
"P-Paul!?" Naomi tergagap-gagap setelah Paul menutup teleponnya dengan Gina--salah satu muncikari ternama di Kota Luna--setelah kesepakatan antara dua belah pihak sudah tercapai. "Anda tidak sedang mabuk, kan!?"
"Memangnya kenapa, hah!?" Tampaknya Paul masih sedang marah, terbukti dari ekspresi wajahnya yang merengut jengkel. "Aku tidak suka caranya dia berbicara! Wanita itu meremehkanku! Aku benci disepelekan seperti itu!"
"Tapi!" Naomi memekik dengan muka gelisah. "Mengapa harus 500 juta!? Bukankah itu terlalu besar? Saya tidak peduli apakah Anda punya uangnya atau tidak, tapi yang saya pikirkan adalah," Naomi menggigit bibirnya. "Anda akan menghabiskan uang 500 juta hanya untuk menyewa seorang gadis dalam satu malam!? Walau Anda hanya sedang berpura-pura, tapi tetap saja kalau urusan transaksi, Anda wajib membayarnya!"
"Kalau aku tidak begitu, wanita sialan itu akan terus meremehkanku!"
"Tapi Anda tidak perlu melakukan hal segila itu!"
"Itu bukan urusanmu! Lagipula yang bayar itu aku! Bukan kau!"
"Tetap saja! Saya tidak suka mendengar Anda menghambur-hamburkan uang sebanyak itu hanya untuk--"
"Permisiiiiiiiii!" Cherry langsung melengking dengan suara yang sangat kencang, membuat Naomi dan Paul mengalihkan perhatiannya pada gadis mungil itu. "Kalian tidak boleh bertengkar di sini!? Lihat, deh! Semua orang di kafe ini terganggu oleh suara kalian! Cherry juga terganggu, tahu! Jadi, dari pada bertengkar! Lebih baik habiskan parfait-parfait itu! Kalau tidak! Cherry akan melahap parfait-parfait kalian dengan sekali teguk!"
Berkat perkataan Cherry, akhirnya Naomi dan Paul terdiam, dan tersadar bahwa mereka telah membuat kafe yang selalu tenang itu jadi gaduh oleh pertengkaran tadi. Cherry, Paul dan Noami, secara perlahan, menghabiskan parfait masing-masing sampai tak tersisa.
__ADS_1
"Jadi? Muncikari itu apa? Dari tadi Cherry penasaran dengan nama itu, loh!"
Cherry bertanya pada Paul dan Naomi setelah mereka bertiga sedang berjalan di trotoar jalan, untuk melanjutkan perjalanan yang sempat terjeda, walau entah tujuannya mau ke mana.
"Muncikari itu semacam orang yang berperan sebagai pengasuh, perantara, atau dengan kata lain, seorang pemilik dari para pekerja seks," jawab Naomi, menjelaskan sesuatu yang masih belum dipahami oleh Cherry. "Mungkin istilah sederhananya seperti bos dari semua para pelacur."
"Oooooh!? Begitu, ya!? Wow! Cherry baru tahu kalau pelacur pun punya bos! Cherry pikir, para pelacur itu pekerja liar, berdiri sendiri, dan tidak terikat, ternyata mereka tidak seperti itu, ya!? Dugaan Cherry salah besar! Hihihihi!"
"Tidak," Naomi kembali berkata, "Dugaan Cherry benar, kok. Kadang ada beberapa pelacur yang tidak terikat ke dalam kelompok mana pun. Dia bekerja atas kemauannya sendiri, tanpa diatur oleh siapa pun. Tapi pelacur-pelacur seperti itu biasanya kalah bersaing dengan para pelacur yang memiliki bos, karena bos mereka punya koneksi yang besar, membuat pelacur-pelacur miliknya tidak pernah sekali pun menganggur. Begitulah, menurut guru saya saat saya masih sekolah."
Paul menendang kaleng minuman yang tergeletak di depan, membuat kalengnya menabrak tembok, menimbulkan bunyi berisik yang memekakkan telinga. Cherry dan Naomi langsung memperhatikan Paul.
"Tidak!" Paul memasukkan dua lengannya ke kantung celana, dan berjalan dengan gaya seperti itu. "Aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan uang 500 juta dalam semalam!"
Sontak, Naomi dan Cherry terkaget mendengarnya. Dari kata-katanya saja, mereka bisa menebak dengan tepat, kalau Paul saat ini sama sekali tidak punya uang sebanyak 500 juta di kantung celana mau pun di rekeningnya. Dengan kata lain, Paul, dengan bodohnya, telah termakan pancingan yang Gina Orcadelia buat. Mungkin begitulah tugas seorang muncikari, berusaha agar pelanggan-pelanggannya bisa membayar dengan harga tinggi, melalui sedikit bujukkan, rayuan, atau bahkan sindiran. Dan Paul telah menjadi salah satu dari ribuan pelanggan yang bergerak sesuai dengan kemauan Gina Orcadelia.
Wanita yang benar-benar licik, pikir Paul.
__ADS_1
"Jadi itu artinya," Naomi menghentikkan langkahnya, mukanya tampak tak berekspresi, penuh dengan kekosongan yang mengerikan. "Anda telah mengambil keputusan yang bahkan Anda sendiri pun tak mampu untuk membayarnya?" Naomi menarik napasnya kencang, lalu dihembuskannya secara perlahan. Kemudian Naomi langsung memegang pergelangan tangan kanan Paul. "Ikuti saya." Naomi menarik Paul dari trotoar menuju suatu tempat, melihat itu, Cherry pun mengekori mereka dari belakang.
Setelah memasuki sebuah gang sempit--himpitan dari dua gedung tinggi--Naomi melepaskan genggaman tangannya di pergelangan lengan Paul, kemudian ia membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Paul. Paul menaikan sebelah alisnya, terheran-heran dengan tingkah Naomi.
"Mengapa kau membawaku kemari? Aku sedang sibuk memikirkan--"
"Sibuk apa?" Naomi langsung memotong ucapan Paul tanpa permisi, membuat lelaki itu terkejut. "Sibuk mengurusi ketidakbecusan Anda dalam mengambil keputusan, begitu?" Cherry dan Paul terbelalak mendengarnya, sepertinya saat ini Naomi sedang sangat marah. "Anda juga pasti tahu, kalau 500 juta itu bukan angka yang kecil. Semua orang pun tahu, kalau 500 juta adalah jumlah yang sangat besar. Dan," Naomi menatap mata Paul dengan sangat lekat, seperti predator yang sedang memperhatikan gerak-gerik mangsanya. "... Anda ingin 500 juta bisa muncul begitu saja di tangan Anda? Dalam semalam?" Tiba-tiba Naomi langsung menampar pipi Paul dengan sangat kencang, bahkan suara tamparannya sampai berdengung-dengung di gang sempit tersebut. Cherry pun terlonjak menyaksikan mentornya ditampar oleh Naomi, dengan begitu sadis, hingga kepala Paul terhempas ke samping.
Naomi mendadak berteriak dengan mata yang melotot luar biasa besar. "ANDA BENAR-BENAR TIDAK BERMORAL!" Saat mengatakannya, air mata Naomi pecah, mengalir kencang, melewati dua pipinya dan berjatuhan ke tanah becek gang tersebut. "Tidak tahu diri! Bodoh! Ceroboh! Payah! Tidak berguna! Menjijikan! Tidak punya otak! Tidak punya hati!" Naomi menyemburkan segala umpatan-umpatan itu dengan mata yang menangis pada Paul. "Sekarang bagaimana!? Kalau Tante Elena tahu soal ini! Beliau pasti akan pingsan! Pokoknya! Anda tidak boleh meminta bantuan ke siapa pun! Anda harus membayar 500 juta itu! DENGAN KERINGAT ANDA SENDIRI!"
Mendengar itu, Paul mengusap-usap pipi kirinya yang masih terasa sakit, kemudian ia langsung membalas omongan Naomi. "Kau pikir aku ini siapa?" kata Paul dengan menyunggingkan senyuman miring. "Aku tidak pernah melemparkan masalah pribadiku pada Ibuku, sekali pun tidak pernah. Seberat apa pun bebannya, aku akan mengatasinya sendirian. Aku bukan pecundang yang tiap ada masalah, mengadu pada keluarga. Jadi," Paul menepuk bahu Naomi dua kali, lalu berjalan pergi. "Jangan cemas padaku."
Setelah Paul sudah hilang dari hadapannya, Naomi menjatuhkan dua lututnya ke tanah becek gang, dan ia meremas gamis hitamnya dengan kencang, sambil menangis sejadi-jadinya di sana.
"Kenapa Naomi menangis?" tanya Cherry setelah Paul keluar dari gang, dan sedang berdiri sambil menyenderkan punggungnya ke tembok dari suatu bangunan. "Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa," ucap Paul dengan melipat tangannya seraya menampilkan wajah datarnya yang tampak menyeramkan. "Dia hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dia pikirkan, bodoh sekali memang--tapi sungguh, mau dilihat bagaimana pun," Paul mengangkat dua tangannya, meregangkan otot-ototnya yang agak keram lalu berteriak, "KOTA INI TERLALU BERISIK!"
__ADS_1
"Berisik?" Tiba-tiba muncul seorang perempuan berambut merah panjang, bertubuh langsing, mengenakan gaun merah pendek yang sangat ketat, memamerkan belahan dada, pantat, dan paha mulusnya. Perempuan itu sedang berjalan anggun mendatangi lokasi Paul dan Cherry, dengan tangan kanannya membawa clutch--sejenis tas tanpa tali, yang bentuknya seperti dompet tapi berukuran besar--yang warnanya senada dengan gaun. "Apanya yang berisik? Kota ini? Jalanan ini? Gang ini? Atau mungkin," Setelah dekat, perempuan itu langsung menjulurkan lehernya ke telinga Paul dan berbisik, "... napasku ini?"