Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 74 : 500 Juta


__ADS_3

Saat ini, Paul bersama Naomi dan Cherry, sedang berada di dalam sebuah kafe. Mereka duduk memutar di meja yang terletak di tengah ruangan. Suasana kafenya cukup tenang, walau tiap mejanya dipenuhi para pelanggan, tetapi mereka semua tampak kalem dan santai, dalam bercakap mau pun menikmati makanan dan minuman, seolah-olah seperti berada di dalam sebuah perpustakaan.


"Jadi?" Naomi memulai percakapan, untuk memecahkan keheningan yang sudah tercipta beberapa menit yang lalu setelah mereka bertiga duduk di dalam kafe ini. Naomi menatap ke arah Paul yang terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya. "Anda sudah menghubunginya?"


"Belum!" jawab Paul cepat, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, tampak serius sekali.


"Eeeeh!? Kok belum, sih!? Terus kapan menelepon Isabella, nya!? Cherry ingin cepat-cepat bertemu dengan Isabella!" Cherry mengembungkan pipinya lagi seperti balon, yang artinya sedang menampilkan muka marah dan kecewa. Namun, sedetik kemudian, muka Cherry jadi ceria kembali. "Selain itu! Ayo kita pesan sesuatu dulu di sini! Kalau kita hanya duduk-duduk saja! Para pelayan di kafe ini bakal mengusir kita, loooooh!? Yuk! Pesan sesuatu! Paul! Naomi!?"


Cherry menoleh ke muka Paul dan Naomi yang sedang duduk di sekitar kursinya, hendak mengajak mereka untuk memesan makanan atau pun minuman di kafe ini agar keberadaan mereka dapat menguntungkan pihak kafe.


"Pesan saja sesuka kalian! Aku sedang sibuk!" seru Paul dengan mata yang masih terfokus pada layar ponsel. "Tapi jangan pesan yang mahal-mahal!"


Kemudian, Cherry mengambil buku menu yang tergeletak di meja yang mereka tempati, saat membukanya, Cherry dan Naomi terkejut, karena gambar makanan dan minuman yang tertera di tiap halaman di buku tersebut, terlihat menggiurkan, tapi setelah mereka melirik ke kolom harganya, keterkejutan mereka semakin besar. Semua harga dari gambar makanan dan minuman lezat itu, sangat mahal. Akhirnya dua gadis itu sepakat untuk memesan sesuatu yang murah saja.


Setelah menunggu beberapa menit, pesanan yang mereka tunggu akhirnya tiba diantarkan oleh seorang pelayan wanita gemuk, dengan nampan besi yang mengkilau. Setelah pesanan-pesanan itu disimpan di atas meja, pelayan gemuk itu tersenyum dan membungkukkan badannya, seraya pergi dari hadapan mereka untuk kembali bekerja. Cherry dan Naomi senang melihat pesanan yang mereka pilih sudah ada di meja. Ketika Paul melirik sejenak dari layar ponselnya, untuk melihat apa yang dipesan Naomi dan Cherry, ia langsung kaget, karena dua gadis itu ternyata hanya memesan tiga gelas es krim parfait, yang varian rasanya adalah cokelat, nanas, dan strawberry.

__ADS_1


"Kalian hanya memesan parfait, saja!? Tapi mengapa jumlahnya tiga gelas!? Sudah kubilang, aku sedang sibuk! Aku tidak punya waktu untuk memakan parfait!" Sambil mengatakan itu, Paul mengambil parfait rasa cokelat dan langsung melahapnya dengan ganas. "Dingin sekali! Brengsek!" ucap Paul setelah memasukkan sesendok parfait cokelatnya ke kerongkongannya.


Cherry dan Naomi, menatap satu sama lain, sembari memasang wajah keheranan melihat tingkah Paul yang bertolak belakang dengan perkataannya. Tapi mereka tidak memusingkannya, dan langsung mengambil parfait pilihannya masing-masing untuk disantap. Naomi mengambil segelas parfait rasa nanas, sedangkan Cherry mengambil segelas parfait rasa strawberry. Hingga akhirnya, mereka menyantap parfaitnya masing-masing dengan penuh kegembiraan. Walau harganya terbilang murah dari makanan dan minuman lain yang ada di daftar menu, tapi rasanya sangat nikmat dan menyegarkan.


"Aku akan langsung meneleponnya!" seru Paul tiba-tiba, membuat Naomi dan Cherry tersentak. "Aku akan berpura-pura menyewa Isabella untuk dijadikan sebagai teman ranjangku dalam semalam!"


Naomi langsung menimpali ucapan Paul, "Maaf, tapi bukankah Isabella itu adalah seorang pelacur kelas kakap?" Naomi mengernyitkan alisnya. "Yang artinya, jika Anda berniat menyewa seorang pelacur yang kepopulerannya sangat tinggi seperti Isabella, maka cara pembayarannya pun bakal lebih rumit. Tidak seperti pelacur kelas teri yang bisa dibayar secara langsung, mungkin untuk ukuran kelas kakap seperti Isabella, Anda harus membayarnya dari awal, sebelum Isabella melakukan tugasnya, melalui transferan."


"Tidak masalah! Aku bisa mengatasinya!" ucap Paul dengan bersikap sombong di hadapan Naomi dan Cherry. "Kalau begitu, mari kita hubungi orangnya sekarang!" Tanpa ba-bi-bu lagi, Paul langsung menekan tombol hijau untuk menghubungi nomor telepon yang tercantum di dalam profil Isabella, tepatnya di dalam aplikasi prostitusi bersimbol mawar.


Terdengarlah suara perempuan dari ponsel Paul yang kini sedang diletakkan di atas meja, agar Cherry dan Naomi bisa mendengarnya dengan jelas. Apakah itu suaranya Isabella? Ternyata suaranya seperti wanita berusia tiga puluhan, benar-benar terdengar dewasa. Paul, Cherry, dan Naomi cukup kaget.


"Ya, aku Paul," Paul membalas pertanyaan yang dilontarkan Isabella, dengan nada yang tenang. "Hahhhh," Paul mencoba mempraktekkan suara para lelaki hidung belang yang sedang kesepian. "Ini adalah minggu yang buruk, dari senin sampai kemarin, aku selalu tertimpa musibah, aku benar-benar butuh sesuatu yang menyenangkan. Jadi, bolehkah aku memintamu untuk memijit tulang-tulang punggungku? Aku benar-benar kelelahan, Isabella."


Cherry dan Naomi terkikik-kikik, menahan tawa mendengar omongan Paul yang terdengar persis seperti para lelaki hidung belang, tak menyangka kalau ternyata mentor mereka sangat pandai dalam berakting. Paul tetap fokus menjiwai karakternya sebagai lelaki hidung belang, walau Cherry dan Naomi sedang menertawakannya.

__ADS_1


"Sebelum itu, biar saya luruskan terlebih dahulu," ucap Isabella dengan intonasi yang terdengar agak serius. "Saya bukan Isabella Melvana," Sontak, Paul, Naomi, dan Cherry, terkaget secara bersamaan. Pantas saja suaranya seperti perempuan dewasa, ternyata itu bukan suara Isabella. Karena dari fotonya saja di aplikasi mawar, Isabella tampak seperti gadis berusia belasan tahun, masih sangat muda dan segar. Lalu, jika itu bukan Isabella, lantas siapa perempuan itu? Mengapa nomor teleponnya bisa tercantum di profil Isabella? "Saya adalah Gina Orcadelia, seorang muncikari ternama di Kota Luna, yang telah mempekerjakkan banyak gadis-gadis cantik dari berbagai kota untuk memuaskan hasrat para lelaki di Kota Luna, dan Isabella Melvana adalah salah satu gadis naunganku yang telah mencapai kesuksesan besar dalam pekerjaannya."


"Muncikari itu apa?" Celetuk, Cherry malah bersuara, karena penasaran pada nama yang terdengar asing tersebut.


"Eh?" Gina kaget setelah mendengar suara Cherry. "Suara siapa itu? Gadis kecil? Apa itu Putri Anda?"


"A-Ah!" Paul jadi gelagapan, dalam hatinya, ia benar-benar kesal pada Cherry yang telah memperburuk suasana. "Ya! Kau benar! Itu hanya Putriku! Dia masih berumur lima tahun! Tidak masalah! Dia tidak akan mengadu pada Ibunya walau mendengar percakapan ini, jadi abaikan saja! Nyonya!"


"Begitu? Baiklah," kata Gina, walau masih terdengar ada nada keresahan dalam suaranya. "Kita langsung saja ke intinya, Tuan Paul," Suara Gina mulai terdengar lebih serius dari sebelumnya. "Seperti yang tertulis di profil, Isabella memasang tarif yang sesuai dengan tingkatannya. Anda ingin mengambil tarif berapa untuk memanggil Isabella? Jangan lupa, Isabella bukan perempuan sembarangan. Dia sudah bergelut di dunia prostitusi selama satu tahun dan mendapatkan kesuksesan dengan sangat cepat," Dari intonasinya, tampaknya Gina sedang menguji Paul. "Asal Anda tahu, saya tidak akan memberikan Isabella pada para lelaki dari kalangan bawah. Rata-rata, semua pelanggan Isabella adalah orang-orang elit, contohnya seperti para bangsawan atau para direktur dari perusahaan-perusahaan besar."


Paul agak tersinggung mendengarnya. "Apa kau pikir aku ini tidak layak menyewa Isabella hanya karena aku bukan dari kalangan yang kau sebutkan itu?"


Gina, tampaknya, tersenyum makin lebar dari seberang telepon, setelah mendengar ucapan Paul yang terpancing dengan sindirannya.


"Memangnya Anda mau menyewa Isabella berapa lama? Satu jam? Satu malam? Satu minggu? Satu bulan? Atau satu tahun? Saya bisa mengaturnya dengan baik, itu pun kalau," Gina menyeringai di seberang telepon. "... Anda mampu membayarnya."

__ADS_1


"500 JUTA!" Paul langsung berteriak, membuat Cherry, Naomi, dan Gina yang ada di seberang telepon, terkejut. "Aku akan menyewa Isabella satu malam dengan tarif 500 juta!" Rahang Paul bergelemetuk saking jengkelnya. "Kau puas!? Hah!?"


__ADS_2