Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 65 : Kaca Mata Sains


__ADS_3

"Jadi intinya," Nico menarik senyuman miringnya yang tampak angkuh. "Si Naomi itu, merendahkan derajatmu setelah kau menceritakan masa lalu kelammu? Dan ia melakukan itu berdasarkan ajaran agamanya? Bahkan, ia tidak segan-segan ingin membunuhmu jika tidak dicegah oleh orang-orang?" Nico menggeleng-gelengkan kepalanya, terheran pada sikap Naomi yang diceritakan oleh Koko. "Apa Si Naomi itu, tidak menyimak pelajaran biologi, ya? Saat masa sekolahnya? Tidak, bukan hanya Naomi, sepertinya semua orang pun tidak peka terhadap pelajaran itu. Kalau begitu, biar aku jelaskan dulu pada kalian, tentang hal itu." Nico mulai berdehem untuk menjelaskan sesuatu yang pastinya rumit kalau didengar oleh Abbas.


"Ini mengenai pola perilaku manusia, atau bisa disebut dengan tingkah laku makhluk hidup," ucap Nico dengan mengangkat kaca matanya yang sedikit turun, ia masih sedang berdiri tegak di hadapan Koko dan Abbas yang sedang duduk di sana. "Aku menjelaskan ini di luar perspektif agama apa pun, kalian paham? Aku menjelaskan ini dari pandangan sains." Nico langsung masuk ke inti penjelasan. "Jadi, ketika makhluk hidup masih berada di dalam kandungan, kondisi fisiknya itu telah tergabung dari beberapa gen.


Dan jika kalian tidak tahu, gen itu semacam unit pewarisan sifat bagi organisme setiap makhluk hidup. Dan kita semua tercipta dari berbagai gen yang berbeda-beda. Dan ada beberapa gen yang membuat makhluk satu terlihat berbeda dari makhluk lain. Contohnya seperti gen maskulin pada seorang laki-laki. Jika gen maksulin yang terdapat di diri seorang laki-laki, terpenuhi dengan maksimal.


Maka dia kelak akan menjadi sosok tangguh, perkasa, kekar, dan berotot, seperti Abbas dan Paul, misalnya. Namun, jika gen maskulin itu hanya ada seperempat atau pun setengah, maka yang akan terjadi, laki-laki tersebut akan tumbuh menjadi sosok yang feminim, lemah lembut, dan kemayu. Berlaku juga sebaliknya pada seorang perempuan. Dan kalau di luar pemahaman agama, menurutku, itu sah-sah saja. Bukan sesuatu yang salah sampai harus dilenyapkan segala.


Namun, jumlah laki-laki feminim hanya sedikit di muka bumi ini, karena kebanyakan mereka tidak mampu untuk bertahan hidup, penyebabnya tentu saja karena tubuh dan mental mereka lebih lemah dari laki-laki maskulin, juga tekanan-tekanan dari masyarakat, keluarga, hingga agama, yang membuat populasi mereka kian menurun tiap tahunnya. Begitulah menurut kaca mata sainsku. Maaf saja, aku ini bukan orang yang benci terhadap agama, hanya saja, aku lebih suka memandang sesuatu dari sisi sains, sebab agama kadang terdengar konyol, bahkan aku sedikit mencurigai eksistensi agama itu sendiri. Jadi, kau tidak perlu bersedih lagi, Koko. Kefeminimanmu sudah terjawab oleh sains, dan itu adalah hal yang normal."

__ADS_1


Koko terbelalak mendengar penjelasan panjang yang dikemukakan oleh Nico. Sungguh, Koko benar-benar kaget, ia tidak sangka kalau ternyata kondisi yang terjadi di dalam dirinya, bukan sesuatu yang salah dari pandangan sains. Justru, itu bisa dijelaskan dengan mudah oleh sains, melalui proses gen-gen pada saat masa kandungan. Perlahan-lahan, senyuman tipis kembali tercetak di wajah Koko, tapi kali ini, bukanlah senyuman palsu, melainkan senyuman kebahagiaan. Koko bahagia, sangat bahagia. Dia merasa ditarik oleh Nico dari tempat yang gelap dan busuk ke tempat yang bercahaya dan wangi.


Koko yang dulunya membenci dirinya sendiri, karena terlahir berbeda dengan laki-laki pada umumnya, mulai menunjukkan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Tentu saja, Koko bangga. Sebab, apa yang terjadi pada kefeminimannya, bukanlah sebuah kesalahan, penyakit, atau pun kutukan. Ini murni pemberian dari Sang Maha Kuasa. Dari Tuhan itu sendiri, yang harus Koko syukuri, bukan malah menyesalinya. Walaupun saat ini ia sedang bahagia, tapi entah kenapa, air matanya malah mengalir deras, membasahi dua pipinya, dan menetes-netes ke tanah.


Menyaksikan itu, Abbas mengangkat tangan kanannya yang kekar, lalu ia daratkan telapak tangan itu tepat di puncak rambut ungu milik Koko, dan mengelus-elusnya dengan lembut. "Jangan takut," kata Abbas dengan senyuman tipisnya, memandang wajah Koko. "Kau adalah lelaki yang paling sempurna di dunia ini."


Koko menoleh pada Abbas, ia kaget pada ucapan lelaki kekar itu dan kepalanya yang tiba-tiba diusap-usap oleh orang itu, baru kali ini ia merasa senyaman ini dielus-elus oleh seseorang. Rasanya menenangkan. Tapi, Koko tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam kenyamanan itu. Cepat-cepat, Koko menepis tangan Abbas yang sedang mengelus-elus kepalanya, lalu ia berkata, "Terima kasih, Nico, Abbas... aku senang sekali mendapatkan respon positif dari kalian, tapi," Koko mulai membangkitkan dirinya untuk berdiri. "Aku harus pergi dari Madelta."


Alhasil, karena lonjakan yang teramat kaget, Nico langsung bertanya dengan raut muka yang memucat, "Untuk apa kau pergi dari negara ini!? Apa yang terjadi padamu? Bukankah sudah kujelaskan bahwa kau itu norm--"

__ADS_1


"Tidak," Koko menyela perkataan Nico. "Aku tidak boleh... berada di negara ini. Aku dilarang hidup di sini. Keberadaanku... hanya akan menciptakan malapetaka pada hidup kalian, Masyarakat Madelta."


"Bodoh!" Karena kesal, Nico memaki Koko dengan kencang. "Apa Naomi yang mengatakannya padamu soal itu? Guh! Aku tidak tahan lagi!" Nico langsung menoleh pada Abbas. "Kau! Bawa aku dan Koko ke rumah Paul dengan tubuh kuatmu! Kau angkat Koko di dadamu, sedangkan aku seperti tadi saja, terlentang di punggungmu! Kau bersedia?" Abbas menganggukkan kepalanya sambil mengangkat tubuh kekarnya untuk berdiri. Nico tersenyum, kemudian ia langsung melompat ke punggung Abbas setelah lelaki kekar itu telah berdiri sempurna. "Kalau begitu, bergeraklah dengan cepat! Tenang saja, aku akan memandumu!"


"Eh? K-Kenapa?" Koko kaget saat dua tangan kekar Abbas mendadak menyentuh punggung dan pantatnya, lalu badan rampingnya tiba-tiba diangkat mendekat ke dada lelaki kekar itu. Dengan lirih, Koko berkata, "Aku tidak usah... aku ingin tetap berada di sini."


"Jangan dengarkan dia, Abbas!" seru Nico tepat di kuping Abbas, membuat lelaki berambut abu-abu itu tersentak. "Sekarang, kau dengar saja perintahku. Kita harus bergegas ke Rumah Paul, untuk menyelesaikan masalah ini dengan Naomi. Jadi, untuk sementara, jangan dengarkan apa pun yang Koko ucapkan, atau semisalnya dia memberontak ingin lepas dari tanganmu, kau harus berusaha untuk membuatnya tidak bisa bergerak di tanganmu. Kau bisa?"


Abbas langsung menganggukkan kepalanya tanpa waktu yang lama. Dia paham pada maksud Nico, dan ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melepaskan Koko dari tangannya.

__ADS_1


Kemudian, Abbas langsung melesat dengan kecepatan kaki yang luar biasa, bahkan rambut Nico dan Koko sampai terombang-ambing terhempas angin yang lumayan kencang. Saat Abbas berlari, Nico, dari punggung lelaki kekar itu, terus meneriakkan arah jalan yang benar menuju Rumah Paul. Ketika Nico bilang 'belok kanan!' 'belok kiri!' 'tetap lurus!' 'ke samping kiri!' 'ke samping kanan!', Abbas mematuhinya dengan sangat baik, seolah-olah ia jadi seperti kendaraan yang dikendalikan oleh Nico sebagai sopirnya.


__ADS_2