Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 62 : Tersisa Tiga Orang


__ADS_3

"Memangnya kenapa, kau bilang?"


Entah kenapa, segala amarah yang tertekan di perasaannya yang paling dalam, tiba-tiba meluap sangat tinggi, seperti air soda yang menyembur-nyembur dari botol, sesudah mendengar penjelasan dari Naomi. Colin tidak mengerti mengapa ia jadi terasa marah pada Naomi, tapi tidak peduli apa pun itu, ia tidak boleh diam saja mendengar ada orang yang diusir dari negaranya.


"Ada apa?" Naomi terheran-heran melihat ekspresi Colin yang terlihat tegang. "Apa Anda juga tidak setuju pada tindakan saya?"


Jeddy dan Paul, untuk sementara, hanya jadi penonton saja, mereka ingin mendengar dulu percakapan antara Colin dan Naomi, setelah puas, mereka akan pergi mencari Koko.


"Apakah Koko telah berbuat jahat padamu, Naomi?" tanya Colin, mencoba memastikan, karena dia tidak boleh langsung menumpahkan amarahnya begitu saja pada Naomi, bisa saja kejadian yang sebenarnya adalah Koko yang jadi penyebabnya.


Dengan pelan, Naomi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Koko tidak melakukan apa pun pada saya," balas Naomi dengan senyuman tipis. "Saya hanya melakukan apa yang wajib dilakukan Umat Blanca saat menghadapi sesuatu yang tidak seharusnya, Anda mengerti pada ucapan saya?" Naomi menatap mata Colin lekat-lekat. "Tapi saya tidak keberatan jika Anda semisalnya, tidak setuju pada tindakan saya. Karena Eris-Eris seperti kalian, memang selalu bersikap lunak pada hal-hal yang tabu. Sebenarnya dari awal, saya sudah merasakan ada keanehan-keanehan di sini. Tapi saya mencoba menyembunyikan keresahan saya dengan bersikap normal di depan kalian semua. Saya terus menahannya, tapi setelah mendengar masa lalu Koko yang terdengar menyimpang dari kodratnya, saya mulai tidak bisa menahannya lagi, dan akhirnya, saya memecahkan masalah di rumah ini."


Colin terbelalak, akhirnya ia tahu siapa dalang dari keadaan tegang tadi, jadi begitu, ternyata dalangnya adalah Naomi, bahkan gadis itu mengaku sendiri atas perbuatannya.

__ADS_1


Mendadak, amarah di jiwa Colin yang sempat ditahan sejenak, langsung membludak-bludak, seperti kobaran api yang menyala-nyala di dalam kegelapan. Napas Colin tersengal-sengal, tangannya dikepal kuat-kuat, dan pandangan matanya mulai terlihat sengit. Colin marah sekali pada Naomi, gadis itu, dengan teganya melakukan hal sejahat itu pada Koko. Padahal Koko tidak melakukan apa-apa pada Naomi. Dan apa itu Eris? Colin tidak pernah mendengar julukan itu, tapi ia tidak mempedulikan itu, yang jelas, itu pasti sebuah ejekan padanya. Tidak salah lagi. Naomi bukan gadis yang baik.


"Pemikiranmu itu," Colin melototkan matanya dengan sangat tajam pada Naomi, seperti seekor banteng yang siap menyeruduk targetnya. "Terlalu sempit, Naomi." Colin berjalan mendekati Naomi, kemudian ia berhenti tepat di hadapan Naomi. "Aku paham sekarang. Kau tidak punya rasa kemanusiaan terhadap sesama manusia. Pikiranmu, selalu dipenuhi dengan kebencian dan kebencian yang tak berdasar. Dan kau menyembunyikan itu dengan sikapmu yang terkesan santun dan ramah." Colin terkekeh sejenak. "Bodoh sekali diriku ini sampai tertipu oleh sifat lembutmu, padahal nyatanya, kau adalah Iblis Kejam yang tidak punya belas-kasih!"


Jeddy dan Paul sempat tertegun mendengar omongan Colin yang terdengar pedas, mereka tidak sangka lelaki pecundang seperti Colin bisa mengatakan hal setajam itu, mereka pikir Colin hanya akan berteriak-teriak meminta Naomi untuk berhenti menjahati Koko, tapi ternyata, tindakan Colin tidak seremeh itu.


"Lantas, Anda sekarang mau apa?" Pelan-pelan Naomi menoleh pada Paul. "Apakah Anda akan memaksa Mentor kita untuk mencabut nama saya dari daftar pahlawan?" Naomi tersenyum. "Tenang saja. Saya tidak keberatan dengan itu. Lagi pula, saya juga sudah tidak nyaman lagi tinggal serumah dengan kalian," Naomi menghembuskan napasnya. "Doakan saja, semoga saya bisa pulang ke Sablo dengan selamat, nanti besok."


Naomi melirik Paul. "Benarkah itu?" tanya Naomi pada Paul, mencoba memastikan. "Tapi rasanya, Paul sama sekali tidak bersikap demikian pada saya, mungkin saja setelah saya angkat kaki dari sini, kalian akan berbahagia, karena manusia yang fanatik terhadap agama seperti saya, telah pergi dari hidup kalian. Saya yakin, itu pasti bakal terjadi."


"Kalau kau memang ingin sekali pergi dari sini, boleh-boleh saja, Naomi," Paul bergabung ke dalam percakapan, membuat Naomi dan Colin kaget, mereka pun menoleh pada sang mentor. "Tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau orang-orang berjubah putih itu, datang dan mengincarmu lagi, atau mungkin, mengincar orang-orang terdekatmu. Karena aromamu, bagi mereka, sangat tajam dan bisa tercium dari jarak berkilo-kilo meter. Jadi jika aromamu sudah tercium oleh mereka, maka kau harus menyiapkan diri untuk berhadapan dengan mereka," Paul menyunggingkan senyuman miring. "Apa kau mampu?"


Mendadak, muka Naomi yang awalnya santai dan tenang, jadi terlihat kaku dan gelisah. "S-Saya pasti bisa menghadapinya! Saya punya Tuhan! Tidak seperti kalian! Saya punya Zat yang akan selalu melindungi saya di mana pun saya berada!"

__ADS_1


"Kalau memang begitu, aku lega," kata Paul dengan menatap tajam mata Naomi. "Aku doakan keselamatanmu, Naomi. Sekarang, kau boleh pergi."


Colin, Jeddy, dan Naomi tercengang mendengar perkataan Paul, mengapa tiba-tiba Si Mentor memerintahkan gadis itu pergi dari sini? Apakah Paul sekejam itu pada seseorang?


"Paul! Kau tidak perlu berlebihan begitu!" Colin berjalan cepat mendatangi Paul, dan mulai menyemburkan segala omelan yang menyebalkan pada mentornya. "Meskipun Naomi begitu, dia tetap bagian dari sepuluh pahlawan! Jika kau membiarkan dia pergi dari sini! Maka tugasmu sebagai mentor akan gagal! Apa kau baik-baik saja dengan itu!? Bukankah kau akan dihukum jika gagal mendapatkan sepuluh pahlawan dalam jangka waktu sebulan!? Sebelum Naomi benar-benar pergi, tarik kata-katamu! Cegah Naomi! Kau tidak boleh membiarkan gadis itu pergi!"


"DIAM!"


Sontak, karena risih mendengar seruan-seruan itu, Paul langsung membentak Colin dengan suara yang sangat besar. Terkaget, Colin pun terdiam dalam sekejap mata. Jeddy hanya menahan tawanya melihat Colin jadi membisu, itu pemandangan yang lucu, tapi sialnya Jeddy tidak bisa tertawa di situasi serius seperti ini.


"Jeddy," Tiba-tiba Paul memanggil nama Jeddy dengan nada yang santai. "Bawa Koko kemari! Aku tidak peduli dia ada di mana! Pokoknya kau harus bisa menemukannya dan membawanya kemari dalam jangka waktu lima menit!" Jeddy terbelalak mendengarnya, dia langsung tergesa-gesa keluar untuk mencari keberadaan Koko yang mendadak menghilang.


Akhirnya di dapur, tinggal tersisa tiga orang saja. Paul, Colin, dan Naomi. Mereka bertiga tampak terbungkam dalam balutan ekspresi yang berbeda-beda. Paul memasang wajah merengut jengkel, Colin menampilkan ekspresi canggung, sedangkan Naomi menampakkan muka risaunya yang terlihat kaku.

__ADS_1


__ADS_2