Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 123 : Biarkan Mereka Masuk


__ADS_3

“Masuk!” Polisi berbadan besar itu mendorong punggung Lizzie dan Rara untuk masuk ke dalam sel penjara dengan kasar. Lutut Rara nyaris terjatuh ke ubin, saat dirinya masuk ke ruangan jeruji besi tersebut. “Memprihatinkan sekali. Seharusnya gadis-gadis seumuran kalian menikmati masa muda dengan bermain dan belajar, bukan malah melakukan kejahatan kriminal hingga dikurung di tempat seperti ini! Aku bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana mendidik gadis-gadis berbahaya seperti kalian!” Polisi itu memicingkan matanya pada muka Lizzie dan Rara. “Ratapilah kesalahan kalian, semoga dengan ini, kalian bisa tersadarkan.”


Setelah mengatakan itu, polisi berbadan besar itu mengunci sel yang dihuni oleh Lizzie dan Rara, lalu melangkah pergi. Mereka berdua tampak merenung, memikirkan betapa sialnya hidup mereka. Lizzie tidak bisa menahan kemarahannya, ia menendang besi-besi yang mengurunginya tanpa henti, menimbulkan bunyi berisik yang memekakan telinga. Rara hanya terdiam, menyaksikan sahabatnya menggila di depannya. Tangan mereka sudah tak diborgol, meski itu percuma bagi Lizzie, karena lengan kanannya belum sembuh dan masih diikat.


Aroma busuk dan tempat yang kotor membuat Rara tidak nyaman berada di sini, ia ingin segera pulang ke rumah Lizzie. Rara tidak mau menghabiskan sisa hidupnya di tempat kumuh seperti ini. Lizzie mengertak gigi-giginya, jengkel dengan situasi ini. Seharusnya hanya dirinya yang dipenjara, Rara tidak perlu ikut membusuk di tempat ini. Kemarahan Lizzie ternyata lebih berpusat kepada kondisi Rara. Dia tidak mau melihat gadis sekecil Rara berada di sini, ia tidak ingin melihat sahabatnya tersiksa di penjara bersamanya.


“BAJINGAN!” Lizzie memaki kesal saat wajah-wajah keluarga Rara terlintas di ingatannya. Mereka semua adalah manusia-manusia busuk yang tidak pantas hidup di dunia ini. Tangan kirinya terkepal kuat-kuat, hingga kuku-kuku jarinya menusuk dalam ke telapak tangannya sendiri. Tetesan-tetesan darah dari telapak tangan yang tertusuk oleh kukunya menodai ubin di ruangan tersebut, Lizzie tidak merasa sakit sama sekali.


Mengetahui ada darah yang mengucur di tangan kiri sahabatnya, Rara segera mendekat dan berseru, “Hentikan! Lizzie! Kau bisa melukai tanganmu sendiri!” Rara berusaha melepaskan kepalan tangan kiri sahabatnya, agar tidak membuat tusukan kukunya semakin dalam. Tapi berapa kali mencoba, Rara tidak kuat melepaskannya. Tenaga Lizzie benar-benar gila. “Lizzie! Kumohon! Jangan membuatku semakin bersedih! Sudah cukup lengan kananmu patah! Jangan buat tangan kirimu juga ikut terluka! Apa kau tidak kasihan pada dirimu sendiri!?”


“Jangan dekati aku, Rara,” ujar Lizzie dengan suara yang rendah, pernapasannya mulai stabil. Sepertinya amarah yang sempat meledak, mulai mereda. “Aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku. Biarkan saja seperti ini, aku tidak peduli dengan tubuhku. Lagipula, aku kebal dengan rasa sakit. Jadi, menjauhlah sebentar.”


“Kau bohong! Kau bohong! Kau bohong!” Rara tampak tidak percaya pada omongan Lizzie, dia bisa tahu bahwa semua itu hanya kebohongan. Jangan remehkan ikatan persahabatan, Rara sudah menjalin hubungan dengan Lizzie dari dirinya masih berusia lima tahun, dan itulah mengapa ia bisa paham pada segala emosi yang terpendam di benak sahabatnya. Lizzie sekarang sedang kesakitan, Rara sangat yakin. Bukan hanya soal tangannya yang terluka, tapi juga hatinya. “Kau selalu begitu, apa pun yang kau rasakan, tidak pernah kau ungkapkan padaku. Kau hanya memamerkan kemarahanmu saja, tapi tidak dengan rasa sakitnya. Kau berlagak seperti manusia tangguh, tapi aku tahu kalau kau ini rapuh! Jadi berhentilah, kumohon! Jangan buat dirimu terluka lebih dalam lagi, Lizzie!”

__ADS_1


Amarahnya jadi sangat tenang, saat mendengar perkataan Rara. Perlahan-lahan, Lizzie melemaskan seluruh tubuhnya, termasuk melepas kepalan kuat di tangan kirinya. Gadis berambut oranye itu membiarkan dirinya jatuh terduduk di ubin, meratapi omongan sahabatnya mengenai dirinya sendiri. Sepertinya selama ini, dia memang payah. Payah dalam menyembunyikan emosi terpendamnya, sampai Rara bisa menyadarinya dengan jelas. Itu memalukan.


“Aku...,” Lizzie menghela napasnya, wajahnya jadi tampak lebih tenang. “...minta maaf.”


Senyuman kecil langsung terukir di bibir mungil Rara, ia senang karena Lizzie sudah mau memperlihatkan perasaan terdalamnya. Rara berjalan mendekat, lalu ia mencubit pipi Lizzie dengan keras. “Kau ini seperti anak kecil saja, dasar.” ungkap Rara sembari memperlihatkan gigi-giginya yang tidak teratur pada Lizzie.


Lizzie tersenyum dan memeluk erat tubuh Rara. “Anak kecil sepertimu tidak pantas mengguruiku, Rara!”


“Di sel mana kalian mengurung dua gadis itu! Tunjukkan padaku!” Tanpa menampilkan ketakutan sedikit pun, Paul berani membentak para polisi yang tengah berjaga di ruangan. Isabella dan Abbas berdiri di sampingnya, sementara mobil taksi online yang mengantarkan mereka kemari, telah pergi.


Tentu saja, mengetahui diri mereka tiba-tiba dibentak oleh seorang lelaki yang masih sangat muda, membuat masing-masing dari mereka, merasa terhina. Para polisi itu menghampiri Paul dengan mengeluarkan aura yang begitu mengintimidasi, seakan-akan mereka tidak tahan ingin melenyapkan segala yang ada di depannya.


“Mana sopan santunmu!” seru salah satu dari mereka pada Paul dengan mata yang terbuka lebar. “Kau pikir dengan siapa kau berbicara?”

__ADS_1


Tidak mau kalah, Paul juga menunjukkan aura menindasnya, tidak peduli siapa lawan bicaranya. Bagi Paul, semua manusia itu sama. Dia tidak takut pada siapa pun. Selama dirinya merasa benar, Paul tidak akan mundur.


“Apa kalian tuli?” gertak Paul dengan muka yang berang, giginya saling bergelemetuk. “Kubilang, di mana kalian mengurung dua gadis itu!”


Sejujurnya Isabella dan Abbas tidak begitu suka melihat Paul bersikap kasar pada para polisi, karena itu hanya akan membuat masalah jadi makin runyam. Tapi mereka tidak bisa menahan Paul, mengingat watak mentornya sangat keras dan sulit diajak bicara baik-baik. Mereka hanya pasrah memandang ekspresi-ekspresi para polisi yang terlihat marah pada kelakuan Paul, sepertinya Isabella dan Abbas harus menyiapkan diri jika kemungkinan yang buruk menimpa mereka.


Tapi, baru saja mereka berpikir demikian, mendadak salah satu dari polisi itu berteriak, “BIARKAN MEREKA MASUK!”


Sontak, saking kagetnya, Paul, Isabella, dan Abbas terbelalak. Apa ini? Mengapa mereka dipersilakan masuk setelah Paul bersikap kasar begitu, apakah ada sesuatu yang melatarbelakangi itu? Mereka bertiga sama-sama heran, tapi apa pun itu, tidak masalah. Paul bersama dua pahlawannya, langsung berjalan masuk dengan santai.


“Apa yang kau pikirkan!?” Kawan-kawannya tidak terima pada perintah tersebut, mereka semua memandang temannya yang baru saja berteriak. “Anak-anak itu tidak punya sopan santun! Mengapa kau membiarkan mereka masuk begitu saja!?”


“Ini perintah dari komandan!” jawab polisi yang tadi berteriak. “Kita harus melayani masyarakat dengan baik, bagaimana pun situasinya!”

__ADS_1


__ADS_2