Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 87 : Ceroboh


__ADS_3

Semenjak Paul pergi ke Kota Luna--bersama Cherry dan Naomi tentunya--keadaan rumah berdinding kayu itu jadi terasa sepi dan sunyi. Tidak ada dengung obrolan yang tercipta di ruang tamu, atau bahkan desisan minyak yang dipanaskan di atas kompor, yang biasa terdengar di dapur. Entahlah, suasananya jadi sangat hening. Apa yang terjadi sebenarnya? Oh, bukan karena masalah Koko dan Naomi yang sempat menyita perhatian, bukan juga karena semua orang sedang saling membenci. Itu salah.


Semuanya sedang sibuk pada urusannya masing-masing, itulah penyebabnya. Dan apa akibatnya? Akibatnya rumah itu jadi mati. Ya, mati parah. Paul pasti akan berteriak jika mengetahui hal ini, tidak, mungkin lebih gila dari itu. Tapi, mau segila apa pun Paul, bakal bungkam kalau tahu ibunya saat ini sedang meregang nyawa--ah, pemilihan katanya tidak tepat--sakit berat di atas ranjang kamar tidurnya. Wanita itu, yang rambutnya selalu tampak hitam bersih, dan beraroma kulit jeruk dari sampo populer di Kota Swart, tengah terbaring lemah--dengan napas terengah-engah--di dalam kamarnya.


Oh, lalu pergi kemana murid-murid Paul yang lainnya, ketika sang tuan ratu sedang butuh perawatan seperti itu? Yup, seperti yang sudah dijelaskan pada awal Paul berangkat menuju Kota Luna. Mereka semua sibuk--menyibukkan diri, untuk melakukan hal yang disukainya tanpa mengingat waktu, dan rata-rata, mereka bertindak sangat maniak. Terlalu maniak. Apalagi Nico, yang kini sedang sangat serius, duduk di antara meja para pembaca, di sebuah perpustakaan ternama di Swart, membaca puluhan buku tebal yang meliputi novel, biografi, antologi, cerpen, majalah, dan sebagainya. Tapi itu masih sebagian kecilnya.


Tapi sungguh, keterlaluan sekali kalau Koko tidak dilibatkan dalam persoalan ini. Kenapa? Karena hanya dia satu-satunya orang yang melakukan hobinya tidak keluar dari lingkungan rumah, yang artinya, dia masih berada di pekarangan rumah. Tapi tampaknya, Koko masih belum mampu, atau mungkin tidak pernah sadar? Pada kondisi Elena--wanita yang berperan jadi ibu kandung Paul--yang cukup parah di dalam kamar. Lantas, sedang melakukan apa si cowok cantik berambut ungu panjang yang selalu nyaman mengenakan pakaian perempuan itu? Lagi-lagi dia sedang menyiram bunga, itu hobinya. Dan dia menyukainya. Tapi yang jadi masalahnya bukan itu.


Koko terlalu menekuni hobinya hingga tidak pernah mengerti bahwa dia telah sekian kalinya menyiram pot bunga yang sama, hingga permukaan potnya kebanjiran air siraman. Tapi tetap saja dia terus menyiramnya, bukankah itu masalah?


"Ini hari yang sejuk, aku suka."


Senyuman itu, yang tercetak di wajah cantiknya, mulai merekah dan mengembang, seperti bunga petunia yang sangat elok. Dipermanis dengan lesung pipinya yang mirip seperti rumah semut yang imut. Koko--seperti biasa--tampak lembut dengan suara bibirnya yang tengah memuji keindahan lingkungan yang ia tempati. Itu bukan kali pertama Koko memuji sesuatu, dia--mungkin itu hobi selingannya--selalu memuji apa pun yang dilihatnya, terlepas bagaimana bentuk dan cirinya. Dia selalu melakukannya. Entahlah, mungkin dia memiliki kecenderungan menganggap semua yang bukan dirinya sendiri adalah keindahan. Sementara saat dia melihat tubuhnya sendiri, dia tidak mau mengakui keindahan itu. Atau selalu menganggapnya sebagai kecacatan, walau dia sakit hati jika seseorang menganggapnya seperti itu.


"Tapi... di mana Tante Elena? Hari ini... aku tidak melihatnya sama sekali. Apakah dia sedang memasak di dapur?"

__ADS_1


Koko--setelah menyimpan gembor dan segala peralatan menyiramnya, ke tempat yang seharusnya--langsung menginjak rerumputan halaman belakang dengan langkah cepat, bergegas menengok wanita dewasa yang belum menampakkan diri di hari yang sejuk ini. Timbul kekhawatiran di hati Koko, dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Tante Elena. Jika itu sampai terjadi, apa yang akan dia katakan pada Paul nantinya? Itu bisa gawat. Sangat gawat. Dia harus cepat-cepat sebelum segalanya terlambat.


Dan tepat ketika kaki kurusnya sampai di lantai kamar yang dingin, kelopak matanya terbuka tegang, bola-bola matanya membulat, atau setidaknya, tidak melompat keluar. Pemandangan ini memilukkan, Koko yakin tidak ingin melihat ini dalam hidupnya. Pemandangan yang menunjukkan seorang wanita dewasa sedang terbaring lemah di atas ranjang, dengan mata sayu dan hidung memerah, ditambah aroma keringat panas yang sangat menyengat di permukaan seprai, membuat Koko tidak bisa menahannya lagi. Koko langsung berlari masuk lebih dalam ke kamar itu, hingga tubuh langsingnya menyentuh sisi ranjang tempat wanita itu berbaring.


"T-Tante... apa Tante baik-baik saja!?"


Suara lembutnya, perlahan-lahan sirna tertimpa melodi penuh kegelisahan. Koko tampak cemas, terbukti jelas dari tarikan alisnya yang menekan ke bawah mata serta ekspresi muka yang terlihat kaget. Hidungnya jadi tidak bisa bernapas dengan normal, sesak, sesak sekali melihat Tante Elena sedang berada di kondisi yang seperti itu. Koko ingin mencoba menyentuh kulit wanita itu dan--


Panas!


Seperti menyentuh bagian bawah mesin setrikaan, rasanya terlalu panas. Bukan sebatas dugaan lagi. Suhu tubuh Tante Elena telah naik drastis, ini sangat gawat dan tidak bisa dibiarkan. Koko harus melakukan sesuatu--ah, pertolongan pertama--tapi, pertama-tama apa yang harus dilakukannya dalam melaksanakan upaya pertolongan pertama? Ayolah, Koko tidak tumbuh di antara orang-orang yang berprofesi di bidang kesehatan atau penyembuhan. Dia buta. Buta sekali pada hal seperti itu.


Dan syukurlah, dia ingat akan sesuatu. Sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai langkah pertolongan pertamanya untuk menyelamatkan Tante Elena dari demamnya, mungkin.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu cemas."

__ADS_1


Elena berusaha mendinginkan suasana, agar Koko tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi dirinya yang sedang sakit. Melihat Koko tampak panik membuat Elena jadi resah sendiri, lebih tepatnya, merasa kasihan pada lelaki cantik itu.


"Tunggu sebentar. Aku... mau mengambil sesuatu."


Koko tidak mendengarnya. Suara itu. Suara Tante Elena yang sedang berbicara padanya. Dia tidak mendengarnya. Dia malah pergi keluar kamar dengan lari berjinjit-jinjit, menuju suatu ruangan, untuk mencari benda-benda yang muncul di kepalanya. Tangan-tangan putih kurusnya, membuka berbagai tempat kotak berpintu, seperti nakas, laci, lemari, lemari gantung, setelah dia sampai di dapur dengan tergesa-gesa.


Dia membuka dan membuka. Mencari dan mencari. Tanpa menyadari kalau ulahnya itu telah membuat ruangan dapur jadi berantakan. Betapa cerobohnya Koko setelah menemukan benda-benda yang dicarinya, pergi begitu saja meninggalkan kekacauan yang sempat dibuatnya di dapur.


Apa yang dibawa Koko adalah sebaskom kecil air dingin, yang tedapat es balok yang mengambang di permukaannya. Sekotak tisu basah dan kering, yang dihimpitkan ke dua ketiaknya agar tidak jatuh. Dan kain tebal pendek yang ditaruh di pundak kirinya. Sekilas, Koko terlihat seperti seorang kakak perempuan yang kerepotan mengurusi adik laki-lakinya yang sakit.


Setelah membuka pintu kamar utama dengan mendorongnya menggunakan kaki kanan, Koko masuk ke ruangan itu dengan keadaan seperti itu, ya, seperti yang telah dijelaskan. Terlihat merepotkan sekali.


Sesaat dia meletakkan semua barang-barang bawaannya itu, hasil dari pencarian panjangnya di dapur hingga membuat ruangan itu jadi berantakan, Koko mengambil kain tebal pendek yang tersimpan di pundak kirinya dan langsung menenggelamkannya ke dalam air dingin di baskom mungil. Setelah dirasa cukup, Koko memeras kain itu hingga kering, dan perlahan-lahan, ia letakkan kain hasil perasannya itu ke kening Tante Elena. Dengan hati-hati.


Nikmat sekali saat kain dingin itu menyentuh keningnya yang panas. Rasa pusing di kepalanya pun jadi sedikit berkurang saat rasa dingin itu merembas ke dalam kulit. Elena senang dan tersenyum. Dia berterima kasih sekali pada Koko yang rela membantunya. Dan Koko sama sekali tidak keberatan melakukan itu.

__ADS_1


Setelah sedikit berbincang mengenai hal-hal yang sepele. Tante Elena tiba-tiba berkata sesuatu yang sedikit membuat Koko terkejut--atau lebih tepatnya, tersentuh.


"Aku tidak pernah menyangka kalau sakitku hari ini, akan diurus olehmu, biasanya Paul yang merawatku. Anak bodoh itu, dia sangat perhatian kalau Ibunya sedang lemah begini, bahkan...," Senyuman kecil nan getir mengembang di bibir tebal Elena. Matanya berpaling dari wajah Koko ke jendela kamar yang masih tertutup tirai. Menyala terkena sinar mentari. "... dia pernah membopongku di tengah hujan lebat untuk membawaku ke rumah sakit terdekat, tanpa memakai kendaraan. Tanpa membawa payung. Dan tanpa membawa uang. Bocah itu sangat ceroboh sekali, ya, kalau sedang panik. Sama sepertimu, Koko."


__ADS_2