
Mendadak, Paul dibekap, ditarik, dan digendong oleh Abbas ke tempat yang sepi, Isabella mengikutinya dari belakang dengan terkikik-kikik. Tentu saja Paul tidak diam dan menurut begitu saja, bahkan saat dirinya berada digendongan Abbas, badannya terus memberontak dengan liar, menggeliat-geliat meminta dilepaskan dari tindakan paksa yang dilakukan temannya. Tapi sayangnya, Abbas tidak mempedulikan Paul, yang ada dipikirannya, ialah harus melaksanakan perintah Isabella secepat mungkin, agar permainannya bisa berakhir.
Bukan hanya itu, Abbas adalah tipe orang yang tidak nyaman jika dia belum melunasi sesuatu pada seseorang, entah itu uang, jasa, atau pun hal sepele seperti perintah di dalam sebuah permainan. Karena itulah, Abbas ingin cepat-cepat melaksanakan perintah Isabella, agar utangnya bisa cepat lunas. Rasanya cukup mengganggu jika ada sesuatu yang belum dilunasi, itulah yang ada di benak Abbas.
Setelah sampai di sebuah pekarangan sepi dan kosong, Abbas langsung membaringkan badan Paul di permukaan tanah, tak lupa melepaskan telapak tangan besarnya dari mulut Paul, yang sebelumnya berhasil membekap mulut sang mentor hingga tidak bisa berteriak-teriak. Isabella terengah-engah saat sampai di tempat yang sama dengan Abbas, dia kelihatan lelah karena terus berusaha menyamai kecepatan lelaki kekar itu dalam melangkah. Tapi rasa lelahnya seketika hilang saat melihat Paul yang terbaring di permukaan tanah dengan posisi yang terlentang, muka sang mentor pun tampak seperti orang yang kehabisan napas.
"Hahh.. Hahh... Apa-apaan itu! Brengsek!" Paul mengatur napasnya dengan sekuat tenaga, sembari menatap muka Abbas yang berdiri di dekatnya. "Kau membekap mulut dan hidungku dengan sangat kuat, aku sampai hampir mati!"
"Maaf," kata Abbas dengan muka datarnya seperti biasa. "Aku sedikit keterlaluan padamu, aku minta maaf."
"Sudahlah, sudahlah," Isabella mendatangi dua sosok itu dengan terkikik-kikik ria. "Lagi pula kau tidak mati juga, kan? Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, daripada itu," Isabella menyunggingkan seringaian kecil di wajahnya. "Ayo lakukan 'itu' di sini, aku akan sangat senang jika kalian melakukannya sekarang. Apalagi kalau," Isabella mengeluarkan ponselnya dari gaun pendeknya. "... kalian mengizinkanku untuk merekamnya, aku pasti bakal senang sekali, loh."
Paul langsung terlonjak, dan bangkit dari posisi terbaringnya untuk berdiri tegak. Kemudian, ia berseru-seru pada Isabella, saking kesalnya dengan ucapan yang dikatakan gadis itu. "Jangan gila! Aku tidak sudi berciuman dengan lelaki! Dan aku juga tidak sudi berciuman dengan perempuan! Pokoknya siapa pun itu! Aku tidak tertarik! Jadi berhentilah mengejekku! Brengsek!"
Saat Paul sedang marah-marahnya, tiba-tiba saja Abbas mengelus-elus rambutnya dengan sangat lembut. "Aku mengerti," kata Abbas, berusaha memahami kondisi Paul. "Tapi kita harus melakukannya."
__ADS_1
"Ya ampun, kau ini benar-benar susah sekali, ya?" Isabella mendecakkan lidahnya. "Padahal perintahku tidak muluk-muluk, kan? Aku hanya meminta kau dan Abbas, berciuman. Itu saja. Tapi kau menganggapnya seakan-akan itu adalah hal yang aneh, padahal lelaki dan lelaki berciuman, itu tidak aneh sama sekali. Aku sering melihatnya, kok. Dan itu normal. Jadi ayolah, Paul?" Isabella terus merayu-rayu Paul agar lelaki itu bersedia melaksanakan perintahnya. "Mau sampai kapan kau terus memberontak begitu? Apalagi sekarang kita sedang dalam misi. Jika melaksanakan perintahku saja kau tidak mampu, bagaimana mungkin kau bisa melaksanakan tugasmu sebagai mentor itu?"
"Jangan khawatir, Isabella," Tiba-tiba Abbas menarik badan Paul dengan lengan kekarnya hingga berdekatan dengan badannya. "Aku akan memaksanya." Abbas mengunci tubuh Paul dengan lengan-lengan kekarnya.
"Berhenti! Sialan! Jangan buat aku marah lagi! Lepaskan! Cepat! Brengsek!" Namun, mau sekuat apa pun Paul bergerak, ia tidak akan pernah mampu melepaskan diri dari sergapan Abbas, yang telah mengunci pergerakan tubuhnya. Sebab, Abbas memiliki ukuran kekuatan tubuh yang sangat besar, dan jika dibandingkan dengan Paul, mentornya tidak ada apa-apanya.
"ABBAS! KUBILANG LEPASKAN! CEPAT LEPASKAN! JANGAN TERPENGARUH PADA HASUTAN PEREMPUAN BRENGSEK ITU! KAU TIDAK BOLEH MELAKUKANNYA DENGANKU! LAKUKAN SAJA DENGAN ORANG LAIN! BRENGSEK!"
Tetap saja sia-sia, apa pun yang dilakukan oleh Paul, tidak ada artinya sama sekali. Abbas masih mempertahankan kunciannya dengan kuat, dan Isabella tersenyum memandangi itu. "Baiklah, Abbas," kata Isabella, berusaha memulai pertunjukkan serunya. "Lakukan sekarang," Isabella terkikik. "Dengan perlahan-lahan."
Abbas pun mulai memejamkan sepasang matanya dan mendekatkan kepalanya ke wajah Paul, secara perlahan-lahan. Rasanya sangat menenangkan saat napas Paul menderu-deru dan menggelitiki wajahnya, Abbas benar-benar suka dengan kelembutan. Dan saat napas Paul mengusap-usap wajahnya, itu sangat lembut dan menyejukkan.
Tinggal beberapa sentimeter lagi hingga bibir Paul dan bibir Abbas bersentuhan, Isabella--yang menyaksikan kejadian itu--tidak henti-hentinya menjeprat-jepretkan kamera di ponselnya, memotret tiap pergerakan yang dilakukan kepala Abbas saat mendekati wajah Paul. Disertai dengan kikikan-kikikan girang dari perempuan itu.
Keringat Paul bercucuran dengan deras saat wajah Abbas sudah sangat dekat dengan wajahnya, ini adalah teror yang paling mengerikan di dalam hidupnya. Sungguh, Paul tidak menyangka Abbas punya otot yang sangat kuat, hingga membuatnya tidak bisa sedikit pun lepas dari sergapan lelaki kekar itu. Sepertinya Paul tidak bisa apa-apa selain menerima dengan pasrah pada apa yang akan dilakukan Abbas padanya. Semoga saja itu bisa cepat selesai. Agar Paul bisa pergi ke laut dan mencuci mulutnya hingga bersih dengan air asin.
__ADS_1
Namun, saat bibir Abbas akan mengecup bibir Paul, tiba-tiba saja seseorang berteriak dengan sangat keras, hingga Abbas, Paul, dan Isabella menoleh ke sumber suara.
"BERHENTI DI SITU!" Terlihatlah sosok seorang perempuan muda berambut oranye pendek, kelopak mata lebar, payudara rata, tubuh ramping, dengan mengenakan pakaian olahraga yang warnanya serupa dengan rambutnya. Perempuan itu, menunjuk dengan garang pada mereka bertiga, jari telunjuk yang dijulurkan seakan-akan seperti sebilah pedang tajam yang siap menebas apa pun. "JANGAN LAKUKAN TINDAKAN BEJAT DI SINI! DASAR ORANG-ORANG MESUM!"
Tentu saja, kehadiran perempuan itu sempat membuat Isabella, Abbas, dan Paul terkejut. Namun, ketika diamati baik-baik penampilan dari perempuan itu, keterkejutan Paul langsung hilang, tergantikkan dengan rasa senang yang luar biasa. Saat Abbas mulai lengah, yang membuat kunciannya mengendur, Paul langsung mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri.
Dan akhirnya, Paul berhasil lepas dari sergapan tubuh Abbas. Melihat Paul melepaskan diri, Isabella dan Abbas terkesiap. "Aku lengah." kata Abbas dengan datar.
"Sayang sekali, ya?" Isabella mengerucutkan bibirnya dengan kecewa saat melihat Paul berdiri tegak dengan bebas.
Paul sudah tidak peduli lagi dengan tindakan yang dilakukan Abbas mau pun Isabella, kini perhatiannya lebih difokuskan pada sosok perempuan berambut oranye pendek itu, yang gaya rambutnya seperti lelaki.
"Kau!" Paul tersenyum lebar-lebar, saking senangnya. "Lizzie, kan!?"
Lizzie, perempuan berambut oranye itu, terkejut saat nama depannya tiba-tiba diketahui oleh Paul, yang merupakan orang asing di hadapannya.
__ADS_1