Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 124 : Berakhir


__ADS_3

“Jadi kau di sini, ya?”


Saat Lizzie dan Rara masih sedang memeluk satu sama lain, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran tiga orang yang tengah berdiri tegap di depan sel mereka. Tiga orang itu meliputi lelaki berambut hitam dengan wajah galaknya, perempuan berambut merah panjang dengan senyuman menggodanya, dan lelaki tinggi berkulit hitam, berbadan kekar, yang tatapannya sangat tenang.


Ketiga orang itu memandangi Lizzie dan Rara, membuat dua gadis itu tercekat lalu melepaskan pelukannya masing-masing, lalu berdiri secara bersamaan. “Apa ini? Untuk apa kalian ada di sini?” Lizzie menggeram, tidak suka pada keberadaan tiga sosok itu yang menurutnya mengganggu. “Jika kalian datang kemari hanya ingin menertawakan kami, akan kubunuh!”


“Uh, menyeramkan sekali,” balas Isabella dengan mengedipkan matanya pada Lizzie. “Kau masih sama seperti saat kita pertama bertemu, ya?”


“Sudah kukatakan padamu, aku sangat membenci perempuan berambut panjang!” seru Lizzie dengan mata yang menyoroti Isabella. “Kau hanya membuat derajat perempuan jadi rendah! Potong rambutmu dan bersikaplah layaknya manusia perkasa! Agar para laki-laki tidak merendahkanmu!”


“Lagi-lagi begitu,” Isabella tidak mengerti mengapa Lizzie sangat terobsesi dengan derajat perempuan. “Aku jadi bingung harus menjawab apa, karena...,” Dengan anggun, Isabella mengayunkan rambut merah panjangnya. “... aku sangat mencintai mahkotaku.”


Kesal menyaksikan pertikaian kecil itu, Paul akhirnya bersuara, “ISABELLA! TUTUP MULUTMU!” Bola mata Paul bergeser ke muka Lizzie dan Rara yang ada di dalam kurungan jeruji besi. “Kami datang kemari bukan untuk menertawakanmu, kami kemari karena ingin membantumu!’


Mengernyitkan alisnya, Lizzie keheranan. Sedangkan Rara masih tidak paham dengan situasinya. “Aku tahu siapa lelaki berisik itu, tapi siapa dua orang itu,” Rara menunjuk ke arah Isabella dan Abbas yang ada di samping kanan dan kiri Paul. “Mengapa mereka semua mengenalimu, Lizzie? Apa mereka itu orang-orang yang pernah kau ceritakan padaku?”


“Ya! Mereka berdua, termasuk lelaki bodoh itu, adalah orang-orang yang pernah kuceritakan,” ucap Lizzie, menjawab pertanyaan Rara. “Hati-hati, kau jangan dekat-dekat dengan orang-orang gila seperti mereka, Rara.”


“Aku tidak mau buang-buang waktu lagi di kota ini!” Paul berseru, membungkam omongan Lizzie yang menjelek-jelekkan dirinya dan dua pahlawannya pada Rara. “Aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan serius!”

__ADS_1


Sadar Paul akan mengatakan hal itu, Isabella dan Abbas memperhatikan sikap Lizzie dengan seksama. Mereka berdua penasaran apakah orang seperti Lizzie bisa bersedia untuk menjadi seorang pahlawan atau mungkin tidak? Apa pun jawabannya, mereka tidak sabar ingin mendengarnya.


Rara yang masih belum paham maksud dari kedatangan tiga orang itu, hanya terpaku dalam hening. Sepertinya lelaki berwajah galak itu akan mengatakan tujuannya kemari, Rara jadi penasaran mengenai apa, apalagi orang-orang itu tampak lebih memfokuskan pandangannya hanya pada Lizzie.


Sementara Lizzie mendengus sebal, pasti lelaki bodoh itu akan membahas soal pahlawan-pahlawanan lagi padanya. Menjijikan. Mengapa dia sangat menginginkan dirinya untuk menjadi seorang pahlawan? Apa maksudnya itu? Itu menjengkelkan sekali. Lizzie muak mendengar sebutan itu. Pokoknya Lizzie akan menolaknya dengan lantang, tidak peduli apakah lelaki itu marah atau mungkin mengamuk padanya.


“Katakan saja,” ucap Lizzie dengan menyeringaikan bibirnya, tampak seperti mengejek Paul. “Kali ini, aku akan menjawabnya dengan serius.”


“Jadi...,” kata Paul dengan menenangkan suaranya. “... maukah kau menjadi seorang pahlawan?


Rara terbelalak, jadi itu ya tujuan mereka datang kemari. Ternyata mereka ingin merekrut Lizzie untuk menjadi seorang pahlawan! Itu keren sekali! Kedua mata gadis itu tampak berbinar-binar.


Seketika, muka Rara yang sebelumnya kegirangan, langsung berubah jadi kecewa. Dia tidak sangka Lizzie akan menolak tawaran hebat seperti itu, bukankah menjadi pahlawan adalah pekerjaan yang sangat mulia? Selain itu, menjadi pahlawan pun bisa membuatnya dipuja-puja oleh orang lain, tapi mengapa Lizzie malah menolaknya? Rara benar-benar tidak mengerti.


Karena kecewa pada jawaban Lizzie, Rara langsung berteriak pada ketiga orang itu, “TOLONG! UBAHLAH DIA MENJADI SEORANG PAHLAWAN PALING HEBAT SEDUNIA!”


Paul, Isabella, dan Abbas tersentak saat mendengar teriakan gadis kecil itu, terutama Lizzie, yang teramat kaget dengan hal tersebut.  “Tunggu, Rara! Apa maksudmu! Mengapa kau—“


“Pokoknya aku tidak mau tahu!” Rara memelototi Lizzie dengan raut muka yang sangat mengintimidasi. “Kau harus menjadi pahlawan demi diriku! Aku akan mendukungmu! Kau tidak perlu khawatir!”

__ADS_1


“Tidak-tidak-tidak!” Lizzie menggeleng-gelengkan mukanya sembari mencengkram pundak Rara dengan kencang. “Kau tidak boleh berbicara begitu, Rara! Seperti yang sudah kubilang! Mereka itu tidak beres! Kita tidak boleh mendengarkan omongan mereka!”


“Justru kau di sini yang tidak beres, Lizzie!” semprot Rara dengan amarah yang membludak. “Mengapa kau bisa-bisanya menolak tawaran sehebat itu!? Aku saja bangga saat kau ditawari menjadi seorang pahlawan, tapi kau seenaknya bilang tidak mau! Padahal hidupmu sedang kesusahan, tapi mengapa kau selalu saja berlagak sombong! Hilangkan kesombonganmu itu, Lizzie! Kau harus bisa memilih jalan hidup yang bisa menjamin masa depanmu! Apa kau tidak malu, terus-terusan dimarahi oleh anak kecil berusia 10 tahun sepertiku!?”


Diam. Lizzie hanya terdiam setelah mendengar semua omongan itu, rasanya seperti dihujam oleh ratusan pedang sekaligus. Sangat menyakitkan. Dia jadi bingung, harus bagaimana setelah sahabatnya bereaksi seperti itu. Tidak terduga sama sekali kalau Rara ternyata menyetujui tawaran bodoh itu. Ah, Lizzie mulai sadar kalau Rara ini hanya gadis cilik berusia 10 tahun, pantas jika gadis itu sangat menyukai hal-hal yang berbau kepahlawanan.


Kekanak-kanakan sekali.


“Jadi kau serius menolaknya?” Paul ingin mencoba memastikan, karena sepertinya akan ada sesuatu yang berubah. “Kalau kau memang serius, baiklah. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi, kami akan pergi dari kota ini.”


“Tunggu sebentar!” Tiba-tiba, Lizzie berseru, saat Paul bersama kedua temannya, hendak melangkah pergi. “Aku tadi tidak serius, aku belum serius!” Lizzie mengerlingkan bola matanya ke samping, tidak berani menatap muka Paul.


"Hah? Kau mau mempermainkanku?" Dengan sengaja, Paul mencoba memancing Lizzie. "Katanya tadi kau serius? Kau mau kupatahkan lagi tulang-tulangmu, hah?"


"KUKATAKAN SEKALI LAGI! AKU MAU!" seru Lizzie dengan muka yang sangat serius, tidak suka pada Paul yang sengaja memancingnya. "AKU MAU MENJADI PAHLAWAN!"


Layaknya kembang api yang meledak-ledak di langit, Rara tersenyum bahagia mendengar itu, dia langsung memeluk Lizzie dengan sangat kencang. Isabella dan Abbas senang melihat gadis-gadis itu berpelukan, sedangkan Paul hanya menampilkan raut wajah yang datar.


Akhirnya, tugasnya di kota sialan ini berakhir!

__ADS_1


__ADS_2