
Pagi menyingsing dengan begitu cepat. Cahaya matahari masuk ke jendela, menyinari muka Paul yang masih terlelap bersama--tunggu, tidak ada siapa pun di sampingnya, seharusnya ada Colin dan Jeddy, karena mereka bertiga semalam tidur bersama di lantai, sedangkan Nico sendirian tidur di atas ranjang. Tapi, kemana perginya dua orang itu? Paul pun sadar saat badannya berguling ke samping, tidak ada tubuh yang menahannya.
Dengan perlahan, kelopak mata Paul terbuka, melirik ke kiri dan ke kanan, mengamati situasi. Paul langsung membangunkan badannya untuk duduk, dan ia kaget saat melihat bahwa di kamarnya, hanya ada Nico saja yang sedang duduk di ranjang sembari memainkan ponselnya. Nico sudah rapi, dia sudah memakai kaca matanya, pakaiannya pun sama seperti kemarin; kaos lengan panjang putih dan celana panjang putih, tapi hari ini, pakaiannya tampak lebih bersih, apa dia mencucinya sebelum mandi? Paul masih belum bersuara, dia hanya memandangi Nico yang sedang menundukan kepalanya, menatap layar ponsel, dengan wajah serius.
Merasa ada seseorang yang memandanginya dari tadi, Nico pun mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel ke Paul yang sedang terduduk di atas seprai lantai, dengan mendengus, Nico berkata, "Sepertinya si ketua berandalan sudah terbangun dari bunga tidurnya, bagaimana? Apakah mimpimu indah, wahai ketua? Tapi, kenapa kau bangun lebih siang dariku? Padahal semalam kau mengintrusikan pada anggota-anggotamu untuk bangun pagi? Sedangkan dirimu sendiri malah bangun siang, menggelikan sekali."
Kesal mendengar omongan Nico, Paul jadi malas untuk meladeninya, dia langsung saja menanyakan hal yang dari tadi ingin ditanyakan. "Ke mana perginya Si Colin Sialan! Dan Si Jeddy Brengsek!? Kenapa mereka menghilang!?" Mendengar pertanyaan itu, Nico memicingkan matanya dengan tatapan yang tajam pada Paul, lalu, ia masukkan ponselnya ke saku celana dan beranjak bangun dari ranjang, kemudian ia berdiri angkuh di hadapan mentornya.
"Kau ini bodoh atau tolol?" ucap Nico dengan menyemburkan kata-kata yang sangat menusuk pada Paul. "Kau tidak ingat alasan mereka tidak ikut bersama kita hari ini? Bukankah semalam mereka sudah menjelaskannya padamu? Kau lupa soal itu? Apa aku perlu mengulanginya lagi untukmu? Agar kau mengingatnya?" Kata-kata Nico berhasil membuat Paul merasa seperti ditampar bulak-balik, dan akhirnya ia mengingatnya.
"Jadi begitu, ya," Paul mengerang saat berhasil mengingat ucapan Jeddy dan Colin semalam. Jujur saja, Paul agak kecewa, dia ingin berpetualang lagi bersama mereka, seperti kemarin. Kalau sudah seperti ini, Paul tidak bisa berbuat apa-apa, karena Jeddy dan Colin punya dunianya masing-masing, yang harus mereka urus, dan ia tidak bisa melarangnya. Begitu pula dengan Nico dan Cherry, tapi untungnya, mereka berdua tidak sesibuk Colin dan Jeddy. "Ngomong-ngomong, ini jam berapa!?"
"Delapan," jawab Nico, yang masih berdiri angkuh di hadapan Paul. "Colin dan Jeddy pergi pada pukul enam. Aku sendiri bangun pada pukul empat. Dan betapa menjijikannya saat melihat mentorku masih tertidur di lantai sedangkan pahlawan-pahlawannya telah--"
"DIAM! BRENGSEK!" Karena sudah tidak kuat menahannya lagi, akhirnya Paul mengeluarkan makiannya dengan mata yang melotot sempurna, membuat Nico tersenyum miring memandanginya.
"Harus kuakui, teriakanmu memang membuatku kaget, tapi astaga, aku tidak menyangka kalau mentorku ternyata sepayah ini. Bahkan untuk bangun pagi saja, kau tidak mampu? Benar-benar sampah." Setelah mengatakan itu, Nico melangkahkan kakinya melewati tubuh Paul yang masih terduduk di lantai, ia berjalan menuju pintu kamar. "Aku tunggu kau di ruang tamu, jika selama lima menit kau masih belum siap juga, aku akan pulang ke Vineas."
Setelah mengatakan ancaman itu pada mentornya, Nico membuka pintu kamar, lalu ia membawa tubuhnya untuk keluar dari kamar tersebut, dan menutup kembali pintunya dengan kencang, menimbulkan suara gebrakkan yang cukup nyaring. Setelah ia keluar dari kamar Paul, ia menuruni tangga, dan berjalan ke ruang tamu, kemudian, ia pun duduk di kursi tamu yang empuk, sendirian, sambil mengeluarkan ponselnya kembali untuk membaca beberapa novel di internet, dasar maniak buku. Baru beberapa menit Nico memainkan ponselnya di kursi tamu, terdengarlah suara lengkingan yang sangat kencang dari luar, membuat perhatiannya langsung dialihkan dari ponsel ke ambang pintu utama. Dan munculah sesosok gadis mungil berambut merah muda yang mengenakan gaun hitam pendek di ambang pintu, dan di tangannya, ia membawa sebuah jaket.
"Hihihihi! Pagiiii! Nicoooo!" Sosok gadis itu adalah Cherry, ia langsung masuk ke dalam, dan duduk di samping Nico dengan riang. "Syukurlah! Cherry pikir Cherry ditinggal! Soalnya Cherry datang terlalu siang! Hihihi! Padahal kemarin Cherry yang membangunkan Paul, tapi sekarang siapa yang membangunkannya?"
"Aku," jawab Nico dengan singkat. "Dan mengapa kau membawa jaket yang kemarin kau pakai ke sini? Untuk apa? Mau memamerkannya?" Cherry menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukaaan! Bukaaan! Ini adalah jaket Ibunya Paul! Kemarin Cherry meminjamnya saat akan pergi ke Vineas! Jadi Cherry ingin mengembalikannya! Hihihi! Kalau begitu, Cherry pergi ke kamar Ibunya Paul, dulu yaaa!" Setelah itu, Cherry berlari-lari kecil, meninggalkan Nico sendirian di kursinya.
"Dasar gadis aneh," Kemudian, Nico kembali memainkan ponselnya dengan santai. Dan beberapa detik kemudian, Cherry kembali muncul di sampingnya dengan mengejutkan. "Kau mengagetkanku, bodoh. Mengapa cepat sekali, apa kau sudah mengembalikannya?"
__ADS_1
Cherry menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Sudah, dong! Cherry sudah mengembalikannya! Hihihihi! Dan bagaimana dengan Jeddy!? Apakah Jeddy juga sudah mengembalikannya? Soalnya kemarin Cherry meminjam jaketnya bersama Jeddy! Saat Cherry meminjam jaket ke ibunya Paul, Jeddy mengambil jaket milik Paul yang ada di kamar! Hihihihi! Apa orangnya masih tertidur!? Hihihi! Kalau begitu, Cherry akan membangunkannya!"
Ketika Cherry akan beranjak dari kursi untuk pergi ke kamar Paul, Nico langsung menahannya dengan menarik lengannya. Cherry terkejut, dan ia pun menoleh pada Nico. "Jeddy bersama Colin tidak ada di kamar, mereka sudah pergi sejak pagi, jadi jangan seenaknya masuk ke kamar laki-laki, bodoh."
Mendengarnya, Cherry tercengang, bibirnya sampai menganga. "EEEEEH!? Jeddy dan Colin pergi ke mana!? Bukankah hari ini kita akan mencari pahlawan baru!? Apa yang mereka lakukan, sih!? Cherry jadi kesal!" Nico menghela napas mendengar pekikan Cherry, lalu, ia pun memasukkan kembali ponselnya ke kantung celananya.
"Dari yang kudengar, Jeddy berencana untuk pulang ke Groen, untuk menemui orang tuanya yang ada di penjara--walau aku tidak tahu apa yang menyebabkan orang tuanya di penjara, apakah keluarganya menjual narkoba? Entahlah--lalu, untuk Colin, katanya dia diperintahkan oleh atasannya untuk kembali kerja di kedai. Begitulah, kau paham? Tapi percuma saja, gadis bodoh sepertimu mana mungkin paham apa yang kuucapkan."
Cherry memandangi muka Nico lekat-lekat sembari bilang, "Jadi, itu artinya, hari ini Cherry akan pergi bersama Paul dan Nico saja?" Dengan cepat, ekspresi Cherry kembali riang seperti sebelumnya, "Tapi tidak apa-apa! Soalnya Nico juga lucu, kok! Walau mulutnya memang menjengkelkan, sih! Dan Paul pun menggemaskan jika sedang teriak-teriak! Walau kadang Cherry ingin membunuhnya, sih! Hihihihi! Cherry jadi tidak sabar! Kira-kira kita akan pergi ke kota mana, ya!? Dan kira-kira pahlawan selanjutnya orangnya seperti apa, ya!? Cherry harap sih dia seorang gadis seperti Cherry! Soalnya laki-laki sudah terlalu banyak! Apalagi kalian semua bau keringat! Hihihihi!"
Nico tersinggung mendengarnya. "Kau bilang aku bau keringat? Kurang ajar sekali." Saat Nico akan menyemburkan kata-kata pedas pada Cherry, sosok Paul tiba-tiba muncul di hadapan mereka, dengan penampilan; mengenakan kemeja flanel lengan panjang bermotif kotak-kotak hitam, dan celana jin panjang hitam. "Wah, mengagumkan sekali. Sepertinya sang ketua geng sudah tiba." Sindir Nico dengan tersenyum miring pada Paul.
"Uwaaah! Keren sekali! Cherry seperti melihat sosok seorang pangeran dari negeri seberang! Hihihihi! Bercanda, kok!" pekik Cherry dengan menjitak kepalanya sendiri.
"Kota selanjutnya, ya?" Nico pun mengangkat pantatnya dari kursi, lalu ia berjalan santai ke luar. "Memangnya kita akan pergi ke kota mana? Setidaknya katakan pada kami kita akan pergi ke kota mana, bodoh."
"Heyyyy! Tungguuuu! Jangan tinggalkan Cherryyyy!" Cepat-cepat Cherry menyusul Nico dan Paul yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Setelah sampai di samping Paul, Cherry bertanya dengan riang, "Paul! Paul! Paul! Apakah Jeddy sudah mengembalikan jaketmu!?"
"Sudah, dia telah menyimpannya di dalam lemariku! Tapi kenapa kau malah menanyakan hal yang tidak penting begitu padaku, brengsek!?"
"Hihihihi! Cherry hanya penasaran saja, kok!" Cherry menampilkan wajahnya yang berseri-seri pada Paul.
"Kita akan pergi ke kota mana, Paul?" tanya Nico yang sudah ada di samping Paul, kini mereka sedang berjalan di trotoar jalan raya. "Jangan bawa aku ke kota yang aneh-aneh, aku benci mengunjungi tempat yang tidak sesuai dengan prinsipku. Aku hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang sama seperti Vineas, damai dan tentram."
"Pahlawan macam apa kau hingga pilih-pilih tempat begitu! Sebagai pahlawan! Kau seharusnya punya hati yang tulus! Tidak peduli di mana pun tempatnya itu, jika ada sesuatu yang membahayakan, kau harus mengurusnya!" Paul langsung menceramahi Nico dengan bentakannya yang sangat kencang.
__ADS_1
Cherry terkikik menyaksikannya, sedangkan Nico melirik ke arah Paul dengan mata yang dingin. "Kau pikir aku ingin jadi pahlawan? Bukankah aku sudah bilang? Aku tidak mau jadi pahlawan, itu sangat memalukan. Tapi karena kau memaksaku, jadi aku terpaksa melakukannya, bodoh."
Mendengar respon Nico, sukses membuat urat-urat di kening dan leher Paul menonjol saking kesalnya. Saat Paul hendak memaki-maki Nico, ponselnya tiba-tiba bergetar di celananya. Alhasil, dia menahan emosinya dan segera mengeluarkan dan mencengkram ponselnya dengan brutal. Lalu, Paul berseru-seru. "CEPAT KATAKAN APA MAUMU! BRENGSEK!"
"Ini saya, Tuan," terdengarlah suara sopan Roswel dari seberang telepon, membuat amarah Paul agak mereda. "Sepertinya hari ini Anda tampak energik sekali, Tuan. Saya senang mendengarnya."
"Cukup basa-basinya! Cepat berikan informasinya padaku!"
"Sebelum itu, saya ingin mengucapkan, selamat ulang tahun, pada Anda, Tuan. Saya tahu ini terlambat, tapi saya sangat ingin mengatakannya. Selamat sudah menginjak usia delapan belas, Tuan. Semoga Anda bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak di tahun ini," Roswel terkekeh. "Baiklah, saya tahu Anda benci pada basa-basi, maka saya akan langsung ke intinya. Jadi, menurut pengamatan saya, target Anda kali ini tinggal di Kota Aljelvin, seorang lelaki berparas cantik seperti seorang gadis, rambutnya sangat panjang berwarna ungu, namun, sepertinya dia seorang budak, karena di leher, kedua kaki dan tangannya terdapat borgol yang membelenggu. Malang sekali. Dan tampaknya, dia punya majikan yang sangat kejam, dan kedengarannya, dia sering dipanggil dengan sebutan 'Koko' oleh majikannya, Tuan. Apa informasi ini sudah cukup, Tuan?"
"Ya! Terima kasih!"
Untuk pertama kalinya, Paul mengucapkan terima kasih pada Roswel setelah mendapatkan informasi, biasanya Paul akan langsung menutup teleponnya secara sepihak setelah ia mendapatkan informasi, tapi sepertinya ia jadi sedikit berubah. "Syukurlah. Anda boleh menutup teleponnya sekarang, Tuan." Dan Paul pun langsung mematikan teleponnya, kemudian menaruh kembali ponselnya ke kantung celana.
"Paul, apa kau tadi berbicara dengan Roswel? Apa yang dia katakan?" Nico langsung bertanya pada Paul dengan mata yang menunjukkan rasa penasaran setelah mentornya selesai bertelepon ria.
Sedangkan Cherry melompat-lompat kegirangan. "Jadi! Jadi! Jadi! Roswel bilang apa, Paul!? Katakan pada Cherry! Apakah pahlawan berikutnya adalah seorang perempuan? Semoga saja! Soalnya Cherry sangat menantikan itu! Hihihihi!"
"Kita akan pergi ke Kota Aljelvin! Dan pahlawan berikutnya adalah seorang lelaki! Namanya Koko!" Tiba-tiba muka Cherry langsung jengkel mendengarnya. "Tapi, Roswel bilang, walaupun dia lelaki, dia punya penampilan seperti seorang gadis. Rambutnya panjang dan wajahnya cantik." Mendadak, muka Cherry ceria kembali, dia bahagia mendengarnya.
"YEEEEY! Akhirnya! Cherry senang sekali! Walau dia seorang lelaki! Tapi ada sisi perempuannya! Dan Cherry suka! Hihihihi! Ayo kita berangkat ke Aljelvin! Paul! Nico!" teriak Cherry dengan tersenyum lebar, gadis itu tampak tidak sabaran.
"Kota Aljelvin, ya?" Nico mengingat-ingat sesuatu, dan matanya langsung membulat sempurna saat mendapatkan sesuatu yang mengejutkan dari ingatannya. "Ah, aku mengingatnya sekarang. Aljelvin adalah satu-satunya kota di negara ini yang melegalkan praktik perbudakan, kan? Itu adalah kota yang sangat suram. Aku pernah membacanya di buku dan internet. Menjijikan sekali."
Cherry terkejut mendengarnya. "Benarkah!? Jangan-jangan... pahlawan kita adalah seorang--"
__ADS_1
"Ya!" Paul langsung bersuara dengan menganggukkan kepalanya. "Pahlawan baru kita adalah seorang budak di Aljelvin." Nico dan Cherry terbelalak mendengarnya.