
Mendengar omongan Nico yang terkesan memanjakkan Colin, membuat Paul merasa jengkel. "Jangan terlalu lembut pada Colin! Brengsek! Perlakukan dia sama seperti kau memperlakukan kami!"
__ADS_1
Bola mata Nico bergeser dengan dingin pada wajah Paul. "Kau tadi bilang apa?" tanya Nico dengan senyuman miring. "Aku tidak boleh bersikap lembut pada Colin? Aku harus memperlakukan dia sama seperti aku memperlakukan kalian? Dasar rendahan," Nico memasang muka jijik pada Paul. "Kau pikir kau siapa di sini? Hah? Lagi pula, Colin memang berbeda dengan kalian, dia terlihat lebih bercahaya jika dibandingkan dengan kalian."
Saat Paul akan membalas kata-kata pedas Nico, Jeddy langsung membekap mulutnya dan berkata, "Sudah-sudah Bro! Jangan dibalas! Bukankah kau sudah berbaikan dengannya!? Ayolah! Jangan diambil hati! Bro! Sifatnya memang seperti itu! Bro!" Ketika emosi Paul sudah membaik, Jeddy melepaskan bekapan itu.
"Terserah." ucap Paul dengan membuang muka pada mereka semua. "Aku tidak peduli, pokoknya aku sebagai mentor kalian, punya tanggung jawab untuk mendidik dan membimbing kalian menjadi pahlawan sejati! Itu saja!"
Cherry terkikik mendengarnya, "Hihihihi! Mentor kita memang hebat! Cherry sukaaaaaa! Hihihi!"
"Emmm... bolehkah aku jawab pertanyaan Nico?" Colin bersuara dengan canggung, karena suasana masih terasa panas. Mendengar suara Colin, Nico langsung menjawab dengan ramah.
"Silakan, aku dengan senang hati akan mendengarnya."
"Te-Terima kasih," ucap Colin dengan gugup. "Tadi kau bertanya mengapa aku terlihat sangat keren jika dibandingkan dengan teman-temanku, ya? Hmm... maafkan aku, tapi aku malah lebih merasa, aku sangat payah jika dibandingkan dengan mereka. Mungkin, jika kau sudah tahu seberapa payah diriku ini, kau juga pasti akan jijik padaku."
"Payah?" ulang Nico dengan mengernyitkan alisnya. "Aku tidak melihat kepayahan sedikit pun di dalam dirimu. Bahkan, ketika kau ketakutan pun, kau terlihat sangat keren. Dan aku jujur mengatakannya, Colin."
Colin terharu mendengarnya, dia seperti berada di dalam mimpi yang indah, karena baru kali ini ada orang yang menganggapnya sebagai sosok yang keren, bahkan ketika dia sedang ketakutan. Itu benar-benar membuat Colin bahagia. "Terima kasih banyak! Nico!"
Nico menganggukkan kepalanya dengan senyuman hangat. "Sama-sama. Aku akan selalu menghormatimu, karena kau adalah sosok yang pernah mengalahkanku dalam berkata-kata. Aku mengagumimu. Hehe!"
Menyaksikan hal itu, membuat Paul merinding jijik, Jeddy tertawa sambil memegangi perutnya, dan Cherry tersenyum manis.
Dan secara tidak sadar, saat mereka hampir sampai ke depan gerbang rumah Paul. Mereka terkejut, karena di depan rumah Paul ada banyak sekali wartawan yang berkerumun. Membuat Colin bergidik dan langsung berkata, "Lari! Lari! Itu adalah orang-orang yang meminta penjelasan dari video viral tempo hari saat aku bersama Paul terkena hujan batu!"
"Hm? Hujan batu? Apa maksudnya itu?" Nico mengangkat bahunya, tidak mengerti.
"Kau mau lari kemana!? Bodoh! Kalau sudah begini! Tidak ada cara lain selain menghadapinya!" bentak Paul pada Colin membuat lelaki rambut biru itu terdiam. "Kita harus mengusir mereka dari rumahku!"
"Tapi! Paul! Mereka akan menyiarkannya ke televisi! Kita bisa--" Tangan Colin langsung diseret oleh Paul, menuju kerumunan wartawan yang berkumpul di depan gerbang. Cherry, Nico, dan Jeddy mengekori mereka dari belakang.
Saat Paul bersama Colin muncul, semua wartawan langsung heboh.
"Mereka datang!"
"Akhirnya!"
__ADS_1
"Nyalakan kameranya! Cepat!"