
"WOAH! BRO! KAU SUDAH PULANG, YA!?"
Ketika Paul dan Cherry melesat meninggalkan ruang tamu, pergi ke luar pintu, untuk memastikan apa yang terjadi di sana hingga terdengar bunyi besi terpukul, dan mereka malah menemukan seorang lelaki berambut jabrik hijau sedang berdiri di luar gerbang, dengan dua tangan menggenggam pistol hitam. Itu adalah Jeddy, dan ia tampak gembira melihat kehadiran Paul bersama Cherry di beranda depan. Paul mengernyitkan alisnya, dan Cherry mengembungkan pipinya.
"Cherry pikir itu suara apa!? Ternyata cuma Jeddy, ya? Mengecewakan! Hm!" Cherry memalingkan mukanya ke samping, menampilkan ekspresi yang begitu sebal.
"Maaf-maaf!" Jeddy langsung berlari kencang, memasuki gerbang, menaiki undakan, dan berdiri berhadapan dengan Paul dan Cherry di beranda. Jeddy menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan tertawa. "Hahahahaha! Suaranya pasti mengejutkan kalian, ya! Sebenarnya tadi aku pergi ke pusat kota untuk membeli ini! Bro!" Jeddy memperlihatkan dua pistol itu pada Paul dan Cherry dengan muka yang berseri-seri. "Tadi malam aku melihatnya di internet, dan mereka bilang, ini adalah model terbaru! Dan ini hanya dijual di Kota Swart! Jadi paginya aku langsung pergi untuk membeli ini! Heheheh! Dan barusan aku mencobanya di depan gerbang! Dua pistol ini kuarahkan ke besi-besi di gerbang rumahmu dan aku kaget! Bro! Ternyata pistol ini kedap suara! Dia tidak mengeluarkan suara apa pun saat peluru dilesatkan dari tubuhnya! Yang terdengar hanyalah suara pantulan saat peluru itu mengenai target! Itu benar-benar hebat, kan, Bro!?"
"Dan berkat suara itu! Jantung Cherry hampir copot, tahu! Sebaiknya Jeddy jangan mencobanya di daerah perumahan seperti ini! Bagaimana kalau tetangga-tetangganya Paul terganggu dengan suara pantulan itu? Pasti mereka bakal marah padamu! Huh! Cherry juga sedang marah padamu, tahu! Hm!"
"Dasar bodoh," Alih-alih membentak Jeddy, Paul hanya menghela napasnya dengan muka yang datar. "Aku tidak peduli pada urusanmu, tapi kalau kau mau mencobanya sekali lagi," Paul menepuk kepala gadis mungil yang berdiri di sampingnya. "Lakukan saja pada tubuh orang ini, aku akan senang jika kau mau melakukannya." Setelah itu, Paul kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jeddy dan Cherry yang terkejut pada ucapannya.
"I-ITU TIDAK MUNGKIN! BRO!" Jeddy langsung melengking setelah mendengar itu, dengan menatap wajah Cherry yang sedang mengembungkan pipi di depannya. "Aku tidak mungkin bisa menembak seorang gadis mungil seperti Cherry! Dia terlalu imut untuk dijadikan bahan percobaan! Bro!"
"Jangan kira Cherry akan luluh dengan gombalan itu! Cherry tidak akan luluh, tahu! Cherry akan buktikan pada Jeddy bahwa Cherry adalah gadis yang kuat! Kuat dalam menahan buaian dan biusan dari gombalan Jeddy! Ingat itu baik-baik! Jeddy!" Sambil mengatakan itu, Cherry berjalan cepat ke pintu, meninggalkan Jeddy sendirian di sana.
"Eh? Memangnya aku seburuk itu, ya?" Jeddy melongo, terheran-heran dengan ucapan Cherry yang terkesan membentengi diri darinya. Tapi sedetik kemudian, Jeddy kembali tertawa. "Hahahah! Ada-ada saja!"
__ADS_1
Baru saja mereka bertiga duduk di kursi, tiba-tiba saja, Jeddy melontarkan sebuah pertanyaan pada Paul. "Di mana Nico, Colin, dan Pahlawan Barunya, Bro!? Kau baru pulang dari Cocoa, kan? Aku penasaran pada sosok pahlawannya, Bro!"
Paul terdiam sejenak. "Mereka masih belum datang."
"Eh? Belum datang?" Cherry tersentak mendengarnya, ia tidak sangka Paul bakal pulang sendirian, tanpa membawa rombongannya seperti biasa. "Kok bisa!? Seharusnya mereka datang bersamamu, kan!? Ada apa, Paul!? Apakah sesuatu terjadi pada mereka!? Katakan pada Cherry! Mungkin saja Cherry bisa membantu! Ayo, katakan! Paul!"
Jeddy juga ikut menganggukkan kepalanya, seraya memberitahu bahwa ia pun siap membantu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Nico, Colin, dan sang pahlawan baru. Awalnya Paul ragu untuk menjelaskannya, tapi lama-kelamaan, ia mulai masa bodoh dengan itu, dan ia pun langsung menceritakan semuanya yang terjadi di Kota Cocoa hingga momen saat berada di Kastil Roswel, pada Jeddy dan Cherry, tentunya dengan bahasa yang terdengar datar dan tak bergairah.
Meskipun begitu, Jeddy dan Cherry memahaminya dengan baik, mereka terperangah setelah mendengar itu.
"Tidak perlu," ucap Paul dengan santai. "Kalian tidak perlu membantu, itu hanya akan membuat masalahnya jadi tambah besar. Jika kalian mencari keberadaan mereka dan ikut menghilang, maka perjuanganku menemukan kalian di Kota Groen dan Poppe, akan berakhir sia-sia." Paul menghembuskan napasnya dengan memangku dua tengkuknya di atas lutut. "Biar aku saja yang mencarinya, lagi pula, ini adalah tanggung jawabku sebagai seorang mentor."
"Tapi--" Baru saja Jeddy akan menyela ucapan Paul, tiba-tiba saja terdengar teriakan yang membahana dari dapur, membuat mereka bertiga, secara refleks, menoleh ke arah ruang tersebut.
Paul, Cherry, dan Jeddy, bergegas menuju ruang dapur dengan tergesa-gesa, mereka tampak cemas pada teriakan seorang perempuan yang tidak asing. Mereka berharap semua baik-baik saja, walau saat ini, jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dan saat mereka sampai di dapur, sesuatu yang tidak terduga terpampang jelas di hadapan mereka.
__ADS_1
Elena--Ibunya Paul--sedang memeluk erat punggung Naomi, mencegah pergerakan gadis berkerudung itu yang tampak mengamuk dan di tangan kanannya, menggenggam sebilah pisau tajam. Elena dan Naomi masih berada di dekat kompor, nakas dan bufet penyimpanan alat-alat dapur, sementara di seberang mereka, ada Koko yang sedang berdiri dengan tubuh gemetar dan kepala tertunduk lemas. Naomi seperti orang yang kerasukan, menggeram-geram dengan tatapan tajam yang tertuju pada Koko.
"ADA APA INI, BU!?"
Sontak, Paul yang baru datang bersama Cherry dan Jeddy, terkejut melihat kejadian itu, mereka bertiga tidak mengerti mengapa Naomi terlihat seperti ingin menusuk Koko.
"Tolong bantu Ibu menghentikan Naomi! Dia ingin membunuh Koko! Kumohon! Paul! Kemarilah!"
Paul dan Jeddy langsung beringsut mendatangi Naomi dan mengunci pergerakkan tangan dan kaki gadis berkerudung itu. Cherry cepat-cepat merebut pisau yang digenggam Naomi dan menyimpannya di tempat yang aman, setelah itu, gadis mungil itu langsung mendekati Koko untuk menenangkan lelaki cantik itu.
"Kenapa dia ingin membunuh Koko, Bu!?" tanya Paul yang tidak paham dengan hal tersebut. Bukan hanya Paul. Cherry, dan Jeddy pun tidak mengerti mengapa gadis sopan seperti Naomi mendadak berubah jadi ganas seperti ini.
"DIA ADALAH MAKHLUK TERKUTUK!" Tiba-tiba Naomi berteriak dengan kencang, membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Naomi mengatakannya dengan mata yang melotot dan jari telunjuk yang menunjuk-nunjuk ke arah Koko. "Tuhan membenci orang-orang seperti dia! Kita harus membunuhnya! Kalau tidak, kiamat akan semakin dekat! Aku tidak mau... berdampingan dengan makhluk seperti itu!"
Sedetik kemudian, Koko mulai bersuara.
"Kumohon, jangan sakiti Naomi, biarkan dia bergerak mendatangiku...," ucap Koko pada Elena, Paul, dan Jeddy setelah menegakkan kepalanya. "Aku juga sebenarnya kaget pada reaksi Naomi, padahal dia itu adalah gadis yang sangat baik. Bahkan saat di Kota Sablo, dia bersedia memakaikan kerudung di kepalaku, dan ketika aku bilang padanya bahwa aku adalah seorang lelaki, Naomi hanya kaget tapi tidak sampai seperti ini." Koko menghembuskan napasnya pelan-pelan. "Tidak apa-apa... biarkan Naomi bergerak, kumohon."
__ADS_1