
Di pagi yang yang cerah ini, Paul terkejut dengan kondisi tubuhnya yang diikat-ikat kencang oleh tali nilon, lalu mulutnya disumpal total oleh segunduk kain beraroma busuk, dan ada beberapa sosok manusia yang sedang berdiri tegak, mengelilingi ranjangnya. Alhasil, karena tubuhnya dibuat begitu, Paul murka, dia menggeliat-geliat di permukaan kasur seperti cacing yang disiram air panas, ia juga tak henti-hentinya menggeram-geram dibalik kain yang menyumpal mulutnya, berniat ingin berteriak-teriak, tapi tidak mampu. Sebenarnya ulah siapa ini? Paul kesal pada pelaku yang membuat badannya terkekang begini. Padahal ia baru bangun dari tidurnya, tapi malah dikejutkan dengan hal menyebalkan seperti ini. Paul jadi ingin mengoyak orang yang menciptakan ide semacam ini padanya.
Ketika mata Paul dipicingkan, akhirnya dia bisa melihat dengan jelas, siapa sosok-sosok yang berdiri mengelilingi ranjangnya. Mereka adalah Nico, yang diduga adalah pencetus dari ide gila ini. Jeddy, yang diprediksi adalah pelaku dari terikatnya tubuh Paul dengan tali nilon. Naomi, yang diduga adalah sosok yang bertanggung jawab atas tersumpalnya mulut Paul dengan kain beraroma busuk. Dan Koko, satu-satunya sosok yang terlihat murung, sepertinya ia dipaksa oleh Nico untuk ikut membantu.
Tentu saja, kemurkaan Paul makin memuncak setelah melihat wajah-wajah itu, sungguh, ia ingin menghajar muka-muka dari mereka yang sedang berdiri di sekitar ranjangnya. Paul jadi semakin ganas dalam menggeliat-geliatkan tubuhnya, sampai mirip seperti ulat yang meloncat-loncat dari daun satu ke daun yang lain. Bahkan, karena Paul yang terus menggeliat sambil melompat-lompatkan tubuhnya, kasurnya jadi terdengar menguik-nguik seperti kayu yang hampir roboh.
"Kau tidak perlu seribut itu, Paul," Lalu terdengarlah suara Nico, membuat badan Paul jadi agak tenang. Paul pun menatap mata Nico dengan tajam, seolah-olah itu menunjukkan betapa marahnya ia pada hal seperti ini. "Ya, aku tahu kau pasti marah. Tapi asal kau tahu, aku melakukan ini agar kau sadar, Paul."
Saat Nico berbicara, Koko hanya menundukan kepalanya, Naomi menghembuskan napasnya, dan Jeddy tersenyum lebar dengan melipat tangan di dada tegapnya. Mereka tampak punya alasan tersendiri untuk ikut membantu rencana licik Nico.
Nico kembali melanjutkan perkataannya yang tadi berhenti sejenak, "Aku melakukan ini agar kau sadar, bahwa kau butuh yang namanya istirahat, Paul." kata Nico dengan mendengus, menampilkan raut sombongnya. Ia pun mendekati tubuh Paul yang berbaring di kasur dengan kondisi terkekang. Pelan-pelan, Nico duduk di tepian ranjang dan berkata, "Semalam kami berempat berbincang santai di ruang tamu, saat kau sudah masuk ke dalam kamarmu. Awalnya, kami hanya membahas hal-hal yang remeh, tapi lama-kemudian, topik kami jadi tertuju ke aktivitasmu sehari-hari. Maksudku, kami membicarakan kegiatanmu tiap waktu, Paul. Dan setelah mendengar pendapat dari Jeddy, Koko, dan Naomi, akhirnya aku mendapatkan kesimpulan. Bahwa kau, selama ini, selalu dan selalu menghabiskan waktumu untuk mencari pahlawan baru. Oke, aku paham, sampah sepertimu pasti berpikiran harus menemukan kesepuluh pahlawan secepat mungkin, benar, kan? Tapi, pikirkan juga kondisi tubuhmu, bodoh."
"Ya, Paul," Kini yang bersuara adalah Naomi. "Saya mungkin masih belum mengenal Anda terlalu dekat, sebab saya baru kemarin bertemu dengan Anda, tapi setelah mendengar obrolan semalam, saya jadi khawatir pada keadaan Anda. Saya cemas, sebab Anda bisa sakit jika terus-terusan melaksanakan tugas mencari pahlawan tiap harinya. Anda itu manusia, Paul. Anda butuh waktu bersantai, waktu berlibur, waktu beristirahat, dan waktu-waktu lainnya. Jadi saya mohon, untuk hari ini, bisakah Anda tetap di rumah?"
"Hahahaha!" Jeddy mulai menunjukkan gelak tawanya yang ceria. "Sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti sih mengapa mereka melarangmu pergi. Tapi aku juga cemas pada badanmu, Bro! Akhir-akhir ini, auramu jadi makin suram! Bro! Kau butuh kegiatan lain selain mencari pahlawan, benar, kan? Apa yang kukatakan? Bro!? Hahaha!"
Koko mengangkat kepalanya dan mulai bersuara, "Maaf... apa yang kalian katakan memang benar, aku setuju. Paul butuh istirahat, tapi," Tiba-tiba Koko mengangkat kakinya untuk naik ke ranjang Paul, lebih tepatnya, berdiri tegak membawahi Paul yang sedang terbaring lemah di kasur. "... Aku pikir, Paul harus mencari sepuluh pahlawan secepat mungkin. Aku juga... tidak begitu mengerti mengapa pikiranku jadi begini. Intinya... Paul pasti punya alasan mengapa dia terus melaksanakan tugasnya tiap hari untuk berkunjung ke berbagai kota, mencari pahlawan berikutnya. B-Bisa saja ada semacam batasan waktu, yang membuat Paul... mau tidak mau harus menyelesaikannya secepat mungkin, kan? Karena itulah, aku," Koko membungkukkan badannya, lalu mengambil gumpalan kain yang menyumpal mulut Paul, ia juga melepaskan tali yang membelenggu badan Paul dengan lembut. "... akan mendukung Paul."
Nico, Naomi, dan Jeddy terbelalak menyaksikan aksi Koko yang heroik, menyelamatkan Paul dari kekangan teman-temannya. Selesai menolong Paul, Koko melompat turun dari atas ranjang, ia pun kembali berdiri di pinggir bersama teman-temannya yang masih memasang wajah kaget pada dirinya. Nico sangat menyayangkan tindakan Koko, padahal apa yang mereka lakukan bukan hal buruk. Naomi terkagum dengan keberanian Koko yang memiliki pemikiran berbeda dari teman-temannya. Dan Jeddy terheran-heran pada Koko karena mempunyai pandangan yang berbeda darinya. Alhasil, karena ulah Koko, mereka bertiga harus siap terkena bentakan Paul.
Setelah mulut dan badannya sudah terbebas dari benda-benda menjengkelkan, Paul terbatuk-batuk, hidungnya jadi memerah, sepertinya ia terkena bakteri dari kain yang disumpalkan ke mulutnya. Batuk Paul tidak kunjung habis, ia terus terbatuk-batuk. Jeddy buru-buru melesat ke dapur mengambil segelas air, setelah kembali ke kamar, ia langsung memberikan air itu pada Paul.
"Huh...," Akhirnya Paul jadi agak baikan setelah menengguk segelas air yang diberi Jeddy, ia pun meletakkan gelas kosong itu di nakas. Kemudian, Paul langsung menatap muka-muka dari para pelaku yang membelenggu badannya. Paul pun menarik senyuman tipisnya dengan santai. "Berani juga, ya, kalian? Melakukan hal seganas itu pada orang yang sedang tertidur." Paul pun perlahan-lahan turun dari ranjangnya, dan bergerak mendatangi Nico, Naomi, Jeddy, dan Koko. "Tapi aku cukup senang, karena dibalik semua itu, kalian punya keinginan untuk mengingatkanku tentang waktu istirahat. Aku tahu kalian jengah melihatku bulak-balik tiap hari, mengunjungi berbagai kota dan memulangkan sosok-sosok baru. Begitu, kan, maksud kalian?" Paul pun langsung menampilkan wajah beringasnya dengan mendadak. "Tapi aku tidak suka dengan cara kalian mengikat dan menyumpal mulutku seperti itu. Kenapa kalian tidak memakai cara yang lebih baik lagi dari itu! Bajingan!"
"Jadi," Nico menimpali omongan Paul dengan intonasi yang dingin. "Kau mau pergi lagi?"
"YA!" balas Paul dengan teriakan yang menggelegar, membuat Nico, Naomi, Jeddy, dan Koko terkejut secara serentak. "Aku harus menyelesaikan tugasku secepat mungkin, apa yang dikatakan Koko memang benar! Karena ada batasan waktu di dalam pencarian sepuluh pahlawan! Dan waktunya hanya satu bulan! Jika aku menyelesaikannya tidak sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan, aku tidak tahu apa yang akan Roswel lakukan padaku! Karena itulah! Sebaiknya kalian, yang tidak tahu apa-apa, jangan coba-coba menghalangi tugasku!"
__ADS_1
"Bukankah kau pernah bilang padaku," Lagi-lagi Nico bersuara dengan lantang, seolah-olah dia siap untuk dihajar oleh Paul kapan saja. "... Menjadi seorang mentor hanyalah kegiatan mengisi waktu luangmu saja? Lantas, kenapa kau jadi seserius itu melakukannya?"
"Apa pun alasanku, itu bukan urusanmu, brengsek!" bentak Paul dengan melototkan matanya pada Nico. Setelah itu, Paul kembali tenang, dia pun menghela napasnya berkali-kali, lalu membalikkan badannya, "Setelah mandi, aku akan ganti baju di sini, jadi keluarlah dari kamarku. Cepat!" Naomi, Koko, dan Jeddy langsung buru-buru keluar dari kamar Paul. Sementara Nico, masih berdiri tegak di sana, ia menatap punggung Paul yang terpampang di hadapannya.
"Apa kau tidak sedikit pun meluangkan waktumu untuk membahagiakan dirimu sendiri?" Mendengar pertanyaan itu, Paul menolehkan kepalanya ke belakang, melirik ke arah Nico yang memasang wajah dingin padanya. "Kami hanya khawatir jika kau berakhir seperti Cherry, tapi kau malah bersikeras tidak mau mendengarkan kami! Kau benar-benar sampah, Paul." Setelah mengucapkan itu, Nico langsung berjalan, hendak keluar dari kamar Paul. Namun, tiba-tiba, Paul membalas ucapan Nico, sampai membuatnya menghentikkan langkahnya sejenak.
"Terima kasih, sudah mengkhawatirkan mentor berandalanmu ini. Tapi asal kau tahu, mentormu ini, tidak selemah yang kau pikirkan. Jadi kau tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja, sampaikan itu pada yang lainnya. Dan juga, aku berjanji akan membawa kalian semua berlibur ke pantai jika jumlah kalian sudah lengkap. Kupikir, kita juga butuh liburan, kan?"
Sembunyi-sembunyi, Nico menyunggingkan senyumannya setelah mendengar kata-kata Paul, ia pun secara refleks bilang, "Dasar sampah," Dengan suara yang sangat pelan, hingga Paul tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa kau tadi bilang sesuatu, hah!?" tanya Paul, karena rasanya dia mendengar Nico mengatakan sesuatu tapi dengan suara yang begitu pelan. Nico langsung melanjutkan langkahnya, mengabaikan Paul yang terheran-heran pada sikapnya. "Tapi aku tidak peduli! Lebih baik aku mandi dari pada penasaran pada ucapan si brengsek berkaca mata itu!"
"Nol besar," Nico segera menyampaikan semua hal yang ia dengar dari Paul pada teman-temannya yang duduk melingkar di kursi tamu. "Kita tidak akan bisa menghentikkannya," Nico pun melirik ke wajah Koko. "Tapi serius, aku kagum padamu, Koko," Koko terlonjak mendengarnya, jantungnya hampir copot. "Karena secara tidak sadar, kau itu sudah melakukan sebuah pengkhianatan besar pada kami, walau aku sudah menduganya sih. Dari awal pun kau memang tampak seperti tak setuju pada ideku. Tapi kekagumanku bukan tentang itu, aku kagum padamu karena kau berani mengungkapkan pandanganmu yang berbeda pada kami dengan cara yang spektakuler. Itu hebat sekali, walau kehebatanmu masih tidak sebanding dengan Colin, sih."
"Hahahah!" Seperti biasa, Jeddy menimpali perkataan orang lain dengan gelak tawanya yang khas. "Aku tidak bisa menahan tawaku saat Nico bilang bahwa kehebatan Koko tidak sebanding dengan Colin!?" Perhatian Jeddy dialihkan pada Nico yang terlihat cemberut. "Hahahahah! Apa-apaan itu, Bro!? Jelas-jelas Colin hanya seorang pecundang biasa, yang bisanya hanya menjerit-jerit ketakutan! Bro!? Hahaha! Kurasa Koko lebih hebat dari Colin! Kau sepertinya salah pengertian! Bro! Hahahaha!"
Nico langsung menyemburkan aura super dinginnya pada Jeddy, seperti badai salju yang mengamuk. "Sampah sepertimu," kata Nico dengan tatapan merendahkan pada Jeddy. "Tidak akan mengerti pada kehebatan Colin. Karena kepalamu, sudah dikotori dan dipenuhi oleh kebodohan-kebodohan yang membusuk!"
Menyaksikan Nico menyemburkan kata-kata menusuk pada Jeddy, Naomi secara mendadak mengingat sesuatu, dia pun langsung mencoba menanyakan hal itu pada mereka yang duduk di sekitarnya, bahkan sampai membuat pertikaian antara Nico dan Jeddy padam dalam seketika.
"Maaf," ucap Naomi dengan mengkerutkan alisnya. "Aku dari tadi penasaran, soalnya kalian tidak pernah membicarakan tentang orang itu. Jadi... di mana keberadaan gadis yang bernama Cherry?"
Semalam Naomi terus memikirkan soal keberadaan Cherry, karena Paul dan yang lainnya tidak pernah mengatakan tentang gadis itu padanya. Dia sampai tidak bisa tidur walau kamar Ibunya Paul sangat nyaman. Yap, benar sekali. Semalam Naomi tidur di kamar Ibunya Paul, koper miliknya pun masih tersimpan di kamar itu.
Sontak, mendengar pertanyaan itu, Koko, Nico, dan Jeddy menoleh pada Naomi. "Eh?" Nico terkejut. "Kami belum bilang padamu, ya? Cherry itu sedang demam. Dan dia sedang berada di rumah seorang gadis yang bernama Olivia. Biasanya Si Cherry selalu datang kemari, dengan tingkah manja dan suara berisiknya, tapi akhir-akhir ini dia tidak datang lagi, karena sedang terkena demam."
__ADS_1
"Lalu, apa kalian sudah menjenguknya?"
"Belum," jawab Nico dengan cepat. "Kami tidak tahu letak rumah Olivia, yang tahu letaknya hanyalah Paul seorang, tapi orang itu selalu sibuk dengan dunianya sendiri, jadi kami tak bisa menyempatkan waktu untuk menjenguk Cherry."
Akhirnya Naomi pun paham pada situasi itu, ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil ber-oh ria. Kemudian, Naomi ingin bertanya lagi tentang keberadaan orang yang bernama Colin pada mereka, tapi tiba-tiba muncul seseorang yang masuk ke dalam rumah Paul tanpa permisi, membuat mulut Naomi yang mau bicara jadi tertutup kembali.
"AKU TIDAK BOHONG!" Sosok itu adalah seorang lelaki berambut biru yang mengenakan kaos lengan pendek yang di dadanya terdapat gambar gelombang air laut, ia juga memakai celana jins warna biru yang cukup bagus. Tapi, keelokan dari penampilannya langsung anjlok karena orang itu tiba-tiba masuk dengan muka yang memucat, pundak bergidik, dan kaki gemetar. "TADI AKU DIKEJAR-KEJAR OLEH ANGSA-ANGSA LIAR! MEREKA MENYERANGKU DENGAN MEMATUK-MATUK PANTATKU! I-ITU MENGERIKAN SEKALI!"
"Colin?" Koko kaget melihat Colin muncul dengan tubuh yang gemetaran. "Tenanglah... duduk dulu di kursi."
"B-Baik!" Colin pun menurut, dan langsung meletakkan pantatnya di kursi tamu dengan muka yang masih ketakutan. Tapi, tiba-tiba raut wajahnya berubah jadi tercengang saat melihat sosok asing di ruangan ini, yaitu seorang gadis berkerudung kuning yang tampak anggun dan sopan. Dengan gugup, Colin mengembangkan senyumannya pada gadis berkerudung tersebut. "H-Halo, salam kenal, a-aku Colin! Hehehe." Colin tampak memaksakan diri untuk tertawa, membuat Jeddy jadi terbahak-bahak melihatnya.
Naomi ikut tersenyum, dan membalas ucapan Colin dengan suara yang sopan. "Saya Naomi. Senang bertemu dengan Anda, Colin." Namun, walau kelihatannya Naomi tampak tenang, tapi sebenarnya di pikirannya sedang ribut, dia tidak sangka kalau lelaki bernama Colin sepengecut ini, bahkan hanya dikejar-kejar oleh beberapa ekor angsa saja, dia sampai gemetaran begitu, benar-benar memalukan. Tapi di wajahnya, Naomi terus menampilkan ekspresi keramah-tamahan pada Colin.
"Colin," Nico langsung berdiri dari kursinya dan duduk di kursi yang berdekatan dengan Colin, lalu ia memegang lengan lelaki berambut biru itu dengan muka yang cemas. "Katakan padaku! Apa kau terluka?"
Colin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja."
Keterkejutan Naomi makin besar saat melihat sikap Nico yang peduli pada Colin. Itu jadi terlihat tidak seperti Nico yang biasanya, ada apa ini? Mengapa Nico jadi begitu perhatian pada Colin?
"Maaf, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Suara Naomi sukses membuat seluruh perhatian tertuju padanya. Naomi pun menatap mata Nico dengan serius. "Mengapa Anda terlihat menunjukkan kepedulianmu pada Colin? Saya hanya kaget, karena selama ini, saya pikir, Anda itu sosok lelaki yang dingin dan angkuh. Jadi, saat melihat pribadi Anda yang berubah jadi lembut terhadap Colin, entah kenapa, saya jadi penasaran."
Nico pun menoleh pada Naomi dengan refleks dan mendecih. "Kau bodoh, ya? Tentu saja karena Colin adalah sosok yang luar biasa di mataku. Dia bagaikan dewa kebahagiaan di hidupku. Karena itulah, aku tidak akan memperlakukan Colin dengan kasar. Dia patut diberikan kelembutan dan keramahan. Lagipula, aku menyukainya," Tiba-tiba muka Nico memerah. "Tidak! Maksudku, aku menyukai sikapnya. Hanya itu. Begitulah."
Jeddy, Koko, dan Naomi senyum-senyum mendengarnya, mereka mulai melihat sedikit kebun bunga di antara Nico dan Colin. Tapi, baru saja mereka hendak menggoda Nico dan Colin, Paul tiba-tiba datang dan berseru, "DIAMLAH!" bentak Paul dengan kasar, membuat semua muridnya terdiam secara bersamaan. "Daripada kalian terus membicarakan omong kosong yang tak berguna! Lebih baik jawab pertanyaanku! Siapa yang akan ikut pergi denganku mencari pahlawan berikutnya!?"
__ADS_1
Colin dengan gesit mengacungkan tangannya, "Karena ini adalah hari minggu, dan aku libur kerja, maka ini adalah kesempatanku untuk berpetualang lagi bersamamu! Paul!" Colin cengengesan. "Jadi aku ikut!"