
Helikopter pribadi milik Isabella sudah pergi entah ke mana-dibawa oleh sang pilot--sementara pemiliknya kini sedang berjalan santai bersama Abbas dan Paul, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi pohon-pohon kelapa tinggi di tiap sisinya. Pemandangan biru terang dari laut membentang luas jauh di samping mereka. Abbas, Isabella, dan Paul selalu terpukau dengan keindahannya, banyak suara-suara burung laut yang bercuit-cuit di atas langit, banyak juga bunyi-bunyian yang terdengar di sekitar laut, seperti bunyi suling kapal yang meniup-niup, ombak besar yang menggulung-gulung menabrak bebatuan, lumba-lumba yang meloncat-loncat di permukaan laut sambil bernyanyi ria, para wisatawan yang sedang teriak-teriak kegirangan di tepi pantai dan sejenisnya.
Ketika sedang nikmat-nikmatnya mengamati keindahan laut di Kota Barasta, tiba-tiba Isabella bertanya, membuat Paul dan Abbas menoleh padanya.
"Bagaimana cara kita mencarinya? Maksudku, tentang pahlawan yang ada di kota ini. Apa kau tahu letak rumahnya, Paul?" Isabella menanyakannya sembari terus menggerakkan kakinya untuk melangkah. "Jangan bilang, kau kemari tanpa mengetahui apa pun tentang rumah si pahlawan baru itu? Semoga saja tidak begitu, ya? Tapi kalau kau memang begitu, aku akan merenggut keperjakaanmu itu loh, Paul." Isabella menjilat bibirnya dengan menatap nafsu pada Paul.
"Diamlah! Aku juga sedang berusaha mengaktifkan insting tajamku!" jawab Paul dengan bersungut-sungut.
"Apa? Insting tajam? Apa itu? Semacam naluri liarmu, begitukah?" tanya Isabella, yang semakin terheran-heran dengan perkataan Paul.
"Memang kau pikir dengan cara apa selama ini aku mencari pahlawan sebanyak itu, hah!?" Paul memelototi Isabella, seraya melanjutkan ucapannya. "Instingku selalu berhasil dalam melacak apa pun! Ini bukan kekuatan sakti atau semacamnya! Ini murni bakat dari dalam tubuhku!"
Abbas, hanya menyimak perkataan demi perkataan yang terlontar dari mulut Isabella mau pun Paul. Sifat pendiamnya membuat Abbas tidak bisa ikut dalam perbincangan itu, yang dapat ia lakukan hanyalah mengamati dan mendengar. Mungkin jika diperlukan, ia akan menanggapi sesuatu, walau dengan ucapan singkat. Tapi sejauh ini, pembahasan yang dibicarakan oleh teman-temannya tidak begitu penting, jadi Abbas memutuskan untuk tetap diam.
"Bakat dari dalam tubuhmu?" Isabella mengernyitkan alisnya, semakin bertanya-tanya apa makna dari ungkapan yang Paul ucapkan. "Itu memang menarik, tapi kurasa, jika kau menyebutnya dengan 'bakat dari dalam tubuh', pengungkapannya bisa disalah artikan, loh. Seperti contohnya, rangsangan seksual. Bukankah itu juga termasuk bakat dari dalam tubuh?" Isabella terkikik-kikik. "Ya ampun, ada-ada saja, ya?"
__ADS_1
"Ini dan itu berbeda!" Paul bersikukuh mempertahankan ideologinya. "Bakat dari dalam tubuh yang kumaksudkan adalah bakat yang tidak semua orang miliki! Jika menyangkut dengan hasrat seksual! Semua orang memilikinya! Dan itu tidak pantas disebut sebagai bakat dari dalam tubuh! Bodoh!"
Isabella tersenyum sembari menghela napasnya. "Ya ampun, baiklah-baiklah, terserah kau saja, aku tidak mau memperdebatkan sesuatu yang sepele," Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian, tatapannya kembali fokus pada Paul. "Jadi bagaimana? Sudah menemukan sesuatu dari insting tajammu itu?"
"Belum!" Paul tampak kecewa. "Sampai saat ini, aku tidak merasakan apa pun! Aku merasa kalau pahlawan yang ada di kota ini, sulit untuk ditemukan!"
"Mengapa bisa begitu?" tanya Isabella, penasaran pada reaksi Paul. "Apa yang membuatnya jadi sulit?"
"Itu, aku juga tidak tahu!" Paul menghentakkan langkahnya dengan keras, menimbulkan suara tapak yang berisik. "Tapi aku tidak mau menyerah! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri! Agar dapat membawa pahlawan baru ke Swart!"
Suasana di sini, terasa lebih ramai dan tentram, banyak sekali orang yang berlalu-lalang di sekitar pemukiman, jenisnya bermacam-macam, ada beberapa nelayan yang mengangkut jaring-jaring penangkapan ikan, ada wanita-wanita berjas yang hendak pergi ke tempat kerja, ada anak-anak yang berlari-larian dengan seragam sekolah, ada pemuda-pemudi yang sibuk berjualan di toko-toko, dan masih banyak lagi. Paul, Isabella, dan Abbas, terpukau dengan suasananya, ditambah dengan kota yang menghadap ke arah lautan, membuat mata siapa pun selalu dimanjakkan oleh keindahannya.
"Ini kota yang menarik," ucap Isabella, sembari memperhatikan keramaian penduduk di pemukiman ini.
"Aku setuju." Abbas menanggapinya dengan mengangguk sepaham. Ia merasa kota ini memang menarik, terlepas dari aroma ikan yang sangat pekat, dari beberapa rumah produksi. Jika boleh memilih, ia ingin tinggal di sini dalam beberapa minggu, karena Abbas suka dengan laut.
__ADS_1
"Apanya yang menarik dari kota ini!?" sergah Paul, mematahkan segala pujian-pujian yang dilontarkan oleh Isabella dan Abbas. "Aku sama sekali tidak tertarik dengan kota ini! Ini kota yang sangat buruk! Dari awal masuk ke dalam pemukiman ini, aku selalu mencium bau busuk dari ikan-ikan yang tergeletak di tanah! Bahkan orang-orangnya pun terlihat tidak peduli pada bau busuknya! Mungkin bagi mereka itu hal yang biasa! Tapi bagiku! Itu sangat menjijikan!"
"Ayolah, Paul," Isabella menampilkan kedipan mata penggodanya pada Paul, sembari menyenggol bahu lelaki kasar itu dengan payudaranya. "Jangan bilang begitu, dong. Kalau mereka mendengar yang tadi kau katakan, kita bisa berada dalam masalah besar, loh. Aku tidak mau dibenci oleh penduduk di Barasta, karena mau seburuk apa pun kota ini," Isabella berbisik pada telinga Paul. "Lelaki-lelakinya sangat tampan." Paul langsung bergidik mendengarnya, dan Isabella tertawa-tawa melihat reaksi mentornya.
Disela-sela tawanya, Isabella kembali berkata, "Ah, ngomong-ngomong," Isabella menatap muka Paul dan Abbas secara bergantian. "Kalian masih belum melaksanakan 'perintah sang raja' yang kita mainkan di helikopter, dan aku ingin kalian cepat melaksanakannya secepat mungkin, kalau tidak," Isabella tersenyum. "Aku tidak mau mengantarkan kalian pulang memakai helikopterku lagi."
Seketika, Paul dan Abbas tersentak mendengar itu, mereka berdua secara serentak, memandang Isabella dengan cemas. "Jangan bicara seolah-olah kau adalah atasanku!" Paul membentak Isabella dengan raut muka yang teramat jengkel. "Aku sudah bilang padamu! Aku tidak mau melakukan hal yang aneh-aneh! Dan kau malah memberikan perintah yang menjengkelkan! Mau sampai kapan pun, aku tidak mau melakukannya!"
"Aku mau, kok," Abbas merespon dengan muka datar. "Asalkan itu dengan temanku, aku mau."
Wajah Paul langsung memucat mendengar tanggapan Abbas yang setuju pada perintah Isabella di permainan raja. "Abbas!" Paul mencengkram pundak kanan Abbas dengan kuat. "Jangan bercanda! Itu tidak lucu!"
"Aku tidak sedang bercanda," jawab Abbas--lagi-lagi--dengan muka yang tampak datar. "Aku serius, Paul."
Isabella terkejut dan bergembira mendengar tanggapan positif dari Abbas, ia sampai terbahak-bahak dengan sangat kencang. "Abbas, aku suka gayamu!" Isabella langsung melompat dan merangkul leher Abbas dengan dua tangannya dari belakang. "Kau memang lelaki sejati!" Isabella melirik ke arah Paul yang masih sedang memucat. "Seharusnya kau contoh lelaki ini, Paul. Dia, dengan jantannya, bersedia untuk melaksanakan perintah dariku, meskipun perintahnya adalah," Isabella menyeringai. "Berciuman denganmu."
__ADS_1