Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 91 : Anak-Anak yang Baik


__ADS_3

"Nico!"


Menyaksikan kemunculan seorang lelaki berambut putih yang berdiri tegak di ambang pintu ruang tamu, membuat semua orang yang ada di sana terkaget bahkan beberapa orang ada yang refleks memanggil nama lelaki berkaca mata tersebut. Nico, yang masih berdiri tegap di mulut pintu, menggeserkan bola matanya ke warna yang mencolok di ruangan ini. Warna dari rambut seseorang yang terlihat sangat terang dan menonjol dari warna rambut lain. Setelah memperhatikannya dengan teliti, Nico agak tersentak.


Ternyata warna yang sedang ia amati adalah milik seorang perempuan berwajah cantik--sangat cantik--yang sedang duduk menyilangkan dua kakinya di sofa, bahkan perempuan itu memakai pakaian yang terlalu erotis--gaun pendek yang memperlihatkan belahan payudara besar yang saling berdempetan serta memamerkan paha-paha mulusnya--dengan santai.


Warna yang Nico lihat dari perempuan seksi itu adalah merah. Warna yang sangat menyala dibanding warna-warna lain, dan tampaknya, perempuan berwajah sarkastis itu mengenakan pakaian, sepatu, dan aksesoris lainnya berwarna serupa dengan rambutnya, menerangi warna-warna lain yang hadir di ruangan itu. Nico, yang merupakan pemilik warna putih di sini, merasa terintimidasi dengan kehadiran warna merah. Dari pengamatannya, Nico bisa menilai bahwa perempuan itu terlihat seperti bukan orang yang gampang dicemooh atau ditusuk dengan kata-kata pedas, dan itu membuat Nico harus berhati-hati pada perempuan berwarna merah tersebut.


"Dari mana saja kau, Bro?" tanya Jeddy dengan menampilkan senyuman lebarnya, menghangatkan suasana hati Nico yang sedang sangat dingin. "Tapi terserah, sih! Itu, kan? Bukan urusan kami! Hahaaha! Yang lebih penting! Lihatlah, Bro!" Jeddy mengayunkan lengan kanannya ke arah Isabella, menunjukkan pada Nico kehadiran sosok baru di ruangan ini. "Ada gadis cantik di sini! Kau pasti terkejut, kan!? Itu pasti jelas! Hahahaha! Soalnya dari tadi kau melirik terus ke gadis ini! Hahaha! Sepertinya dia adalah pahlawan yang dibicarakan oleh Paul saat diskusi malam setelah pesta! Kau ingat, Bro!? Kalau tidak salah, namanya Isabella, kan!?"


"Tepat sekali," Isabella tersenyum senang mendengar namanya ditebak dengan benar oleh Jeddy. Ia memberikan tepuk tangan hangat pada Jeddy, kemudian ia pun menoleh ke sosok lelaki berambut putih yang masih berdiri dengan wajah angkuh di pintu. Isabella pun tersenyum nakal. "Oh, siapa ini? Nico? Namanya Nico? Nama yang bagus, cocok sekali dengan para lelaki berkaca mata. Aku suka. Mereka--para lelaki berkaca mata--punya daya tarik tersendiri dalam memikat para perempuan."


"Jangan bicara padaku," timpal Nico dengan raut wajah dingin dan tatapan yang memandang rendah Isabella. "Aku tidak suka berbicara dengan orang asing yang tidak memperkenalkan dirinya duluan padaku."

__ADS_1


"Oh?" Isabella tersentak dan senyuman simpul kembali tercipta di wajahnya. "Kukira kau tidak membutuhkan itu, karena namaku sudah disebutkan oleh Jeddy. Tapi baiklah, aku akan memperkenalkan diri padamu, mungkin kau ingin mengenal lebih dekat siapa perempuan asing yang ada di depanmu ini," Isabella menahan tawa sebelum melanjutkan ucapannya. "Nama lengkapku? Isabella Melvana. Tempat tinggalku? Kota Luna. Pekerjaanku?" Isabella berbisik. "Seorang *******," Lalu, suara Isabella kembali normal. "Hobiku? Sepertinya bagian ini terlalu vulgar untuk diungkapkan--"


"Katakan saja." sela Nico, memotong perkataan Isabella.


Mendengar itu, senyuman tipis di bibir merah Isabella semakin lebar. "Baiklah, sesuai apa yang kau inginkan," Isabella pun menjilat bibirnya sendiri dengan penuh nafsu disertai ekspresi yang tampak seperti orang yang sedang bergairah. "Mengulum lolipop dan memasukan lolipop itu ke dalam 'mulut kedua'ku, adalah hobi terindahku, yang selalu kulakukan bersama para lelaki."


"Mengesankan. Hobi yang dipenuhi kebebasan dan kontradiksi." Nico pun melangkahkan kakinya, dan duduk di sofa yang sama dengan Abbas. "Jadi, kau adalah pahlawan baru yang ditemukan oleh Paul di Kota Luna?"


"Tidak, itu tidak mungkin," Nico menggelengkan kepala seraya menyunggingkan senyuman miring yang tampak jahat. "Aku tidak peduli mau seperti apa pahlawan yang Paul temukan di kota-kota lain, selama mereka tidak membuatku terusik, aku baik-baik saja."


"Terusik?" Isabella menyunggingkan senyuman mengejek. "Ya ampun, kau ini lucu sekali, ya?"


"Terima kasih, telah berhasil menemukan sisi yang jarang sekali orang lain temukan saat berinteraksi denganku. Aku merasa, mendengar orang lain menyebutku 'lucu', sedikit membuatku senang. Walau terkadang, orang-orang yang menyebutku dengan sebutan itu," Nico mendengus dengan senyuman dingin. "adalah orang-orang *****."

__ADS_1


Cherry, Abbas, Naomi, dan Jeddy, membisu di ruangan itu, mereka tampak serius menyaksikan peperangan dingin yang terjadi antara Isabella dan Nico. Mereka berempat tidak tahu harus melakukan apa agar pertikaian itu berakhir dengan damai, sebab dua orang yang sedang bertikai itu, terlihat punya kemampuan yang sama dalam berperang mulut. Mereka berdua setara. Rasanya seperti menonton dua ular yang saling mendesis.


"Oh? Sepertinya kau tersinggung dengan ucapanku, ya?" Isabella menatap mata Nico yang dihiasi kaca mata, lekat-lekat. "Padahal 'lucu' di sini bukan sesuatu yang buruk, loh? Aku menilai kalau kau ini menarik--ah, bukan--sangat menarik," Isabella tersenyum simpul dengan menyibakkan helaian merahnya yang sempat menutupi mata. "Karena biasanya, orang-orang berkaca mata, adalah manusia yang sangat peka terhadap segala hal. Jadi, saat kau bilang 'terusik', aku jadi berpikir ke arah situ."


"Atas dasar apa kau menilai orang-orang yang memakai kaca mata adalah manusia yang sangat peka terhadap segala hal?" Nico memicingkan matanya pada isabella. "Jangan bilang itu adalah hasil dari kerja otakmu--yang bahkan kita semua tidak tahu apa manfaat dari otak ******* rendahan sepertimu--tapi aku terkesan kau bisa berpikir ke arah yang tidak jelas begitu," Nico menyunggingkan senyuman tipis. "Setidaknya, otakmu masih bekerja. Tidak seperti orang yang sedang berdiri di belakang sofa yang kududuki." desis Nico, menyindir Jeddy yang tengah berdiri tegap di belakang sofa.


"Eh? Aku?" Jeddy menunjuk dirinya sendiri saat berpasang-pasang mata memandanginya. "Wow!" Jeddy tersenyum lebar dan memecahkan tawanya. "Hahaha! Kau ini bisa saja, Bro!" Jeddy menepuk pundak Nico dengan gelak tawa. "Jangan bilang begitu, dong! Bro! Aku jadi malu, nih! Hahahaha!"


Benar-benar lelaki yang bodoh, pikir Naomi saat melihat reaksi Jeddy yang sama sekali tidak marah pada sindiran Nico yang terdengar sangat menusuk. Kalau sindiran itu ditujukkan pada Naomi, mungkin ia akan melawan dengan sengit, tapi Jeddy? Naomi menggeleng-gelengkan kepala, ia merasa Jeddy punya sugesti positif yang terlalu kuat di dalam dirinya, sehingga mendengar kata-kata jahat pun, dianggap seperti candaan semata.


Ketika suasana jadi hening, dan telah menciptakkan ketegangan di ruang tamu, membuat Abbas berinisiatif untuk melerai pertengkaran tersebut. Lelaki berambut abu-abu itu beranjak dari kursi, berdiri gagah, dan mulai melirik ke wajah Isabella dan Nico secara bergantian, kemudian ia tersenyum.


"Jangan bertengkar," Abbas mengangkat dua tangannya dan ia daratkan tangan-tangan itu tepat ke puncak kepala Nico dan Isabella dengan sangat pelan. Menyaksikan itu, membuat orang-orang yang ada di sana terkejut, terutama Nico dan Isabella yang puncak kepalanya mendadak disentuh oleh Abbas. "Kalian adalah anak-anak yang baik." Sambil mengucapkan itu, Abbas mengusap-usap permukaan rambut Nico dan Isabella dengan sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2