Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 116 : Gerombolan Babi


__ADS_3

Ketika Sang Nyonya Pemilik Rumah sibuk memarahi Lizzie karena gadis itu seenaknya memasuki istananya tanpa permisi, ada senyuman kecil yang terpatri di wajah Lizzie saat dirinya terus dimaki-maki oleh wanita tersebut, seakan-akan ia tidak begitu keberatan dimarahi habis-habisan seperti itu.


Karena tampaknya Lizzie menemukan ide cemerlang yang muncul di kepalanya. Semua hujatan yang wanita itu ucapkan pada Lizzie tidak didengar dengan serius olehnya, rasanya seperti masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


Saat wanita itu memberi jeda pada omongannya, Lizzie langsung bersuara dengan nada yang santai. "Sia-sia saja kau mengatakan hal sebanyak itu, karena aku sama sekali tidak mendengarkan perkataanmu."


Tersentak, Wanita itu geram mendengar respon Lizzie yang terkesan membangkang. "Astaga! Kau benar-benar tidak punya sopan santun terhadap orang yang lebih tua! Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, aku akan menghubungi polisi sekarang juga, dan kau sebentar lagi akan membusuk di penjara, Gadis Kotor!"


Wanita itu memelototi Lizzie hingga bola-bola matanya seperti hendak keluar, tapi sayangnya gadis itu sama sekali tidak takut dengan ancaman klise tersebut. Malah sebaliknya, seringaian Lizzie jadi semakin mengembang saat mendengarnya.


"Hubungi saja, aku tidak takut." Mendadak, Lizzie mengeluarkan sebilah pisau mungil yang giginya sangat tajam dari kantung celananya.  Lizzie mengerling ke wajah wanita itu sambil menunjukkan pisau itu padanya. "Karena sebelum kau menghubungi para polisi atau siapa pun itu, kau bakal mati di tanganku, Nyonya. Jadi bersiaplah," Lizzie langsung mendekati wanita itu sembari menodongkan pisau itu ke leher sang nyonya.


Wanita itu menjerit saat mata pisau tersebut sangat dekat dengan permukaan lehernya yang lembut, Lizzie berdiri di belakang sang nyonya sembari memain-mainkan pisaunya dengan santai. "Jangan main-main dengan alat itu! Lizzie!" Wanita itu tampak panik melihat benda tajam dijadikan mainan oleh gadis belia di dekat lehernya. "Kau bisa melukaiku! Dan kau bahkan bisa membunuhku! Jadi cepat buang pisau itu, Lizzie! Jika kau menggores kulitku sedikit saja, kau akan tahu akibatnya!"


"Daripada itu, dengarkan aku," Dengan nadanya yang begitu santai, Lizzie berbicara sambil terus memain-mainkan mata pisaunya di dekat leher sang nyonya rumah. "Mengapa kau mengusir Putrimu sendiri dari rumah? Mengapa kau berbuat sekejam itu pada anak kandungmu sendiri? Apa yang kau pikirkan sampai melakukan hal keji seperti itu? Bahkan setelah kau mengusir Rara dari rumah, kau masih bisa tidur nyenyak tanpa sedikit pun memikirkan kondisi anakmu yang telah kau usir? Itu sangat kelewatan." Lizzie berdecak lidah saking kesalnya. "Aku tidak bisa memaafkan perbuatan jahatmu itu, Nyonya."


"Justru seharusnya aku yang bilang begitu padamu, Gadis Kotor!" Sang Nyonya, meski sedang gelisah melihat pisau digoyang-goyangkan di dekat dengan lehernya, masih berani untuk memberi respon dengan nada membentak. "Kaulah yang membuat Rara jadi berubah seperti itu! Gara-gara kau, Anak Sulungku jadi suka membangkang! Padahal sebelumnya Rara adalah gadis polos dan penurut, tapi semenjak dia bermain dengan orang sepertimu! Tingkahnya jadi buruk! Dia bahkan jadi berani bertengkar dengan keluarganya sendiri!"


"********!" Tanpa ba-bi-bu lagi, Lizzie langsung menyayat leher wanita itu dengan pelan, menimbulkan luka yang menganga dan percikan darah segar yang muncrat. "Aku tidak peduli pada penyebab Rara berubah, terserah kau mau menyalahkanku atas hal itu! Aku tidak peduli! Tapi yang membuatku marah adalah," Lizzie menggeram layaknya singa yang tidak tahan ingin menerkam mangsanya. "Kau sama sekali tidak memikirkan kebahagiaan Rara!"


"Astaga! Argh! Leherku! Sakit! Hentikan! INI SAKIT SEKALI! ARGH!" Sayatan demi sayatan terus digoreskan oleh Lizzie hingga Sang Nyonya Rumah jatuh terduduk sambil dua lengannya memegangi leher yang tengah mengalirkan banyak darah, membuat lantainya jadi penuh dengan linangan darah merah yang sangat kental. Wanita itu langsung mendongak menatap Lizzie yang sedang berdiri di belakangnya. "Kau akan mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini! Lizzie!"


"Aku tidak sudi!" Lizzie langsung menikam leher Sang Nyonya Rumah dengan ganasnya. "Kau adalah orang tua paling buruk yang pernah kutemukan dalam hidupku! Kau telah menyakiti perasaan Rara! Kau harus mendapatkan ganjaran atas kelakuan busukmu! Dasar ********!"

__ADS_1


"ARGH! LIZZIE! HENTIKAN! ITU PERIH! ARGH! TOLOOOOONG!"


Paul--yang sedang mengintip dari dalam celah pintu kamar bayi--terbelalak menyaksikan hal itu, karena tidak tahan melihat seseorang disiksa dengan begitu brutalnya, akhirnya ia keluar dari kamar tersebut untuk menghampiri Lizzie yang sedang sibuk menikam wanita tak berdaya itu.


"SUDAH HENTIKAN! BRENGSEK!" Setelah sampai di dekat Lizzie, Paul berteriak kencang sambil berusaha merebut pisau yang digunakan oleh Lizzie untuk menikam wanita itu. Namun, mau sebagaimana pun Paul berusaha, Lizzie tidak membiarkan pisaunya direbut oleh lelaki itu.


"Kau jangan ikut campur!" seru Lizzie pada Paul dengan muka yang ganas. "Sebaiknya kau duduk diam saja di ruangan itu! Karena ini bukanlah urusanmu! ********!"


"Aku tahu ini bukan urusanku! Tapi kau tidak seharusnya melakukan hal seperti itu! Brengsek!"


"Jika kau masih saja begitu! Aku akan menganggapku sebagai target! Itu artinya, kau juga akan kucincang seperti wanita ini!"


Paul mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu ia mantapkan hatinya sedalam mungkin. Kemudian, dengan gesit, Paul langsung menendang pisau yang digenggam Lizzie hingga terlempar ke sembarang arah. Selain itu, berkat tendangan tersebut, lengan kanan Lizzie jadi patah akibat tendangan yang dilakukan oleh Paul, sampai gadis itu langsung meringkuk kesakitan di lantai, merasakan nyeri yang sangat luar biasa dari tulangnya yang patah.


Pada akhirnya, Paul hanya berdiri memandangi dua perempuan yang menjerit-jerit kesakitan, sedang terbaring lemah di lantai. Yang satu wanita dewasa dengan leher terkena banyak sayatan tajam membuat darah berceceran di lantai, sementara yang satunya lagi seorang gadis berambut oranye pendek yang tergeletak kesakitan dengan tangan kanannya yang patah.


Saat suasana sudah sedikit tenang, tiba-tiba saja terdengar bunyi derapan langkah kaki yang bergerombol datang ke lokasi Paul berada. Dan munculah beberapa orang yang sepertinya juga penghuni rumah ini, mereka semua tidak lain tidak bukan adalah anggota keluarga Rara yang lain, meliputi Ayah kandungnya, Pamannya, Bibinya, Kerabatnya, Kakeknya, Neneknya, dan yang lainnya. Jumlahnya sekitar dua puluh orang. Mereka semua menampilkan ekspresi terkejutnya masing-masing saat menyaksikan kejadian yang terpampang di hadapan mereka.


"Ya ampun!"


"Astaga!"


"Apa-Apaan ini!?"

__ADS_1


"Mengerikan!"


"Ini gila!"


"Jahat sekali!"


Mereka melontarkan berbagai ucapan kagetnya masing-masing, dengan mata yang akhirnya tertuju pada sosok Paul yang sedang berdiri tegak di antara dua perempuan yang terbaring lemah dengan darah bercucuran. Bagi mereka, pemandangan itu sudah menerangkan dengan sangat jelas bahwa Paul lah yang melakukan aksi pembantaian di rumah ini. Mereka jadi tampak waspada pada gerak-gerik Paul, khawatir salah satu dari mereka jadi korban berikutnya.


"Apa!?" bentak Paul pada mereka semua dengan bringas. "Kalian mau menuduhku bahwa aku yang melakukan ini semua, hah!?"


Hening.


Orang-orang itu tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Paul, masing-masing dari mereka ketakutan saat berkontak mata dengan lelaki itu, takut dibunuh juga.


"Bagus!" Lizzie, dengan lengan yang masih patah, berusaha mengangkat tubuhnya sendiri untuk bangun. "Akhirnya kalian semua berkumpul di sini! Ini bagus! Karena dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot mencari-cari kalian lagi di luasnya rumah ini!" Lizzie menyeringai, dengan menahan rasa nyeri di tangan kanannya. "Sekarang, aku akan membantai kalian semua, DEMI RARA!"


"Tidak! Kau tidak kuizinkan membantai siapa pun di sini!"


Mendengar ucapan Paul, Lizzie menoleh ke lelaki itu dengan raut muka yang sangat jengkel. "Lagi-lagi kau ikut campur!"


"Aku akan terus ikut campur dalam urusanmu! Karena kau itu adalah calon pahlawan bimbinganku! Bodoh!"


Lizzie mengernyitkan alisnya dengan kesal. "Hentikan omong kosongmu itu! Aku muak mendengarnya!" Perhatian Lizzie kembali terfokus ke keluarganya Rara yang berdiri berjejer beberapa meter di depannya. "Kalian lihat?" Lizzie tersenyum sambil menunjukkan wanita yang merupakan Sang Nyonya di rumah ini sedang terbaring lemah dengan darah menggumpal di lantai. "Kalian juga akan berakhir seperti Wanita ini! Atau mungkin, lebih parah dari ini! Maka bersiaplah, karena sebentar lagi aku akan mencincang kalian semua! Wahai Gerombolan ****!"

__ADS_1


__ADS_2