Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 31 : Penindasan


__ADS_3

Dalam hidupnya, Paul tidak pernah sekali pun mengenali kota-kota yang ada di negaranya. Mungkin yang dia kenali dan akrabi hanyalah kota-kota yang tidak terlalu jauh dari Swart, seperti; Groen, Poppe, dan Vineas. Karena menurut Paul itu cukup dari pada harus menghapal ratusan kota yang ada di negaranya; Madelta. Lagi pula, sebelumnya, Paul tidak pernah berencana untuk mengelilingi seluruh kota yang ada di negaranya, karena baginya, itu sangat buang-buang waktu, mengingat ada beberapa kota aneh dari ratusan kota  yang ada di negaranya. Jalan-jalan favorit Paul paling hanya mengitari taman atau mengunjungi pusat-pusat tempat wisata yang ada di Swart, dan cuma dengan itu, dia senang.



Namun, saat usianya menginjak tujuh belas tahun, Paul mendapatkan tugas aneh dari Roswel untuk mencari sepuluh pahlawan yang terpencar-pencar di kota-kota besar yang ada di negaranya, setelah dia dikeluarkan dari sekolahnya. Ahasil, Paul serasa seperti ditampar oleh ambisinya sendiri, karena dulu dia pernah mengatakan bahwa mengunjungi kota-kota yang ada di negaranya adalah kegiatan yang buang-buang waktu. Dan sekarang, Paul sedang berada di posisi di mana dia terpaksa harus mengunjungi kota-kota yang ada di negaranya, untuk menyelesaikan tugas aneh dari pria berwajah pucat dan berjubah hitam.



Mungkin kemarin-kemarin, Paul hanya mengunjungi kota-kota yang masih tergolong wajar dan aman, tapi hari ini, dia diharuskan untuk pergi ke sebuah kota yang merupakan satu-satunya kota paling kejam dan brutal di negaranya, yaitu Aljelvin. Groen, Poppe, dan Vineas masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Aljelvin, karena di kota ini, terdapat aturan yang sangat sadis untuk beberapa kelompok manusia, contohnya seperti; semua sekolah di Aljelvin dilarang menerima anak-anak dari kalangan miskin. Kaum bangsawan punya hak untuk memperbudak dan membunuh rakyat jelata. Bangsawan lelaki yang menyerupai perempuan atau bangsawan perempuan yang menyerupai lelaki wajib untuk diperbudak atau pun dibunuh oleh bangsawan lainnya. Orang tua diwajibkan untuk menjual anak kandungnya yang cacat ke pemerintahan kota untuk 'keperluan penting'. Dan berbagai jenis aturan-aturan yang lebih mengerikan lagi, yang sudah mendarah daging di tiap benak penduduk Aljelvin.



Karena hal itulah, Paul, Nico, dan Cherry terkejut melihat pemandangan di jendela bus yang mereka tumpangi, saat kendaraan umum itu memasuki wilayah Kota Aljelvin. Mereka bertiga menyaksikan banyak sekali orang-orang yang berpakaian mewah berjalan gagah dan anggun di tepi jalanan umum dengan tangan menggenggam sebuah rantai emas yang membelenggu dan menyeret orang-orang lusuh dan kotor di belakangnya, dengan santai dan tenang, seolah-olah seperti membawa anjing-anjing peliharaannya jalan-jalan. Dan masyarakat di sana pun tampaknya biasa saja pada hal tersebut, membuat Paul, Cherry, dan Nico tercengang melihatnya.



"Apa-apaan ini?" Bahkan suara Cherry jadi terdengar menggeram saat memandangi suasana kota, hingga kedua tangannya mencengkram kuat-kuat gaun yang dipakainya hingga sobek pada bagian kaki, saking kesalnya. "Cherry tidak tahan, Cherry ingin membunuh manusia-manusia biadab itu!"



Paul dan Nico melirik ke arah Cherry secara bersamaan, saat mendengar gadis itu mengucapkan sesuatu. "Sepertinya kali ini aku mengerti pada perasaanmu, aku juga muak menyaksikan para sampah saling memperbudak sesamanya. Menjijikan." kata Nico dengan mendengus, kemudian dia menoleh pada Paul dengan serius. "Bagaimana menurutmu dengan kota ini, Paul? Tapi, jika kau ingin mendengar pendapatku, aku akan bilang, lebih baik kita kembali ke Swart. Maksudku, kita lupakan saja pahlawan yang ada di sini, karena sembilan puluh sembilan persen, kita tidak akan mampu berbaur dengan penduduk Aljelvin. Mereka terlalu menjijikan."



"Di mana otakmu?" Tiba-tiba Paul menjawab perkataan Nico dengan intonasi yang sangat rendah, sampai lawan bicaranya tidak bisa mendengarnya.



"Hm? Apa tadi kau bilang sesuatu? Kurasa aku melihat mulutmu bergerak." Nico memicingkan matanya pada Paul, mencoba memastikan.



"KUBILANG, DI MANA OTAKMU!" Akhirnya, Paul berteriak kencang, sampai semua penumpang yang ada di dalam bus, terkejut. Nico dan Cherry sama kagetnya dengan penumpang lain, apalagi wajah Paul kini terlihat lebih menyeramkan dari pada sebelum-sebelumnya. Gigi Paul bergemeletuk keras, bibirnya bergetar, keringatnya bercucuran, dan walaupun sedikit, air matanya mengalir. "Mana mungkin aku bisa pulang setelah melihat ini semua! Brengsek!"



Nico dan Cherry terdiam, memandangi muka Paul, mereka duduk di kursi yang sama. Napas Paul terengah-engah, amarahnya kian meningkat, wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena nafsu yang meledak-ledak. Saat ini, otak Paul seperti hancur berantakan, dia tidak bisa berpikir apa-apa selain ingin menghajar dan meremukkan orang lain. Semua itu disebabkan karena keterkejutannya melihat situasi Kota Aljelvin yang sangat menjengkelkan. Sampai akhirnya, dia mendapatkan sebuah ide yang cukup brutal, bahkan sangat brutal. Bola matanya langsung bergeser ke muka Nico dan Cherry yang duduk di sebelahnya.



"Setelah ini, kita akan berpencar ke tempat yang berbeda-beda!" Mendengar ucapan Paul, Nico dan Cherry terperanjat, mereka tidak mengerti apa yang dipikirkan mentornya. Buru-buru mereka berkomentar sebelum Paul mengamuk lagi.



"Berpencar-pencar? Apa maksudnya itu? Bukankah tugas kita di sini hanyalah mencari pahlawan? Jangan bilang, kau akan--" ucapan Nico langsung dipenggal oleh Cherry.

__ADS_1



"Dari raut wajahmu, sepertinya ini akan jadi menarik," Cherry tersenyum manis. "Katakan, apa yang harus Cherry lakukan dengan berpencar-pencar, Paul?"



Menarik napasnya dalam-dalam, lalu dihembuskan kembali. Sampai akhirnya, Paul pun siap untuk menjelaskan rencana brutalnya pada dua orang yang ada di sampingnya. "Dengar ini!" tegas Paul dengan tatapan yang menindas pada Nico dan Cherry. "Aku akan membagi-bagi tugas pada kalian! Tapi, biar aku peringatkan, resikonya sangat besar, karena nyawa kalian akan dipertaruhkan! Sekarang! Katakan! Kalian siap atau tidak!?"



Awalnya, Nico dan Cherry hanya saling memandang satu sama lain setelah mendengar ucapan Paul, sampai akhirnya masing-masing dari mereka bilang 'siap', walau keraguan masih menyelimuti perasaan mereka masing-masing. Dan Paul tahu Nico dan Cherry masih belum terlalu yakin untuk ikut ke dalam rencananya, tapi dia menunjukkan ketidakpeduliannya pada hal tersebut, dan langsung mengungkapkan strateginya pada mereka.



"Bagus!" Paul menyeringai setelah mendengar Nico dan Cherry bilang 'siap' pada rencananya, dia sangat senang. "Sekarang! Dengarkan ini baik-baik! Tujuan kita bukan lagi hanya untuk menemukan pahlawan baru! Tujuan kita lebih besar lagi dari itu! Kita akan menghancurkan sistem aneh yang dirancang para bajingan di kota ini! Pertama-tama! Aku tugaskan kau!" Paul menatap ke wajah Nico. "Untuk menghancurkan wajah-wajah pemimpin di kota ini! Maksudku, kau harus membuat mereka tunduk padamu, dan setelah itu, perintahkan mereka untuk mengubah sistem yang ada di Aljelvin! Aku percaya padamu! Karena kau punya pemikiran dan mulut yang licik seperti ular!"



Nico memasang muka datar, kemudian menjawab, "Aku pikir kau mau bilang apa, ternyata hanya itu? Heh! Rupanya kau cukup pintar, ya, Paul, karena kau telah memilih orang yang tepat. Baiklah, aku terima tugas darimu. Lagi pula, aku juga muak, tapi bukan hanya pada penduduk kotanya saja. Aku lebih muak pada orang-orang yang tidak becus mengurus dan memimpin kota ini. Sampah-sampah itu, akan kubuat mereka patuh dan menjilati sepatuku."



"Itulah yang kuinginkan!" jawab Paul pada Nico dengan tersenyum lebar. "Dan kali ini, tugas untukmu!" Paul menolehkan kepalanya pada wajah Cherry. "Ciptakan kekacauan di pusat kota, tidak perlu menahan diri, kau boleh melakukan apa pun, entah itu meledakkan permen-permenmu ke muka setiap orang, merubuhkan bangunan, apa pun itu aku tidak peduli! Pokoknya buatlah kota ini jadi gaduh, ramai, ribut, dan heboh! Mungkin kau akan dikejar oleh para polisi setelah melakukannya, dan di sinilah, tugasmu yang sebenarnya dimulai! Kau paham!?"




Mendengar hal itu, Paul menganggukkan kepalanya. "Bagus!" Lalu Paul mengangkat kepalan tangannya, dan ia memukul dadanya sendiri. "Dan tugasku adalah membebaskan Koko! Pahlawan baru kita! Dari rantai perbudakan!"



Nico mengernyitkan alisnya, merasa ada yang ganjil. "Tunggu, aku ingin memastikan sesuatu, memangnya kau sudah tahu lokasi Koko?" Dan dalam sekejap, ekspresi Paul jadi linglung, dia baru sadar pada hal itu. "Kelihatannya kau tidak tahu tempatnya, ya?" Sindir Nico dengan menyunggingkan senyuman tipisnya saat memandangi muka Paul yang gelisah.



"Diam kau!" Karena kesal, Paul membentak Nico dengan mata yang melotot. "Soal itu, aku bisa mengurusnya sendiri!" Setelah Paul mengatakan itu, laju bus berhenti mendadak, menandakkan kendaraan tersebut sudah sampai di halte kota Aljelvin. Paul, Nico, dan Cherry pun beranjak turun dari kendaraan itu. Namun, baru saja mereka menjejakki tanah di kota Aljelvin, sesuatu yang tidak terduga muncul di hadapan mereka.



"Bodoh! Untuk apa kau punya kaki jika kau tidak mau berdiri! Cepat! Jangan buat aku marah lagi! Apa kau tidak bosan dipukuli terus-terusan olehku! Hah!?"



Sesosok lelaki cantik berambut panjang, tergeletak di aspal dengan pakaian yang compang-camping, tubuhnya penuh dengan luka, matanya sayu, bibirnya kering, kedua kakinya bergetar, dia sedang dibentak-bentak oleh seorang gadis berambut pirang yang mengenakan gaun besar berwarna merah yang sangat mewah, di setiap lekuk tubuhnya terdapat perhiasan dan emas yang berkilau. Gadis pirang berwajah jelek itu menarik-narik rantai panjang yang mengikat leher si lelaki cantik, berusaha untuk membangunkan lelaki itu dari posisi terbaring di aspal.

__ADS_1



"Aku... lapar."



Bug!



Gadis itu langsung menginjak kepala si lelaki berambut panjang hingga terhantam ke permukaan aspal yang keras, setelah mendengar keluhan dari si lelaki. "Jatah makanmu hari ini tidak ada! Kalau kau selapar itu, makan saja serangga! Dasar makhluk rendahan!" Gadis itu langsung meludahi wajah si lelaki dengan jijik. "Lagi pula! Aku benci pada lelaki sepertimu! Semestinya! Sebagai lelaki kau harus gagah perkasa! Tapi apa-apaan ini!? Kau malah punya wajah cantik, tubuh yang lemah gemulai dan bertingkah layaknya perempuan! Itu menjijikan! Orang-orang sepertimu... HARUSNYA MATI SAJA!"



BLAR! BLAR! BLAR!



Cherry langsung melempari tiga permennya pada wajah si gadis pirang dengan kencang, menimbulkan ledakan yang cukup besar, hingga gadis itu terjatuh dengan muka yang lebam-lebam, sontak, karena kejadiannya di depan halte, orang-orang yang ada di sana, terkejut melihat hal tersebut. Dengan buas, Cherry menghampiri gadis bergaun mewah itu lalu berkata dengan menunjukkan wajah yang dipenuhi dengan kebencian, "... kau lah yang harus mati, binatang." kata Cherry dengan menggeram.



"S-Siapa orang ini!?" Gadis pirang itu tampak ketakutan memandangi sosok Cherry yang berdiri di hadapannya, dia sampai melepaskan tali budak yang dipegangnya.



Mendengar ada suara ledakan di dekatnya, lelaki berambut ungu panjang yang sedang terbaring di aspal dengan darah yang mengalir dari pelipisnya, melirik lemas ke sepasang kaki asing yang bukan berasal dari majikannya. "Apa yang... sedang terjadi?" ucapnya dengan suara yang bergetar.



Menyaksikan hal itu, Paul langsung menghampiri lelaki yang tergeletak di aspal, dan dengan gesit, dia membopong tubuh lelaki berambut panjang itu di depan dadanya. Kemudian, Paul berkata, "Aku tidak percaya akan secepat ini menemukanmu," Lalu, Paul menatap Nico yang masih berdiri membisu di halte. "Kenapa kau diam saja! Cepat lakukan tugasmu! Pergilah ke gedung pemerintahan! Masalah di sini, biar aku dan Cherry yang mengurusnya!"



Setelah menganggukkan kepala, Nico pun segera berlari, meninggalkan Paul dan Cherry di depan halte, menuju ke gedung pemerintahan Kota Aljelvin, untuk melaksanakan tugasnya.



"Tunggu!" Suara dari gadis pirang bergaun mewah itu melengking, dia menunjuk-nunjuk ke arah Paul yang sedang membawa budaknya. "Lepaskan dia! Dia bukan milikmu! Keluargaku sudah membelinya! HEY! KAU DENGAR TIDAK, SIH!"



Pura-pura tidak mendengar, Paul langsung melangkah cepat, sambil membawa lelaki berambut panjang itu untuk pergi dari keriuhan halte menuju ke suatu tempat. Ketika Nico dan Paul sudah hilang dari halte, Cherry tersenyum miring sembari mengeluarkan lagi beberapa permen dari dalam gaunnya.


__ADS_1


"Apa kau suka permen? Cherry punya banyak permen, loh! Tapi, permen-permen Cherry semuanya bisa meledak jika sudah dijilat!" Seketika, Cherry jatuh ke dalam mode gelapnya. ".. karena itulah, kau bersama orang-orang di kota ini, harus menelan permen-permen ini, agar tubuh kalian semua meledak-ledak hancur berantakan." ucap Cherry dengan  mata yang melotot, membuat gadis pirang itu ngeri melihatnya.



__ADS_2