Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 89 : Hubungan Darah


__ADS_3

Helikopter yang ditumpangi oleh Paul, Isabella, Cherry, dan Naomi, telah mendarat di lahan kosong yang dipenuhi dengan rumput ilalang. Mereka telah sampai di Kota Swart. Paul dan yang lainnya turun dari kendaraan itu dan sang mentor langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena helikopter sempat berputar-putar di udara dengan kecepatan yang sangat tinggi, membuat semua orang yang ada di sana hampir kehabisan napas.


Bahkan, Naomi sempoyongan saat turun dari helikopter, badannya tampak lemas dan mukanya sangat pucat. Cherry malah sebaliknya, dia segera melompat ke tanah dan menumpahkan semua yang ada di dalam perutnya ke permukaan tanah lewat mulutnya. Intinya, Cherry sedang muntah. Sedangkan Isabella, tengah berjalan santai dengan membawa dua buah plastik hitam, tanpa sedikit pun merasa lelah, pusing, atau pun mual. Mungkin hanya dia dan sang pilot, sebagai orang yang sudah terbiasa dengan kendaraan terbang. Itu mengesankan.


"Jadi," kata Isabella dengan tersenyum miring, memandang Paul, Naomi, dan Cherry yang sedang sibuk terkena mabuk kendaraan. "Hotel mana yang akan kita sewa? Hm? Setidaknya aku ingin tidur di hotel bintang lima."


"Jangan banyak permintaan!" bentak Paul setelah napasnya sudah kembali normal. "Kita harus menghemat uangmu untuk keperluan lain!"


"Keperluan lain?" Isabella mengernyitkan alis, tampak keheranan dengan ucapan Paul. "Keperluan apa yang kau maksud, Paul? Apa jangan-jangan, untuk keperluan seksualmu, ya?"


"DIAM!" Paul sangat jengkel kalau kata-kata seriusnya dianggap sebagai lelucon. Itu tidak lucu, sama sekali tidak lucu. "Daripada itu! Aku lebih memikirkan helikoptermu ini! Kita akan mengunjungi rumahku dahulu untuk berunding dengan murid-muridku yang lain untuk membahas masalah hotel! Dan helikoptermu akan kau tinggalkan di sini dengan pilotnya, begitu?"


"Ya ampun, kau ini ada-ada saja, Paul," Isabella menahan tawa mendengar ucapan Paul yang tidak masuk akal. "Tentu saja pilot pribadiku akan membawa helikopterku ke tempat khusus, tidak mungkin aku akan membawa-bawa kendaraan sebesar itu ke rumahmu, kan? Tidak mungkin juga aku meninggalkan helikopter kesayanganku di sini bersama pilotnya, kan? Aku tidak sekejam itu membiarkan seorang manusia berdiam diri di tempat seperti ini. Ingat, pilot juga manusia, loh?"


"Pokoknya," Naomi mulai bersuara dengan suara yang sangat lemas. "Saya ingin cepat-cepat pulang dan istirahat."

__ADS_1


"Cherry juga!" ucap Cherry sebelum rasa mual kembali muncul. "Hoeeeeek!" Dan muntah lagi.


Sementara itu, di kedai, Colin sedang sibuk mencuci piring bersama pelayan-pelayan lain di ruang pencucian. Di sana, Colin didongengkan curhat panjang lebar dari pelayan wanita tua yang terus membicarakan tentang kehidupan rumah tangganya yang semakin berantakan. Sebagai respon, Colin hanya mengangguk-angguk dan tersenyum, sambil tangannya terus mencuci beberapa piring, gelas, dan alat-alat kotor lainnya.


"Jadi begitulah," kata wanita tua itu pada Colin dengan raut muka kusut, setelah curhat panjangnya usai dengan akhir yang mengenaskan. "Bagaimana dengan hidupmu, Colin? Ah, ya! Sepertinya hanya kau satu-satunya rekan kerjaku yang belum pernah menceritakan kisah hidupmu padaku. Tidak perlu cemas, apa pun masalahmu, aku akan mendengarkannya. Jadi ceritalah, Colin."


"Ya! Itu benar, Colin!"


"Kau tidak perlu malu-malu!"


Pelayan-pelayan yang lain, saling menyahut, mendorong Colin agar ia mau menceritakan kisah hidupnya yang tidak pernah diceritakan pada orang lain. Dengan kaget, Colin memekik, "Mengapa kalian jadi memaksaku begitu, sih!?"


Colin tersenyum getir, dia tidak bisa menolak permintaan dari banyak orang begini, apalagi mereka semua ini adalah rekan-rekan kerjanya, yang tidak jauh berbeda seperti keluarganya sendiri. Alhasil, dengan memberanikan diri, Colin mencoba untuk menceritakan sedikit kisah hidupnya. Walau Colin bingung bagian mana yang harus diungkapkan dari kehidupannya. Karena baginya, hidupnya sama sekali tidak menarik dan membosankan.


"Kalian ini...," Colin menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, dengan sedikit tertawa. Kemudian, raut wajah Colin jadi lebih serius dari biasanya, dan ada nuansa sendu di ekspresinya. "Saat ini, aku tinggal sendirian di apartemen murah. Semenjak lulus SMA, aku sudah diperintah oleh keluargaku untuk mencari pekerjaan dan tinggal sendirian. Entahlah, itu sudah menjadi semacam tradisi di keluargaku. Kakak-kakakku juga begitu, mereka setelah lulus SMA, diperintahkan untuk tinggal sendirian dan mencari pekerjaan. Tapi, kukira, itu hanya sekedar tradisi, dan aku bisa pulang ke rumah kapan pun aku mau. Tapi ternyata, ada yang berbeda."

__ADS_1


"Berbeda?"


"Apa yang membuatnya berbeda?"


"Apa jangan-jangan!"


"Ya," Colin tersenyum saat salah satu temannya mulai memprediksi kelanjutannya. "Ketika aku ingin pulang sebentar, ingin bertemu dengan keluarga karena tidak bisa menahan rindu, ternyata orang tuaku menolakku. Mereka mengatakan kalau aku tidak boleh pulang sebelum punya rumah mewah, kendaraan, dan harta yang berlimpah. Kalau aku sudah mempunyai itu semua, maka mereka akan menerimaku. Tapi, bukan itu yang membuatku sedih," kata Colin, mukanya jadi tambah murung dari sebelumnya. "Yang membuatku sedih adalah, saat melihat kakak-kakakku pulang dan keluargaku menerima mereka apa adanya, memeluk mereka, mengobrol dengan mereka, dan tertawa bersama mereka, walaupun kakak-kakakku belum punya sesuatu yang orang tuaku inginkan, seperti harta dan semacamnya, tapi mereka diperbolehkan bertemu dengan keluarga tanpa ada syarat tertentu yang harus dipenuhi. Itu membuatku," Air mata Colin langsung menetes-netes ke piring yang sedang dicuci. "... sakit."


Mendengar kisah hidup Colin, yang baru pertama kali mereka dengar, membuat pelayan-pelayan yang ada di tempat pencucian terdiam, mematung, terkaget dengan cerita itu. Ternyata Colin yang sudah mereka kenal selama dua tahun ini, punya kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Itu sangat mengejutkan. Karena sebelum ini, Colin tidak pernah menceritakan kehidupannya pada mereka, padahal semua pelayan yang bekerja di sini, telah menceritakan segala masalah hidupnya untuk dijadikan sebagai perbincangan hangat. Tapi Colin, mau dipaksa sebagaimana pun, dia selalu menolaknya dengan halus. Dan sekarang, entah ada angin apa, Colin jadi menurut dan mulai memberanikan diri untuk bercerita mengenai kisah hidupnya yang kelam dan menyakitkan.


"Bisa dibilang," salah seorang pelayan lelaki merespon dengan nada yang hati-hati. "Kau tidak dianggap oleh keluargamu sendiri, ya?"


Mendengar itu, Colin hanya tersenyum tipis, menahan tangisannya yang hendak keluar lagi. "Tidak boleh!" Colin langsung mengusap air matanya yang hampir menetes. "Aku tidak boleh terlihat begini! Ini gara-gara kalian! Menyebalkan sekali! Pokoknya kalian harus tanggung jawab! Traktir aku malam ini!"


Sontak, semua pelayan yang lain tertawa dan mengiyakan kemauan Colin. Sepertinya malam ini Colin akan berpesta bersama rekan kerjanya. Yah, setidaknya, Colin masih memiliki keluarga.

__ADS_1


Keluarga yang lebih hangat dan nyaman dari sekedar...


...hubungan darah.


__ADS_2