Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 120 : Bayangan Tinggi


__ADS_3

"Aku membawanya!"


Setelah sampai di rumah sakit, Paul langsung menggebrak pintu ruangan Abbas yang dirawat sambil berteriak kencang, membuat Isabella dan Sang Dokter terkejut, tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi, menunjukkan botol mungil yang digenggamnya pada semua orang di ruangan. "Penawar racunnya! Aku membawanya!"


Isabella mencoba menahan rasa bahagianya yang teramat besar, dengan senyuman tipis lalu bilang, "Ya ampun, kau ini lama sekali, ya?" Isabella terkikik ringan. "Cuma mencari sebuah botol mungil saja, sampai berjam-jam. Aku jadi curiga, jangan-jangan selama ini kau malah masuk ke tempat-tempat prostitusi, sampai membuat kami menunggu lama di sini?"


Kesal mendengar celotehan Isabella yang tidak jelas, Paul mengabaikannya dan segera menghampiri Dokter wanita yang berdiri di samping perempuan itu.


"Tolong! Selamatkan temanku!" Paul menyodorkan botol mungil itu pada sang Dokter dengan tergesa-gesa.  "Aku percaya, kau sebagai Dokter, pasti bisa menyelamatkannya! Aku mohon! Hanya kau satu-satunya yang bisa melakukannya!"


Melihat ekspresi Paul yang begitu sungguh-sungguh mempercayainya, membuat Sang Dokter jadi sangat terharu, baru kali ini dia diperlakukan seperti itu. Benar-benar menyentuh relung hatinya teramat dalam.


"A-Aku tidak bisa memastikan apakah aku bisa atau tidak menyelamatkan temanmu ini," kata Dokter wanita itu dengan tergugup-gugup pada Paul, saking gelisahnya. "Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kalian bisa mengobrol lagi dengannya, meski sejujurnya aku tidak terlalu yakin dengan ini."


"Tidak apa-apa!" Paul dengan cepat membalas perkataan Sang Dokter. Matanya terbuka lebar, seolah-olah menunjukkan kepercayaannya yang begitu besar pada kemampuan wanita yang menjabat sebagai Dokter itu dalam menangani pasien. "Aku yakin! Kau mampu melakukannya!"


Usai mengatakan itu, Paul dan Isabella dipinta keluar dari ruangan, membiarkan Sang Dokter seorang diri di sana agar bisa fokus dalam menangani Abbas.


Isabella duduk di kursi yang disediakan di depan ruangan, sementara Paul memilih untuk tetap berdiri, pikirannya tidak tenang, terus berharap agar keajaiban bisa muncul dan Abbas bisa terselamatkan. Isabella tersenyum kecil memandangi Paul yang kelihatan tidak mampu menenangkan diri.


"Paul, bisakah kau duduk di sini, bersamaku?"


"Diamlah!" Paul menyentak Isabella dengan ganas, baginya, sekarang bukan waktunya untuk duduk manis di tempat. Paul tidak bisa melakukan itu dikala situasinya sedang begini. Hatinya resah dan sangat cemas.

__ADS_1


"Padahal aku hanya ingin berciuman denganmu, kau ini pelit sekali, Paul." goda Isabella, mencoba menghibur Paul dari rasa cemasnya.


Tapi sayangnya, suasana hati Paul sedang sangat tidak bisa diajak bercanda. Karena itulah, BUG! Paul langsung memukul tembok dengan sangat keras hingga menimbulkan keretakan yang cukup besar.


"Bisakah kau diam?" ucap Paul, dengan mata melotot, rahang bergelemetuk, dan otot-otot menegang, sikapnya sangat mengintimidasi Isabella. Membuat perempuan itu terkejut.


"W-Wow!" Isabella sampai tidak bisa menahan rasa kagetnya kali ini. "Mukamu itu, tampak lebih menyeramkan dari biasanya, Paul." Isabella beranjak dari kursinya dan mendekati Paul. Kemudian, dengan santai, Isabella meremas ************ Paul dengan begitu kencang. "Tapi ya ampun, padahal sedang marah begini, tapi mengapa 'juniormu' malah tegang seperti ini, Paul?" Isabella terkikik-kikik. "Tidak apa-apa, jika kau menginginkannya, aku bisa memberikan tubuh indah ini untukmu. Selama itu bisa menyantaikan pikiranmu, aku rela melakukan apa pun untukmu."


Dengan pelan, Paul menarik tangan Isabella yang meremas alat vitalnya dan menatap tajam pada wajah perempuan berambut merah itu. "Jangan pikir kau bisa membodohiku, Isabella," ucap Paul dengan suara yang begitu rendah. "Dari gelagatmu, kau tidak seperti Isabella yang biasanya, rasanya ada sesuatu yang kau tutup-tutupi, iya kan?"


Isabella mengangkat alisnya, terkejut pada perkataan Paul yang cukup aneh. "Hm? Memangnya aku ini kenapa?" Isabella menjilati bibirnya sendiri dengan liar. "Oh, atau jangan-jangan, kau sudah tahu ya, kalau aku ini sangat menginginkanmu?" Lagi-lagi, Isabella terkikik renyah sambil membelai lembut dagu Paul dengan jemari lentiknya. "Ya ampun, kau ini peka sekali, ya? Aku jadi takut padamu."


"Bukan itu," sergah Paul dengan mantap. "Kau saat ini sedang menyembunyikan rasa sedihmu dariku. Kau bertingkah seolah-olah kau tidak mencemaskan apa pun, padahal dari matamu saja, aku tahu kalau kau sudah menangis beberapa waktu yang lalu. Senyumanmu saja tidak seperti biasanya, terlihat kaku dan dipaksakan."


"Dengar ini, Isabella!" bentak Paul dengan sorotan mata yang begitu menusuk pada perempuan bertubuh seksi itu. "Kau tidak perlu berpura-pura lagi di hadapanku! Kau tidak usah bertingkah seperti perempuan yang selalu tampak bahagia! Aku benci pada orang-orang yang menahan emosi terpendamnya! Itu hanya akan membuatnya menderita sendirian!"


Tak bisa dibendung lebih lama lagi, akhirnya air mata Isabella, dengan perlahan keluar dan berlinang membasahi dua pipinya. Senyuman yang sebelumnya terus merekah di bibir Isabella, lambat laun, tergantikan dengan mulut yang bergetar.


Paul memperhatikan itu dengan santai, kemudian dia mendekat dan mendekat pada Isabella, lalu ia usap-usap punggung perempuan itu dengan lembut.


"Ya ampun, ada-ada saja," Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya dikala air matanya terus menetes. "Rasanya aku seperti kembali lagi ke sosok diriku yang dulu. Isabella Melvana yang Cengeng dan penakut."


"Itu mustahil! Bodoh!" Paul menanggapi ucapan Isabella dengan alis yang ditekan. "Kau tidak mungkin kembali menjadi dirimu yang dulu! Itu pemikiran yang salah!" Paul tersenyum tipis dalam seketika. "Tidak ada yang namanya 'kembali menjadi aku yang dulu' atau 'berubah menjadi aku yang berbeda' karena itu semua hanya omong kosong!"

__ADS_1


"Lalu? Bagaimana aku menyebutnya, Paul?"


"Sedih dan takut itu hanya luapan emosi! Dan itu normal! Bisa terjadi pada siapa saja! Jadi," Tiba-tiba Paul merangkul leher Isabella dengan lengannya. "Jangan malu untuk menunjukkan rasa sedih dan takutmu lagi, Isabella," ucap Paul dengan nada yang halus. "Sekali-kali, kau juga boleh memamerkan rasa takutmu seperti Si Colin Sialan, atau menunjukkan rasa sedihmu seperti Koko. Jika kau masih belum mampu, belajarlah pada mereka."


Entah kenapa, Isabella tersentuh dengan perkataan Paul, itulah yang membuatnya mulai kembali menyunggingkan senyuman. Tapi kali ini, bukan senyuman palsu lagi, tapi senyuman yang menggambarkan kalau dirinya saat ini, benar-benar bahagia.


Namun, adegan haru itu tidak berlangsung lama karena,


BRUK!


Sang Dokter tiba-tiba membuka pintu ruangan dengan sangat keras dilengkapi muka yang sangat tegang, lalu matanya melebar saat menemukan sosok Paul dan Isabella.


"Teman kalian!" jerit Sang Dokter dengan nada yang mencekam. Sepertinya dia akan memberitahukan keadaan Abbas saat ini.


Paul langsung melepas rangkulan tangannya di leher Isabella dan mendatangi Sang Dokter. "Apa yang terjadi pada temanku!? Apa Abbas baik-baik saja!?"


Isabella juga ikut mendekat. "Tolong jelaskan semua yang kau tahu, Dokter!"


Saat Paul dan Isabella menampilkan wajah yang panik pada Dokter Wanita itu, mengkhawatirkan kondisi Abbas, seketika ada bayangan tinggi yang keluar dari ruangan tersebut dan bayangan itu mendekati mereka.


Dan tiba-tiba rambut Paul dan Isabella diusap-usap dengan lembut oleh sepasang tangan kekar, saat diperhatikan lebih jelas, ternyata itu Abbas!


Abbas tersenyum pada Paul dan Isabella sambil tangan-tangannya terus mengusap rambut mereka. "Kalian adalah anak-anak yang baik," kata Abbas dengan senyuman hangatnya. "Jadi jangan bersedih lagi."

__ADS_1


__ADS_2