Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 20 : Musim Dingin yang Berlangsung tanpa Akhir


__ADS_3

"Aku tidak tahu kita akan pergi ke kota mana untuk menemukan pahlawan berikutnya, kita tunggu Si Roswel menghubungiku, tapi sebelum itu, aku ingin tanya pada kalian," kata Paul dengan nada yang rendah dengan mata yang melirik Jeddy dan Cherry. "Apa kalian siap mempertaruhkan nyawa kalian saat pergi bersamaku?"



Mendengar itu, Jeddy dan Cherry langsung menyunggingkan senyuman tipisnya masing-masing.



"Hahahaha!" Jeddy langsung tertawa renyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini ada-ada saja, Bro! Tanpa perlu diberitahu pun, aku pasti siap mempertaruhkan nyawaku! Karena aku adalah lelaki jantan! Bro! Haha!"



"Cherry pasti siap! Selalu siap! Selamanya siaaaap!" ucap Cherry dengan mengepalkan tangannya ke atas. "Karena Cherry adalah perempuan pemberani! Hihihi!"



Paul mendecih mendengarnya. "Apa yang kalian katakan seperti menyindir Colin, bodoh!" kata Paul dengan muka yang datar. "Tapi lupakan itu! Mari kita keluar dari rumah sialan ini menuju ke kota selanjutnya!" Kemudian, Paul dengan gagah memandu Jeddy dan Cherry untuk keluar dari rumahnya.



Bzzzzt! Bzzzzzt! Bzzzzt!



Dan seperti biasa, baru saja Paul berjalan sampai gerbang rumahnya, ponselnya bergetar-getar di pahanya, ia langsung mengeluarkan benda itu dari saku celananya dan mengangkatnya ke telinga. "Ya?" kata Paul dengan berusaha untuk bersikap tenang. "Cepat katakan apa yang perlu kau sampaikan, Roswel."



"Hah? Roswel?" Tiba-tiba saja terdengar suara lelaki yang tentunya bukan Roswel, membuat Paul terbelalak mendengarnya. "Ini aku! Colin!"



"Kenapa malah kau yang menghubungiku!? Sialan! Dan dari mana kau tahu nomor ponselku! Brengsek!" Paul benar-benar kecewa ditambah kesal karena yang menghubunginya malah Colin, bukannya Roswel. Padahal Paul sangat berharap Roswel yang meneleponnya, karena dia membutuhkan informasi mengenai siapa dan di kota mana pahlawan berikutnya berada. Tapi malah si Colin sialan yang menghubunginya, mengecewakan sekali, begitulah menurut Paul.



"Lagi-lagi kau marah, ayolah! Jangan begitu!" kata Colin dari seberang telepon dengan suara yang berseru-seru. "Emm.. aku dapat nomormu dari lemari bajumu! Kau ingat? Kemarin saat aku mengganti seragam kedai dengan pakaianmu di kamarmu, nah, aku menemukan nomormu di balik pintu lemari, kucatat saja nomornya untuk berjaga-jaga jika aku membutuhkanmu, hehe! Dan ternyata benar, nomornya sangat bermanfaat. Tapi aku juga penasaran, buat apa kau menulis nomor ponselmu di balik pintu lemari, Paul?"



Mendengar itu, Paul langsung mengingat kejadian ketika dirinya baru dibelikan ponsel oleh ibunya, dan karena dia itu orangnya terkadang mudah lupa terhadap kumpulan angka, jadi Paul mencoba menulis nomor ponselnya di balik pintu lemari agar saat dirinya lupa, ia dapat melihatnya di sana. Tapi Paul tidak sangka kalau yang dia lakukan ternyata bisa jadi bumerang untuknya, contohnya Colin yang seenaknya menulis nomor teleponnya saat orang itu melihat angka-angka di balik pintu lemarinya.



"Lupakan soal itu! Brengsek! Jadi kau mau apa menghubungiku!?" tanya Paul dengan bentakan yang super kasar, membuat Colin yang mendengarnya langsung melotot.



"Okay! Okay! Jadi begini... emm... semalam aku membuka sosial media, dan aku menemukan sebuah video yang isinya adalah kau dan aku sedang menghancurkan batu-batu yang berjatuhan di parkiran kedai! Kau masih ingat, kan, Paul!? Dan parahnya! Video itu telah ditonton ratusan juta kali! Artinya, video itu sudah sangat viral! Dan menjadi kontroversi! Jika kau lihat televisi, banyak sekali orang yang heboh dengan video itu, ada yang bilang itu hanyalah video rekayasa! Ada juga yang bilang bahwa itu asli, tapi yang jadi masalahnya! Kedai yang merupakan lokasi tempat video itu dibuat, jadi didatangi oleh banyak orang yang penasaran! Dan sekarang, manajerku memerintahkanku untuk cuti hingga suasana kedai jadi normal kembali! Bagaimana ini, Paul!?"


__ADS_1


Paul sangat terkejut mendengarnya, dia sampai terdiam beberapa menit, merenungkan hal itu, hingga akhirnya menjawab, "Lalu, sekarang kau ada dimana, Colin Sialan!?"



"Aku sekarang sedang berlari menuju rumahmu! Mungkin lima menit lagi aku sampai! Tapi, kau masih ada di rumah, kan!? Belum pergi ke kota lain, kan!? Paul!?"



"YA! AKU MASIH DI RUMAH! CEPAT KEMARI! BODOH!" Setelah mengucapkan itu, Paul langsung menutup teleponnya secara sepihak, lalu ia masukkan kembali ponselnya ke kantung celana.



Mendengar Paul berseru-seru saat sedang menelepon, membuat Cherry dan Jeddy mendatanginya. "Oi-oi-oi-oi, kau kenapa? Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kau sedang dalam masalah, benar, kan? Bro!?" ucap Jeddy sembari menepuk pundak Paul.



"Hanya masalah sepele, jangan khawatir," jawab Paul dengan dingin. "Dan Si Colin Sialan akan datang kemari."



"Uwaaaaah!" Mendengar hal itu, Cherry kegirangan, dia tampak gembira. "Benarkah!? Colin akan kemari!? Akhirnyaaa! Cherry bisa mengejeknya lagi! Hihihi!"



Sementara Jeddy malah terheran-heran, "Wow! Kok bisa, Bro!? Bukankah Colin sedang bekerja? Mengapa dia datang kemari, apa tidak apa-apa, Bro!?" tanya Jeddy yang merasa bingung dengan situasi tersebut.




Kemudian, terlihatlah Colin yang sedang berlari dari kejauhan. Paul, Jeddy, dan Cherry terkejut melihatnya. Mereka bertiga terkejut karena ekspresi Colin saat berlari tampak ketakutan, seperti dikejar-kejar oleh binatang buas, padahal di belakangnya tidak ada apa pun. Setelah sampai di depan mereka, Colin terengah-engah, mengatur napasnya dahulu agar stabil.



"Hahh.. Hahh.. Hahh...," Colin tampak kelelahan sekali, keringat bercucuran di seluruh tubuhnya, membuat rambut dan pakaiannya basah kuyup. "Maaf aku datang terlambat! Tapi sungguh, aku benar-benar tidak menyangka akan balik lagi ke sini." kata Colin dengan hidung yang kembang-kempis, memandang muka Paul, Jeddy, dan Cherry.



"Jangan dipikirkan, Colin!" Paul menganggukkan kepalanya dengan menatap wajah Colin. "Apa pun yang terjadi, biarlah terjadi! Sekarang, karena kau sudah sampai di sini, itu artinya kau akan ikut bersama kami! Tenang saja! Kau akan aman bersama kami!" kata Paul dengan kata-kata yang sangat tegas, berusaha meyakinkan Colin untuk tidak merasa cemas saat bersamanya.



"Bro!" Jeddy langsung menepuk-nepuk punggung Colin seperti biasa. "Rasanya hari ini kau terlihat sangat berani! Aku serius, Bro! Hahaha!" Sayangnya, Colin tidak terlalu senang mendengar hal tersebut.



"Yeeeeeey!" Cherry melompat-lompat saking bahagianya karena ada Colin di hadapannya. "Akhirnya Colin datang! Hihihihi! Tahu tidak? Cherry tadi sangat kesepian karena Colin tidak ikut, jadi tidak ada bahan untuk diejek. Tapi saat mendengar Colin akan datang kemari, semangat Cherry jadi naik lagi sangat tinggi! Hihihi!" ucap Cherry dengan wajah yang berseri-seri. Dan sungguh, kata-kata Cherry pun sama sekali tidak membuat Colin merasa senang.



"Okay! Okay! Terima kasih atas ucapan selamat datangnya, teman-teman! Walau jujur, aku tidak terlalu senang mendengarnya!" jawab Colin dengan muka yang masam. "Lalu? Sekarang kita akan pergi ke kota mana?"

__ADS_1



Bzzzt! Bzzzt! Bzzzzzt!



Baru saja Colin bertanya hal itu, ponsel Paul bergetar lagi, tanda ada seseorang yang meneleponnya. Akhirnya, Paul langsung mengangkat ponselnya kembali, dengan sedikit berharap agar Roswel yang menghubunginya kali ini. Dan baru saja Paul akan menyebutkan kata 'halo', orang yang meneleponnya langsung bersuara duluan.



"Selamat pagi, Tuan," Dan ternyata itu adalah suara Roswel, Paul diam-diam senang mendengarnya. "Ini saya, Roswel. Seperti biasa, saya akan memberikan informasi mengenai target yang akan Anda temui di kota selanjutnya, Tuan."



Dengan pura-pura jengkel, Paul menjawab, "Cepatlah, brengsek! Aku tidak punya banyak waktu untuk mengoceh denganmu!" Walau sebenarnya Paul punya banyak sekali waktu untuk berbincang bersama Roswel.



Roswel terkekeh-kekeh mendengar bentakan Paul, kemudian dia kembali bersuara, "Baiklah, saya akan langsung ke intinya, Tuan," ucap Roswel dengan nada yang sangat lembut. "Jadi, target Anda kali ini adalah seorang lelaki berusia enam belas tahun, berkaca mata, berambut putih, berkulit putih, berbibir putih, dan selalu mengenakan pakaian serba putih, Tuan. Dan jika dilihat-lihat, dia tinggal di Kota Vineas, dan sepertinya dia sangat suka sekali dengan buku, karena tampaknya dia selalu menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan pusat kota."



Paul segera merespon penjelasan Roswel dengan nada yang kasar. "Bagaimana dengan namanya!? Katakan padaku! Bodoh!" Roswel tersadarkan tentang hal itu, dia hampir lupa menjelaskannya.



"Baik, akan saya telisik lebih dalam, Tuan," ucap Roswel dengan halus. "Ah, saya sudah mendapatkannya, Tuan. Tampaknya, lelaki itu sering dipanggil dengan nama 'Nico' oleh beberapa orang di perpustakaan, Tuan." kata Roswel dengan nada yang ramah. Merasa sudah cukup, seperti biasa, Paul langsung menutup teleponnya secara sepihak. Kemudian dia menatap muka Jeddy, Cherry, dan Colin dengan tatapan tajam.



"Persiapkan diri kalian! Kita akan pergi ke Kota Vineas!" seru Paul dengan suara yang tegas, membuat Jeddy tersenyum lebar, Cherry melompat-lompat, dan Colin mengernyitkan alisnya.



"V-Vineas!?" Colin kelihatannya mengetahui sesuatu tentang tempat tersebut. "Kalau begitu, bukankah seharusnya kita memakai pakaian tebal!? Tapi Paul sudah memakai jaket yang tebal, lalu, bagaimana dengan kalian!?" Colin menatap ke arah Jeddy yang mengenakan baju hijau pendek dan Cherry yang mengenakan gaun merah muda pendek. Colin tidak membicarakan dirinya sendiri karena dia sudah memakai jaket bertudung warna biru tua agar terhindar dari orang-orang yang penasaran padanya mengenai video viral dirinya di internet.



"Memangnya ada apa di Kota Vineas hingga kita harus memakai pakaian tebal, Bro!?" tanya Jeddy dengan mengedikkan bahunya, kebingungan. Cherry juga terheran-heran dengan perkataan Colin. Sementara Paul hanya menghela napasnya, sebenarnya dia tahu dengan situasi di Kota Vineas. Tapi Paul membiarkan Colin saja yang menjelaskannya pada mereka, karena dia terlalu malas untuk mengoceh.



"EEEEEH!?" Colin melengking kaget mendengar respon Jeddy. "Selama ini kau ke mana saja sampai tidak tahu keadaan Kota Vineas!? Tapi baiklah! Aku akan menjelaskannya... jadi, Kota Vineas adalah salah satu kota yang dijuluki sebagai 'kota satu musim', dan di Kota Vineas hanya ada musim salju saja, yang terus berlangsung tanpa akhir. Makanya, karena keadaan kotanya begitu, semua penduduknya selalu mengenakan pakaian tebal setiap saat."



Mendengarnya, Jeddy dan Cherry sangat terkejut, mereka baru tahu soal itu. Karena semasa hidupnya, mereka tidak pernah mau tahu tentang keadaan kota-kota lainnya, walau Jeddy kadang tahu kondisi kota lain dari gosip teman-temannya, tapi sepertinya kali ini, dia tidak tahu tentang Kota Vineas. Padahal negaranya merupakan sebuah wilayah yang memiliki keberagaman budaya, sistem, aturan, iklim dan sebagainya. Setelah mendengar itu, Jeddy dan Cherry langsung masuk kembali ke rumah Paul untuk meminjam sebuah jaket. Dan akhirnya, Jeddy keluar dengan memakai jaket berwarna hijau tua yang ada tulisan 'mati!' di dadanya, sedangkan Cherry mengenakan jaket milik Ibunya Paul yang berwarna merah muda terang dengan pola bunga sakura di punggungnya.



"Sepertinya kalian semua sudah siap!" kata Paul setelah memandangi penampilan Cherry, Jeddy, dan Colin. Kemudian, dia langsung melangkahkan kakinya dengan berseru, "Kalau begitu, mari kita kunjungi kota sialan itu!"

__ADS_1



__ADS_2