Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 105 : Racun


__ADS_3

"HAHAHAHAHAHAHA!" Lizzie terus tertawa-tawa kencang, membuat burung-burung yang berkumpul di pepohonan jadi beterbangan ke segala arah karena terkejut pada suara tawa tersebut. "Kau!" Walau saat ini posisi Lizzie sedang tengkurap di tanah, ia masih bisa melihat Abbas dengan kepalanya yang dipiringkan. "Sebentar lagi akan mati!"


Abbas tersentak, begitu juga dengan Paul dan Isabella. Mereka bertiga tidak mengerti mengapa Lizzie mendadak tertawa gila sembari mengatakan bahwa Abbas sebentar lagi akan mati, apa maksudnya itu? Bukankah serangannya yang barusan sama sekali tidak melukai Abbas? Lalu mengapa Lizzie bertingkah sombong dengan bilang hal semacam itu?


"Jangan bercanda!" Paul bersuara dari tempatnya, saking jengkelnya pada sikap Lizzie yang semakin aneh. "Kau bahkan tidak mampu menusuk Abbas dengan benar, lalu sekarang kau berbicara bahwa Abbas sebentar lagi akan mati? Jangan bercanda! Brengsek!"


"AKU TIDAK SEDANG BERCANDA!" Lizzie menimpali perkataan Paul dengan nada yang sangat menggelora. Pelan-pelan, Lizzie membangunkan tubuhnya yang terkapar di tanah, sambil memegang guntingnya, hingga bisa berdiri dengan sempurna. Setelah kakinya telah berhasil berdiri tegak, Lizzie mulai berkata, sembari menyingkirkan beberapa pasir, daun, tangkai, dan debu yang menempel di pakaiannya.

__ADS_1


"Kelihatannya memang gagal. Ya, aku akui itu. Aku memang gagal menyerangnya! Seranganku sama sekali tidak melukainya! Tapi, apa kalian tahu," Lizzie menampilkan seringaian jahatnya pada Paul, Abbas, dan Isabella. "Ada racun ganas yang melekat di gigi-gigi gunting ini!" Lizzie menunjukkan gunting yang sempat menusuk dada Abbas di tangan kirinya, dengan mengayun-ayunkannya, memutari jari telunjuknya. "Walau seranganku tidak berhasil melukainya! Tapi gunting ini telah berhasil menyentuh kulit lelaki hitam itu! Yang artinya!" Seringaian Lizzie jadi semakin lebar dan mengerikan. "Racunnya sudah meresap ke dalam kulitnya dan sedang bekerja untuk mematikan seluruh organ-organ yang ada di dalam tubuhnya!" Lizzie menatap tajam pada wajah Abbas. "Hidupmu akan berakhir! Kau tidak akan bisa menemui hari esok! Karena kematian akan menjemputmu!"


Ketika Paul akan membalas ucapan Lizzie yang menyebalkan, Isabella langsung mendekatinya dan merangkul lehernya dengan lembut, lalu perempuan seksi itu berbisik di telinganya. "Tahan, Paul." ucap Isabella dengan meyakinkan. "Jika kau menunjukkan amarahmu, dia akan senang. Aku tahu, pasti rasanya kesal, kan? Mendengar orang lain berbicara bahwa temanmu akan mati sebentar lagi. Aku juga sama. Tapi, kita tidak boleh terpancing, Paul." Bisikan Isabella semakin kecil. "Lakukan segalanya dengan tenang dan hati-hati. Ingat itu baik-baik."


Saat Isabella selesai membisikkan itu pada Paul, tiba-tiba Abbas terbatuk-batuk, terus-menerus tanpa henti, suara batuknya sampai menggema di pekarangan sepi ini. "Kau baik-baik saja!?" Isabella terlihat resah melihat Abbas terbatuk-batuk dengan keras. "Kau butuh air! Ikuti aku!" Isabella langsung menggenggam dan menarik tangan kanan Abbas untuk membawanya ke suatu tempat, tapi, baru saja beberapa langkah, lelaki kekar itu melepaskan genggaman itu dengan paksa, dan jatuh terduduk. Isabella dan Paul terkejut, mereka langsung berlarian mendatangi Abbas. Saat melihatnya dari dekat, ternyata Abbas sedang memuntah-muntahkan darah segar dari mulutnya, hingga tanahnya terbanjiri oleh genangan darah merah yang berbau anyir.


"Aku--Uhuk! Uhuk!" Bahkan batuknya kembali muncul saat Abbas hendak mengatakan sesuatu pada Paul dan Isabella, membuat teman-temannya jadi gelisah melihat itu. Kepala Abbas jadi sangat pusing, badannya jadi panas, mukanya jadi pucat, dan tulang-tulangnya bergetar. Abbas terlihat sangat kritis. Paul dan Isabella terus memanggil-manggil namanya, tapi perlahan-lahan suara dari teman-temannya jadi terdengar samar. Bukan hanya pendengaran, penglihatannya pun jadi tidak jelas, muka Paul dan Isabella yang hadir di hadapannya, jadi tampak buram. Dan bagian puncaknya adalah ketika semuanya jadi terasa menyakitkan, bahkan untuk bernapas pun rasanya benar-benar perih. Sampai akhirnya, Abbas tidak bisa menahannya lebih lama lagi, menyebabkan badan kekarnya ambruk begitu saja di hadapan Paul dan Isabella, kepalanya tenggelam di atas genangan darahnya sendiri.

__ADS_1


"Kau!" Paul menggeram, ia pun menepuk pundak Isabella, menandakkan pada perempuan itu untuk tetap berada di sana, menjaga tubuh Abbas. Sedangkan Paul sendiri, bersiap untuk mendatangi Lizzie yang sedang bergembira, ia tidak tahan ingin menghajar wajah perempuan tomboi itu, setidaknya satu hajaran di pipi kanannya, satu hajaran di pipi kirinya, satu hajaran di keningnya, dan satu hajaran di dagunya. Setidaknya itu yang Paul inginkan. Karena itulah, dia tampak bernafsu saat berjalan, di tiap langkahnya, terdapat dendam kesumat, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, saking bencinya. "Hentikan tawamu itu! ********! Kau sudah membuatku sangat marah!"


Mendengar itu, Lizzie menyeringai senang. "Inilah yang kuinginkan!" Lizzie mengangkat dagunya dengan bangga. "Menyaksikan kau terluka karena salah satu temanmu dibunuh olehku!" Lizzie melambai-lambaikan tangan kanannya pada Paul. "Kemarilah. Cepat kemarilah! Tunjukkan padaku wajahmu yang dipenuhi dengan kebencian, dendam, dan penderitaan!"


"Paul! Tenangkan dirimu!" Isabella berseru sembari menyeret tubuh Abbas untuk dibaringkan ke tempat yang teduh dan aman. "Ingat ucapanku! Kau tidak boleh gegabah! Lawanmu bukan orang sembarangan! Meskipun dia perempuan, dia adalah pembunuh bayaran! Kau harus berhati-hati menghadapinya!"


"AKU TAHU! BRENGSEK!" Timpal Paul membalas seruan-seruan yang dikatakan oleh Isabella. "Tanpa kau ingatkan pun, aku tahu bahwa dia itu adalah pembunuh bayaran!" Setelah sampai tepat di hadapan Lizzie, Paul menampilkan muka buasnya layaknya singa yang siap menerjang mangsanya. Sedangkan Lizzie, menampilkan seringaian lebarnya yang terkesan jahat, seperti singa betina yang ahli dalam memburu mangsa. "Kau adalah orang paling menjengkelkan yang pertama kalinya kutemukan dalam hidupku!" Paul menggertakkan rahangnya dengan berang. "Bahkan murid-muridku pun, tidak semenjengkelkan dirimu! BRENGSEK!"

__ADS_1


Isabella berhasil menyeret tubuh Abbas--yang entah pingsan atau meninggal sungguhan--ke bawah pohon yang rindang. Kini, Abbas tengah terbaring lemas di pangkuan Isabella, rambut abu-abu dari lelaki kekar itu terlihat bersinar-sinar terkena cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah daun. Isabella mengusap lembut rambut abu-abu Abbas sembari menyenandungkan lagu tidur yang biasa dilakukan untuk menidurkan bayi. Suaranya sangat halus dan lembut, Isabella ternyata pandai menyanyi.


"Kau sering mengelus-elus rambut orang lain, kan?" lirih Isabella dengan tersenyum tipis pada wajah Abbas yang sedang terpejam. "Kalau begitu ini giliran orang lain melakukannya untukmu." Isabella mengelus-elus rambut Abbas dengan perlahan. "Aku yakin, sepanjang hidupmu, kau tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya saat rambutmu dielus-elus oleh orang lain. Dan aku juga yakin," Senyuman Isabella semakin mengembang saat melanjutkan perkataannya. "Kau tidak akan mati semudah itu hanya karena diserang oleh sebuah racun. Kau juga berpikiran begitu, kan, Abbas? Maka berjuanglah."


__ADS_2